NovelToon NovelToon
The Antagonist'S Muse

The Antagonist'S Muse

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / CEO / Sistem
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: lailararista

Vallerie tidak pernah menyangka bahwa menutup mata setelah membaca bab terakhir sebuah novel akan membawanya terbangun di tubuh seorang figuran dengan nama yang sama. Namun, ia tidak punya waktu untuk bingung. Sebilah belati tak kasat mata kini tergantung di atas kepala sahabatnya, sang Antagonis, yang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan Protagonis Pria demi membalas dendam kekasihnya

Demi mengubah naskah kematian tersebut, Vallerie harus memainkan peran yang berbahaya. Di mata dunia, ia adalah kaki tangan yang setia, ikut tertawa saat sang antagonis merencanakan kejahatan, dan terlihat sama busuknya. Namun, di balik bayang-bayang, Vallerie-lah yang diam-diam memotong tali jebakan, dan memastikan rencana jahat sahabatnya selalu gagal .

Berada di antara pedang Protagonis Pria dan obsesi gelap sahabatnya sendiri, satu-satunya teman bicara Vallerie hanyalah sebuah Sistem super cerewet dan berisik di dalam kepalanya. Terkadang Vallerie merasa kesal, tapi hanya dia yang bisa membantu V

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rubah dan taringnya

Vallerie menyesap tehnya sambil duduk di tempat favoritnya, di kursi balkon. Angin malam ini terasa lebih menusuk hingga ke tulang, namun ia butuh udara segar untuk mendinginkan otaknya yang berisik.

"Sistem," panggil Vallerie pelan sambil menatap gedung-gedung yang berkelap-kelip. "Jelaskan tentang masa lalu Vallerie. Kenapa Vernandes bisa punya data sedalam itu tentang keluargaku?"

[Ding! Menampilkan memori fragmen masa lalu...]

Suara sistem kali ini terdengar lebih rendah.

[Tuan putri, hidup Vallerie yang asli tidak seperti yang orang lihat. Dulu, Freya, ibumu dan ayah kandungmu, terjebak dalam pernikahan toxic. Ayahmu berselingkuh dan akhirnya menikah lagi dengan seorang janda beranak satu. Saat mereka sibuk berperang dan saling menyalahkan, mereka melupakan satu hal. kamu. Kamu ditelantarkan di tengah puing-puing ego mereka.]

Vallerie mengepalkan tangannya di atas pangkuan. Ia bisa merasakan sisa-sisa sesak yang ditinggalkan oleh pemilik tubuh asli.

"Lalu, bagaimana dengan Angelina itu?"

[Dia adalah anak dari istri baru ayahmu. Umurnya sama denganmu. Saat masa kuliah, dia adalah mimpi buruk bagi Vallerie. Dia tidak hanya merebut ayahmu, tapi dia secara sistematis menghancurkan hidupmu di kampus. Pacarmu saat itu, teman-temanmu, bahkan barang-barang berhargamu... dia merebut semuanya hanya untuk membuktikan bahwa dia lebih berkuasa.]

Vallerie tertawa hambar, matanya berkaca-kaca karena amarah yang bukan miliknya. "Jadi itu alasannya Vallerie menjadi seperti sekarang?"

[Benar. Dan sekarang, takdir membawamu kembali ke jalur mereka. Vernandes memberikan kartu as itu padamu karena dia tahu, kamu butuh alasan kuat untuk menghancurkan mereka.]

"Dunia ini benar-benar sempit dan memuakkan," gumam Vallerie. Ia menghela napas panjang, mencoba membuang sesak di dadanya.

"Sepertinya Vernandes bisa kita manfaatkan."lanjut Vallerie sambil tersenyum singkat dan meletakkan gelas teh yang masih dia pegang ke atas meja.

[Sepertinya bagitu, dia mengetahui semuanya, dia juga cukup berkuasa. Meminjam kakinya untuk berjalan juga tidak masalah, asal dia mau.]

Mendengar itu senyum Vallerie semakin lebar.

"Sistem? Sepertinya kamu juga licik seperti ku."goda Vallerie.

Vallerie terdiam sesaat, namun tiba-tiba, ia teringat kejadian waktu itu. Secara refleks, Vallerie menoleh ke arah balkon sebelah. Ia terkejut saat mendapati pintu kaca apartemen Victor terbuka lebar. Pria itu sedang berdiri di sana, menyandar pada pagar balkon dengan santai, seolah-olah memang sedang menguping pembicaraan nya dengan sistem, tapi Vallerie berbicara cukup pelan, dan dia juga tidak mungkin bisa mendengar ucapan sistem bukan.

Victor menatap Vallerie lama.

"Matahari sudah tenggelam, tapi sepertinya kamu masih menyimpan banyak mendung di wajahmu." suara bariton Victor memecah keheningan malam.

