Mo Yuyan, 16 tahun—putri angkat Ketua Sekte Abadi, yang dikenal sebagai gadis lembut, patuh, dan selalu menunduk.
Namun, semuanya berubah malam itu ...
Malam ketika dia dituduh mencuri pusaka sekte, dikhianati oleh orang-orang yang dia anggap keluarga … lalu dibuang ke dalam Jurang Pemakan Jiwa untuk mati!
Akan tetapi, Takdir membuatnya kembali!
Bukan sebagai Mo Yuyan yang dulu, melainkan sebagai Mo Yuyan yang baru.
Dimana sosok jiwa asing dari masa ribuan tahun ke depan mengambil alih raganya. Sosok yang dingin, angkuh, cerdas, dan terlalu tenang untuk seorang gadis yang baru menginjak dewasa.
Jiwa itu tersenyum dan mulai menghitung semuanya.
Sekte Abadi bahkan tidak menyadarinya, jika mereka ...
Baru saja membangkitkan seorang 'Ratu Racun' berjiwa psikopat dari masa depan.
"HUTANG INI AKAN AKU TAGIH SEMUANYA! KALIAN SEMUA AKAN MUSNAH!"
"ARRRGHHHH!!!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14: Pertempuran Dahsyat!
***
Pagi harinya, rombongan Mo Yuyan bersiap untuk melanjutkan perjalanannya.
Kabut tipis menyelimuti perjalanan mereka menuju Kota Hitam.
Setelah melalui beberapa bulan perjalanan, mereka akhirnya sampai di sebuah kota yang dekat dengan Kota Hitam, hanya sekitar seminggu perjalanan lagi menuju ke sana.
Langit di wilayah Utara memang selalu tampak kelabu, seolah cahaya matahari enggan menampakkan sinarnya di wilayah itu.
Jalanan yang mereka lalui mulai dipenuhi oleh para pedagang berwajah kelam, pemburu bayaran, serta kultivator lepas yang memandang tajam setiap orang asing yang lewat.
Mo Yuyan berjalan paling depan, dengan memakai jubah ungu yang tertutup mantel tipis berwarna gelap.
Rambut yang dikepang sederhana, berayun lembut di depan bahunya ... tertiup angin utara yang dingin.
"Semakin dekat jarak kita ke Kota Hitam, semakin kuat pula bau da-rah yang tercium di udara ..." gumam Duan Xue pelan.
"Tempat seperti itu memang cocok untuk orang 'tanpa nama', kebanyakan orang asing yang tinggal di wilayah sana ..." sahut Nenek Du.
"Ada cabang Klan Li di kota itu ..." gumam Li Shen sambil menelan salivanya dengan berat.
Mo Yuyan menanggapi tanpa menoleh.
"Bagus kalau begitu ..."
Li Shen membeliakkan matanya, saat mendengar ucapan Mo Yuyan.
"Bagaimana bisa 'bagus', Kak Yuyan?! Itu artinya bencana, karena mereka akan lebih mudah menemukan keberadaan kita!" sahut Li Shen dengan wajah memucat.
"Itu bagus buatku, karena kita tidak perlu repot-repot mencari keberadaan mereka ..." balas Mo Yuyan dengan nada santai.
Duan Xue hanya bisa terkekeh pasrah, saat mendengar jawaban Mo Yuyan.
"Hehehehehe ... Aku suka cara berpikirmu itu, Yuyan ..."
-
Namun, saat mereka melintasi sebuah hutan yang sudah dekat dengan gerbang utama Kota Hitam~
Angin tiba-tiba berubah arah, membuat kabut tipis yang melayang di dalam hutan itu terbelah lurus.
Swoooshh!
Mo Yuyan langsung menghentikan langkahnya dengan mendadak.
"Keluar kalian ...!!!"
Dengan gerakan cepat, Duan Xue menarik Li Shen dan melompat mundur. Sementara Nenek Du menghantamkan tongkatnya ke tanah.
BOOM!
Sebuah tebasan energi hitam jatuh dari arah udara, dan membelah tanah ... tepat di tempat mereka berdiri tadi.
Dari balik pepohonan, muncul tiga sosok yang memakai jubah hitam polos dan topeng tanpa ekspresi, dengan aura yang tidak biasa.
Mo Yuyan menyipitkan matanya, saat tidak bisa merasakan aura mereka.
"Hmm, ternyata mereka adalah 'Pembunuh Elit' yang terkenal itu ..." gumam Mo Yuyan.
Salah satu dari mereka maju, dan berkata dengan nada suara rendah yang berat.
