NovelToon NovelToon
Setelah Status, Kita Kehilangan

Setelah Status, Kita Kehilangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Romansa
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Zafira Amara, belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan indah. Ditinggal Anggara tanpa kabar setelah janji melamar, ia membangun benteng tinggi di hatinya.

Hingga akhirnya datang Aditya Pranata, pengagum rahasia yang mengisi kekosongan itu. Dari teman, menjadi hubungan tanpa status, hingga akhirnya resmi berpacaran.

Namun ironi terjadi, saat status sudah jelas, mereka justru kehilangan esensi. Trauma masa lalu Zafira bertabrakan dengan ketakutan komitmen Aditya.

Di tengah hiruk pikuk Yogyakarta, mereka belajar bahwa tidak semua yang dicintai bisa bertahan. Tidak semua janji bisa ditepati. Dan terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling tulus meski itu menyakitkan. Sebuah kisah tentang kehilangan, trauma, dan keberanian untuk move on.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sahabat yang Mendengar

Ketukan pintu di kamar kost Zafira terdengar pelan, tapi sangat bertubi-tubi.

Tok... Tok... Tok...

Tok... Tok... Tok...

Zafira nggak mengangkat kepalanya dari bantal, bahkan bantal itu sudah basah karena air mata. Ia tau siapa yang datang, cuma satu orang yang suka mengetuk pintu kayak gitu.

"Fir, buka. Aku tau kamu ada di dalam."

Suara Rania. Sahabatnya yang sejak kuliah dulu, satu-satunya orang yang masih bertahan meski Zafira sudah kayak zombie sejak Anggara pergi.

"Fir, serius deh cepetan buka pintunya. Tangan aku pegel nih, aku bawa wedang ronde dari Angkringan Lik Manto. Masih anget loh, sayang banget kalo sampai dingin."

Wedang ronde.

Zafira ingat, dulu Anggara sering membelikan wedang ronde setiap kali ia lagi sedih. Katanya biar hati yang dingin, jadi hangat lagi. Tapi sekarang, seberapa banyak wedang ronde pun, nggak bakal bisa menghangatkan hatinya yang sudah membeku kayak gini.

Tapi Rania, dia nggak akan pergi sebelum Zafira mebuka pintu. Zafira tau banget sifat keras kepala sahabatnya itu.

Dengan langkah berat, Zafira bangkit dari kasur. Cermin di sudut kamar menunjukkan pantulan dirinya yang berantakan. Mata bengkak, rambut acak acakan, baju kusut. Kapan terakhir dia mandi? Dua hari lalu? Tiga hari? Ia lupa.

Pintu pun akhirnya terbuka. Rania berdiri di sana dengan senyum lebar, yang langsung luntur begitu melihat keadaan Zafira.

"Ya Allah, Fir," bisik Rania pelan, matanya berkaca kaca. "Kamu kenapa sih, kenapa nggak bilang kalau sudah separah ini?"

Zafira cuma menggelengkan kepala sambil mundur, ngasih jalan buat Rania masuk. Kamarnya berantakan, baju berserakan di mana-mana, piring bekas makan indomie menumpuk di meja, sampah bungkus makanan berceceran.

Rania menaruh tas dan dua gelas wedang ronde di meja, sambil membuang nafas panjang. Rania nggak ngomong apa-apa, ia cuma mulai membereskan kamar Zafira. Mengumpulkan piring kotor, membuang sampah,dan melipat baju yang berserakan.

"Ran udah, nggak usah," suara Zafira serak. "Biarkan saja berantakan."

"Nggak," jawab Rania tegas sambil terus membereskan. "Kamar kamu berantakan, hatimu sudah berantakan duluan. Minimal kamarnya bersih dulu."

Zafira duduk di pinggir kasur, ia melihat Rania yang sibuk sendiri. Ada rasa bersalah menggigit dadanya. Rania punya kerjaan sendiri, punya hidup sendiri, tapi dia masih sempet datang buat mengurus sahabatnya yang hancur kayak gini.

