Rasa putus asa telah membawa jiwa murni yang rapuh pada kegelapan. Lunaris Skyler hanya ingin membalas semua rasa sakitnya dengan menerima tawaran bantuan dari Sirius. Yang tanpa Lunaris tau, jika dia telah terlibat dalam permainan takdir yang diciptakan oleh racun mematikan bernama dendam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucient Night, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Runtuhnya Kesombongan
Karma tidak pernah datang dengan tergesa-gesa. Ia bukanlah sambaran petir yang menyambar seketika, melainkan racun yang merayap perlahan di dalam aliran darah. Ia mengikat mangsanya dari segala arah, membiarkan sang mangsa merasa masih memegang kendali, sebelum akhirnya menarik tali simpul itu kuat-kuat hingga tak ada lagi celah untuk bernapas.
Bagi Gavin yang arogan, putaran pertama dari roda penderitaan ini bernama: Kehancuran Harga Diri dan Pengkhianatan Mutlak.
Semuanya tidak terjadi dalam semalam. Sirius adalah seniman dalam hal penyiksaan, dan ia ingin menikmati setiap detik proses kehancuran mahakaryanya.
Dua hari setelah tangan Lunaris menempelkan kutukan itu di bahunya, hidup Gavin masih terlihat normal. Ia masih datang ke sekolah dengan mobil sport terbarunya, masih menertawakan murid-murid lemah bersama teman-temannya, dan masih merasa berada di puncak rantai makanan.
Namun, hal-hal ganjil yang sepele mulai menggerogoti kesehariannya.
Awalnya hanya berupa gangguan kecil. Saat Gavin sedang nongkrong di kantin bersama gengnya, ia tiba-tiba mencium bau daging busuk yang sangat menyengat. Ia mengomel, menuduh petugas kantin tidak membersihkan tempat sampah. Tapi anehnya, Arthur, Liam, Troy, Cedric dan yang lainnya sama sekali tidak mencium apa-apa.
"Anjing bau banget, petugas kebersihan pada makan gaji buta apa gimana sih? Daging busuk belum dibersihin sampe baunya nusuk idung."
"Bau apaan? Gue gak nyium bau sama sekali." - Arthur
"Lu ngigo ya?" - Liam
"Masa kalian gak nyium baunya? Busuk gini anjir nyengat idung." - Gavin
"Ngayal Lu ah." - Cedric
Lalu, gangguan itu merambat pada barang-barang pribadinya. Ponselnya sering mati sendiri dan layarnya menampilkan distorsi statis setiap kali ia mencoba merekam atau memotret sesuatu. Tinta pulpennya mendadak bocor dan mengotori kemeja seragam mahalnya dengan bercak hitam yang anehnya, di mata Gavin, terlihat seperti darah yang mengering.
Di malam hari, tidurnya mulai terganggu. Gavin sering terbangun karena mendengar suara kuku yang menggaruk-garuk jendela kamarnya di lantai dua. Namun setiap kali ia memeriksa, tidak ada apa-apa selain angin malam.
Lalu keesokan harinya di sekolah.
"Lo kenapa sih, Vin? Gelisah amat dari tadi," tegur Arthur di hari ketiga saat mereka sedang membolos di belakang sekolah. Gavin sedari tadi terus menggaruk-garuk tengkuknya hingga kemerahan.
"Nggak tau, anjing. Gue ngerasa ada nyamuk atau serangga masuk ke baju gue," umpat Gavin kasar, meremas kerah bajunya dengan frustrasi. Ia kurang tidur, dan kantung matanya mulai terlihat menghitam.
Teman-temannya hanya saling pandang dengan kening berkerut. Di mata mereka, Gavin mulai terlihat aneh dan tidak terawat.
Bau parfum mahalnya perlahan tertutupi oleh aroma keringat dingin yang tidak sedap, membuat beberapa siswi yang biasanya mengerumuninya perlahan menjaga jarak. Kesombongan Gavin mulai menunjukkan retakan pertama.
Hari Keempat dan Kelima: Retaknya Sebuah "Kekuasaan"
Kutukan itu semakin intens. Gangguan yang tadinya sepele kini berubah menjadi teror psikologis yang membuat emosi Gavin tidak stabil.
