Yang Lily tahu selama ini Jeffrey sangat menyayanginya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan selalu ada untuknya. Yang Lily tahu, Jeffrey akan mengutamakan dia diatas segalanya. Dan Lily menyukai Jeffrey karena itu semua.
Namun yang Lily tidak tahu, bahwa selama ini Jeffrey selalu menganggapnya sebagai adik kecil yang harus dia sayangi. Menganggapnya sebagi adik perempuan yang tidak akan bisa dia dapatkan dari ibunya. Menganggap Lily sebagai adik kecil yang harus dia jaga selamanya. Dan tidak pernah lebih dari itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nanawf_98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 2
Jalanan selalu sama. Padat merayap, tak pernah benar-benar tenang. Pengamen jalanan, pedagang asongan, bergiliran datang saat lampu merah menyala. Karena kasihan, Mona membeli dua botol air mineral dari seorang anak kecil yang terlihat kelelahan. Bulir-bulir keringat berjatuhan membasahi bajunya. Pundaknya turun, penuh beban. Sementara wajahnya meskipun selalu tersenyum tetapi terlihat layu.
"Ini uangnya." Kata Mona sembari menyerahkan uang lima puluh ribuan, membuat anak itu menggaruk kepalanya kebingungan.
"Ini... Nggak ada kembaliannya bu." Ucap anak itu pelan. Ragu-ragu untuk menerima.
Mona tersenyum teduh, menenangkan. "Kembaliannya buat kamu aja."
Mata anak itu melebar karena terkejut. "Beneran?" Tanyanya seolah tak percaya. Mona mengangguk. "Iya."
Lalu sorak kegirangan terdengar, dari mulut kecilnya. Berbanding terbalik dengan mata cerahnya yang kini mulai berkaca-kaca. Badannya yang kurus membungkuk berkali-kali sambil mengucapkan terima kasih. "Terima kasih Bu, terima kasih banyak."
Dari kursi penumpang, Andra yang merasa penasaran menjulurkan kepalanya ke depan dari balik kursi kemudi. Melihat anak itu, lalu melihat pada dirinya sendiri. Kepalanya penuh dengan berbagai macam pertanyaan. Tapi tak tahu harus memulainya darimana.
"Tante beli apa?"
Akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari mulut.
"Ohh ini, Tante beli minum tadi." Mona menyerahkan satu botol pada Andra. Yang diterima dengan riang oleh anak itu.
"Wah, kebetulan Andra haus banget tante. Dari tadi pengin minum tapi botol minumnya udah kosong. Terima kasih yah." Nada suaranya begitu lucu, penuh kepolosan. Sama seperti anak kecil tadi. Tetapi sayangnya dengan nasib yang berbeda.
"Iya, sama-sama." Balas Mona.
Netranya beralih pada Jeffrey yang sejak tadi terus menatap keluar. Tanpa suara. Hanya gerak kecil dari kaki yang menandakan kehadirannya.
"Jeffrey... " Panggil Mona. Namun tak ada respon. Entah apa yang sedang anak itu pikirkan hingga tak mendengar.
Andra yang menyadari itu, segera menyenggol bahu Jeffrey pelan. Lalu tersenyum saat bocah yang seumuran dengannya itu menoleh. Dia lalu menunjuk Mona. "Dipanggil Tante dari tadi."
Jeffrey mengalihkan tatap, lalu mengangkat alis. Bertanya tanpa kata. Masih tak mau bersuara.
Mona tak melunturkan senyumnya. Anaknya memang sedikit berbeda. Lebih tertutup, lebih pendiam dari anak lainnya. Tak banyak juga yang menjadi minatnya atau yang membuatnya merasa tertarik. Dan dia sudah terbiasa.
"Minum dulu." Kata Mona.
Jeffrey menerimanya. Tapi tak meminum. Hanya menyimpannya dalam pangkuan. Sementara atensinya kembali menatap keluar. Seolah apa yang ada dibalik jendela begitu menarik dari pada pertunjukan sirkus.
Saat lampu merah telah berganti warna, mobil kembali melaju. Bersisian dengan mobil lain. Saling menyalip. Mona tak menambah kecepatan. Dia lebih suka berkendara dengan tenang dan aman. Hingga mereka tiba di pertigaan, Mona mengarahkan kemudinya ke kiri. Ke arah rumah sakit.
