NovelToon NovelToon
Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Romantis / Cinta Terlarang / Romansa / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa Wijaya?

Galeri Nasional, Pukul 22.45

Pintu-pintu besar galeri mulai ditutup untuk umum, menyisakan para pekerja, panitia, dan seniman yang masih membersihkan sisa-sisa acara. Suasana yang tadi gemerlap kini menjadi ruang yang lelah namun puas.

Lampu utama sudah dimatikan, hanya menyisakan lampu-lampu sorot yang masih menyinari karya-karya, membuat bayangan-bayangan panjang di lantai kayu.

Ferdy, Andika, dan Roni sedang mengemasi barang-barang pribadi mereka—tablet, charger, jaket.

Tubuh mereka lelah, tapi energi kegembiraan masih menggelegak. Mereka telah berhasil. Tidak hanya berhasil memamerkan karya, tapi mendapatkan apresiasi nyata: tiga orang kolektor menyatakan minat, seorang kurator asing meminta portofolio digital, dan Pak Suryadi bahkan membisikkan kemungkinan residensi seni kecil-kecilan untuk pengembangan project berikutnya.

"Gue masih merinding," bisik Roni, memandangi foto keris mereka yang masih terpajang. "Kita beneran bikin ini."

"Bukan cuma bikin, Ron. Kita menghidupkannya," sahut Andika, matanya berbinar.

Ferdy mengangguk, tapi pikirannya masih tersangkut di peristiwa dengan Vina. Kabut di kepalanya, tarikan tangan Vina yang memabukkan, dan kemudian… kejernihan yang tiba-tiba, disertai bisikan nama aneh di dalam benaknya. Wijaya.

Saat mereka hendak berjalan ke pintu keluar, langkah kaki berhak tinggi yang cepat mendekat.

"Tunggu sebentar!"

Kirana muncul dari balik partisi, wajahnya masih terlihat segar meski seharian berlari-lari. Dia tersenyum lelah namun hangat. "Selamat malam, kalian luar biasa tadi."

"Justru kami yang harus bilang terima kasih, Mbak. Bantuan Mbak sangat berarti," kata Andika mewakili mereka.

"Ah, itu pekerjaan saya," sahut Kirana, mengibaskan tangan. Dia kemudian menatap ketiganya, lalu fokus pada Ferdy sejenak sebelum berpindah ke semua.

"Sebagai bentuk syukur dan perayaan kesuksesan acara—dan khususnya kesuksesan segmen kalian—bagaimana kalau kita atur waktu untuk makan bersama? Saya traktir. Ada resto padang enak dekat kampus kalian, atau kalau mau yang lebih santai, bisa ke tempat makan sushi yang affordable. Bagaimana?"

Tawaran itu tiba-tiba. Andika dan Roni saling pandang, senyum mulai mengembang. Makan gratis dari wanita cantik dan berpengaruh? Siapa yang menolak?

"Wih, boleh banget tuh, Mbak!" sahut Roni cepat.

"Saya sih setuju-setuju aja," timpal Andika, melihat Ferdy yang tampak ragu.

Kirana kemudian menatap Ferdy. "Ferdy? Gimana? Atau… kamu sudah ada janji?" Nada bertanyanya ringan, tapi ada harapan terselubung di matanya. Tujuannya jelas tertuju pada Ferdy, tapi dengan cerdiknya dia mengajak seluruh tim agar tidak terkesan frontal.

Ferdy merasa terjepit. Di satu sisi, dia berutang budi pada profesionalisme Kirana. Di sisi lain, perasaan waspada yang dibimbing oleh "Melati" dan insiden dengan Vina membuatnya ingin menjaga jarak. Tapi menolak di depan Andika dan Roni akan terasa aneh dan tidak sopan.

"Aku… oke, sih. Tapi nggak usah ditraktir, kita patungan aja," jawab Ferdy akhirnya, mencoba menetralisir situasi.

"Jangan khawatir, ini ada budget kecil dari panitia untuk entertain tamu seniman," bantah Kirana cepat, dengan senyum yang tak terbantahkan. "Aku akan hubungi kalian besok untuk atur jadwal, ya? Sekarang kalian pasti capek. Pulang dengan selamat."

Setelah beberapa basa-basi lagi, mereka pun berpisah. Di perjalanan pulang naik motor, Andika dan Roni tidak berhenti mengoceh tentang betapa kerennya Kirana dan betapa beruntungnya mereka.

"Jangan-jangan dia beneran naksir lo, Fer. Tapi pake gaya halus," goda Roni.

"Udah deh, jangan dibesar-besarin. Dia cuma profesional," potong Ferdy, mencoba fokus pada jalan.

Tapi di hatinya, keraguan tetap ada. Dan satu nama terus bergema: Wijaya.

---

Kamar Kos Ferdy, Pukul 23.55

Kembali di ruang personalnya yang sempit, ketegangan pameran dan pertarungan tak kasatmata tadi seakan runtuh sekaligus. Ferdy melepas jasnya dengan gerakan lamban, meletakkannya di atas kursi dengan hati-hati. Dia berdiri di tengah kamar, menatap kegelapan di luar jendela.