"Mo Yuyan ... Klan Li menginginkan kematianmu ..."
Duan Xue mencibir dari kejauhan, karena tidak suka melihat mereka memanggil nama 'Ratu-nya'.
"Tapi setidaknya, mereka terdengar cukup sopan saat menyebutkan namanya ..."
Mo Yuyan mengangkat kepalanya, dan menatap ketiganya dengan tenang ... namun pupil matanya langsung berubah menjadi pekat.
Lingkaran cincin ungu terang pada pupilnya berputar cepat, membuat udara disekitarnya menjadi berat.
"Sangat ... menarik!" gumam Mo Yuyan sambil menyeringai.
"Tahapan kultivasi kalian ternyata setara denganku ..." lanjut Mo Yuyan sambil menji-lat bibirnya.
Pembunuh bayaran nomor tiga langsung menjawab dengan cepat.
"Tentu saja setara! Kami bertiga sudah berada di tahap lima-tingkat sembilan, bo-doh!" ujar si nomor tiga dengan nada angkuh.
Li Shen terperanjat saat mendengar pengakuan mereka.
"T-tiga orang di tahap lima-puncak ...??!"
"Ternyata mereka sudah tidak main-main lagi dalam mengirimkan orang ..." ujar Nenek Du dengan nada lirih.
Mo Yuyan menghembuskan napas pelan.
"Hufft, baiklah! Nenek dan Duan Xue lindungi Li Shen! Jangan pernah meninggalkan dia, apapun yang nanti terjadi denganku, Paham?!" perintah Mo Yuyan dengan nada tidak terbantahkan.
"Bagaimana dengan kamu?" tanya Duan Xue dengan wajah khawatir.
"Tenang saja ... Aku akan bermain sebentar dengan mereka ..." jawab Mo Yuyan.
"Baiklah ... hati-hati!"
"Um,"
-
Tidak lama setelah itu, si pembunuh nomor satu tiba-tiba menghilang begitu saja dari pandangan Mo Yuyan.
Detik berikutnya~
Clang!
Dengan refleks yang sangat bagus, Mo Yuyan menangkis sebuah bilah tipis dengan sebuah jarum berlapis racun.
Terlihat percikan api keluar akibat benturan dua buah senjata itu, dan tekanannya sampai membuat tanah yang dipijak Mo Yuyan retak.
Krak!
"Gerakanmu sangat cepat," ujar si nomor satu dengan suara beratnya.
"Begitu juga dengan kamu," balas Mo Yuyan dengan nada dingin.
Si nomor dua lansgung muncul di sisi kiri Mo Yuyan, dan membuat sebuah tebasan silang.
Slash!
Sret!
Mantel Mo Yuyan tergores dalam, begitu pula dengan kulit bahunya.
Tes ... tes ... tes ...
Da-rah Mo Yuyan yang sudah berubah warna menjadi ungu gelap itu menetes, namun tidak ada suara yang keluar dari dalam mulutnya.
Duan Xue berteriak histeris, saat melihat Mo Yuyan terluka.
"Yuyan, kamu terluka!"
"Diamlah, Duan! Jangan ikut campur!" bentak Mo Yuyan.
Dia langsung melompat mundur, lalu mengeluarkan kabut warna hijau keunguan dari dalam tubuhnya.
Wusssh!
Blaaar!
"Racun Skeleton tingkat tiga!" gumam Nenek Du dengan nada kagum.
Namun, si pembunuh nomor tiga hanya mengangkat tanganya untuk menghalau serangan Mo Yuyan.
Wusssh!
Angin berputar keluar dari dalam telapak tangan pembunuh itu, membuat kabut racun yang diarahkan Mo Yuyan kepada ketiganya langsung terbelah, sebelum sempat menyentuh tubuh mereka.
Mo Yuyan menyipitkan matanya, saat melihat tekhnik tersebut.
"Tekhnik Penetral Serangan?" gumam Mo Yuyan.
"Salah! Ini adalah tekhnik pembelah energi," jawab si nomor tiga dengan cepat.
"Fiuuh! Ini sangat buruk!" gumam Duan Xue sambil bersiul ringan.
Mo Yuyan hanya tersenyum samar, saat mendengar jawaban si nomor tiga itu.
"Bagus sekali!" ujar Mo Yuyan dengan antusias.
"Kamu terlihat sangat menikmati pertempuran ini, Nona Yuyan. Apakah kamu merasa sangat senang?" tanya si nomor satu dengan wajah bingung.
Biasanya lawan mereka akan memohon ampun dan ketakutan saat sudah dalam keadaan terdesak seperti ini, namun gadis di depannya ini sangat unik ... bukan hanya tidak takut, namun dia juga sangat menikmatinya.