Anak kecil biasanya tak begitu peduli, juga tak begitu mengerti. Asal sampai di rumah, mereka akan senang. Namun Jeffrey sedikit berbeda. Dia yang menyadari keanehan, segera menegakkan tubuh. Lalu menatap ke depan dengan kening mengerut. "Kita mau kemana ma? Ini kan bukan jalan ke rumah."
Andra yang semula asik bernyanyi, seketika menghentikan nyanyiannya. Lagu anak-anak berjudul balon ku ada lima seolah tak penting lagi baginya. Mata penuh binar itu memindai ke sekeliling, dan benar saja. Jalan ini terasa asing dan berbeda. Tak seperti biasa. Tak ada rumah-rumah, tak ada orang-orang yang dia kenal.
Ditempatnya, Mona seolah tersadar, lalu menepuk dahinya pelan. Ia lupa memberi tahu. "Kita mau ke rumah sakit sayang." Ucapnya santai. Seolah kata rumah sakit tak begitu menakutkan.
Jeffrey dan Andra saling bertatapan. Bertukar tanya lewat mata tentang siapa yang ada disana. Dan dengan keadaan yang bagaimana. Namun keduanya tak menemukan jawaban. Sama-sama tak tahu, sama-sama mengangkat bahu.
Mona melirik ke kursi belakang. Wajah penuh kebingungan dari dua bocah kesayangannya itu membuat ia merasa gemas. Karena tak tahan, ia kembali berkata. "Tante Sarah sedang dirawat di rumah sakit sekarang. Jadi kita mau kesana jengukin."
Mendengar nama ibunya disebut, Andra segera mencondongkan tubuhnya ke depan, penasaran, dengan mata berkaca-kaca.
"Mama kenapa Tante? Mama sakit apa? Kok Andra nggak tahu."
Mona mengelus kepala kecil itu pelan. Tapi merasa kesulitan, karena terhalang kursi. Ia mencoba menenangkan. Tetapi tubuh Andra terus bergerak-gerak tak tenang. Tak ingin membuat anak-anak dilanda cemas, ia segera menambahkan. "Adik Andra kan sebentar lagi akan lahir."
Kalimat itu terdengar ringan, riang, tanpa beban. Tetapi memiliki efek yang luar biasa untuk dua bocah yang mendengarkan. Untuk beberapa saat suasana di dalam mobil menjadi hening. Tak ada yang bersuara. Seolah otak kecil mereka tak sanggup mencerna.
Mona terus menunggu dan menunggu. Namun tak ada yang terjadi. Alisnya tertaut dalam.
Apakah mereka tidak senang? Bukankah ini yang mereka nantikan? Itu lah yang ada di pikiran Mona tentang kebingungannya.
Perlahan, Jeffrey menggeser tubuhnya agar lebih dekat dengan sang ibu. Kemudian dengan suara yang tersendat, dia berkata. "Lily... Jadi Lily akan lahir hari ini ma?"
Lily adalah nama yang selalu Jeffrey sebut untuk memanggil bayi dalam perut Sarah. Entah apa artinya, entah apa alasannya, tak ada yang tahu. Dan semua orang sudah terbiasa. Bahkan tanpa sadar mulai mengikuti.
Andra yang mulai sadar dari rasa terkejutnya pun kini mengarahkan tubuhnya ke depan, bersiap mendengarkan. Tetapi karena tak puas, ia memanfaatkan celah kecil diantara kursi depan untuk berpindah tempat. "Tante tadi bilang apa? Adik Andra udah lahir?" Tatapannya penuh harap.
Mona tersenyum. "Saat ini belum. Tapi semoga secepatnya. Kalian sebaiknya berdo'a, semoga saat kita sampai disana, baby Lily sudah lahir ke dunia."
Selepas mendengar ucapan ibunya, Jeffrey mengangkat kedua tangan sebatas dada. Berdoa dengan mata yang terpejam erat. Sementara bibir tipisnya terus bergerak-gerak lucu. Andra secara otomatis juga melakukan hal yang sama.
Dari spion depan, Mona dapat melihat sebuah senyuman, yang begitu indah, yang begitu tulus, terbentuk dari bibir putranya. Sebuah senyuman yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Entah anak itu sadar atau tidak. Tetapi yang pasti, Mona sangat bahagia.