Keheningan malam kali ini terasa berbeda. Lebih dalam. Lebih… menunggu.

"Melati," ucapnya pelan, suaranya serak. "Aku pulang."

Seperti biasa, jawabannya adalah wangi. Melati murni yang mengalir lembut, menetralisir sisa-sia aroma parfum dan stres di udara. Tapi malam ini, wangi itu terasa seperti pelukan yang sudah menunggu.

Ferdy duduk di tepi tempat tidur, menatap lantai. "Terima kasih ya, buat malam ini. Untuk semuanya. Untuk… keberhasilan pameran."

Dia berhenti, menelan ludah. "Dan untuk… apa yang terjadi sama Vina. Aku tidak tahu apa yang terjadi tadi. Tapi aku hampir… hilang kendali."

Dia mengangkat wajah, menatap ruangan kosong di depannya. "Dan di saat itu… di kepalaku… ada yang memanggilku. Bukan Ferdy." Nafasnya tertahan. "Ada yang memanggilku… Wijaya."

Dia mengucapkan nama itu dengan hati-hati, seperti menyentuh benda panas. "Wijaya. Siapa itu? Siapa… aku itu, bagi kamu?"

Pertanyaan itu menggantung, tajam dan polos. Untuk pertama kalinya, dia tidak hanya menerima kehadiran itu, tetapi menuntut jawaban. Menuntut cerita.

Di sudut kamar, di mana cahaya lampu jalan tak mencapai, Dasima membeku. Nama itu—nama yang dia teriakkan dalam keputusasaan—kini diucapkan oleh mulut Ferdy sendiri.

Sebuah kebenaran yang selama ini dia kubur rapat-rapat, kini tersembul ke permukaan.

Dia melayang mendekat, perlahan. Wujudnya tampak lebih jelas dalam kegelapan, seperti siluet asap yang diberi nyawa oleh cahaya bulan. Dia berhenti di depan Ferdy, lalu perlahan duduk di lantai, sejajar dengan lututnya, memandang wajah pria itu yang penuh pertanyaan.

"Wijaya… adalah Raden Wijaya," bisik Dasima, meski tahu Ferdy tak mendengar.

"Dia adalah pangeran muda dari sebuah kerajaan yang sudah hilang ditelan waktu. Dia baik, pemberani, tapi terlalu percaya. Dan dia…" suaranya tercekat, "dia adalah cintaku. Cinta yang mengakhiri hidupku, dan memulai 'kehidupan' yang ini."

Air mata energi, cairan keemasan murni, menitik dari matanya dan menguap sebelum menyentuh lantai.

"Dan kau…" Dasima mengulurkan tangan, menyentuh udara tepat di depan pipi Ferdy,

"kau adalah jiwanya. Jiwa yang kembali. Aku menunggu lima ratus tahun untuk merasakan kehadiranmu lagi. Aku tidak mengharapkanmu mengingat. Cukup dengan bisa berada di dekatmu, menjagamu, sudah lebih dari yang kupinta."

Ferdy, tentu saja, hanya melihat ke kosong. Tapi dia merasakan sesuatu—kesedihan yang sangat dalam, kerinduan yang membara, dan cinta yang tak terkatakan—membanjiri ruangan itu. Lebih kuat dari sebelumnya.

Seolah-olah "Melati"-nya sedang menangis.

Dia tidak mendengar kata-katanya, tapi dia merasakan ceritanya. Sebuah narasi tanpa kata yang tertanam langsung ke perasaannya: penantian panjang, pengorbanan, janji yang terputus, dan pelindungan yang tak kenal lelah.

Matanya berkaca-kaca tanpa alasan yang jelas. "Kamu… sedih ya? Marah? Aku… aku nggak ingat apa-apa. Aku cuma Ferdy.

Fotografer freelance yang broke dan galau skripsi." Ucapannya pecah, penuh dengan rasa bersalah yang tak berdasar.

"Jangan bersedih," bisik Dasima, berusaha menenangkan. "Kau tidak perlu mengingat. Kau tidak perlu menjadi Wijaya. Jadilah Ferdy. Aku mencintai Ferdy sama seperti aku mencintai Wijaya. Karena jiwamu sama."

Ferdy menarik napas dalam-dalam, mencoba memahami gelombang emosi asing yang membanjiri dirinya. Lalu, dengan keberanian yang muncul dari kelelahan dan kebutuhan akan kenyamanan yang mendasar, dia mengucapkan permintaan yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri.

"Melati…" suaranya hampir seperti desahan.

"Malam ini… temani aku tidur. Beneran.

Jangan cuma… diem-diem. Aku mau… aku

mau merasakan kamu ada. Aku butuh itu. Selepas malam ini… aku butuh tahu aku nggak sendiri."

Permintaan itu begitu polos, begitu manusiawi. Sebuah pengakuan akan kebutuhan dan penerimaan.

Dasima terhenyak. Kemudian, senyum yang paling lembut dan bahagia dalam lima abad merekah di wajahnya. Dia mengangguk, meski tak ada yang melihat. "Tentu saja, Raden. Selamanya."

