novel dengan universe berbeda dari novel
"hazel lyra raven", dimana pharma dan Lyra bisa bersama tanpa ada ledakan
Dokter Lyra (27), spesialis anak, dipindahtugaskan ke Rumah Sakit Delphi di London. Di sana, ia harus berhadapan dengan Pharma Andrien, kepala rumah sakit sekaligus spesialis saraf yang dijuluki "Ice King" karena sifatnya yang sangat cuek, dingin, dan perfeksionis di depan staf medis.
Namun, segalanya berubah saat mereka sedang berduaan. Di balik pintu tertutup, Pharma berubah drastis menjadi sosok yang sangat clingy dan manja hanya kepada Lyra. Kini, Lyra harus berjuang menjaga profesionalitas di rumah sakit sambil menghadapi tingkah "muka dua" atasannya yang tidak bisa jauh darinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AEERA-ALEA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31 =revenge
Suasana di dalam mobil yang tadinya cuma panas dingin karena aksi tempel-menempel, tiba-tiba meledak jadi arena baku hantam lisan. Veronica yang merasa di atas angin karena "didukung" Pharma, mulai sengaja memancing emosi Lyra yang lagi di mode tantrum batin.
"Lagipula, Pharma," Veronica memulai dengan nada suara yang ditinggi-tinggikan, "aku heran kenapa kamu masih mempertahankan asisten yang mulutnya kasar begini. Apa jangan-jangan di Indonesia dia memang nggak laku, makanya lari ke London cuma buat numpang nama kamu?"
Lyra yang tadinya lagi merutuk dalam hati, langsung menoleh tajam. Mode bodo amat-nya pecah jadi mode asbun level maksimal.
"Eh, Tante Dokter," sahut Lyra pedas. "Gue ke sini murni buat nyari ilmu. Nggak kayak situ, yang gelarnya Dokter Bedah Saraf tapi hobi sampingannya jadi parasit di lengan orang. Apa nggak capek tuh muka dipoles tebel-tebel tapi otaknya cuma isinya cara nempel sama cowok orang?"
"Kamu... kamu bilang apa?!" Veronica langsung tegak duduknya, mukanya merah padam. "Pharma! Kamu dengar sendiri kan? Dia menghina aku!"
Pharma yang tadinya diam, malah menatap Lyra dengan dingin. "Lyra, jaga bicaramu. Veronica adalah seniormu."
"Senior dalam hal apa? Senior dalam hal kegatelan?" Lyra tertawa remeh. "YOO ASUUU!! Lo berdua emang cocok banget ya. Yang satu tukang paksa, yang satu tukang nempel. Emang dunia medis London udah nggak ada aturan lagi apa sampai modelan begini bisa jadi petinggi?"
"Jaga mulutmu, Lyra Raven!" Veronica berteriak, hampir saja tangannya mau menjangkau rambut Lyra tapi terhalang Pharma. "Kamu itu cuma asisten bau kencur yang diculik dari hotel karena Pharma kasihan! Lihat baju kamu! Kamu itu sampah di mobil ini!"
"Kalau gue sampah, berarti yang mungut gue apa dong? Tempat sampah?!" balas Lyra makin jadi. "Gue pake piyama begini juga karena siapa? Karena bos lo yang egois ini kan? Kalau emang lo nggak mau malu, ya udah, turunin gue di pinggir jalan sekarang! Gue juga ogah kali semeja sama nenek sihir modelan lo!"
"Pharma, turunkan dia sekarang! Aku tidak mau masuk ke istana bersama gelandangan ini!" teriak Veronica histeris.
Pharma menggebrak sandaran tangan di tengah mobil sampai suaranya berdentum keras. "CUKUP!!"
Suasana mendadak hening. Napas Veronica memburu, sementara Lyra cuma membuang muka sambil mengatur napasnya yang ikut panas.
"Veronica, diam. Dan kamu, Lyra..." Pharma menatap Lyra dengan sorot mata yang seolah mau menelan istrinya itu hidup-hidup. "Makin kamu memberontak, makin saya tidak akan lepaskan kamu. Kamu akan turun dari mobil ini tepat di depan karpet merah, dengan piyama itu. Biar seluruh dunia tahu betapa rendahnya asisten yang saya miliki kalau dia tidak bisa patuh."
