Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Ayah Jatuh Sakit
Pagi itu datang tanpa kabar baik.
Bima terbangun oleh suara benda jatuh di dapur, disusul erangan tertahan. Jantungnya berdegup kencang. Ia berlari keluar kamar, mendapati ayahnya tergeletak di lantai, tubuhnya gemetar, wajahnya pucat seperti kertas.
“Ayah!” teriak Bima panik.
Ibunya berlutut di samping ayah, berusaha menopang kepalanya. “Cepat, panggil ambulans!”
Dengan tangan gemetar, Bima menekan nomor darurat. Suaranya tercekat saat menjelaskan kondisi ayahnya. Menunggu bantuan terasa seperti menunggu keajaiban di tengah ketidakberdayaan. Setiap detik berlalu dengan lambat, seolah waktu sengaja menyiksa mereka.
Di dalam ambulans, Bima menggenggam tangan ayahnya yang dingin. Napas ayahnya terengah, matanya terpejam, keringat dingin membasahi pelipis. Bau antiseptik dan suara sirene bercampur menjadi satu, menciptakan suasana mencekam.
Di rumah sakit, dokter dan perawat bergerak cepat. Ayah Bima segera dibawa ke ruang IGD. Bima dan ibunya hanya bisa menunggu di luar, duduk berdampingan dalam keheningan yang menyesakkan.
Setelah pemeriksaan panjang, seorang dokter keluar dengan wajah serius. “Tekanan darah beliau sangat tinggi, ditambah kelelahan ekstrem dan gangguan irama jantung ringan. Kami harus menahan beliau untuk observasi intensif.”
Kata-kata itu menghantam Bima. Kelelahan ekstrem—ia tahu persis penyebabnya. Tekanan batin, kurang tidur, beban utang, dan rasa bersalah yang tak pernah diucapkan.
Ibunya menutup mulut, menahan tangis. “Apakah beliau… baik-baik saja, Dok?”
“Untuk sementara stabil. Tapi beliau harus benar-benar istirahat. Tidak boleh stres berlebihan,” jawab dokter itu.
Stres. Kata itu terdengar kejam. Bagaimana mungkin mereka bisa menghindari stres di tengah badai yang tak kunjung reda?
Di ruang perawatan, ayah Bima terbaring dengan infus di tangannya. Wajahnya tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Bima duduk di samping ranjang, memandangi wajah itu dengan perasaan bersalah yang menyesakkan.
“Maafkan aku, Yah,” bisiknya. “Seandainya aku bisa memikul semua beban ini sendiri…”
Ayahnya membuka mata perlahan. Senyum tipis terukir di bibirnya. “Jangan… berkata begitu. Kamu sudah melakukan yang terbaik.”
Bima menelan ludah. “Tapi semua ini terjadi karena toko kita…”
“Bukan karena toko,” sela ayahnya pelan. “Ini karena kita memilih jujur… dan kejujuran memang mahal harganya.”
Kata-kata itu menancap dalam di hati Bima.
Hari-hari berikutnya, rumah sakit menjadi rumah kedua. Bima bolak-balik antara toko dan ruang perawatan. Ia berusaha menjaga usaha tetap berjalan, meski pelanggan masih jarang. Di sela-sela itu, ia menemani ibunya merawat ayah, membantu perawat, dan mengurus administrasi rumah sakit.
Tagihan medis mulai menumpuk, menambah beban yang sudah berat. Namun tak seorang pun berani mengeluh. Kesehatan ayah jauh lebih penting dari angka-angka di kertas.
Suatu sore, Nara datang menjenguk. Ia membawa buah dan kabar terbaru.
“Wawancara kita mulai berdampak,” katanya pelan. “Beberapa media besar mengangkat sisi kalian. Tapi pihak lawan juga mulai bergerak. Mereka menyebar isu baru, mencoba mengaburkan fokus.”
Bima menghela napas. “Seolah belum cukup apa yang kami alami.”
Nara menatap ayah Bima yang terbaring lemah. “Justru karena itu, kamu harus tetap kuat. Dia butuh melihatmu berdiri.”
Bima mengangguk, meski dadanya terasa sesak.
