Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 17
"Natan, tenanglah. Ini memang sudah takdirnya."
"Tapi ini gila! Putriku... Putriku, Niel!"
Samar-samar aku mendengar suara ayahku yang berbicara entah dengan siapa.
"Aku tidak menyangka Baphomet akan secepat ini menyerang. Kita semakin dekat dengan Lucifer."
"Mila sebentar lagi genap 17. Iblis itu sudah mulai mencari cawan. Aku sudah tidak bisa meninggalkan Mila sendirian jika begini. Kau tahu betul, bahkan kekuatanku tidak bisa menyembuhkan Mila sama sekali. Dan semakin banyak orang yang mendekatinya sekarang."
"Natan, pada akhirnya kamu harus merelakan anakmu."
"Bagaimana dengan Baphomet? Kemana dia melarikan diri?"
Aku mencoba menggerakkan jari-jariku.
"A-ayah."
Mendengar suaraku ayah bergegas menghampiriku.
"Mila. Kamu baik-baik saja?"
Aku melihat pria tampan disebelahnya.
"A-ayah. Dia..."
"Ini Niel. Teman ayah."
"Kamu tidak apa-apa?"
Aku mencoba bangun. Paman Niel meninggikan tempat tidurku agar aku bisa duduk dengan nyaman. Aku melihat tanganku yang kini sudah terpasang infus. Pakaianku pun sudah di ganti dengan pakaian dari rumah sakit. Nampak ayah khawatir.
"Aku tidak apa-apa ayah."
Aku melihat sekeliling ruangan yang aku tempati. Begitu mewah. Aku pikir biarpun ayah kaya, tapi untuk standar orang kaya di negara P ini mustahil bagi ayah dapat menyewa kamar ini.
"Ayah, kamar ini..."
"Niel, sudahku bilang. Putriku ini berbeda."
"Aku kaya. Dan lagi pula aku tidak memiliki teman yang memiliki anak selain kau. Jadi Mila adalah keponakanku satu-satunya. Aku harus memberikan yang terbaik."
"Dia putriku Niel."
Balasnya terdengar kesal.
Melihat ayah yang bertengkar untuk pertama kalinya dengan orang lain merupakan sebuah pemandangan yang lucu bagiku. Aku tertawa. Ayah menyentuh kepalaku. Lalu mengelus lembut kepalaku. Tiba-tiba ayah menjadi emosional dan kini memelukku.
"Ayah, aku tidak mati."
Tiba-tiba seseorang masuk ke kamarku.
"Niel, mengenai..."
Melihatku yang ada di pelukan ayah, wanita yang tak lain adalah Tante Melda seketika berhenti melanjutkan kalimatnya.
"Mila, kamu baik-baik saja?"
Tanyanya dengan wajah khawatir.
"Aku baik-baik saja tante."
"Ayok kita bicara di luar."
Paman Niel menarik keluar Tante Melda dengan terburu-buru.
"Paman Niel kenal Tante Melda?"
"Sepertinya begitu, ayah juga tidak tahu."
Kami hening sejenak. Ayah tidak menanyakan apa pun padaku seperti biasanya.
"Apa ayah tidak tahu?"
Paman Niel masuk lagi ke kamarku bersama dengan Tante Melda.
"Aku ada urusan dengan Melda. Aku tidak bisa mengantar kalian."
Paman Niel mengeluarkan kartu lalu memberikannya padaku.
"Black card. Pakai sesukamu. Oh ya, di luar masih ada gurumu yang menunggu sudah sejak kau masuk rumah sakit. Ada seseorang juga yang ingin bertemu denganmu. Tapi sepertinya ayahmu tidak ingin dia masuk. Paman pergi dulu."
"Siapa ayah?"
"Direktur Jang."
"Biarkan dia masuk ayah."
"Tapi..."
"Ayah, aku baik-baik saja. Jangan khawatir."
Setelah itu ayahku keluar memanggil Direktur Jang dan sekretarisnya masuk, ia membiarkan kami berbicara. Sekertaris Direktur Jang menarik kursi dan memberikannya kepada Direktur Jang untuk duduk di dekatku. Namun ia malah pergi berdiri di pojok ruang kamarku seperti memberi ruang untuk aku dan Direktur Jang berbicara. Direktur Jang terdiam sejenak. Seorang Direktur terkaya di negara P terlihat putus asa di hadapanku.
"Aku sudah mencarinya selama 2 tahun. Aku..."
Bapak itu tidak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Kau tahu, dia memang putrimu. Tapi secara tidak langsung kau juga menghancurkan kehidupan orang lain bersama putrimu. Apakah selalu begini cara orang kaya menyelesaikan masalah?"
Ungkapku kecewa.
"Anakmu begitu terobsesi dengan seseorang. Apa kau tahu itu? Bahkan anakmu yang lain juga begitu. Jika itu terjadi bukan padaku, apa kau akan menemuinya seperti kau menemuiku sekarang, Direktur Jang? Kau tahu apa yang lebih berbahaya selain rasa benci? Cinta buta. Seperti cintamu pada kedua putrimu. Kau sedikit beruntung Jina tidak seliar Yura."
Direktur Jang nampak terkejut ketika aku membahas putri sulungnya.
Saat di gudang lembab itu, ketika aku menarik keluar jiwa iblis itu dari tubuh Sela, aku melihat semua isi pikirannya dan ingatan terakhir sebelum ia mengenal iblis dalam tubuhnya. Bahkan bagaimana cara ia membunuh semua korbannya juga nampak sangat jelas.