(JANCK!! NI ORANG BENER-BENER PSIKOPAT!!)* maki Lyra dalam hati. Hatinya sakit banget, tapi dia nggak mau nangis. Dia cuma bisa ketawa getir.
"Oke," ucap Lyra pelan tapi penuh tantangan. "Lo mau gue malu? Silakan. Tapi inget, Pharma... kalau gue malu, nama lo yang paling pertama keseret. Karena semua orang tahu gue 'dibawa' sama lo."Mobil itu masih tertahan di tengah kemacetan London yang menggila, beberapa blok sebelum mencapai gerbang istana. Suasana di dalam kabin benar-benar kacau. Veronica terus-menerus merengek dan menghina Lyra, sementara Lyra makin asbun dan membalas setiap kata-kata Veronica dengan kalimat yang jauh lebih pedas.
"Pharma! Kamu dengar kan dia bilang apa? Dia bilang aku nggak punya otak! Singkirkan dia dari sini sekarang juga!" teriak Veronica sambil mengguncang lengan Pharma.
"Dih, emang kenyataan kan? Mana ada dokter bedah saraf jam segini bukannya baca jurnal malah sibuk ngurusin piyama orang! YOO ASUUU!! Kuping gue panas denger suara lo yang kayak klakson macet!" balas Lyra nggak mau kalah.
Pharma memijat pelipisnya yang berdenyut-denyut. Kepalanya rasanya mau pecah. Di sebelah kanan ada Veronica yang posesif dan berisik, di sebelah kiri ada Lyra yang tantrum dan makin liar omongannya. Egonya yang tadinya ingin memamerkan kekuasaan malah berbalik jadi senjata makan tuan.
"DIAM!! KALIAN BERDUA DIAM!!" bentak Pharma dengan suara yang menggelegar sampai supir di depan tersentak.
Suasana hening sesaat, tapi Lyra malah mencibir. "Nggak usah teriak-teriak, Pharma. Kalau pusing ya turunin gue! Simpel kan? Lo lanjut sama tante gatel ini, gue balik tidur. Beres!"
Pharma menatap Lyra dengan mata merah penuh amarah. Dia sudah benar-benar kehilangan kesabaran. Niatnya membawa Lyra untuk mengontrolnya malah berujung mempermalukan dirinya sendiri di dalam mobil.
"Oke. Kamu mau turun? Turun sekarang!" desis Pharma. Dia menekan tombol pembuka kunci pintu otomatis.
"Pharma? Kamu serius?" Veronica kaget, tapi kemudian tersenyum puas.
"Turun, Lyra! Sekarang!" perintah Pharma tanpa menoleh lagi.
"Gak usah disuruh dua kali! Emang ini yang gue mau dari tadi!" Lyra langsung menyambar tasnya. Tanpa rasa takut sedikit pun, dia membuka pintu mobil di tengah kemacetan jalanan London yang dingin.
Brak!
Lyra membanting pintu mobil itu sekeras mungkin. Dia berdiri di tengah aspal, hanya mengenakan piyama satin abu-abu dan cardigan panjang, sementara angin malam London langsung menusuk tulang. Mobil mewah Pharma perlahan bergerak maju seiring dengan lancarnya arus lalu lintas, meninggalkan Lyra sendirian di tengah jalanan yang ramai.
(ANJIRRR!! BENERAN DITURUNIN DONG GUE?! YOO ASUUU!! PHARMA LO BENER-BENER GAK PUNYA HATI YA!!) teriak Lyra dalam hati sambil memandangi lampu belakang mobil Pharma yang makin menjauh.
Lyra berdiri mematung di pinggir jalan, jadi pusat perhatian orang-orang yang lewat dan turis-turis di sekitar mall dekat situ. Ada yang memotretnya, ada yang berbisik-bisik melihat cewek pake baju tidur di tengah distrik mewah malam-malam.Sial... dingin banget lagi. Mana hotel gue jauh. Emang ya, niat nyari ilmu malah jadi gelandangan elit begini,) batin Lyra sambil merapatkan cardigan-nya.
Tapi di sisi lain, ada rasa lega yang luar biasa. Dia bebas dari aroma parfum Veronica yang menyesakkan dan bebas dari aura intimidasi Pharma.
"Bodo amat! Mending gue cari makan daripada nemenin dua orang gila itu ke istana," gumam Lyra asbun sambil mulai berjalan mencari taksi atau tempat berteduh, nggak peduli sama sekali kalau dia lagi jadi tontonan orang London.