Malam-malam di rumah sakit terasa panjang. Suara alat monitor berdetak ritmis, menjadi latar bagi pikiran-pikiran gelap yang mencoba menyusup. Bima kerap terjaga, membayangkan kemungkinan terburuk, lalu memaksa dirinya mengusir bayangan itu.
Suatu malam, ayahnya terbangun dan memanggil Bima.
“Bima,” katanya lirih.
“Iya, Yah.”
“Kalau… suatu saat Ayah tidak sanggup lagi mengurus toko… kamu harus siap.”
Bima menatapnya, mata berkaca-kaca. “Jangan bicara begitu.”
“Ayah tidak menyerah,” jawab ayahnya lembut. “Ayah hanya ingin kamu siap.”
Bima menggenggam tangan ayahnya erat. Di saat itu, ia menyadari, beban tanggung jawab yang selama ini perlahan berpindah ke pundaknya kini telah menjadi nyata.
Beberapa hari kemudian, kondisi ayah mulai membaik, meski belum diizinkan pulang. Dokter menegaskan bahwa pemulihan akan memakan waktu lama dan membutuhkan ketenangan total.
Bima pulang ke rumah dengan langkah berat. Toko, rumah, utang, dan kini kesehatan ayah—semuanya bergantung padanya.
Di depan etalase yang sepi, ia berdiri lama, menatap pantulan dirinya di kaca. Wajah yang ia lihat tampak lebih dewasa, lebih keras, namun juga lebih rapuh.
“Aku tidak boleh jatuh,” bisiknya pada bayangan itu.
Karena jika ia runtuh, bukan hanya toko yang hancur, tetapi seluruh dunia kecil yang selama ini ia lindungi.
Dan di tengah rasa takut yang membelit, tekad baru tumbuh di dada Bima—tekad untuk melawan, bukan hanya demi kebenaran, tetapi demi kehidupan ayahnya, ibunya, dan masa depan mereka semua.
Tekad itu membuat Bima bangun lebih pagi dari biasanya. Langit masih kelabu ketika ia melangkah keluar rumah, menatap toko yang tampak semakin sunyi. Pintu besi ia buka perlahan, disertai bunyi berderit yang terdengar nyaring di tengah keheningan. Bau manisan yang dulu menenangkan kini terasa getir, mengingatkannya pada hari-hari bahagia yang terasa begitu jauh.
Namun hari itu, ia memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan.
Ia mulai merapikan toko dengan lebih teliti dari biasanya. Rak dibersihkan, lantai dipel, etalase disusun ulang. Ia ingin memastikan bahwa setiap sudut toko memancarkan kesungguhan, seolah ingin berkata pada siapa pun yang datang: kami masih di sini, kami belum menyerah.
Setelah itu, Bima duduk di belakang meja kasir, membuka laptop, dan mulai menyusun rencana. Ia menuliskan daftar utang, jadwal pembayaran, dan opsi-opsi yang mungkin ditempuh. Angka-angka itu memang menakutkan, tapi kini ia melihatnya sebagai tantangan, bukan vonis.
Salah satu langkah pertamanya adalah mendatangi bank untuk bernegosiasi. Dengan berkas lengkap di tangannya, Bima menemui petugas kredit, menjelaskan kondisi keluarga mereka, serta menunjukkan perkembangan positif pasca wawancara nasional. Proses itu tidak mudah. Ia harus menunggu lama, menjawab pertanyaan demi pertanyaan, dan menerima tatapan ragu.
Namun, setelah diskusi panjang, bank bersedia memberi penjadwalan ulang pembayaran. Bukan solusi sempurna, tapi cukup memberi ruang napas.
Dari sana, Bima melangkah ke beberapa pemasok. Ia tidak lagi sekadar memohon, melainkan menawarkan transparansi. Ia membuka catatan keuangan, menunjukkan komitmen untuk melunasi utang, dan menjanjikan kerja sama jangka panjang yang lebih adil.
Sebagian menolak, namun ada pula yang luluh. Seorang pemasok tua bahkan menepuk bahunya. “Kamu mengingatkanku pada ayahmu saat muda. Jangan patah semangat.”
