NovelToon NovelToon
Gugatan Dari Suami Yang Tertindas

Gugatan Dari Suami Yang Tertindas

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Duda / Romansa Fantasi
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

Selama tiga tahun pernikahan, Dimas Alvaro rela menjadi "bayangan" di rumahnya sendiri. Sebagai suami dari Reina Darmawanti, seorang pemilik cafe yang sukses namun angkuh, Dimas setiap hari menelan hinaan. Ia dianggap pria tak berguna, pengangguran yang hanya bisa memasak, dan menumpang hidup pada harta istri. Demi menjaga perasaan orang tua mereka dan sebuah rahasia masa lalu, Dimas memilih diam, meski Reina bahkan tak sudi disentuh olehnya.
​Namun, di luar pagar rumah itu, Dimas adalah sosok yang berbeda. Ia adalah pemilik jaringan Rumah Sakit Medika Utama, seorang dokter jenius yang memegang kendali atas ribuan nyawa.
​Kehidupan ganda Dimas mulai goyah saat takdir mempertemukannya dengan Kathryn Danola. Gadis mahasiswa yang ceria, sopan, dan tulus itu memberikan apresiasi yang tidak pernah Dimas dapatkan dari istrinya sendiri. Pertemuan tak sengaja di koridor rumah sakit saat Kathryn menyelamatkan keponakannya, Sean, membuka babak baru dalam hidup Dimas.
​Ketika Reina akhirnya mengu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 Surat di Atas Lantai Berdebu

​Udara di dalam ruang kantor pribadi Dimas terasa sejuk, berbanding terbalik dengan gejolak yang ada di luar sana. Dimas duduk di kursi kebesarannya, menatap sebuah arloji antik peninggalan kakeknya seorang konglomerat yang membangun fondasi kekayaan keluarga Alvaro jauh sebelum Dimas memutuskan untuk menjadi seorang dokter. Di rumah sakit ini, orang hanya tahu dia adalah dokter bedah yang hebat, namun hanya sedikit yang tahu bahwa dialah pemilik sebenarnya dari seluruh gedung dan fasilitas ini melalui warisan yang ia kelola dengan rapi.

​Ponselnya bergetar. Sebuah panggilan dari Adrian.

​"Dimas, bersiaplah. Pertunjukan besar dimulai. Reina benar-benar buntu. Dia mencoba meminta bantuan orang tuanya setelah semua asetnya dibekukan, dan tebak apa? Mertuamu yang terhormat itu sekarang sedang menuju ke 'kos mewahmu' di gang belakang. Mereka sangat marah," suara Adrian terdengar antusias di seberang sana.

​Dimas menghela napas panjang, memijat pelipisnya. "Mereka tidak akan berhenti sampai aku benar-benar hancur di mata mereka, ya?"

​"Justru itu poinnya, kawan! Pakai kostummu, siapkan wajah lesumu. Aku akan memastikan tidak ada staf rumah sakit yang membocorkan identitasmu saat kau keluar lewat pintu belakang. Ingat, biarkan mereka menunjukkan wajah asli mereka sampai ke akar-akarnya," Adrian menyemangati.

​Dimas mengangguk meski tak terlihat. Ia mengganti jas mahalnya dengan kaos putih yang sedikit kusut dan celana kain yang tampak pudar. Dengan bantuan Adrian, ia berhasil keluar dari rumah sakit tanpa terdeteksi dan sampai di kamar kos "palsunya" hanya beberapa menit sebelum sebuah mobil sedan mewah berhenti di depan gang sempit itu.

​Pemandangan di gang tersebut mendadak riuh. Kehadiran mobil mewah dan orang-orang berpakaian perlente menarik perhatian ibu-ibu penghuni kos yang sedang asyik mencuci baju atau sekadar bergosip di selasar.

​Reina turun dari mobil dengan mata sembab, diikuti oleh kedua orang tuanya yang tampak sangat muak melihat lingkungan tersebut. Mama Reina menutup hidungnya dengan sapu tangan sutra, sementara Papanya memandang jijik pada genangan air di lantai semen.

​"Dimas! Keluar kamu!" teriak Papa Reina, suaranya menggelegar mengalahkan suara mesin cuci tetangga.

​Dimas membuka pintu kamar kosnya yang berderit. Ia berdiri di sana dengan bahu yang sengaja ia bungkukkan sedikit, menatap mereka dengan tatapan sayu. "Papa... Mama... kenapa ke sini?"

​"Jangan panggil aku Papa! Aku malu punya menantu yang tinggal di tempat sampah seperti ini!" bentak pria tua itu. Ia melangkah maju dan melemparkan sebundle map berwarna biru ke arah dada Dimas. Map itu jatuh ke lantai yang berdebu.

​"Apa ini?" tanya Dimas pelan.

​"Surat perceraian! Tanda tangani sekarang!" Reina berteriak di belakang ayahnya. "Aku tidak mau terikat lagi dengan pria pembawa sial sepertimu. Gara-gara kamu, semua bisnisku hancur! Kamu itu parasit, Dimas! Hanya tahu menghabiskan uangku tanpa bisa menghasilkan apa-apa!"

​Mama Reina ikut menimpali sambil menunjuk-nunjuk wajah Dimas. "Kami sudah cukup bersabar selama tiga tahun ini. Kami pikir kamu punya masa depan, ternyata kamu cuma dokter rendahan yang tidak punya harga diri. Lihat dirimu sekarang, bahkan anjing peliharaan kami pun punya tempat tidur yang lebih layak dari ini!"

