NovelToon NovelToon
ISTRIKU KESAYANGAN MERTUA

ISTRIKU KESAYANGAN MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Nikahmuda / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Alif Cariza Nofiriyanto

cerita keluarga besar yang harmonis dan bahagia

Karya ini diterbitkan atas izin Novel Toon Alif cariza nofiriyanto,isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili Novel Toon sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 9

Aku, Dina, dan Nenek Mira masih duduk di ruang tamu, anak-anak sudah tidur. Nenek Mira tiba-tiba menepuk tangan, matanya berbinar nakal.

“Raka… Nak, sebelum tidur, aku tantang kalian berdua! Tantangan konyol terakhir malam ini!” katanya dengan suara dramatis.

Aku mengangkat alis, tersenyum. “Tantangan konyol? Ma… aku siap, tapi jangan bilang aku yang selalu kalah.”

Dina ikut tersenyum nakal. “Raka… jangan sok yakin. Ma punya strategi rahasia!”

Nenek Mira menunjuk kami berdua. “Baiklah, tantangannya sederhana: siapa yang bisa menahan tawa paling lama saat Ma membuat wajah paling lucu dan konyol!”

Aku pura-pura serius, menatap Dina. “Hah… ini serius. Kalau aku kalah, aku rela dihukum dengan pura-pura kagum sama Ma sepanjang minggu.”

Dina menatapku dengan mata berbinar. “Raka… kalau kau kalah, kau harus nyanyi lagu konyol sambil menari di ruang tamu besok pagi.”

Aku terkikik kecil. “Wah… hukuman ini semakin berat. Ma memang licik.”

Nenek Mira mulai membuat wajah lucu: mata melotot, pipi ditiup, lidah dijulurkan. Aku dan Dina menahan tawa sekuat tenaga.

“Raka… kau mulai goyah!” kata Dina sambil menahan senyum.

Aku menggigit bibir, menatap Nenek Mira. “Ma… jangan begitu! Aku… aku… hahahaha!”

Dina tertawa keras. “Hahaha… aku juga kalah! Ma memang juara!”

Nenek Mira tertawa lepas, tangan menepuk lutut. “Ha! Lihat! Kalian kalah! Ma juaranya! Dan hukuman kalian… harus pura-pura kagum sama Ma besok pagi!”

Aku dan Dina hanya bisa mengangguk sambil tertawa, menyerah. “Baiklah… Ma, kau menang. Rumah ini memang hidup karena tawa Ma,” kataku sambil tersenyum.

Dina menempelkan kepalanya di bahuku. “Iya… rumah ini sempurna. Ma hadir, kita bahagia, anak-anak bahagia… semuanya harmonis.”

Nenek Mira tersenyum lembut, menepuk bahu kami berdua. “Benar… Ma bahagia melihat semuanya. Rumah ini penuh cinta, tawa, dan perhatian. Dan Ma janji, akan selalu ikut tertawa bersama kalian.”

Aku menatap Dina, menggenggam tangannya erat. “Selama kita bisa saling mencintai, menghargai, dan memberi ruang, rumah ini akan selalu hangat, hidup, dan penuh cinta.”

Dina menatapku dengan mata berbinar. “Iya… selamanya.”

Kami bertiga duduk diam, tersenyum, sambil menikmati aroma kue yang masih tersisa dan cahaya lampu lembut. Rumah tetap hangat, hidup, dan penuh tawa—penutup sempurna bagi malam terakhir sebelum tidur.

---

Nenek Mira menatap kami sambil tersenyum nakal. “Baiklah… Raka, Dina… Ma mau ucapkan selamat malam dengan cara khusus!”

Aku menoleh, penasaran. “Cara khusus, Ma?”

Nenek Mira mengambil topi lucu dan menaruhnya di kepalaku sambil berkata dramatis, “Raka… kau resmi menjadi Raja Tidur Malam Ini!”

Dina tertawa keras sambil menepuk bahuku. “Hahaha… Raka, kau memang konyol sekarang!”

Aku pura-pura membungkuk. “Terima kasih, Yang Mulia Ma. Aku terhormat menjadi Raja Tidur Malam Ini!”

Nenek Mira menepuk bahuku. “Besok pagi, Raja Tidur harus bangun lebih awal dan bantu Ma bikin sarapan!”

Dina menatapku sambil tersenyum manis. “Iya, Raja Tidur… tugasmu berat, tapi rumah ini tetap hangat dan bahagia karena kita saling mendukung.”

Aku menatap keduanya, tersenyum hangat. “Selama kita bersama, rumah ini akan selalu penuh cinta, tawa, dan kebahagiaan. Selamanya.”

Nenek Mira tersenyum lembut. “Dan Ma senang melihat semuanya… selamat malam, Raja Tidur dan Ratu Hangat Hatiku!”

Dina tertawa, menempelkan kepalanya di bahuku. “Selamat malam… Ma, selamat malam… Raka.”

Kami bertiga tertawa pelan, menatap satu sama lain, dan lampu pun perlahan dimatikan. Rumah tetap hangat, hidup, dan penuh tawa—akhir yang sempurna untuk keluarga yang saling mencintai dan menghargai.

---

Aku masih duduk di sofa, Dina di sampingku, sementara Nenek Mira duduk di kursi dekat jendela, matanya berbinar nakal. Anak-anak sudah tidur, tapi rumah tetap terasa hidup.