Setelah kamar agak rapih, Rania duduk di sebelah Zafira sambil menyodorkan gelas wedang ronde.

"Minum dulu, mumpung masih anget."

Zafira menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Wedang rondenya masih mengepul, bau jahe dan gula merah menyengat hidung. Zafira menyeruput pelan, cairan hangat itu turun ke kerongkongan tapi nggak sampai ke hati. Hatinya tetep saja dingin.

"Kamu semalam ke Tugu lagi kan?" tanya Rania pelan. Bukan bertanya, tapi lebih kayak pernyataan.

Zafira mengangguk lemah.

"Aku sudah bilang berkali-kali Fir, jangan ke sana lagi. Itu cuma bikin kamu tambah sakit."

"Aku nggak bisa Ran," suara Zafira bergetar. "Kakiku, tubuhku kayak jalan sendiri ke sana. Aku udah mencoba menahannya, tapi..."

Air matanya mulai mengalir lagi. Zafira merasa bodoh banget, menangis terus kayak gini. Tapi gimana caranya berhenti kalau sakit di dada ini nggak pernah hilang?

Rania meluk Zafira erat. Nggak ngomong apa-apa, cuma peluk sambil mengelus punggungnya pelan. Dan Zafira menangis. sejadi-jadinya di pelukan Rania, mengeluarkan semua yang ia pendam selama ini.

"Kenapa dia pergi Ran?" isak Zafira di sela tangisannya. "Kenapa dia bilang cinta, dia bilang bakal kembali, dia bilang mau nikahi aku. Tapi kenapa dia pergi kayak gitu? Tanpa kabar, tanpa alasan, tanpa apa-apa."

"Aku nggak tau sayang," bisik Rania sambil terus memeluk. "Aku juga nggak ngerti kenapa Anggara bisa sekejam itu."

"Apa aku salah Ran? Apa aku kurang baik baut dia? Apa..."

"Nggak," potong Rania tegas sambil melepas pelukannya, menggenggam bahu Zafira dan menatap matanya. "Dengerkan aku baik-baik Fir. Ini bukan salah kamu, sama sekali bukan salah kamu. Anggara yang salah, dia yang pergi tanpa tanggung jawab. Dan dia yang meninggalkan kamu dalam keadaan kayak gini."

"Tapi kalau aku lebih..."

"Kalau apa? Kalau kamu lebih cantik? Lebih perhatian? Lebih pengertian? Fir, kamu sudah ngasih semuanya ke dia. Kamu sudah jadi pacar yang baik. Ini bukan soal kamu yang kurang, ini soal dia yang nggak bisa menghargai."

Zafira diam, kata-kata Rania masuk ke telinga tapi susah masuk ke hati. Gimana bisa ia percaya kalau ini bukan salahnya, kalau pertanyaan 'apa aku kurang' terus berputar di kepalanya setiap detik?

"Sudah enam bulan Fir," lanjut Rania pelan. "Enam bulan kamu menunggu, berharap, menangis setiap malam. Kapan kamu bakal berhenti menyiksa diri kamu sendiri?"

"Aku nggak tau caranya Ran," jawab Zafira lirih. "Aku nggak tau gimana caranya move on dari orang yang pergi tanpa alasan. Gimana aku bisa menutup chapter yang nggak ada endingnya?"

Rania menghela nafas panjang, ia ngerti dan paham banget gimana sakitnya ditinggal tanpa penjelasan. Tapi melihat sahabatnya hancur kayak gini, rasanya pengen banget menampar Anggara kalau nanti ketemu.

"Fir, kamu ingat nggak waktu kita wisuda dulu?" tanya Rania tiba tiba.

Zafira mengerutkan kening, "Wisuda? Memangnya Kenapa?"

"Kamu bilang sama aku, katanya kamu pengen hidup bahagia di jogja. Pengen punya karir yang bagus, pengen punya orang yang menyayangi kamu, pengen merasakn jatuh cinta yang indah. Ap kamu inget hal itu?"