'semoga kelahiran Lily bisa membawa perubahan serta kebahagiaan untuk keluarganya juga.' doa-nya.
Mobil telah sampai di pelataran rumah sakit. Mona melihat sekelilingnya. Mencoba menemukan tempat yang kosong untuk parkir. Setelah ketemu, dia memarkirkan mobilnya disana dengan perlahan.
Anak-anak segera keluar dengan tidak sabar begitu mobil berhenti bergerak. Memacu kaki kecil mereka secepat mungkin. Meninggalkan Mona sendirian di belakang.
Meskipun begitu, tidak ada ke-niatan untuk mengejar. Sebaliknya, Mona justru berdiam diri bersandarkan kap mobil sambil menyilangkan tangan di depan dada, menatap keduanya dan menggelengkan kepala. Ia yakin dalam hitungan ketiga, kedua bocah itu akan berbalik padanya.
1...
2...
Dan lihat...
Bahkan sebelum Mona selesai menghitung, anak-anak sudah kembali.
"Mama ayo cepat!! Kita mau lihat Lily!!"
Tangan Jeffrey bergerak meraih lengan Mona, lalu menariknya. Tubuh kecilnya bergerak-gerak gelisah, wajahnya menjadi tak sabar. Begitu juga dengan Andra yang segera menggenggam tangan Mona yang lain. Keduanya begitu bersemangat. Membuat Mona sangat kesulitan.
Koridor rumah sakit terasa dingin dan panjang. Diterangi lampu neon yang memancar sampai ke sudut-sudut ruangan. Orang-orang sibuk berlalu lalang. Sementara doa-doa terus dipanjatkan. Tentang harapan, tentang kesembuhan dan keikhlasan.
Mona menahan langkah Jeffrey dan Andra, lalu menghentikan seseorang untuk bertanya. "Maaf mengganggu sebentar, ruang operasi ada dimana yah?"
"Itu, dari sini kelihatan. Lurus aja, lalu belok sedikit."
Mona mengangguk mengerti. Setelah mengucapkan terima kasih, ia segera membawa anak-anak kesana. Namun ada yang aneh. Disana Mona tidak menemukan Chandra yang menunggu di depan. Yang ada hanya orang-orang yang tidak ia kenal. Sementara ruang operasi lain sedang tidak digunakan.
"Tunggu sebentar, kalian jangan kemana-mana. Mama mau telpon Om Chandra dulu."
Anak-anak menanggapi dengan anggukan. Begitu penurut, begitu pengertian. Mona mengambil handphone dalan tasnya. Berniat mencari nomor Chandra disana. Tetapi saat layar menyala, ada satu pesan dari pria itu yang datang 1 jam lalu. Yang tak ia sadari.
"Mama-nya Andra nggak disini ternyata. Dia di ruang bersalin. Kita salah tempat."
"Ayo kita kesana." Ajak Mona lagi. Anak-anak mengikuti. Berjalan di belakang sambil bergandengan tangan. Lebih tepatnya Andra yang memegangi tangan Jeffrey karena ia ketakutan saat melintas di depan kamar mayat.
Didepan ruang bersalin, pintu masih tertutup rapat. Lampu yang menyala di dalam, membias melalui jendela kaca yang tertutup tirai. Tak ada celah. Hanya siluet samar yang terlihat.
Mona menyuruh anak-anak duduk sembari menunggu, namun mereka menolak. Keduanya sepakat untuk berdiri saja di dekat pintu. Jadi ketika baby Lily keluar, mereka bisa langsung melihatnya.
Karena tak ingin memaksa, Mona perlahan mundur. Lalu mendudukkan dirinya di kursi yang tersedia. Usianya sudah semakin bertambah, ia tak kuat lagi berdiri lama-lama. Namun tetap, matanya tak lepas dari mereka. Terus mengawasi.
Waktu terus berlalu, menit demi menit terlewati. Tak ada tanda-tanda bahwa pintu itu akan terbuka. Jeffrey dan Andra menjadi tak sabar. Wajah penuh semangat mereka saat awal datang, telah berubah menjadi gurat lelah. Lalu perlahan tubuh mereka merosot ke bawah. Terduduk di lantai sambil bersandar ke dinding.