Puncaknya terjadi di hari kelima. Gavin dan teman-temannya sedang nongkrong di sebuah kafe sepulang sekolah. Gavin, dengan gaya angkuhnya yang biasa, memesan makanan dan minuman paling mahal untuk satu meja. Ia ingin membuktikan bahwa dirinya masihlah "raja" di kelompok itu, menutupi rasa cemas dan paranoid yang mulai menggerogoti otaknya.
Namun, saat tagihan datang dan Gavin menyerahkan kartu kredit platinum milik ayahnya, pelayan kafe kembali dengan wajah canggung.
"Maaf, Kak. Kartunya declined. Apa ada kartu lain?"
Gavin terbelalak. Darahnya mendidih. "Lo gila?! Gesek lagi yang bener! Mesin lo kali yang rusak, itu kartu limitnya ratusan juta, bangsat!" bentaknya, membuat beberapa pengunjung kafe menoleh.
Pelayan itu ketakutan, namun setelah mencoba dua kali lagi, hasilnya tetap sama. Kartu itu diblokir.
Suasana di meja itu mendadak hening. Liam, yang biasanya paling menjilat pada Gavin, mendengus pelan.
"Lagi bokek lo, Bos? Atau bokap lo udah mulai pelit?" sindir Liam dengan nada setengah bercanda namun terselip nada meremehkan yang tajam.
Gavin menatap Liam dengan mata memerah. Harga dirinya sebagai anak konglomerat tercoreng telak. Dengan tangan gemetar karena amarah dan rasa malu, ia melempar segepok uang tunai—sisa uang sakunya bulan ini—ke meja dan langsung pergi meninggalkan kafe tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Keesokan harinya, mental Gavin sudah berada di ujung tanduk. Ia sangat mudah marah, emosian, dan selalu curiga pada orang-orang di sekitarnya. Paranoia membuatnya merasa bahwa semua orang sedang menertawakannya di belakang punggungnya.
Dan ternyata, tebakannya tidak sepenuhnya salah.
Siang itu, Gavin berniat mengganti baju olahraganya di ruang ganti laki-laki. Saat ia baru saja akan mendorong pintu, ia mendengar suara tawa yang sangat ia kenal. Itu suara Liam, Arthur, Troy, dan Cedric.
Gavin menghentikan langkahnya, mendengarkan dari balik pintu yang sedikit terbuka.
"Sumpah, si Gavin belakangan ini makin gila," suara Arthur terdengar menggema. "Lo liat nggak sih komuknya tadi pagi? Pucet banget kayak mayat hidup. Terus bau badannya aneh banget, gue sampai mau muntah duduk sebelah dia."
"Iya, anjir. Mana kemarin di kafe kartunya declined," sahut Cedric sambil tertawa meremehkan. "Sok-sokan mau nraktir. Kayaknya bisnis bokapnya lagi goyang deh. Gue denger dari bokap gue, ada gosip perusahaannya lagi diselidiki."
"Mending kita pelan-pelan jauhin aja," timpal Liam, suaranya dipenuhi arogansi palsu. "Gue cuma temenan sama dia karena dia yang selalu bayarin tiap kali kita nongkrong. Kalau dia udah mulai kere dan gila kayak sekarang, ngapain kita ikut-ikutan repot? Cewek-cewek juga udah pada ilfeel sama dia. Nggak ada untungnya lagi di kubu dia."
Mendengar hal itu, kewarasan Gavin yang sudah tipis akhirnya putus.
Pengkhianatan itu meledak di kepalanya. Selama ini ia merasa menjadi pemimpin yang dihormati, tapi ternyata ia hanya dianggap sebagai dompet berjalan oleh "anjing-anjing" peliharaannya sendiri. Matanya gelap oleh amarah dan pengaruh magis dari kutukan Sirius yang terus memanaskan emosinya.
BRAK!
Gavin menendang pintu ruang ganti hingga terbanting keras ke dinding. Arthur, Liam, dan Cedric tersentak kaget, wajah mereka pias melihat Gavin berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan urat leher yang menonjol.
"Oh, jadi ini kerjaan lo pada di belakang gue?!" raung Gavin.