Zafira mengangguk pelan, ia ingat dengan percakapan itu.

"Nah, kamu sudah mendapatkan semua itu Fir. Karir kamu oke, kamu juga sudah merasakan jatuh cinta sama Anggara. Tapi sekarang kamu stuck di satu titik yang sama. Kamu nggak bergerak maju, nggak bergerak mundur. Kamu cuma mandek di sini, menunggu orang yang mungkin nggak akan kembali."

"Tapi bagaimana kalau dia kembali Ran? Bagaimana kalau..."

"Kalau dia kembali gimana?!" potong Rania, suaranya agak naik. "Terus kamu bakal terima dia lagi gitu aja? Setelah dia meninggalkan kamu, enam bulan tanpa kabar? Setelah dia bikin kamu sekacau ini?"

Zafira terdiam, ia nggak tau jawabannya. Jujur, kalau Anggara tiba tiba muncul sekarang, apa yang bakal ia lakukan? Marah? Menangis? Atau malah memeluk dia sambil bilang, 'Syukurlah kamu kembali?'

"Dengar Fir," Rania menggenggam tangan Zafira erat. "Aku nggak bilang kamu harus langsung melupakan Anggara. Aku tau itu susah, bahkan mungkin mustahil. Tapi setidaknya, coba buka hati kamu sedikit. Jangan menutup diri total kayak gini."

"Buat apa Ran? Buat sakit lagi?"

"Nggak," Rania megeleng cepat. "Buat memulai hidup lagi, buat keluar dari kamar ini, buat ketawa lagi, buat ngerasa hidup lagi. Kamu nggak harus langsung mencari pengganti Anggara. Tapi setidaknya, jangan mengurung diri sendiri kayak gini."

Zafira menutup mata, air matanya masih mengalir pelan. Hatinya begitu bimbang, antara ingin bertahan menunggu Anggara, atau ingin mencoba move on seperti saran dari Rania.

"Rania," bisik Zafira pelan. "Aku takut, Ran."

"Kamu takut kenapa? Hal apa yang kamu takuti?"

"Takut kalau aku memulai buka hati lagi, tapi Anggara tiba-tiba kembali. Atau takut kalau aku nggak pernah bisa merasa kayak dulu lagi sama orang lain."

Rania senyum sedih, dia mengelus pipi Zafira yang basah.

"Fir, hidup itu penuh sama ketakutan. Tapi kalau kamu terus takut, kamu nggak akan kemana-mana. Kamu bakal stuck selamanya di tempat yang sama, menunggu sesuatu yang mungkin nggak akan pernah datang."

"Aku benar-benar nggak kuat, Ran."

"Kamu kuat Fir. Jauh lebih kuat dari yang kamu kira. Aku kenal kamu dari dulu, dan aku tau kamu bisa melewati ini semua. Mungkin nggak sekarang, mungkin nggak besok, tapi suatu saat kamu bakal bisa berdiri lagi."

Keheningan menyelimuti kamar, cuma suara nafas mereka berdua yang terdengar, dan sesekali isakan pelan dari Zafira.

"Tidak semua laki-laki sama seperti Anggara, Fir."

Kalimat itu meluncur pelan dari bibir Rania, tapi terasa berat di telinga Zafira.

'Tidak semua laki-laki sama seperti Anggara'.

Apa iya? Apa bener ada laki-laki yang nggak bakal meninggalkan dia kayak gitu? Yang nggak bakal ngasih janji kosong? Yang nggak bakal pergi tanpa kabar?

Zafira nggak tau, dan sejujurnya ia nggak yakin apa ia masih punya keberanian buat percaya lagi atau tidak.

"Ran," panggil Zafira pelan. "Kalung ini, aku harus gimana sama kalung ini?"

Rania melirik kalung perak, berbentuk hati yang melingkar di leher Zafira. Kalung sialan yang jadi pengingat terus menerus tentang Anggara.

