Season 2 dari Novel Sang Penakluk.
Hi Cesss, Novel Sang Penakluk kembali lagi ni. Semoga klean suka dengan alur ceritanya Cesss.
Jangan Lupa Like, Komen dan Supportnya Cesss. Karena setiap like, komen dan support dari kalian akan sangat berguna bagiku yang pemula ini.
Selamat Membaca...,,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RantauL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19. Melamar Mei Zen..?
“Ini adalah tanda ketulusan dan keseriusan kami,” ujar Huang Shen tenang. “Kami datang… untuk melamar.”
Suasana aula seketika membeku.
“Apa?”
“Melamar?”
“Putra Mahkota Kekaisaran Awan Kuning…?”
Bisik-bisik semakin ramai. Bahkan Jendral Utama Gan Che terlihat sedikit terkejut, meski ekspresinya tetap terkendali.
Kaisar Jack Zen tetap tenang. Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan berlebihan. Ia hanya menyilangkan jari-jari tangannya di atas sandaran singgasana.
“Menarik,” katanya pelan. “Putra Mahkota Kekaisaran Awan Kuning datang jauh-jauh… hanya untuk melamar.”
Tatapannya menajam. “Namun, sebelum aku menjawab apa pun, aku ingin tahu satu hal.”
Huang Shen menundukkan kepala sedikit. “Silakan, Yang Mulia.”
“Putri mana,” tanya Kaisar Jack Zen dengan suara datar namun penuh tekanan, “yang telah membuat seorang Putra Mahkota dari Kekaisaran Awan Kuning datang dengan rombongan sebesar ini?”
Aula kembali hening.
Huang Shen menarik napas pelan, lalu mengangkat kepalanya. Tatapannya kali ini lebih lembut, seolah kenangan tertentu muncul di benaknya.
“Putri itu bernama Mei Zen, Yang Mulia.” ucapnya mantap.
Sontak, beberapa kepala menoleh. Para pejabat istana saling berbisik. Para permaisuri saling bertukar pandang.
Mei Zen bukanlah Putri Kaisar sembarangan, ia adalah kultivator pilih tanding. Mendengar namanya saja sudah membuat banyak orang ketakutan.
“Dua bulan lalu,” lanjut Huang Shen, “sebuah tim pemburu dari Kekaisaran Awan Putih tiba di wilayah kami. Tim pemburu itu dipimpin langsung oleh Putri Mei Zen.”
Ia tersenyum tipis. “Saat pertama kali melihatnya… Aku tahu.”
Nada suaranya tidak berlebihan, namun jelas menyimpan emosi yang dalam.
“Kecerdasan, ketenangan, kecantikan dan caranya membawa diri… sejak saat itu, bayangannya terus teringat olehku. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama.”
Beberapa pejabat tampak terdiam. Beberapa lainnya terlihat gelisah.
Permaisuri Mei Ling menoleh ke arah Kaisar Jack Zen, ekspresinya sulit dibaca. Permaisuri Mue Che menatap Huang Shen dengan senyum tipis yang penuh arti, sementara Permaisuri Lou Yi menyipitkan mata.
Kaisar Jack Zen tetap tenang. Namun di dalam hatinya, berbagai pertimbangan mulai bergerak cepat.
“Putra Mahkota Huang Shen,” ujarnya akhirnya, “niatmu telah kami dengar.”
Ia berhenti sejenak, menatap seluruh aula. “Namun urusan ini bukan perkara kecil. Putriku bukan sekedar alat politik.”
Tatapan Huang Shen mengeras, penuh kesungguhan. “Aku mengerti, Yang Mulia. Justru karena itulah Aku datang sendiri.”
Udara di Aula Utama terasa semakin berat, seolah tekanan tak kasatmata menekan dada setiap orang yang hadir. Kilau emas dari persembahan lamaran masih memantulkan cahaya keemasan di dinding aula, namun kehangatan yang seharusnya menyertai sebuah lamaran justru berubah menjadi ketegangan yang kian menajam.
Kaisar Jack Zen menatap Putra Mahkota Huang Shen cukup lama. Tatapannya tenang, namun di balik ketenangan itu tersimpan kebijaksanaan seorang penguasa yang telah melewati terlalu banyak badai politik.
Akhirnya, ia menarik napas pelan.
“Putra Mahkota Huang Shen,” ucapnya dengan suara dalam dan terukur, “kami menghargai keberanian dan ketulusanmu datang sendiri ke Kekaisaran Awan Putih. Akan tetapi… ada hal yang harus kau pahami.”
Ia menoleh sedikit ke arah Permaisuri Mei Ling.
Permaisuri Mei Ling bangkit perlahan dari tempat duduknya. Sikapnya anggun, wajahnya lembut, namun sorot matanya menunjukkan keteguhan yang tak bisa disepelekan.
“Putriku, Mei Zen,” kata Permaisuri Mei Ling dengan suara halus namun jelas terdengar di seluruh aula, “bukanlah seseorang yang bisa diputuskan masa depannya tanpa kehadiran dan persetujuannya.”
