🔖 SINOPSIS :
Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.
Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.
Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.
🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 | Griya Tawang di Atas Awan
...----------------🍁----------------🍁----------------...
Malam di Shanghai tidak pernah benar-benar gelap. Dari ketinggian lantai 88 Menara Jin Mao, kota ini tampak seperti sirkuit elektronik raksasa yang dialiri arus listrik jutaan nyawa. Aku berdiri di tepi balkon penthouse baru ku, hanya dibatasi oleh kaca temper setebal sepuluh sentimeter dari kehampaan. Angin kencang melolong di luar, namun di dalam sini, keheningan adalah kemewahan yang paling mahal.
"Satu minggu yang lalu, aku tidur di atas kasur apek yang bau nya seperti keputusasaan," pikir ku sambil menyesap wiski Macallan 1926 yang harga satu botol nya bisa membeli seluruh kampung halaman ku. "Sekarang, aku berpijak di atas awan. Dunia memang tidak adil, dan aku baru saja mempelajari cara untuk menjadi orang yang memegang timbangan ketidakadilan itu."
Aku meletakkan gelas kristal ku di atas meja marmer Italia. Aku memejamkan mata, mencoba menenangkan aliran darah di pelipis ku yang terus berdenyut. Sejak kemenangan di bursa saham kemarin, kemampuan ku berevolusi. Bukan lagi sekadar angka-angka di atas kepala individu, kini aku mulai melihat Garis Nasib (Destiny Lines) yang lebih besar.
Aku membuka mata dan memfokuskan pandangan ku ke arah cakrawala Shanghai.
DEG.
Pupil mata ku membelah, lingkaran merah darah di sekeliling nya berputar searah jarum jam, sementara bintik-bintik emas nya bergerak berlawanan. Seketika, pemandangan kota berubah. Aku melihat benang-benang cahaya raksasa yang membumbung tinggi dari distrik finansial, itu adalah garis kemakmuran. Namun, di sudut-sudut gelap kota, aku melihat uap hitam yang merayap, garis kemiskinan dan kriminalitas yang akan meledak akibat krisis.
"Begitu rupa nya," batin kekuatan di dalam darah ku bersorak. "Kota ini bukan sekadar kumpulan bangunan. Ini adalah organisme hidup. Dan aku... aku bisa melihat jantung nya yang berdetak."
Tiba-tiba, suara pintu geser otomatis terbuka. Wang Meiling melangkah masuk.
Dia tidak lagi mengenakan setelan formal CEO yang kaku. Malam ini, dia mengenakan gaun tidur sutra berwarna sampanye yang sangat tipis, nyaris transparan di bawah sorotan lampu gantung kristal. Rambut hitam nya yang biasanya disanggul rapi kini terurai bebas, jatuh menutupi bahunya yang putih mulus.
"Kau selalu suka berdiri di tepi jurang, Satya," suara nya lembut, namun penuh dengan getaran yang belum pernah kudengar sebelumnya.
Aku tidak berbalik. Aku bisa melihat pantulan nya di kaca jendela. Aura Meiling malam ini tidak berwarna emas atau biru bisnis. Aura nya berwarna merah muda yang menyala, warna gairah dan kepemilikan yang murni.
"Ketinggian memberikan perspektif yang jujur, Meiling," jawab ku tenang. "Di bawah sana, orang-orang saling menginjak untuk bertahan hidup. Di sini, kita hanya melihat cahaya."
Meiling berjalan mendekat. Aku bisa mencium aroma parfum black orchid yang intens bercampur dengan aroma alkohol manis. Dia berhenti tepat di belakang ku, lalu perlahan, ia melingkarkan lengan nya di pinggang ku. Ia menyandarkan wajah nya di punggung ku, membiarkan dada nya yang hangat menekan jas santai yang ku pakai.
"Perspektif bisa sangat kesepian jika kau menikmati nya sendirian," bisik Meiling. Tangan nya mulai merayap naik, jemari nya yang lentik membuka satu per satu kancing kemeja ku dari arah depan. "Ayah ku sudah memberikan mu segalanya. Posisi, kekuasaan, uang. Tapi aku tahu kau menginginkan sesuatu yang lebih... sesuatu yang tidak bisa ditulis di atas kertas kontrak."
Aku berbalik dengan gerakan yang sangat cepat, menangkap kedua pergelangan tangan nya sebelum dia sempat membuka kancing ketiga. Aku menatap mata nya dalam-dalam. Meiling tersentak, nafas nya tercekat. Di dalam mata ku yang masih bersinar merah, dia melihat pantulan diri nya yang tampak kecil dan rapuh.