Kata-kata itu menjadi bahan bakar bagi langkah berikutnya.
Bima menghubungi komunitas UMKM lokal, menawarkan kolaborasi. Mereka menggelar bazar kecil di halaman toko, menggabungkan berbagai produk rumahan: kue, kerajinan, minuman herbal, dan tentu saja, manisan khas Wijaya. Acara itu ia promosikan di media sosial sebagai gerakan saling dukung di tengah krisis.
Tak disangka, responsnya cukup besar. Orang-orang datang bukan hanya untuk berbelanja, tetapi juga untuk menunjukkan simpati. Tawa anak-anak perlahan kembali terdengar. Meskipun omzet belum pulih, suasana itu memberi harapan baru.
Di sela kesibukan, Bima tak pernah lupa menjenguk ayahnya di rumah sakit. Setiap malam, ia menceritakan perkembangan kecil—tentang satu pelanggan baru, satu pesanan daring, satu pemasok yang memberi kelonggaran.
Ayahnya mendengarkan dengan mata berbinar. “Kamu… luar biasa,” katanya suatu kali.
Bima tersenyum tipis. “Aku hanya melakukan apa yang Ayah ajarkan.”
Hari-hari berlalu dengan ritme yang melelahkan. Tubuh Bima sering terasa remuk, namun pikirannya tetap menyala. Di tengah semua itu, Nara terus mengirimkan kabar tentang penyelidikan mereka. Bukti demi bukti mulai terkumpul, mengarah semakin jelas pada dalang di balik fitnah.
Suatu malam, Nara menghubunginya dengan suara bergetar. “Bima, aku dapat rekaman transaksi. Transfer ke beberapa media kecil. Nama perantaranya… mantan karyawan ayahmu.”
Bima memejamkan mata, menahan guncangan. “Jadi benar dia.”
“Iya. Dan ada satu nama besar di atasnya. Seorang politisi lokal yang tengah bersiap maju ke level lebih tinggi.”
Nama itu membuat Bima terdiam lama. Ia sadar, lawan mereka bukan orang sembarangan.
“Kalau ini kita publikasikan, risikonya besar,” lanjut Nara. “Kita bisa diserang balik, bahkan diancam.”
Bima menatap layar ponsel, merasakan denyut di pelipisnya. Bayangan ayah terbaring di ranjang rumah sakit melintas di benaknya. “Aku tidak ingin anak-anakku nanti hidup dalam dunia di mana kejahatan selalu menang,” katanya akhirnya. “Lakukan.”
Keputusan itu seperti melompat ke jurang tanpa tahu apakah ada jaring pengaman di bawah.
Dalam beberapa hari, laporan investigasi Nara terbit di sebuah media nasional ternama. Nama-nama disebut, alur fitnah dibongkar, dan bukti transaksi dipaparkan. Berita itu meledak.
Reaksi publik luar biasa. Dukungan mengalir deras, sementara pihak lawan terpojok. Polisi mulai melakukan penyelidikan resmi. Beberapa media yang sebelumnya menyudutkan Toko Manisan Wijaya terpaksa meminta maaf dan mengoreksi pemberitaan mereka.
Namun, tekanan balik juga datang. Ancaman anonim, pesan bernada intimidasi, dan upaya menakut-nakuti mulai bermunculan. Bima memilih tidak memberi tahu orang tuanya, tak ingin menambah beban.
Ia semakin sering pulang larut, mengatur strategi dengan Nara dan beberapa aktivis antikorupsi. Setiap langkah penuh risiko, namun juga penuh harapan.
Suatu malam, saat duduk sendirian di depan toko, Bima memandangi langit yang mulai cerah. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia melihat bintang.
“Ayah, Ibu,” bisiknya, “aku akan menuntaskan ini.”
Di dadanya, tekad itu berdenyut kuat, menjadi jangkar di tengah badai. Ia tahu, jalan yang dipilihnya berbahaya, tapi ia juga tahu, inilah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan semua yang ia cintai.
Dan di bawah langit yang perlahan membuka diri, Bima melangkah maju, siap menghadapi apa pun yang menanti di depan.