Ia menatap langsung ke arah Huang Shen. “Kami tidak bisa menerima lamaran ini… setidaknya bukan sekarang.”
Bisik-bisik kembali menggema di antara para pejabat.
Huang Shen tidak langsung bereaksi. Ia hanya menghela napas perlahan, lalu bertanya dengan nada sopan namun penuh keinginan untuk memahami.
“Apakah Yang Mulia Permaisuri berkenan menjelaskan alasannya? Menurutku kami berdua sudah sangat cocok menjadi sebuah pasangan. Aku adalah Putra Mahkota, dan Mei Zen adalah Putri Sulung Kaisar. Aku adalah Jenius Kultivasi, begitu juga dengan Mei Zen. Kami sama-sama berbakat. Bukankah itu suatu takdir yang sudah ditentukan?”
Kaisar Jack Zen kembali mengambil alih pembicaraan.
“Mei Zen saat ini sedang menjalankan misi penting bagi kekaisaran,” ujarnya. “Misi itu berbahaya, dan lokasinya tidak bisa kami ungkapkan. Tidak ada yang tahu kapan ia akan kembali.”
Ia menatap Huang Shen lurus-lurus. “Selama ia belum kembali, dan selama ia belum menyatakan kehendaknya sendiri, kami tidak akan menerima lamaran apa pun atas namanya. Ingatlah Putra Mahkota Huang Shen.., Takdir seseorang tidak bisa ditentukan oleh orang lain.”
Kata-kata itu diucapkan dengan tenang, namun tegas. Tidak ada celah untuk salah tafsir.
Huang Shen mengepalkan jarinya perlahan, lalu kembali merilekskannya. Wajahnya tetap tenang, sorot matanya menunjukkan bahwa ia belum menyerah.
“Aku memahami maksud Yang Mulia,” katanya. “Akan tetapi izinkan aku menyampaikan satu hal lagi.”
Ia melangkah setengah langkah ke depan, sikapnya tetap sopan namun penuh keyakinan.
“Jika lamaran ini diterima,” lanjutnya, “Kekaisaran Awan Kuning bersedia menjalin aliansi penuh dengan Kekaisaran Awan Putih. Kami akan menjamin keamanan wilayah kalian, mendukung stabilitas politik, serta membuka jalur perdagangan utama.”
Ia mengangkat tangannya sedikit, seolah menekankan bobot ucapannya. “Sebagai sekutu, kita akan menjadi kekuatan besar yang tak mudah digoyahkan.”
Aula kembali bergemuruh oleh bisik-bisik.
“Aliansi dengan Kekaisaran Awan Kuning…”
“Itu tawaran yang luar biasa…”
“Kekaisaran mereka sangat kaya…”
Permaisuri Mue Che, yang sejak tadi hanya mengamati dengan senyum tipis, akhirnya angkat bicara.
“Yang Mulia Kaisar,” katanya lembut namun penuh perhitungan, “menurut pendapatku, tawaran Putra Mahkota Huang Shen patut dipertimbangkan.”
Ia menoleh ke arah Huang Shen, lalu kembali ke singgasana. “Tidak menjadi masalah jika Putri Mei Zen belum berada di istana. Lamaran bisa diterima terlebih dahulu sebagai bentuk ikatan politik. Urusan lainnya bisa dibicarakan setelah Putri Mei Zen kembali.”
Beberapa pejabat tinggi mengangguk setuju.
“Permaisuri Mue Che benar.”
“Ini kesempatan emas.”
“Dengan dukungan Kekaisaran Awan Kuning, kekaisaran kita bisa semakin makmur.”
Perdebatan mulai memanas. Suara-suara setuju dan ragu saling bersahutan. Aula utama yang biasanya khidmat kini berubah menjadi arena tarik-ulur kepentingan.
Permaisuri Lou Yi menyipitkan mata, mengamati situasi dengan tenang. Ia tidak ikut berbicara, namun jelas sedang menimbang untung dan rugi.
Kaisar Jack Zen belum memberikan keputusan. Ia hanya mendengarkan, wajahnya tetap sulit ditebak.
"Yang Mulia.., tidak ada salahnya kita menerima lamaran dari Putra Mahkota Huang Shen. Ini sangat menguntungkan bagi Kekaisaran kita." Wei Tong, salah satu penasehat kaisar ikut memberikan pendapat.
Huang Shen melihat peluang. “Aku tidak meminta keputusan tergesa-gesa,” katanya. “Namun setidaknya, aku berharap Yang Mulia membuka pintu kemungkinan itu.”
Permaisuri Mue Che mengangguk kecil. “Lagipula,” tambahnya, “Putra Mahkota datang dengan itikad baik dan keseriusan. Menolak mentah-mentah bisa berdampak pada hubungan antar-kekaisaran.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan Lupa Like dan Komennya Cesss.....
Selamat Membaca.....
Lanjut Terussss.....
reader yg setia masih menanti update yg terbaru