Alea Senandika Kaluna tumbuh dalam keluarga yang utuh, namun tak pernah benar-benar ia rasakan sebagai rumah. Sejak sang ayah menikah lagi, Alea perlahan belajar menyingkir—menjadi anak yang ada, tetapi jarang diperhatikan. Di antara saudara-saudaranya yang mendapat tempat istimewa, Alea memilih bertahan dalam diam.
Sebagai siswi SMA pendiam, Alea menjalani hari-harinya dengan tanggung jawab yang tak sepadan dengan usianya. Sepulang sekolah, ia menjahit payet demi menambah uang saku, bukan untuk mengejar mimpi besar, melainkan agar tak menjadi beban bagi siapa pun. Hidup memaksanya dewasa terlalu cepat, membentuk ketahanan dari kesepian dan luka yang tak pernah ia ucapkan.
Namun di tengah rutinitas yang sunyi, Alea mulai menemukan cahaya—melalui kepercayaan, perhatian sederhana, dan orang-orang yang melihatnya bukan sebagai anak yang terlupakan, melainkan sebagai pribadi yang layak diperjuangkan. Perlahan, ia belajar bahwa bertahan tidak selalu berarti sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari ke-170 yang Tidak Lagi Kosong
🕊
Hari sudah benar-benar berganti. Hari ke-170. Alea masih di rumah. Bukan karena malas, bukan karena menyerah—tapi karena menunggu. Menunggu terlalu lama sampai rasanya seperti tidak sedang menunggu apa-apa, hanya menggantung. Pagi berlalu ke siang, siang jatuh ke sore, dan Alea tetap di tempat yang sama: duduk di ujung kasur, punggung bersandar ke dinding, ponsel di tangan.
Tanpa kerjaan.
Tanpa senyuman.
Tanpa suara.
Hanya kebosanan yang menumpuk dan lelah yang tidak kelihatan. Kakinya bergerak terus. Ujung jari kaki naik turun, tak mau diam, seperti hatinya yang gelisah. Alea berkali-kali membuka email. Menutup. Membuka lagi. Refresh. Menunggu lingkaran kecil berputar, lalu… kosong.
Tidak ada apa-apa.
Padahal minggu lalu, jelas-jelas tertulis: “Hasil seleksi akan diumumkan pada tanggal…” Tanggal itu adalah hari ini. Alea menghela nafas panjang, lalu menertawakan dirinya sendiri tanpa suara. “Kenapa sih gue kayak orang nunggu vonis,” gumamnya pelan. Tangannya kembali menekan layar. Refresh lagi.
Tidak ada.
Ia berdiri, berjalan mondar-mandir di kamar. Menghitung langkah tanpa sadar. Dari pintu ke jendela. Dari jendela ke lemari. Dari lemari kembali ke kasur. Lalu duduk lagi.
“Kalau gagal…” Pikirannya berhenti di sana.
Kalau gagal, Alea tahu dirinya tidak akan kuat hari itu. Ia akan menangis—bukan satu dua jam, tapi berhari-hari. Menangisi bukan hanya penolakan, tapi seluruh penantian, harapan kecil yang ia simpan rapi selama berbulan-bulan.
Tapi kalau diterima… Sudut bibirnya bergerak sedikit. Kalau diterima, ia tidak peduli siapa yang terganggu. Ia akan berteriak. Ia akan tertawa. Ia akan lompat-lompat seperti anak kecil yang baru dapat permen pertama dalam hidupnya.
“Biarin Sita marah,” pikirnya getir. “Yang penting gue bahagia.”
Alea kembali menatap layar ponselnya. Email. Inbox. Kosong. Ia menekan refresh lagi—lebih keras dari seharusnya, seolah tekanan jari bisa mempercepat takdir.
Dan kali ini—Satu baris baru muncul. Alea membeku.
Jantungnya berhenti satu detik. Kakinya yang sejak tadi gelisah akhirnya diam. Tangannya sedikit bergetar.
Pesan baru.
Nama pengirim: Pizza Panas Recruitment.
Ia tidak langsung menekannya. Alea menelan ludah. Menarik napas. Membaca baris pengirim itu berulang-ulang, seolah memastikan matanya tidak berbohong. “Tenang… tenang,” bisiknya pada diri sendiri. “Baca pelan-pelan.” Ia membuka emailing itu.
Kalimat pertama muncul di layar.
“Alea Senandika Kaluna,
Kami mengucapkan terima kasih atas ketertarikan Anda…”
Alea menahan napas. Ia menggeser layar ke bawah.
“Dengan ini kami informasikan bahwa Anda DINYATAKAN DITERIMA…” Detik berikutnya, kamar itu meledak oleh suara.
“YA ALLAHHHHH—!!!”
Alea menutup mulutnya sendiri terlambat. Ia berdiri, berputar, lalu tertawa dan menangis bersamaan. Air matanya jatuh, tapi senyumnya lebar, tidak terkendali.
“DITERIMA! GUE DITERIMA!” katanya setengah berbisik, setengah berteriak.
Ia menepuk dadanya sendiri, mencoba menenangkan jantung yang berdebar seperti mau keluar. Tangannya gemetar saat membaca ulang email itu—sekali, dua kali, tiga kali—memastikan kata diterima tidak berubah jadi kami mohon maaf.
Tapi tidak. Tetap diterima.