"Kau sedang bermain api, Meiling," kata ku, suara ku berat dan penuh ancaman yang menggoda. "Aku bukan pria yang bisa kau jinakkan dengan kecantikan mu. Aku bukan mantan suami mu yang lemah, dan aku bukan salah satu dari pialang saham yang memuja kaki mu."
Meiling justru tersenyum menantang. Dia menarik tangan nya dari genggaman ku dan malah mengalungkan nya di leher ku, memaksa wajah ku untuk turun sejajar dengan wajah nya. "Justru karena itu, Satya. Pria-pria itu membosankan. Mereka melihat ku sebagai piala. Tapi kau... kau melihat ku seolah-olah kau bisa menghancurkan ku hanya dengan satu pikiran. Dan itu..." ia berbisik tepat di depan bibir ku, "... membuat ku gila."
Dia menarik tengkuk ku, mencium ku dengan lapar. Ciuman nya tidak lagi malu-malu seperti di kantor. Ini adalah ciuman seorang ratu yang sedang menyerahkan tempat nya kepada seorang penguasa. Aku merasakan lidah nya yang hangat mencari-cari, sementara tangan nya mulai menarik kemeja ku hingga terlepas dari pundak ku.
Insting lelaki ku bergejolak. Aku mengangkat tubuh nya yang ringan, mendudukkan nya di atas meja marmer yang dingin. Meiling mendesah pelan saat kulit nya bersentuhan dengan marmer, namun ia segera menarik ku lebih dekat, kaki nya yang jenjang melingkar erat di pinggang ku.
"Satya... tunjukkan pada ku," erang Meiling di sela-sela ciuman nya. "Tunjukkan pada ku masa depan yang kau lihat. Apakah ada aku di sana?"
Aku berhenti sejenak, menatap wajah nya yang dipenuhi gairah. Mata ku bekerja secara otomatis. Aku melihat Garis Nasib Meiling yang kini menyatu dengan garis nasib ku. Hubungan ini bukan hanya tentang seks; ini adalah kontrak darah yang akan mengubah peta kekuatan di Asia.
"Di masa depan yang kulihat, Meiling," bisik ku sambil menciumi lehernya yang sensitif, "kau tidak berdiri di belakang ku. Kau berdiri di bawah ku. Kau akan menjadi miliki, tubuh dan jiwa mu. Setiap helai rambut mu, setiap tetes keringat mu... semua nya akan menjadi milik Satya Samantha."
"Ya... ku mohon..." Meiling mencengkeram rambut ku, kepala nya mendongak ke belakang, mengekspos leher nya yang jenjang. "Jadikan aku milik mu sepenuh nya. Jangan biarkan wanita lain menyentuh apa yang seharusnya menjadi hak ku."
Aku melepaskan sisa pakaian ku, membiarkan tubuh ku yang kini tampak lebih atletis dan penuh dengan urat-urat energi akibat kebangkitan darah cenayang bersentuhan langsung dengan kulit sutra nya. Di griya tawang ini, di antara bintang-bintang dan gemerlap Shanghai, sebuah persekutuan terlarang sedang disucikan dengan gairah.
Namun, di tengah panas nya suasana, mata ku sempat melirik ke arah pintu balkon yang sedikit terbuka. Di sana, dalam penglihatan cenayang ku, aku melihat bayangan transparan Detektif Chen yang sedang berdiri di bawah gedung, menatap ke arah lantai ku dengan teleskop canggih. Dan di sisi lain kota, aku melihat Zhao Wei sedang memeluk bantal nya, membisikkan nama ku dalam tidur nya.
"Kalian semua akan mendapatkan giliran," kata ku dalam hati sambil kembali fokus pada Meiling yang sedang menanti sentuhan ku. "Tapi malam ini, biarkan penguasa ini menikmati persembahan pertama nya."
Suara desahan Meiling memenuhi ruangan, beradu dengan suara angin Shanghai. Di atas awan ini, aku menyadari bahwa kekuatan cenayang ku bukan hanya tentang memprediksi krisis uang. Ini tentang memprediksi keinginan terdalam manusia dan menggunakan nya untuk membangun harem yang akan menyokong singgasana ku.
Malam itu, di atas meja marmer yang mahal, Meiling benar-benar berlutut, bukan karena paksaan, tapi karena ia menyadari bahwa di depan pria seperti ku, penyerahan diri adalah satu-satu nya cara untuk tetap hidup di puncak dunia.
...----------------🍁----------------🍁----------------...