"Ya, aku sangat menantikan lawan yang tidak langsung mati saat bertarung ..." jawab Mo Yuyan dengan wajah polos menggemaskan.
Setelah itu, Mo Yuyan mengangkat tangannya sambil menggumamkan sesuatu.
"Tirai Racun Yin!"
Dalam sekejap, sebuah lapisan ungu terang membentuk sebuah kubah disekitar Mo Yuyan.
Ketiga pembunuh elit itu langsung menyerang secara bersamaan dengan energi gabungan.
BOOOM!
Benturan energi spiritual itu sangat kencang, sehingga membuat kubah buatan Mo Yuyan retak.
Dan retakan itu terlihat sangat jelas, membuat Nenek Du terdiam.
"Tekanan dan energi mereka bertiga sangat stabil, dan mereka menyerang dengan ritme yang sama, tanpa ada celah sedkitpun ..." gumam Nenek Du dengan nada khawatir.
Bukan hanya Nenek Du yang khawatir, Mo Yuyan juga menyadarinya, jika kekuatan mereka bertiga tidak bisa dianggap remeh.
Serangan mereka sangat teratur, pernapasan mereka juga stabil, dan mereka bisa mengendalikan rotasi energi yang mereka keluarkan.
Tiba-tiba, pembunuh nomor dua sudah menghilang dari depan Mo Yuyan, dan muncul dibelakangnya.
Mo Yuyan sedikit lengah saat ini, sehingga~
Slash!
Sebuah tebasan berhasil mendarat sempurna dibagian punggung Mo Yuyan.
Splash!
Da-rah beracun Mo Yuyan terciprat ke atas tanah, membuat Li Shen berteriak histeris.
"KAK YUYAAAAN ...!!!"
Mo Yuyan terhuyung ke arah depan, dia merasakan jika rasa sakit itu ... nyata.
Mo Yuyan mengernyitkan dahinya, dia belum pernah dipaksa sampai sejauh ini sebelumnya.
Si nomor satu berbisik pelan ditelinga Mo Yuyan, saat dia sedang terengah kesakitan.
"Kamu gadis yang sangat tangguh, namun sayang ... kamu sendirian ..."
Mo Yuyan menghapus da-rah yang keluar di sudut bibirnya sambil menyeringai.
"Siapa bilang aku sendirian, hm?"
Setelah kata-kata itu jatuh, tanah yang mereka pijak bergetar.
Sebuah simbol menyala dibawah kaki mereka bertiga.
Tidak ada yang menyadarinya, sampai si nomor tiga yang menyadarinya lebiah awal.
"MUNDUUUR!!! DIA MEMBUAT FORMASI!"
Namun sayang, semuanya sudah terlambat.
Kabut tipis yang keluar dari bawah tanah itu meledak.
BLAR!
Itu adalah kabut ungu bercampur dengan kilat warna hitam, membuat tampilannya terlihat mengerikan.
"Itu adalah formasi 'Racun Pembakar Meridian' ...!" seru Nenek Du dengan wajah terkejut.
Nenek Du tidak menyangka, jika Mo Yuyan sudah menguasai berbagai formasi kuno yang berada di dalam ruang rahasia Istana Giok Ungu.
Si nomor satu melompat tinggi, dengan maksud ingin keluar dari dalam formasi tersebut, namun Mo Yuyan sudah berada tepat diatasnya.
"Bukankan kamu yang bergerak paling cepat tadi, ya?" ujar Mo Yuyan dengan nada sinis.
Setelah itu, dia menekan telapak tangannya ke dada pria itu dengan cepat, dan pria itu juga langsung mengeluarkan energi spiritualnya ke arah Mo Yuyan.
Blam!
Terdengar suara ledakan energi dan racun secara bersamaan di udara.
BOOM!
Keduanya terpental menabrak sebuah pohon disana, dan jatuh berlutut dengan kencang.
BRUGH!
Mo Yuyan merasakan napasnya sangat berat dan dadanya terasa sangat sesak.
"Huuugh! ... Uhuuuk!"
Sementara si nomor satu mendarat dengan goyah diatas tanah dengan topeng retak dan kulit leher yang menghitam.
Namun, dia masih kuat berdiri dengan tegak.
"Racunmu sangat kuat, Nona ... tapi itu belum cukup kuat untuk membunuh kami," ujarnya dengan napas terengah.
Kedua rekan si nomor satu sudah berdiri di samping kanan dan kirinya, terluka tapi tetap stabil.