Alea duduk kembali di kasur, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah—bukan tangis sedih, tapi tangis lega yang sudah terlalu lama ditahan. “Capek banget nunggu,” gumamnya di sela isak. “Capek… tapi akhirnya…”
Ia mengusap air matanya kasar, lalu tertawa kecil. Suara dari luar kamar terdengar—langkah kaki, mungkin Sita, mungkin Papa—tapi untuk sekali ini Alea tidak peduli. Hari itu, kebahagiaan nya milik dirinya sendiri.
Hari ke-170 yang tadinya kosong, akhirnya punya makna.
Dan Alea tahu, ini bukan akhir penantian—ini hanya awal dari langkah baru yang akhirnya mau membukakan pintu untuknya.
–
Sore itu, suasana rumah terasa agak berbeda.
Televisi menyala seperti biasa—acara sinetron sore yang entah sudah berapa ratus episode masih terus diputar. Papa duduk di kursi panjang favoritnya, satu tangan memegang remote, wajahnya datar tapi matanya setia menatap layar. Sita duduk di sisi lain, bersandar sambil sesekali menghela napas, seolah acara di TV itu pun ikut mengganggu suasana hatinya.
Yang jarang terjadi justru ada di lantai ruang TV. Empat bersaudara itu berkumpul. Alea duduk bersila, punggungnya bersandar ke sofa. Ara di sebelahnya, sibuk memainkan ujung kerudung sambil melirik kakaknya sesekali. Dika duduk selonjoran, ponsel di tangan tapi pandangannya lebih sering naik ke arah Alea. Ayu baru saja masuk dari arah dapur, meletakkan tasnya, lalu berdiri sebentar di dekat pintu ruang TV.
Ayu menyipitkan mata. “Lea,” panggilnya akhirnya, suaranya datar tapi penuh rasa ingin tahu. “Tadi siang… itu suara siapa yang teriak kayak orang dapet hadiah undian?” Alea menoleh perlahan. Senyum kecil sudah mengembang di bibirnya, senyum yang terlalu jujur untuk disembunyikan.
Papa tidak menoleh. Tapi Alea tahu—telinganya mendengar. Cara jari Papa berhenti memencet remote terlalu lama jadi tanda yang tidak bisa dipungkiri. Sita mendengus pelan, tetap menatap TV.
Ara yang paling cepat menangkap suasana itu. Ia menyipitkan mata, menatap wajah Alea dari ujung rambut sampai senyum yang tak kunjung turun. “Ini mah… ketebak,” ucap Ara santai. “Pasti keterima lagi kerjaan, kan?”
Dika langsung menoleh cepat. “Hah? Serius, Ka?” Matanya membesar. “Beneran?” Alea tidak langsung menjawab. Ia menikmati detik itu—detik ketika rahasia kecil di dadanya akhirnya akan dibagikan. Ia mengangguk pelan, lalu tersenyum lebih lebar.
Bel rumah tiba-tiba berbunyi.
“Tiiing—” Ayu refleks melirik ke pintu. “Gue buka ya.”
Tak lama, Ayu kembali masuk sambil membawa dua bungkus makanan plastik bening. Aroma gorengan langsung menyusup ke ruang TV, hangat dan menggoda. Ia hendak bicara lagi, tapi Alea lebih dulu berdiri.
Ia berdiri tegak, menatap keempat saudara di depannya, lalu sekilas ke arah Papa dan Sita. “Iya,” ucap Alea akhirnya, suaranya mantap. “Gue diterima.”
Ruangan itu seperti berhenti sejenak.
“DITERIMA?!” Dika setengah berdiri. “Sumpah?!”
“Iya,” Alea tertawa kecil. “Dan ini bukan sekadar kerjaan biasa. Ini yang gue mau. Ini… titik akhir gue buat luntang-lantung interview ke sana-sini.” Ara langsung memeluk Alea dari samping. “Keren banget, Ka!” katanya bangga. “Gue tau pasti keterima.”
Dika mengangkat dua jempol tinggi-tinggi. “Respect, Ka. Beneran.” Ayu tersenyum lebar, matanya sedikit berkaca. Ia meletakkan dua bungkus makanan di meja. “Gue bangga sama lo,” ucapnya pelan tapi jelas.
Alea tertawa, suaranya lepas, berbeda dari tawa-tawa kecil yang biasanya ia simpan. “Dan karena itu—” ia menunjuk ke makanan di meja, lalu ke arah mereka semua, “hari ini gue traktir kalian semua!”
Ara bersorak kecil. “YES!”
Dika tertawa. “Asli, Ka. Akhirnya ada kabar baik di rumah ini.”
Papa masih menatap TV, tapi senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Tidak besar, tidak berisik—tapi nyata. Senyum seorang ayah yang mungkin tidak pandai merangkai kata, tapi diam-diam lega melihat anaknya berdiri lagi.
Sita hanya mendengus, menyilangkan tangan. “Hm.” Tidak ada ucapan selamat. Tidak ada komentar sinis juga. Untuk Alea, itu sudah cukup. Ia tidak butuh semua orang bersorak. Cukup tahu bahwa usahanya akhirnya berbuah. Cukup tahu bahwa ia tidak menunggu sia-sia.
Alea duduk kembali, diapit Ara dan Dika. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ruang TV itu tidak terasa sesak. Ada tawa kecil. Ada bau gorengan. Ada kebahagiaan sederhana. Dan di dada Alea, ada satu perasaan yang akhirnya pulang, melegakan.
☀️☀️