Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Ketika Pemburu Diburu
Pagi tiba terlalu cepat, seolah belum siap memberi jeda. Aruna sudah duduk di meja kerjanya sebelum sebagian besar kantor menyala. Lampu ruang legal masih redup, hanya layar laptopnya yang memantulkan cahaya dingin ke wajahnya.
Log sistem sudah terbuka. Setiap baris data seperti denyut nadi hidup, bergerak, menyimpan jejak seseorang yang terlalu percaya diri. Ia memutar ulang akses semalam.
Masuk.
Ditahan.
Dialihkan.
Dihapus.
Bukan kerja seorang amatir. Ini seseorang yang memahami sistem dan memahami batas risiko. Dan itu berarti satu hal mereka tidak takut lagi.
Ponselnya bergetar.
Calvin:
Sudah lihat?
Aruna:
Ya. Mereka mencoba lagi.
Balasan datang cepat.
Calvin:
Ruang rapat. Sekarang.
Calvin sudah berdiri ketika Aruna masuk. Tidak ada basa-basi pagi, tidak ada formalitas. Di layar besar, tim audit sedang menghubungkan sistem pengawasan tambahan. Grafik aktivitas menyala seperti peta perang.
“Mereka menguji respons kita,” kata Calvin langsung. “Bukan untuk berhasil. Untuk melihat seberapa cepat kita bergerak.”
Auditor mengangguk. “Pola aksesnya sengaja berisik. Mereka ingin kita sadar.”
Aruna menyilangkan tangan. “Distraksi.”
Tatapan Calvin beralih padanya. “Setuju. Pertanyaannya apa yang mereka sembunyikan saat kita sibuk?”
Sunyi turun.
Auditor memperbesar satu log lain. Akses kecil. Hampir tidak signifikan. Tapi waktunya bersamaan dengan percobaan semalam.
Aruna merasakan perutnya mengencang. “Itu bukan kebetulan.”
File dibuka.
Dokumen internal proyek Eastbay versi lama yang seharusnya terkunci.
“Kenapa itu masih aktif?” tanya Calvin tajam.
Auditor menelan ludah. “Seharusnya tidak.”
Aruna mendekat.
Ada satu perubahan kecil. Bukan angka besar. Bukan manipulasi laporan. Hanya catatan otorisasi. Nama yang dihapus. Nama yang diganti. Dan tanda digital yang membuat keputusan terlihat seolah datang dari level yang lebih rendah.
Mereka sedang membangun kambing hitam baru.
Calvin menghembuskan napas pelan. “Mereka menyiapkan jalur pelarian.”
Aruna menatap layar. “Kalau ini lolos, sistem akan menganggap manipulasi datang dari staf menengah.”
“Dan orang yang sebenarnya bertanggung jawab hilang,” sambung Calvin.
Tatapan mereka bertemu.
Kesadaran yang sama.
Ini bukan sabotase panik.
Ini operasi penyelamatan diri.
Dan itu berarti pelaku tahu waktunya hampir habis.
“Kita balikkan,” kata Aruna.
Calvin mengangkat alis sedikit. “Bagaimana?”
Aruna menunjuk log. “Biarkan perubahan ini tetap ada tapi kita pasang pelacak internal. Siapa pun yang mencoba menyelesaikan manipulasi akan meninggalkan tanda permanen.”
Auditor ragu. “Itu berisiko.”
Aruna menatapnya tenang. “Tidak sebesar membiarkan mereka lolos.”
Calvin menilai situasi beberapa detik.
Lalu mengangguk.
“Lakukan.”
Kantor terasa seperti menahan napas. Aruna kembali ke mejanya, tapi pikirannya tidak pernah benar-benar diam. Setiap notifikasi membuat adrenalin naik. Setiap langkah di lorong terasa lebih keras dari biasanya. Ia tahu mereka sedang menunggu.
Dan seseorang di dalam gedung ini sedang menghitung langkah terakhir. Jam makan siang datang tanpa terasa.
Ponselnya bergetar lagi.
Nomor tak dikenal.
Aruna menatap layar lama sebelum mengangkatnya.
“Berani juga,” kata suara pria di seberang. Tenang. Hampir santai.
“Apa yang kamu mau?” tanya Aruna datar.
“Tawar-menawar.”
Ia menahan ekspresi.
“Kamu berhenti menggali,” lanjut suara itu, “dan semua ini… selesai.”
Aruna hampir tertawa.
“Kalau semudah itu,” katanya pelan, “kamu tidak akan menelepon.”
Sunyi.
Kemudian suara itu berubah sedikit. Lebih tajam.
“Kamu tidak tahu apa yang kamu sentuh.”
“Dan kamu terlalu takut aku mengetahuinya.”
Klik.
Telepon mati.
Aruna menatap layar kosong. Tangannya tidak gemetar.
Justru pikirannya terasa… jernih.
Mereka panik. Dan orang panik membuat kesalahan.
Sore menjelang ketika alarm sistem berbunyi. Bukan keras. Tapi cukup untuk membuat seluruh ruang legal membeku. Aruna langsung membuka monitor.
Pelacak aktif. Seseorang masuk ke dokumen umpan.
Jejak digital mulai terbentuk.
Auditor berteriak dari ruang kontrol, “Kita dapat dia!”
Nama muncul perlahan.
Bukan Hendra.
Bukan staf kecil.
Nama itu membuat seluruh ruangan hening.
Salah satu wakil direksi.
Orang yang selama ini hampir tak tersentuh.