"Ma, Tante Sarah kenapa lama banget di dalam?"
"Dulu mama juga lama di dalam situ pas Jeffrey lahir. Jeffery nya nakal nggak mau keluar dari perut mama." Jelas Mona.
"Jadi Lily nakal juga yah Tante kayak Jeffery?" Tanya Andra sembari berjalan kearah Mona. Lalu menempatkan diri disampingnya.
Mona meringis, sangat sulit memang memberikan pengertian pada anak-anak. Dia harus berpikir lama untuk mencari bahasa yang mudah di mengerti oleh mereka serta bahasa yang mendidik.
"Mungkin Lily masih betah di dalam perut mama Andra karena disana nyaman dan hangat. Makanya nggak keluar-keluar."
Mona tidak benar-benar tahu. Proses kelahiran begitu kompleks, dengan kendala yang berbeda. Dalam kondisi Sarah, Chandra tak memberi tahu detailnya.
"Apa waktu Andra lahir juga begitu Tante?"
Mona menggeleng. "Proses kelahiran Andra malah cepet banget. Pas Tante dateng ke rumah sakit, Andra nya udah lahir. Mungkin saat itu Andra sudah nggak sabar lihat dunia."
Anak laki-laki itu menganggukkan kepala. "Soalnya Andra nggak nakal kaya Jeffrey yah Tante." Ucapnya bangga. Di sertai senyum meledek.
Mona terkekeh. Lalu mengelus rambut anak itu pelan. Penuh sayang. Sementara Jeffrey sendiri masih diam di dekat pintu, dengan wajah datarnya yang tak berubah.
Saat mereka sedang asik mengenang masa lalu, datang seorang laki-laki dengan langkah tergesa-gesa menghampiri mereka. Tubuhnya tinggi dan tegap. Diselimuti jas. Dasi menggantung rapi dilehernya. Rambutnya licin. Hasil dari Pomade mahal yang menakjubkan. Sementara nafasnya terengah-engah. Pria itu berdiri tepat di depan Mona.
"Gimana keadaan Sarah?"
Mona menghentikan ceritanya. Kemudian menatap sang suami.
"Sini, duduk dulu Mas." Mona menggeser tubuhnya begitu melihat wajah lelah Rama. Begitu juga Andra. Memberi ruang yang cukup untuk pria itu duduk.
"Mana Jeffrey?" Tanya Rama ketika tak melihat sang putra.
Mona menunjuk kearah dimana Jeffrey berada. Anak itu terlihat mengantuk. Kepalanya beberapa kali hampir jatuh kepangkuan.
"Sini nak..." Perintah Rama.
Jeffrey menurut. Berjalan dengan pelan menghampiri ayahnya. Langkahnya terlihat malas dan tidak stabil. Sementara matanya berat terasa. Terbuka dan tertutup berkali-kali, mencoba menjaga kesadaran.
Saat jarak semakin dekat, tubuh Jeffrey hampir ambruk. Rama segera menangkapnya, kemudian membawanya ke pangkuan.
"Hati-hati, ngantuk yah?"
Tak ada jawaban, hanya sebuah anggukan sebagai balasan. Rama membelai kepala itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Membuat rasa kantuk semakin tak tertahankan.
"Kalian sudah makan?"
Rama dapat merasakan gelengan kepala Jeffrey di ceruk lehernya. Dan juga suara lirih ditengah kesadaran yang hampir hilang. "Belum."
Ditempatnya, Andra menatap Rama dengan kepala yang dimiringkan, karena tubuh pria itu terhalang tubuh Mona. Lalu menggeleng juga. Sementara tangan kecilnya mengelus perut yang berbunyi keras. "Belum Om."
"Maaf mas, kami asik bercerita. Jadi lupa." Ucap Mona penuh sesal. Kepalanya tertunduk dalam.
Rama kembali mengangkat Jeffrey, kemudian mendudukkannya ditempat ia duduk tadi. Anak itu merasa terusik, tetapi segera mencari tempat ternyaman untuk melanjutkan tidurnya.
"Tunggu disini sebentar, aku mau cari makanan. Kasian anak-anak."
Mona mengangguk. "Ya mas. Tolong belikan juga untuk Sarah dan Chandra."
Rama mengangguk. Setelah mengelus rambut istrinya, ia berlalu meninggalkan mereka.
***