Sebelum ada yang sempat menjawab, Gavin sudah menerjang maju bak binatang buas. Ia langsung melayangkan pukulan mentah tepat ke rahang Liam.
Bugh!
Liam terpelanting ke deretan loker dengan bunyi hantaman besi yang keras. Darah segar langsung mengucur dari sudut bibirnya.
"Bangsat lo, Liam! Selama ini lo hidup dari duit gue, anjing! Berani-beraninya lo ngomongin gue di belakang!" Gavin kesetanan. Ia menarik kerah baju Liam dan kembali melayangkan pukulan bertubi-tubi ke wajah temannya itu. Emosinya benar-benar tidak terkendali, meluapkan segala ketakutan dan halusinasinya pada wajah Liam.
"Woi, woi! Gila lo, Vin! Lepasin!" Arthur dan Cedric yang tersadar dari keterkejutannya langsung maju.
Mereka berdua menarik tubuh Gavin dengan kasar, berusaha memisahkan pemuda yang sedang mengamuk itu. Namun karena tenaga Gavin sedang dikuasai adrenalin murni, Troy terpaksa mendaratkan pukulan keras ke perut Gavin agar ia melepaskan cengkeramannya pada Liam.
Gavin terbatuk, mundur beberapa langkah sambil memegangi perutnya. Ia menatap teman-temannya dengan nanar.
Liam, yang dibantu berdiri oleh Cedric, meludah darah ke lantai. Matanya menatap Gavin dengan kebencian penuh. "Sinting lo, Vin! Lo beneran udah gila! Cuma gara-gara omongan gitu lo mau bunuh gue?!"
"Lo yang anjing! Kalian semua sampah pengkhianat!" teriak Gavin, air mata keputusasaan mulai menggenang di matanya tanpa ia sadari.
Arthur berdiri menutupi Liam, menatap Gavin dengan raut wajah keras. "Udah, Vin. Lo kelewatan. Kalau emang lo ada masalah, nggak gini caranya. Mulai sekarang, lo urus diri lo sendiri. Nggak usah gabung sama kita dulu kalo lo masih aneh gini."
Mereka bertiga kemudian memapah Liam keluar dari ruang ganti, sengaja menabrak bahu Gavin dengan kasar saat melewatinya.
Gavin ditinggalkan sendirian di ruang ganti yang sunyi. Napasnya terengah-engah. Menara kesombongannya baru saja rubuh setengah. Teman-temannya, fondasi dari kekuasaannya di sekolah, telah membuangnya. Ia tidak lagi memiliki siapa-siapa di Sevit.
Dan jika pengkhianatan teman-temannya menghancurkan separuh menaranya, maka kejadian di hari ketujuh adalah bom yang meratakan seluruh hidup Gavin hingga menjadi debu.
Semuanya meledak di berita nasional. Pagi itu, nama keluarga Gavin tidak lagi menjadi simbol kekayaan dan kehormatan, melainkan berubah menjadi lelucon paling kotor dan memalukan di seluruh negeri.
Petugas khusus yang menangani kasus korupsi dan kepolisian telah melakukan penggerebekan di tengah malam. Ayah Gavin, yang selama ini diagung-agungkan sebagai donatur besar, pengusaha properti terpandang, dan sosok ayah yang keras namun berwibawa... tertangkap basah dengan cara yang paling hina.
Skandal itu luar biasa menjijikkan. Ayah Gavin tidak hanya terbukti menggelapkan dana panti asuhan dan mencuci uang bernilai ratusan miliar, tetapi ia juga tertangkap di sebuah kamar penthouse hotel terselubung. Ia tidak sendirian. Ia ditemukan bersama tiga wanita penghibur yang usianya masih di bawah umur, dikelilingi oleh botol-botol minuman keras dan paket-paket obat-obatan terlarang yang berserakan di atas meja.
Video amatir dari penggerebekan itu entah bagaimana bocor ke internet. Foto-foto yang menampilkan wajah ayah Gavin dalam keadaan setengah telanjang, teler, dan diborgol tersebar luas di setiap platform media sosial tanpa sensor yang berarti.
Dampaknya instan, masif, dan brutal.
