NovelToon NovelToon
BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

BERHENTI MENCINTAIKU YANG RAPUH

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:740
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Perisai dari Besi dan Amarah

BAB 19: Perisai dari Besi dan Amarah

Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur pesisir Jawa Tengah, namun suasana di Sanatorium Adiguna sama sekali tidak membawa kedamaian. Suara deru mesin helikopter yang mendarat di lapangan rumput belakang bangunan putih itu memecah kesunyian pagi. Rangga, yang sedang duduk di kursi samping ranjang Arini sambil menggenggam tangan wanita itu, langsung berdiri tegak.

Ia tahu siapa yang datang. Ia sudah bisa mencium aroma ambisi dan kekuasaan yang dibawa oleh angin laut itu.

"Tuan Rangga, Ibu Sarah sudah sampai di lobi depan," lapor seorang pengawal bertubuh tegap yang baru saja disewa Rangga melalui jaringan keamanannya semalam.

Rangga tidak segera menjawab. Ia menatap wajah Arini sekali lagi. Wajah itu masih tenang dalam tidurnya yang panjang. Masker oksigen yang menempel di hidungnya berembun setiap kali napas lemah Arini berhembus. Monitor jantung di sampingnya masih mengeluarkan bunyi beep yang stabil, sebuah irama yang kini menjadi satu-satunya melodi kehidupan bagi Rangga.

"Tetap di sini. Jangan biarkan siapa pun masuk kecuali Dokter Bram," perintah Rangga dengan nada yang sangat dingin.

Rangga melangkah menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah yang mantap. Setiap dentuman sepatunya di atas lantai marmer seolah-olah mengumumkan kehadirannya sebagai penguasa baru di tempat itu. Di lobi utama, Ibu Sarah berdiri dengan keanggunan yang mematikan. Ia mengenakan kacamata hitam dan setelan mewah yang tampak kontras dengan lingkungan medis yang steril itu.

"Rangga, apa maksud semua ini?" tanya Ibu Sarah saat melihat putranya muncul. Ia melemparkan beberapa lembar dokumen ke atas meja lobi. "Kenapa aksesku ke rekening yayasan ini diblokir? Dan kenapa kamu menyewa tentara bayaran untuk menjaga tempat ini?"

Rangga berhenti beberapa meter di depan ibunya. Ia tidak lagi menunduk. Ia berdiri dengan bahu tegap, menatap langsung ke mata wanita yang telah melahirkannya namun juga hampir menghancurkan cintanya.

"Selamat pagi, Mama," sapa Rangga tanpa senyum. "Sanatorium ini sekarang berada di bawah kepemilikan pribadiku. Aku sudah membeli seluruh saham yayasan dari dewan komisaris semalam dengan uang pribadiku yang sudah Mama kembalikan."

Ibu Sarah tertawa getir. "Kamu pikir kamu bisa mengusirku dari tempat yang kubangun sendiri? Rangga, sadarlah. Wanita itu seharusnya sudah mati. Dia sudah menyerah, dia sudah mengkhianatimu dalam sandiwara yang kita buat. Kenapa kamu masih mempertahankan mayat hidup itu?"

Mata Rangga berkilat tajam. "Namanya Arini, Ma. Bukan 'wanita itu'. Dan dia tidak mengkhianatiku. Mama yang memaksanya untuk menjadi penjahat dalam hidupku. Tapi Mama lupa satu hal... cinta yang murni tidak bisa dihancurkan dengan skenario murahan."

"Dia beban, Rangga! Dia akan menghisap energimu, uangmu, dan masa depanmu. Kamu sekarang Direktur Operasional Grup Sarah. Kamu punya masa depan yang gemilang. Jangan biarkan mesin-mesin itu mengikatmu pada masa lalu yang sekarat!" teriak Ibu Sarah, suaranya menggema di lobi yang sepi.

Rangga maju selangkah, suaranya merendah namun penuh ancaman. "Mama tahu apa yang membuatku bertahan saat aku bekerja di gudang tempo hari? Bukan uang Mama. Tapi keinginan untuk memberikan Arini pengobatan terbaik. Dan sekarang, setelah aku tahu dia rela mati hanya agar aku kembali pada Mama, aku bersumpah... aku tidak akan pernah membiarkan Mama menyentuhnya lagi. Bahkan seujung kuku pun."

"Aku adalah ibumu, Rangga! Aku melakukannya demi kebaikanmu!"

"Kebaikan yang dipaksakan adalah kejahatan, Ma," potong Rangga. "Mulai hari ini, Mama dilarang masuk ke area Sanatorium ini. Dan jika Mama mencoba menggunakan pengaruh politik Mama untuk mematikan listrik atau menghentikan pasokan obat ke sini, aku sudah menyiapkan pengacara untuk merilis seluruh bukti penggelapan dana pajak yang Mama lakukan di Grup Sarah lima tahun lalu."

Ibu Sarah tertegun. Wajahnya yang biasanya tertata rapi kini menunjukkan keretakan. Ia tidak menyangka putranya akan bertindak sejauh ini. Ia tidak menyangka Rangga akan memegang "kartu mati" miliknya hanya untuk melindungi seorang wanita yang sedang koma.

"Kamu mengancam ibumu sendiri demi dia?" tanya Sarah dengan suara bergetar.

"Aku melindungi hidupku, Ma. Dan hidupku adalah Arini. Sekarang, silakan pergi sebelum aku meminta pengawalku untuk mengawal Mama keluar dengan cara yang kurang terhormat."