Calvin datang berdiri di samping Aruna. Rahangnya mengeras.
“Konfirmasi,” katanya.
Auditor mengetik cepat.
“Valid,” jawabnya.
Sunyi jatuh seperti palu.
Aruna merasakan detaknya sendiri di telinga.
Ini dia.
Titik di mana permainan berubah menjadi konfrontasi terbuka.
Calvin mengambil ponselnya. “Amankan aksesnya. Jangan beri dia waktu.”
Aruna menatap layar.
Jejak itu masih bergerak.
Pelaku mencoba keluar.
Terlambat.
Sistem sudah mengunci.
Di koridor luar, suara langkah cepat terdengar.
Tegang. Tidak teratur. Seseorang berlari.
Calvin menatap pintu.
“Dia tahu.”
Aruna berdiri. “Kita harus—”
Pintu terbuka keras.
Wakil direktur itu berdiri di sana. Napas berat. Wajahnya tegang tapi berusaha terlihat terkendali.
Tatapannya langsung ke Calvin.
“Kita perlu bicara.”
Calvin tidak bergerak.
“Tidak,” katanya dingin. “Kita perlu audit.”
Tatapan pria itu beralih ke Aruna ada ketakutan nyata di sana. “Ini belum selesai,” katanya pelan.
Aruna menatap balik tanpa berkedip. “Justru sekarang selesai,” jawabnya.
Sunyi menggantung.
Keamanan datang beberapa detik kemudian.
Ruangan tidak langsung kembali normal setelah itu.
Justru keheningan yang tersisa terasa lebih berat dari keributan sebelumnya. Beberapa staf berdiri kaku, seolah otak mereka masih mencoba mengejar apa yang baru saja terjadi. Ini bukan lagi rumor, bukan lagi kecurigaan internal ini pengungkapan terbuka yang menyentuh level tertinggi.
Aruna merasakan udara di paru-parunya terasa berbeda. Lebih dingin. Lebih tajam. Setiap suara kecil kursi bergeser, napas tertahan, bisikan pelan terasa diperbesar oleh adrenalin yang belum sepenuhnya turun.
Di layar monitor, log akses berhenti bergerak. Garis aktivitas yang tadi hidup kini statis. Bukti telah terkunci. Tidak ada lagi ruang manipulasi. Tidak ada lagi kabur.
Auditor menoleh pelan ke Calvin. “Semua data sudah disalin. Jalur aksesnya mati total.”
Calvin mengangguk singkat. Tidak ada perayaan. Tidak ada ekspresi kemenangan. Hanya ketenangan seseorang yang tahu satu pertempuran selesai… tapi perang masih panjang.
Aruna menyadari tangannya sedikit bergetar. Bukan takut lebih seperti tubuhnya baru menyadari tekanan yang tadi ia tahan. Ia menarik napas perlahan, memaksa detaknya turun.
Di luar ruangan, kabar mulai menyebar. Getaran ponsel terdengar bersahutan. Pesan masuk. Grup internal hidup. Informasi bergerak lebih cepat dari siapa pun yang bisa mengendalikannya.
Dan untuk pertama kalinya, Aruna melihat sesuatu yang berbeda di wajah orang-orang di sekitarnya.
Bukan kecurigaan.
Bukan bisik-bisik.
Tapi rasa hormat yang lahir dari keberanian yang mereka saksikan sendiri.
Tatapan itu membuat dadanya mengencang bukan karena bangga, tapi karena sadar setiap langkah yang ia ambil kini akan diperhatikan lebih tajam dari sebelumnya.
Calvin mendekat satu langkah. Suaranya rendah, hanya untuknya. “Ini akan mengguncang semuanya.”
Aruna menatap layar sekali lagi. Bukti yang tidak bisa dihapus. Nama yang tidak bisa disangkal.
“Bagus,” katanya pelan. “Karena sesuatu memang harus runtuh sebelum bisa dibangun ulang.”
Dan saat kata-kata itu keluar, ia sadar garis yang mereka lewati hari ini bukan sekadar strategi.
Ini adalah deklarasi. Bahwa permainan lama telah berakhir. Dan siapa pun yang masih bersembunyi tidak akan lama lagi.
Di balik kaca ruang rapat, kota tetap bergerak seolah tidak ada yang berubah. Tapi Aruna tahu hari ini menjadi garis pemisah. Sebelum dan sesudah. Ia merasakan ketenangan yang aneh, bukan karena masalah selesai, melainkan karena arah sudah jelas. Dan ketika arah sudah terlihat, ketakutan kehilangan kekuatannya.
Dan saat pria itu dibawa keluar, seluruh ruangan terasa seperti baru mengembuskan napas bersama.
Aruna bersandar sedikit ke meja. Adrenalin turun perlahan.
Calvin menoleh padanya. “Kamu baik?”
Aruna mengangguk pelan. “Ya,” katanya. ia benar-benar merasa begitu.
Tapi jauh di dalam dirinya, ada kesadaran yang tidak bisa diabaikan.
Ini bukan akhir.
Ini hanya lapisan pertama yang runtuh.
Dan siapa pun yang berdiri di balik semua ini…
baru saja kehilangan salah satu pion terkuatnya.
Permainan belum selesai.
Tapi sekarang mereka tahu siapa yang sedang mereka buru.
Dan kali ini…
tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.
Dan untuk pertama kalinya, Aruna tidak ragu. Apa pun yang datang berikutnya, ia sudah berdiri di sisi yang tidak akan ia tinggalkan.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/