Mo Yuyan perlahan berdiri dengan peluh dingin yang mulai membasahi dahinya.
Ini adalah kali pertama untuknya, ada orang yang benar-benar memaksanya sampai batas.
"Nona Yuyan ... serahkan peta itu, dan kami akan membiarkan yang lainnya hidup!" ujar si nomor tiga dengan nada dingin.
Mata Duan Xue sudah berubah menjadi merah dan Aura Iblisnya sudah merembes keluar perlahan, saat mendengar ucapan pria itu.
"LANCANG!!! Berani-beraninya kamu~"
Mo Yuyan mengangkat tangannya untuk menhentikan Duan Xue.
Dia menatap ketiga pembunuh elit sambil terkekeh.
"Hehehehe ... Apakah kalian tahu, bagian mana yang paling berbahaya dari racunku, hm?"
"Bukan efeknya ... tapi EVOLUSINYA! Hahahahaha!" ujar Mo Yuyan sambil tertawa mengerikan.
Mereka semua terdiam, saat mendengar ucapan Mo Yuyan yang mengguncang mental mereka.
Pupil mata Mo Yuyan semakin pekat, dengan lingkaran warna ungu terangnya yang berputar semakin cepat.
Da-rah dari luka bahunya tidak menetes lagi, melainkan menguap menjadi genangan kabut tipis di udara.
SI nomor dua tiba-tiba menyadari sesuatu~
"Gawat! Dia menggunakan tubuhnya sendiri sebagai katalis ...!!!" serunya dengan nada tidak percaya.
Mo Yuyan hanya menyeringai dingin~
"Kalian semua yang memaksaku sampai ke titik ini, jadi ... nikmatilah!"
Kabut disekitar mereka langsung berubah warna perlahan ...
Dari warna hijau ... ungu ... lalu menjadi warna gelap yang sangat pekat, membuat udara disekitarnya menjadi sangat berat.
"Aura ini ..." gumam Duan Xue pelan.
Tubuh Nenek Du langsung menegang, ketika menyadari apa yang telah dilakukan oleh Mo Yuyan.
"Dia menembus batas sesaat ..." desis Nenek Du.
Mo Yuyan melangkah maju perlahan, tekanan spiritual disekitarnya meningkat liar, walaupun wajahnya masih terlihat pucat.
"Mari kita lihat sekarang ... siapa yang akan bertahan berdiri sampai akhir ..." ujar Mo Yuyan dengan nada lirih.
-
Ketiga pembunuh elit itu menyerang Mo Yuyan secara bersamaan, membuat pertarungan kali ini tidak lagi satu arah.
"Hiaaaat!"
Blaar!
Blam!
Blam!
Ledakan demi ledakan energi spiritual mengguncang hutan itu.
Slash!
Slash!
Tebasan senjata itu mengenai tubuh Mo Yuyan dua kali, membuat dirinya sedikit kewalahan.
Namun, setiap da-rah yang keluar dari tubuh Mo Yuyan berubah menjadi racun aktif.
Akhirnya, si nomor satu pun jatuh berlutut dengan wajah tidak percaya.
"T-tubuhku ... membeku ..."
Mendengar itu, si nomor dua akhirnya memaksakan energi terakhirnya dan berhasil menu-suk perut Mo Yuyan dengan indah.
Hiaaaat!
Jleeb!
Bilah senjata itu menembus sempurna, membuat Li Shen menjerit histeris.
"TIDAAAAK! KAK ... YUYAAAN!"
Namun, tidak lama kemudian, mata si nomor dua terbeliak lebar, saat merasakan tangannya melepuh dan bilah pedangnya meleleh sebagian.
"R-Racun korosif! ... Dia mengubah da-rahnya sendiri menjadi racun korosif!" serunya si nomor dua tidak percaya.
Mo Yuyan langsung memegang pergelangan tangan si nomor dua sambil menyeringai.
Grep!
"Selamat Jalan! Sampaikan salamku kepada Dewa Yamma ..."
Dan~
BLAAR!
Sebuah ledakan energi spiritual jarak dekat terjadi, membuat tubuh si nomor dua terpental tanpa nyawa.
Si nomor tiga menatap kedua rekannya yang sudah tumbang tanpa nyawa, lalu dia menatap Mo Yuyan yang masih berdiri, walaupun sempoyongan.
Kekuatan keduanya setara, walaupun keduanya terluka parah.
"Jika kita melanjutkan pertarungan ini, maka kita akan mati bersama ..." ujar pria nomor tiga dengan suara lirih.
Mo Yuyan tersenyum, walau wajahnya sudah sangat pucat.