Vallerie tersentak, "Bukan urusanmu."

Victor terkekeh kecil. "Setidaknya kali ini kamu tidak melompat ke balkonku seperti pencuri."

Wajah Vallerie memanas. Ternyata pria itu mengetahuinya? Vallerie menutup wajahnya menggunakan tangannya karena merasa sedikit malu.

"Aku hanya... sedang berolahraga!" kilat Vallerie asal.

"Olahraga jantung di ketinggian seribu kaki? Menarik," Victor melangkah selangkah lebih dekat ke arah pembatas balkon mereka. "Kalau butuh bantuan, kamu tau di mana harus mengetuk pintu."ucap Victor seakan tahu apa yang dirasakan Vallerie.

Vallerie terpaku. Sepertinya pria itu juga cukup tau semua tentang nya. Siapa sebenarnya pria ini? Sepertinya orang-orang di dunia ini cukup misterius.

[Sepertinya, Victor ini cukup menarik.]

Vallerie menelan ludah.

"Kenapa kamu ingin membantuku?" tanya Vallerie curiga.

Victor menyesap wine-nya, matanya berkilat misterius di bawah cahaya lampu. "Anggap saja aku suka melihat rubah kecil yang sedang mengasah taringnya."

Vallerie terdiam sejenak, lalu berdiri dan melangkah mendekat ke pembatas balkon, membiarkan angin malam memainkan helai rambutnya. Ia menumpukan kedua sikutnya di pagar besi, sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah balkon Victor sehingga jarak di antara mereka kini hanya terpaut beberapa jengkal ruang kosong di ketinggian.

"Menarik," gumam Vallerie, suaranya kini sengaja dibuat rendah dan serak. "Kamu menawarkan bantuan seolah-olah kamu tau persis seberapa tajam taring yang sedang aku asah."

Victor tidak bergerak, namun sorot matanya yang tajam mengikuti setiap gerak-gerik gadis itu. "Setajam apa pun, masih bisa tumpul kan?"

Vallerie mengangguk membenarkan."Kenapa mau membantuku? tidak takut aku akan mengkhianati mu? Atau mungkin memanfaatkan mu?"

"Aku ingin melihat, seperti apa kamu bisa melakukan semua itu."

Vallerie tertawa kecil, suara tawa singkat. Ia mengulurkan tangannya, seolah ingin menyentuh udara di antara mereka.

"Kalau begitu, aku ingin melihat kesungguhan mu." bisik Vallerie. "Membantuku itu mahal harganya. Kamu yakin sanggup membayarnya?"

Victor meletakkan gelas wine-nya di pagar. Ia sedikit membungkuk, menyejajarkan wajahnya dengan Vallerie. Bau parfum woody dan aroma wine yang mahal menyeruak ke indra penciuman Vallerie.

"Seberapa banyak yang kamu butuhkan?" sahut Victor dengan suara yang bergetar rendah di tenggorokannya.

[Tuan putri! Detak jantung target meningkat. kamu berhasil memancing nya.]

Vallerie mengabaikan suara sistem. Ia justru semakin berani. Ia mengulurkan jari telunjuknya, menyentuh ujung kerah kemeja Victor yang terbuka.

"Aku butuh seseorang yang berani mengotori tangannya bersamaku," Vallerie menarik kerah itu sedikit, memaksa Victor condong lebih maju. "Jadi, apakah kamu hanya penonton, atau kamu ingin menjadi pemeran utama di pihakku?"

Victor meraih pergelangan tangan Vallerie lembut, namun cukup kuat. Ia menarik tangan gadis itu dan mengecup ujung jemarinya dengan tatapan yang tetap terkunci pada mata Vallerie.

"Tergantung," ucap Victor pelan. "Apa peran yang sudah kamu siapkan untukku?"

Vallerie merasakan aliran listrik menjalar dari ujung jarinya, namun ia tidak menarik tangannya. Ia justru memiringkan kepalanya, membalas tatapan itu dengan binar nakal.

"Pintu balkon ku tidak pernah di kunci, masuklah sesuka mu."ucap Vallerie tersenyum menggoda.

Vallerie menarik tangannya dengan sekali sentakan halus, lalu berbalik menuju pintu kacanya tanpa menoleh lagi.

Victor menatap pintu kaca yang sudah tertutup. Senyum miring tersungging di bibirnya, sambil mencium aroma wangi tangan Vallerie yang tertinggal di telapak tangannya.

1
Raine
kan sistem bisa dengar kata hati tanpa harus mengeluarkan suara
Raine
hmm sepertinya aleta si drama quenn,
Alissia
/Smile//Smile/
Fahreziy
nexk
Fahreziy
👣👣👣👣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!