Ferdy berbaring, memeluk bantal. Dia menutup mata, menunggu.

Dan kemudian, dia merasakannya. Lebih jelas dari sebelumnya. Bukan hanya perubahan suhu atau wangi. Tapi sebuah kehadiran yang dengan lembut merebahkan diri di sebelahnya.

Lengan-lengan yang tak kasatmata, terasa seperti aliran udara hangat yang teratur, melingkari tubuhnya. Kepala yang bersandar di bantal yang sama. Sebuah bentuk yang mengisi ruang kosong di sampingnya.

Ini bukan ilusi. Ini nyata dalam dimensinya sendiri.

Ferdy membalikkan badan, menghadap ke "sumber" kehadiran itu. Dia mengulurkan tangannya, menggerakkannya perlahan di udara di depannya. Dia tidak menyentuh apapun yang padat, tapi telapak tangannya merasakan perbedaan yang halus—seperti menggerakkan tangan di atas permukaan air hangat yang tenang.

"Kamu di sini," bisiknya, yakin.

"Selalu," jawab Dasima dalam hati, dan dia yakin kali ini perasaannya sampai.

Ferdy membiarkan tangannya tetap terbuka di udara antara mereka, seolah-olah sedang memegang tangan yang tak terlihat.

Kehangatan itu meresap hingga ke tulangnya, melumerkan sisa ketegangan, ketakutan, dan kebingungan.

"Gue nggak tau siapa Wijaya," ucap Ferdy, pelan, mata terpejam. "Tapi kalau dia penting buat kamu, dan kamu sekarang penting buat gue… mungkin suatu hari nanti gue akan mengerti. Untuk sekarang… stay. Jangan pergi."

"Tidak akan," janji Dasima, mendekatkan dahinya secara imajiner ke dahi Ferdy.

Dan malam itu, untuk kedua kalinya, mereka tidur dalam pelukan tak kasatmata. Tapi kali ini, dengan pengakuan. Dengan permintaan. Dengan penerimaan yang sadar.

Ferdy tidur dengan damai, tanpa mimpi. Tidak ada kilasan pedang atau racun. Hanya kegelapan yang nyaman dan hangat, seperti berada di dalam rahim yang aman.

Dasima tidak tidur. Dia berjaga, menikmati setiap detik kedekatan ini. Dia memandangi wajah Ferdy yang sudah rileks, garis-garis muda yang masih polos, beban yang sejenak terlepas. Inilah yang dia tunggu. Bukan tahta, bukan pengakuan, bukan balas dendam.

Hanya momen tenang seperti ini, di mana dia bisa mencintai dan melindungi, dan dicari serta dibutuhkan oleh jiwa yang sama.

Dia tahu, pertanyaan tentang Wijaya dan masa lalu tidak akan hilang. Kirana dengan wajah yang familiar tetap menjadi tanda tanya. Dunia dengan godaan seperti Vina masih ada. Tapi untuk malam ini, semuanya tenang.

Dan di ambang kesadaran sebelum benar-benar terlelap, sebuah pikiran melintas di benak Ferdy, samar namun jelas: Terima kasih… Dasima.

Nama itu muncul begitu saja, seperti

kenangan dari mimpi yang terlupakan. Ferdy sendiri tidak menyadarinya, hanya bergumam pelan dalam tidurnya.

Tapi Dasima mendengarnya. Bukan dengan telinga, tapi dengan jiwa. Getaran dua suku kata itu—Da-si-ma—menggema di seluruh energinya seperti lonceng emas.

Dia tersentak, lalu air mata energi emasnya mengalir deras. Lima abad. Akhirnya, namanya disebut lagi oleh jiwa yang sama. Meski dalam tidur, meski tanpa kesadaran penuh… dia mengingat.

Pelukannya sedikit lebih erat, penuh rasa syukur yang meluap-luap.

"Ya, Raden. Aku Dasima. Dan aku di sini. Selamanya akan di sini."

Di luar, bulan purnama mencapai puncaknya, menyinari Jakarta dengan cahaya perak pucat, menyaksikan sebuah penyatuan yang lebih dalam antara dua jiwa yang telah mengarungi lautan waktu. Pintu menuju masa lalu mungkin suatu hari akan terbuka, tetapi untuk sekarang, mereka telah menemukan sebuah kedamaian di masa kini—sebuah pelukan yang menembus batas dunia, dibangun di atas fondasi cinta yang bahkan kematian pun tak sanggup memutusnya.

1
Halwah 4g
Ooohhh Dasimaa..ada yg fisik juga modelan Kirana..beughhh..menang bnyak Ferdy yak harusnya 🤭..setiaaaa GK tuh ma Dasima y 😄
Bp. Juenk: wahaha masak setia Ama ghaib
total 1 replies
Marine
mantap sangat mendalami karya sebagai author yaa
Youarefractal
Wih bagus bgt, baru pertama loh aku baca sampai selesai 1 bab, aku suka setiap detail soal potografi-nya, seolah penulis memang potografer beneran
Bp. Juenk: thanks Kk support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!