"Kamu bisa mencobanya ..." tantang Mo Yuyan.
Namun, pria itu malah memundurkan jaraknya dari Mo Yuyan.
"Kami hanya menjalankan tugas, jika peluang kekuatan lawan masih diatas tujuh puluh persen," ujar pria itu sambil menatap Mo Yuyan.
"Melihat kondisimu sekarang, mungkin kekuatanmu hanya tinggal lima puluh persen. Aku mengakui daya bertarungmu, Nona!" lanjut pria itu sambil menangkupkan kedua tangannya ke arah Mo Yuyan.
Setelah itu, dia menghilang ke dalam kegelapan.
Wusssh!
-
Suasana menjadi sunyi dengan kepergian pria itu, dan kabut perlahan memudar.
Mo Yuyan berdiri untuk beberapa detik, lalu tubuhnya terhuyung ke arah depan.
Duan Xue langsung dengan sigap menangkapnya, sehingga tubuhnya tidak jatuh menghantam tanah.
Duan Xue melihat gadis pucat yang ada di dalam pelukannya.
"Gadis gila! ... Apa kamu mau membunuh dirimu sendiri, hah?!" omel Duan Xue kepada Mo Yuyan.
"Hehehehe ... sudahlah, jangan mengomel begitu! Yang penting, aku masih hidup, kan?" sahut Mo Yuyan sambil terkekeh.
Nenek Du langsung memeriksa luka Mo Yuyan dengan cepat.
"Kamu mengoyak meridianmu sendiri karena sudah memaksa diri untuk menembus batas sementara ..." ujar Nenek Du dengan nada tidak berdaya.
"Berapa lama waktu untuk memperbaikinya di ruang dimensi, Nek?" tanya Mo Yuyan dengan nada lirih.
"Jika beruntung ... akan memakan waktu selama lima hari," sahut Nenek Du.
"Kalau begitu, carilah penginapan terbaik saat aku masuk ke dalam dimensi nanti. Tunda dulu perjalanan, dan latih Li Shen agar menjadi kuat ..." perintah Mo Yuyan kepada Nenek Du.
"Bawa saja dia masuk nanti ke ruang dimensi, Nek. Supaya dia bisa menjadi kuat dengan cepat ..." lanjut Mo Yuyan.
"Baik ..."
Li Shen mendekat ke arah Mo Yuyan, dan dia langsung memegang tangan Mo Yuyan dengan cemas.
"Maafkan aku, Kak Yuyan ... semua ini terjadi karena aku ..."
Mo Yuyan membuka matanya sambil tersenyum.
"Bukan salahmu ... Ini karena mereka merasa ketakutan akan kita. Dan kita tidak boleh terlihat lemah terlalu lama ..." sahut Mo Yuyan.
"Saat aku tidak ada nanti, patuhi apa yang dikatakan oleh Nenek Du dan Duan Xue. Kita akan bertemu kembali dalam beberapa hari ke depan, oke?!" lanjut Mo Yuyan kepada Li Shen.
Mo Yuyan menatap samar ke arah siluet Kota Hitam di kejauhan.
"Sepertinya akan berbahaya bagi kalian untuk melanjutkan sekarang. Aku berubah pikiran, Nek ... Kalian semua masuk ke dalam ruang dimensi bersamaku, dan berlatih untuk menjadi kuat dulu, sebelum kita melanjutkan perjalanan ini," ujar Mo Yuyan dengan nada tegas.
"Baiklah! Keputusan Ratu, pasti yang terbaik ..." jawab Nenek Du.
Tidak lama kemudian, mereka berempat menghilang dari sana.
Slab!
-
Nun jauh di dalam Kota Hitam~
Seorang Tetua Klan Li membuka matanya perlahan.
"Apakah dia masih hidup?"
Seorang pengawal bayangan langsung berlutut dihadapannya.
"Masih. Tapi dia terluka parah," jawab pengawal bayangan itu, lugas.
Tetua itu tersenyum samar, saat mendengar laporan itu.
"Bagus sekali! Badai yang terluka ... akan semakin ganas! Hahahaha,"
Malam di Utara semakin kelam ...
Dan Kota Hitam~
Sedang menunggu kedatangan seorang 'RATU RACUN' yang terluka parah.
Namun mereka tidak mengetahuinya, jika 'Badai' yang mereka tunggu sedang memulihkan diri dan memperkuat dirinya kembali di dalam ruang dimensi "Seribu Racun' miliknya.
"Kalian tunggu saja diriku sampai botak sariawan, karena aku tidak akan keluar sebelum aku kuat! Hahahahaha!"
☣☣☣