Pihak berwenang langsung membekukan seluruh aset keluarga. Garis polisi dipasang melingkari rumah mewah bak istana yang selama ini Gavin banggakan. Mobil-mobil sport mereka disita hari itu juga.
Namun yang paling menghancurkan bagi Gavin adalah ibunya. Ibunya, seorang sosialita yang sangat menjaga image dan reputasi, menjerit histeris melihat berita itu. Tidak sanggup menanggung rasa malu yang menghancurkan dan kenyataan bahwa ia kini jatuh miskin, sang ibu tidak memeluk Gavin atau mencoba menenangkannya. Wanita itu justru mengemas perhiasan dan barang-barang bermereknya yang tersisa ke dalam koper, lalu kabur malam itu juga tanpa pamit, meninggalkan Gavin yang menangis kebingungan di tengah ruang tamu yang berantakan.
Gavin benar-benar sendirian. Ditinggalkan oleh teman, dibuang oleh ibunya, dan dihancurkan oleh aib ayahnya. Ia menghadapi badai hujatan masyarakat sendirian.
Keesokan harinya, dengan akal sehat yang sudah berada di ambang kehancuran, Gavin melakukan tindakan paling nekat dan putus asa. Ia datang ke sekolah.
Ia berangkat menggunakan kendaraan umum dengan seragam yang belum disetrika. Tatapan matanya kosong. Ia berpikir bahwa di Sevit, setidaknya ada Bracia —gadis yang selalu ia patuhi dan ia bela— akan memberikan sedikit empati atau perlindungan.
Bracia memiliki kekuasaan mutlak, gadis itu pasti bisa membungkam mulut anak-anak lain. Bracia pasti mau membantunya karena Gavin selalu menuruti perintah gadis itu.
Namun, realitas menamparnya sepuluh kali lebih keras dari pukulan Arthur.
Saat ia melangkah di sepanjang koridor, tidak ada lagi tatapan segan, takut, atau memuja. Siswa-siswa terang-terangan berhenti mengobrol untuk menertawakannya. Mereka menunjuk-nunjuk wajahnya.
"Eh, liat tuh anak si pedofil koruptor," bisik seorang siswi dengan sengaja mengeraskan suaranya.
"Gila, urat malunya udah putus kali ya masih berani datang ke sekolah."
"Awas, jangan deket-deket, ntar dompet lo dicopet buat bayar utang bapaknya."
Kata-kata paling kotor dan menyakitkan dilemparkan padanya. Gavin menundukkan kepalanya dalam-dalam, mempercepat langkahnya, mencari perlindungan.
Di ujung koridor dekat loker utama, ia melihat Bracia berdiri bersama Emmeline dan Tessa. Arthur, Liam, Troy, dan Cedric juga ada di sana, berdiri di belakang Bracia seperti pengawal baru.
Melihat mereka, ada secercah harapan di hati Gavin. Ia setengah berlari menghampiri kelompok itu.
"Bracia! Arthur! Liam!" panggil Gavin, suaranya bergetar parah menahan tangis dan keputusasaan.
Namun, saat ia berjarak sekitar dua meter dari mereka, Arthur langsung melangkah maju, mengangkat tangannya lebar-lebar dengan raut wajah mengancam. "Wow, wow! Stop di situ, Vin. Mundur. Jangan deket-deket ke arah kita."
Gavin mengernyit, mencoba memaksakan senyum canggung yang terlihat sangat menyedihkan di wajah pucatnya. "Lo... lo pada kenapa sih? Ini gue... Gavin. Bracia, gue butuh bantuan lo, tolongin gue, gue nggak bisa pulang ke rumah... kasih gue pinjeman duit atau tumpangan sementara kek, semua aset bokap gue disita—"
"Gue nggak kenal sama anak koruptor gila seks yang najis," potong Liam cepat, membalas perbuatan Gavin kemarin dengan senyum penuh kemenangan. "Lo pikir kita mau kebawa-bawa aib keluarga lo yang hina itu? Cih, najis sumpah."
Gavin terbelalak, hatinya mencelos hingga ke dasar perut. Penolakan dari teman-temannya sudah ia duga, namun ia masih berharap pada Bracia. Ia menoleh pada sang ratu lebah, menatap gadis itu dengan tatapan memelas.