​Dimas hanya diam. Ia tidak membela diri, tidak juga marah. Ia menatap surat di lantai itu, lalu menatap wajah-wajah penuh kebencian di depannya. Di saat yang sama, ibu-ibu penghuni kos yang sejak tadi menonton mulai merasa panas telinga. Mereka yang selama ini mengenal Dimas sebagai "Mas Dokter" yang baik hati dan sering membantu mengobati anak-anak mereka secara gratis, tidak tahan lagi.

​"Astaga... itu istri macam apa? Kasar sekali bicaranya!" sahut Bu RT dari balik jemuran.

​"Iya, sudah suaminya lagi susah, bukannya ditemani malah dihina-hina begitu. Matre sekali ya!" timpal Bu Marni, tetangga kos sebelah yang sedang menggendong anaknya.

​Reina menoleh dengan mata melotot. "Diam kalian semua! Urus saja urusan kemiskinan kalian! Jangan ikut campur urusan orang kelas atas!"

​"Kelas atas apa? Datang ke gang sempit cuma buat maki-maki orang! Kalau saya jadi Mas Dimas, sudah saya ceraikan dari dulu perempuan model begini. Tidak ada sopan santunnya sama orang tua!" teriak seorang ibu dari lantai dua.

​Suasana menjadi sangat ricuh. Hujatan demi hujatan dari para tetangga membuat Reina dan orang tuanya merasa terpojok.

​"Dimas! Cepat tanda tangani! Jangan sampai aku menyeretmu ke pengadilan dan mempermalukanmu lebih jauh!" ancam Papa Reina, wajahnya merah padam karena malu dihujat ibu-ibu sekampung.

​Dimas membungkuk, mengambil surat itu dari lantai. Ia menatap Reina untuk terakhir kalinya. "Jika ini yang kamu inginkan, Reina... aku akan melakukannya. Tapi ingat, saat aku menandatangani ini, tidak akan ada jalan kembali. Kamu akan kehilangan segalanya."

​Reina tertawa mengejek, suaranya melengking tinggi. "Kehilangan apa? Kehilangan kemiskinanmu? Cepat tanda tangani dan pergi dari hidupku selamanya!"

​Dimas mengambil pulpen dari kantongnya. Dengan tangan yang tenang, ia menggoreskan tanda tangan di atas kertas tersebut. Begitu selesai, ia menyerahkan map itu kembali.

​"Sudah. Sekarang silakan pergi. Tempat ini terlalu 'kotor' untuk orang-orang seperti kalian," ujar Dimas datar.

​Reina merampas surat itu dengan kasar. "Ayo Pa, Ma. Kita pergi. Aku sudah mual berada di sini."

​Saat mereka berjalan menuju mobil, hujatan dari warga gang semakin kencang. "Istri durhaka! Semoga kena batunya!" teriak warga. Reina masuk ke mobil dengan membanting pintu, melesat pergi meninggalkan kepulan asap yang menyelimuti Dimas yang masih berdiri diam.

​Setelah mobil itu hilang, Dimas menghela napas panjang. Beban berat di pundaknya seolah menguap begitu saja. Ia menoleh ke arah ibu-ibu yang masih mengomel.

​"Terima kasih ya, Bu, sudah membela saya," ujar Dimas sambil tersenyum tulus.

​"Sama-sama, Mas Dokter. Jangan sedih ya, Mas ganteng begini pasti dapat yang lebih baik. Yang tadi itu mah bukan istri, tapi mak lampir!" sahut Bu RT disambut tawa yang lain.

​Dimas masuk kembali ke kamarnya, menutup pintu, dan langsung menghubungi Adrian.

​"Surat sudah ditandatangani, Adrian. Sekarang, eksekusi tahap akhir. Tarik semua dukungan dari keluarga mereka. Besok pagi, aku ingin mereka tahu siapa yang sebenarnya mereka sebut sebagai 'sampah' selama ini."

​Dimas duduk di kasur tipisnya, namun pikirannya terbang ke Dharmawangsa. Ia membayangkan wajah Kathryn yang lembut. Sekarang, dia benar-benar bebas. Tidak ada lagi rahasia yang menghalangi langkahnya untuk mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. Namun, ia harus tetap berhati-hati, karena ia ingin Kathryn tahu kebenarannya bukan dari mulut orang lain, melainkan dari pembuktian cintanya.

1
Anonymous
ayo up terus thor makin seru niii
Yensi Juniarti
lama2 saya GK suka sifat ketryin ini ...
terlalu berlebihan
Yensi Juniarti
maaf ya tor.. itu terlalu childrens..
terlalu berlebihan kalau kata aku...
seolah2 dia paling korban disini padahal sama2 sakit juga
Dwi Winarni Wina
kayaknya dokter dimas sangat cocok sama khatrin, daripada istrinya itu selalu menghina dan rendahkan...
Dwi Winarni Wina
istri durhaka berani melawan suami, dosanya besar Sekali itu...
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Ira Janah Zaenal
ayo Dimas tinggalkan berkasmu segera ke rumah kediaman Dharmawangsa ... kath sedang membutuhkanmu😍😍
Sri Khayatun
ceritanya bagus ..suami yg sabar dan istrinya durhaka..saya suka
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentarmu yang sangat positif 🙏🏻
total 1 replies
Sri Khayatun
semoga dia jadikan kahtrin sebagai istrinya kelak...
Sri Khayatun
aku mampir thorr
Ira Janah Zaenal
up up up💪💪💪
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Ira Janah Zaenal
semangat dokter Dimas meraih hati ount kathryn😍😍💪💪
jajangmyeon
up
brawijaya Viloid
😎😎
brawijaya Viloid
keren nihh ceritanya
Anonymous
mulai tumbuh ni benih" cinta 🤭
Anonymous
krg ajar bgt, lgian dimas terlalu sabar
Anonymous
waw keren ada gambarnyaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!