Nenek Mira menepuk tangan, matanya penuh ide. “Raka… Nak, sebelum tidur, Ma mau dengar cerita paling konyol kalian hari ini. Siapa yang paling lucu, dia menang!”

Aku tersenyum licik. “Ma… kau bikin aturan lagi ya? Tapi baiklah, aku siap. Aku punya cerita lucu dari kantor tadi.”

Dina menatapku sambil tersenyum nakal. “Raka… jangan sampai kau terlalu serius. Ma kan pasti ingin cerita yang bikin kita tertawa.”

Nenek Mira mengangguk penuh semangat. “Benar! Kalau tidak lucu, siap-siap dihukum pura-pura kagum sama Ma besok pagi!”

Aku mulai bercerita. “Jadi tadi, di kantor… aku salah kirim email ke bos yang isinya bercanda. Untungnya, bos malah tertawa dan bilang aku kreatif. Tapi aku hampir panik sebentar!”

Dina tertawa pelan, menepuk bahuku. “Hahaha… itu lucu. Tapi aku punya cerita juga. Waktu aku pergi belanja, aku tersasar di pasar karena mengikuti peta di HP yang malah salah arah. Akhirnya aku ketemu pedagang yang sama tiga kali!”

Nenek Mira tertawa keras. “Hahaha… kalian berdua lucu sekali! Ma hampir terguling karena ketawa.”

Aku ikut tertawa. “Ma… kau memang juri paling jujur. Tapi aku rasa aku yang menang, karena hampir panik di kantor!”

Dina tersenyum nakal. “Raka… jangan sok yakin. Aku rasa Ma lebih suka cerita belanjaku yang konyol itu.”

Nenek Mira menepuk tangan kami. “Hahaha… Ma setuju! Dina menang! Tapi Raka… ceritamu juga hebat. Kalian berdua memang anak Ma yang lucu.”

Aku menatap Dina, tersenyum hangat. “Lihat, Dina… rumah ini hidup. Penuh tawa, cinta, dan perhatian semua orang. Bahkan malam ini, kita masih bisa bercanda.”

Dina menempelkan kepalanya di bahuku. “Iya… Raka… rumah ini sempurna. Ma tetap hadir, anak-anak bahagia, dan kita bisa bersenang-senang bersama.”

Nenek Mira tersenyum lembut. “Benar… Ma bahagia melihat semuanya. Rumah ini hidup karena cinta dan tawa kita semua. Tidak ada yang lebih indah dari ini.”

Aku menarik napas panjang, menatap keduanya. “Selama kita bersama, rumah ini akan selalu hangat, hidup, dan penuh cinta.”

Dina menatapku dengan mata berbinar. “Iya… selamanya.”

Kami bertiga duduk sejenak, tersenyum, menikmati keheningan malam, aroma kue dan teh yang masih tersisa, serta cahaya lampu lembut. Rumah tetap hangat, hidup, dan penuh tawa—akhir yang sempurna bagi keluarga yang saling mencintai dan menghargai.

---

Nenek Mira menepuk tangan sambil tersenyum nakal. “Raka, Dina… Ma ada tantangan terakhir malam ini! Siapa yang bisa menirukan suara hewan paling lucu, dia yang menang!”

Aku mengangkat alis, tersenyum licik. “Suara hewan? Ma… kau pasti tahu aku punya suara ayam paling dramatis di dunia.”

Dina ikut tertawa. “Raka… jangan terlalu percaya diri. Aku juga bisa menirukan suara kucing… tapi versi marah!”

Nenek Mira pura-pura serius sambil menunjuk kami. “Oke, mulai dari Raka!”

Aku menarik napas, lalu berteriak, “AAAUUUU… kukukukukuuu!” sambil mengepak-ngepak tangan seperti ayam.

Dina terkikik, kemudian berkata, “Hahaha… tunggu! Sekarang giliran aku!” Lalu ia menirukan kucing marah: “MEONGGGRR… hhhhrrrmm!” sambil menekuk tubuh seperti kucing siap menyerang.

Nenek Mira tertawa terbahak-bahak. “Hahaha… bagus! Tapi tunggu dulu… Ma harus ikut!” Lalu ia menirukan kambing, melompat sedikit: “MEEEEEHHH!”

Aku dan Dina hampir terguling karena tertawa. “Hahaha… Ma juara! Suara kambing itu terlalu lucu!”

Dina menepuk pundakku sambil menahan tawa. “Iya… Raka, kita kalah. Ma memang ratu suara hewan lucu!”

Aku tersenyum sambil menunduk dramatis. “Baiklah… aku menyerah. Rumah ini hidup karena tawa Ma, dan aku bahagia bisa kalah dengan cara paling lucu.”

Nenek Mira menepuk bahu kami berdua. “Benar… Ma bahagia. Rumah ini penuh tawa, cinta, dan perhatian. Dan malam ini, kita tutup dengan senyum lebar!”

Aku menatap Dina, tersenyum hangat. “Selama kita bersama, rumah ini akan selalu hangat, hidup, dan penuh cinta.”

Dina menempelkan kepalanya di bahuku. “Iya… selamanya.”

Kami bertiga duduk diam sejenak, tertawa kecil, menikmati aroma teh dan kue yang tersisa. Lampu perlahan dimatikan, dan rumah tetap hangat, hidup, dan penuh tawa—penutup sempurna bagi malam terakhir sebelum tidur bagi keluarga yang saling mencintai dan menghargai.

1
Emen Umakpauny
lanjutkan
Khoerun Nisa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!