"Bracia... gue selalu lakuin apa pun yang lo suruh. Kejadian Lunaris kemarin, gue yang maju paling depan buat lo. Masa lo mau buang gue gitu aja?" suaranya pecah, setengah memohon.
Bracia melipat tangannya di depan dada. Tatapan matanya begitu dingin, menyapu penampilan Gavin dari ujung rambut yang berantakan hingga sepatu mahalnya yang kini terlihat kusam, seolah Gavin adalah tumpukan sampah basah yang menjijikkan.
Gadis itu menutup hidungnya dengan punggung tangan, menunjukkan isyarat bahwa udara di sekitar Gavin telah tercemar.
"Gavin. Keluarga lo itu udah tamat. Hancur. Lo sekarang cuma gembel, gelandangan dengan marga yang menjijikkan. Jangan pernah berani lo nyebut-nyebut nama gue lagi." Ucap Bracia dengan nada suara datar namun mematikan.
Bracia melangkah maju satu langkah, menatap tepat ke manik mata Gavin yang bergetar. "Udara di sekitar lo sekarang bau kemiskinan dan dosa, Gavin. Lo bikin sekolah ini kotor. Cabut dari hadapan gue sekarang, sebelum gue suruh satpam buat nyeret lo keluar."
"Bracia, kalo lo gak mau bantu gue, gue bakal bongkar semua kejahatan lo. Lo yang udah ngejebak Lunaris sampe dia diperkosa sama anjing-anjing dibelakang Lo!" ucap Gavin putus asa, berharap Bracia akan terpengaruh.
Bracia berhenti berjalan dan menoleh, "Gavin, lo bego ya? Coba aja lo bilang sama semua orang. Kalau lo lupa, lo adalah orang pertama yang merkosa Lunaris. Kalau lo bongkar soal video itu, itu sama aja lo ngegali kuburan lo sendiri."
Setelah menjatuhkan vonis mutlak itu, Bracia membalikkan badan. Arthur, Liam, Cedric, Troy dan dua gadis lainnya mengikuti langkah ratu mereka, tidak ada satu pun yang menoleh ke belakang.
Gavin berdiri mematung. Badannya kaku. Air mata akhirnya tumpah membasahi pipinya yang cekung. Di tengah riuh rendah koridor dan tawa sumbang siswa-siswa lain yang menonton kehancurannya secara live, dada Gavin terasa sesak seolah dihantam balok beton.
Rasa sakit akibat pengkhianatan ini mengoyak jiwanya. Ia dibuang. Diinjak-injak harga dirinya hingga rata dengan tanah. Ditelanjangi aibnya di depan umum dan ditinggalkan sendirian saat ia paling membutuhkan bantuan.
Tepat pada detik itu, ia menyadari sesuatu yang membuat napasnya tercekat. Perasaan tidak berdaya, malu, takut, dan hancur ini... adalah perasaan yang persis sama dengan apa yang ia paksa rasakan pada Lunaris beberapa hari yang lalu.
Dari lantai dua koridor yang menghadap tepat ke arah kejadian itu, Lunaris berdiri bersandar pada pagar pembatas. Ia melihat segalanya. Ia melihat jatuhnya sang pangeran sombong menjadi pengemis yang menangis.
Di sebelahnya, Sirius menyandarkan sikunya di pagar, tersenyum miring menikmati pemandangan itu.
"Satu garis di lenganmu akan segera memudar," bisik Sirius pelan. "Namun, aku rasa ini belum selesai. Pengkhianatan sudah menghancurkan cangkangnya, tapi kita masih harus melahap sisa kewarasannya malam ini, bukan?"
Lunaris tidak menjawab, tapi matanya yang gelap dan dingin memberikan persetujuan mutlak. Neraka Gavin baru saja menyelesaikan babak pemanasan.
lunaris ini tipe keras, bagus lah cewek2 begini untuk karakter fantasy. saya kasiab sama ibunya lunaris yg mungkin terlalu lembut. aaron itu kayak gimana ya? penasaran juga
berharap, sekali update itu langsung 3 atau 4 bab gt lho
walau sebagian tentang kilas balik...
segera lanjut kakak, kalau perlu langsung 5 bab🤭🤭🤭