Ibu Sarah pergi dengan amarah yang tertahan, meninggalkan Rangga yang kini berdiri sendirian di lobi. Setelah helikopter ibunya kembali terbang menjauh, Rangga merasa kekuatannya seolah hilang. Ia bersandar di dinding, menarik napas panjang. Pusing yang biasa ia rasakan kini kembali, namun ia menekannya sekuat tenaga.

Ia kembali ke kamar Arini. Di dalam, Dokter Bram sedang memeriksa selang infus.

"Bagaimana kondisinya, Dok?" tanya Rangga sambil kembali duduk di tempat setianya.

Dokter Bram menghela napas. "Ada sedikit peningkatan dalam aktivitas otaknya, Rangga. Tipis sekali. Seperti seseorang yang mencoba berteriak di bawah air yang sangat dalam. Tapi ada satu masalah baru... infeksinya mulai menyebar ke area tulang belakang karena daya tahan tubuhnya yang sangat rendah."

Rangga memejamkan mata. Cobaan ini seolah tidak ada habisnya. "Lakukan apa pun. Operasi? Obat baru? Katakan saja."

"Kita butuh tim ahli dari Jerman. Ada prosedur baru yang menggunakan sel punca untuk meregenerasi jaringan saraf yang rusak akibat kanker. Tapi risikonya besar... dia bisa saja tidak pernah bangun sama sekali jika prosedurnya gagal."

"Dan jika kita tidak melakukannya?"

"Dia akan tetap seperti ini. Terlelap selamanya sampai tubuhnya benar-benar menyerah karena kegagalan organ," jawab Dokter Bram jujur.

Rangga menatap Arini. Ia teringat kata-kata Arini semalam saat dia terbangun sejenak: "Sudah capek, Ga."

Hati Rangga teriris. Ia tahu Arini ingin beristirahat. Namun, ia juga tahu Arini melakukan itu karena merasa bersalah. "Rin... maafkan aku kalau aku egois. Tapi aku belum siap melepasmu. Aku ingin kamu melihat dunia yang baru kubangun untukmu."

Rangga meraih tangan Arini. Kali ini, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Sebuah getaran halus. Ia melihat monitor aktivitas otak menunjukkan gelombang yang bergerak naik turun secara acak.

"Rin? Kamu dengar aku?" panggil Rangga dengan penuh harapan.

Tiba-tiba, setetes air mata jatuh dari sudut mata Arini yang tertutup. Air mata itu mengalir perlahan melewati pipinya yang pucat. Dokter Bram segera mendekat, ia memeriksa monitor dengan saksama.

"Ini bukan sekadar refleks saraf, Rangga. Dia mendengar kita. Dia merespons suara kamu," bisik Dokter Bram takjub.

Rangga mendekatkan wajahnya ke telinga Arini. Ia membisikkan kata-kata yang dulu sering mereka ucapkan saat mereka masih berada di bawah pohon kamboja di kampung halaman.

"Jangan pergi dulu, Sayang. Aku sudah beli Sanatorium ini. Aku sudah buat taman di belakang kamar ini, penuh dengan bunga kesukaanmu. Kamu harus bangun untuk melihatnya. Aku akan di sini, memegang tanganmu, sampai kamu siap untuk membuka mata."

Malam harinya, Rangga tidak beranjak sedikit pun. Ia meminta Maya untuk mengirimkan semua berkas kantor ke Sanatorium. Ia bekerja di bawah lampu meja yang remang, tepat di samping ranjang Arini. Setiap kali ia merasa lelah, ia hanya perlu menoleh ke samping untuk melihat dada Arini yang naik turun secara teratur, dan itu memberinya energi baru.

Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Sebuah email masuk ke laptopnya dari tim hukum yang ia sewa.

“Pak Rangga, kami menemukan kejanggalan pada wasiat Ayah Anda. Sepertinya Ibu Sarah telah mengubah beberapa poin penting sebelum Ayah Anda meninggal. Ada aset besar yang seharusnya diwariskan langsung kepada Anda, namun dialihkan ke yayasan yang sekarang Anda beli.”

Rangga menyipitkan mata. Rupanya, pertempuran ini jauh lebih dalam dari sekadar masalah asmara. Ada rahasia besar di balik alasan kenapa ibunya sangat membenci Arini dan mengapa ibunya begitu takut jika Rangga hidup bahagia di luar kendalinya.

"Ternyata Mama menyimpan rahasia lebih banyak dari yang kukira," gumam Rangga.

Ia menatap tumpukan uang kusam di dalam kotak kaca di atas mejanya. Uang itu kini menjadi simbol perjuangan mereka. Ia bersumpah, ia tidak hanya akan menyembuhkan Arini, tapi ia juga akan membongkar seluruh kebohongan yang telah menyiksa hidup mereka selama ini.

Di luar, hujan turun membasahi bumi pesisir. Di dalam kamar yang sunyi itu, Rangga terus bekerja, menjaga napas wanita yang ia cintai dengan seluruh kekuasaan dan harta yang ia miliki. Ia kini bukan lagi Rangga yang cengeng. Ia adalah perisai. Ia adalah dinding besi yang akan menghalau badai apa pun yang mencoba masuk ke kamar itu.

"Tidurlah yang nyenyak, Arini. Aku akan membereskan semua monster yang menunggumu di luar sana. Saat kamu bangun nanti, duniamu akan aman," bisik Rangga sambil mencium kening Arini yang terasa sejuk.

Babak baru baru saja dimulai. Dari sebuah drama medis, kini berubah menjadi perang kekuasaan dan pengungkapan masa lalu yang kelam. Rangga Adiguna siap mempertaruhkan segalanya, karena baginya, satu detak jantung Arini jauh lebih berharga daripada seluruh gedung pencakar langit di Jakarta.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!