"Kau tahu apa yang di lakukan putrimu. Tapi kau menutup mata. Kau tahu anakmu itu tidak normal. Tapi kau menutupinya dan malah menyekolahkannya di sekolah biasa. Kau lebih tahu, berapa banyak korban yang di sebabkan oleh putrimu. Hidup putrimu berharga bagimu. Tapi kehidupan putri lain juga berharga bagi keluarganya."
Direktur Jang menangis di hadapanku.
"Belum terlambat Direktur. Aku harap kamu bisa menyelamatkan putrimu yang terakhir ini. Kau harus mulai bertobat. Mohon ampun pada dewa. Dia maha pemaaf bagi hambanya yang tulus."
"Aku mencintai wanita lain. Yaitu ibu dari anak keduaku. Waktu Yura masih kecil, dia dan ibu nya memergoki aku yang berselingkuh dengan ibunya Jina. Keanehan itu mulai terlihat setelah kejadian itu. Istriku mulai tempramen seperti orang kerasukan. Dan berakhir membunuh wanita yang ku cintai dan ia mengakhiri hidupnya. Demi melindungi kedua putriku, aku menutupi kasus itu serapat mungkin lalu menyembunyikan Jina. Namun Yura tetap mengetahuinya dan tidak bisa menerimanya. Kemudian, setelah hari itu ia mulai berulah. Biarpun aku tidak mencintai ibunya, Yura tetaplah putriku yang aku sayangi. Rasa bersalahku membuatku selalu melindunginya. Aku pikir keanehan yang terjadi padanya itu hanya karena emosinya yang tidak stabil karena marah padaku. Namun saat pertama kali ia masuk ke sekolah Y, aku semakin sering mendapatkan telpon darinya. Awalnya guru melaporkan dia mematahkan tangan temannya. Keesokannya lagi kaki temannya. Dan hari berikutnya ia menabrak temannya. Aku sudah mencoba membujuknya untuk pindah dari sekolah itu atau bahkan menyuruhnya berhenti bersekolah. Tapi setiap kali aku melakukannya, dia mengamuk dan mulai melukai dirinya. Aku berakhir menyelesaikan segalanya dengan uang yang aku punya. Aku benar-benar tidak mampu melihat itu. Namun ketika aku mendapatkan telpon darinya, dia mengatakan seseorang bunuh diri di dekatnya. Tetapi setelah kasus itu dia mulai berhenti melakukan hal-hal buruk. Dan hal itu juga membuatku menutup mata dan tidak ingin mencari tahu apapun lagi. Suatu hari Yura menghilang, duniaku seperti hancur berkeping-keping. Aku mencarinya kesana kemari. Memasang berita dimana-mana berusaha menemukannya. Tapi saat aku sudah menemukannya, bahkan tulangnya bercampur dengan korban yang lain."
Pria rapuh itu seperti sedang melakukan pengakuan dosanya padaku. Aku hanya membiarkannya saja. Aku pikir jika aku tidak mendengarkannya, dia akan gila.
"Kau... Bisakah kau mempertemukan putriku denganku untuk terakhir kalinya?"
Aku menangis.
"Jiwa putrimu bahkan tidak akan pernah naik ke langit. Jiwanya telah melebur bersama iblis itu."
Direktur Jang menangis sejadi-jadinya. Tiba-tiba Jina masuk dengan paksa ke kamarku dengan mengenakan pakaian rumah sakit. Melihat ayahnya yang menangis seperti itu, dia memeluknya.
"Ayah. Ayah."
"Putriku. Putriku."
Tuan Josep dan ayah melihat kami dari luar pintu yang terbuka.
"Tidak ada hal baik yang kita dapatkan dari menyakiti orang lain. Aku harap setelah kejadian ini, kamu bisa belajar dan berubah menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya."
Setelah tenang, Direktur Jang di bawa pergi oleh sekretarisnya. Namun Jina masih ada di ruanganku. Nampak wajahnya merasa bersalah.
"Mark orang yang tidak peduli dengan wanita. Aku pikir aku mengerti mengapa Kak Yura terobsesi padanya."
Tiba-tiba Mark masuk dengan mengenakan pakaian yang sama dengan kami.
"Memilki ayah yang mendua, membuat kami mendambakan pria seperti Mark yang tidak peduli dengan wanita. Aku akui, ayah adalah ayah yang baik bagi kami. Tetapi suami yang buruk bagi ibu kami. Apa yang terjadi pada kak Yura, aku... Aku..."
Jina menangis. Aku menyentuh kepalanya dan mengelusnya. Aku tahu apa yang hendak ia katakan namun tertahan di tenggorokannya.
"Sudahlah. Aku memaafkanmu."
Jina menoleh ke arah Mark lalu meraih tangannya.
"Aku minta maaf, Senior Mark."
"Aku tidak apa-apa. Mulai sekarang, jangan pernah lakukan hal buruk itu lagi. Kau juga tidak bisa memaksakan perasaanmu pada orang lain. Cobalah berubah dari hal-hal kecil."
Tiba-tiba teman-teman Jina yang lain masuk keruanganku dengan tertatih-tatih. Dengan pakaian yang sama seperti kami.
"Aku melihat, aku melihat...."
Wajah Yuka ketakutan.
Aku lupa mengambil mata ketiga mereka.