"Terserah kamu Fir. Kalau kamu belum siap melepaskannya, ya simpan saja dulu. Tapi kalau suatu saat kamu sudah siap, ya lepaskan saja, simpel kan."

Tapi nggak sesimple itu kan? Melepas benda mungkin gampang, tapi melepas kenangan? Melepas perasaan? Itu yang paling susah.

Rania berdiri, ia mengambil tasnya.

"Aku harus balik kerja. Tapi besok aku akan datang lagi, aku bakal paksa kamu untuk keluar jalan-jalan. Dan nggak boleh nolak."

Zafira cuma mengangguk lemah, sebelum keluar, Rania menengok ke belakang.

"Fir, satu hal lagi. Anggara mungkin meninggalkan kamu tanpa alasan. Tapi kamu, jangan meninggalkan diri kamu sendiri. Kamu masih punya hidup, masih punya masa depan. Jangan sia-siakan semuanya, cuma gara-gara satu orang yang nggak tau caranya menghargai."

Pintu pun tertutup, Zafira sendirian lagi di dalam kamar yang udah agak rapih. Ia melihat gelas wedang ronde yang sudah setengah diminum, uapnya mulai menghilang.

'Tidak semua laki laki sama seperti Anggara'.

Kalimat itu terus bergaung di kepala. Dan untuk pertama kalinya dalam enam bulan, Zafira mulai berpikir, mungkin apa yang di katakan Rania ada benarnya.

Tapi pertanyaan besarnya, apa ia siap membuka hati lagi? Apa ia siap untuk percaya lagi?

Zafira melihat kalung perak di lehernya, jari- jarinya menyentuh permukaan dingin logam itu. Tidak, Zafira belum siap. Tapi mungkin suatu saat nanti, ia akan siap.

1
Rieya Yanie
aditya nya maruk
Leoruna: begitulah kak, sana sini mau/Facepalm/
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
si author kayak nya bakal jahil deh,, sesudah dedemit sama fira baikan trus mantannya datang....🤣🤣🤣🤣🤣 oleng lagi si dedemit....🤣🤣🤣🤣🤣
Leoruna: sok tau kmu kak/Facepalm/
total 3 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ibarat kata cinta bikin tolol,,,, yg harusnya bisa ke S3 eh balik ke pelajaran TK A....🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Leoruna: astagfirullah/Facepalm/
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
benerrrrrrrrrrrrr 100000000% bener dim,,,, si dedemit emang bego tolol... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 aku punya sekutu dan sekufu...🤣🤣🤣🤣🤣
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
itu yg namanya LANANGAN GARONG,, semua pengen di embat...😅😅😅 ih aku jadi sebel sama si dedemitya ini....
Leoruna: sabar kak, jangan esmosi/Facepalm/
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
eke gek senggep jeke keme leme leme dengen seperte ene.... nye nye nye nye .....😤😤😤😤😒😒😒😒
Leoruna: /Joyful/
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
balas aja fir, balas pesannya dengan kata "TAEEEEEKKKKKKKKK"... 🤣🤣🤣🤣🤣
Leoruna: astaga/Facepalm/
total 1 replies
Nur Haswina
HTS itu artinya apa ya 🙏
Leoruna: Hubungan Tanpa Status, Kak.☺
total 1 replies
Nur Haswina
sebaiknya jangan pacaran kamu ditinggalkan jessica karna belum siap ke jenjang yg lebih serius, dan Fira pasti akan minta apa yg Jessica perna minta kejelasan hubungan yg serius pernikahan
Leoruna: karena wanita hanya butuh kepastian, bukan hanya janji dan omong kosong belaka.🤭🙏🙏
total 1 replies
Lee Mba Young
move on bangun diri lbih baik, jng mikirin Cinta Cinta dulu. buktikan ke mantan mantan mu kl km sukses dan bhgia. dan satu jng gampang bucin.
kalea rizuky
heleh ywda lah jauhin. laki gitu blok semua sosmed hindarin dia kayak g kenal. abaikan bodoh amat sakit kok di cari sendiri bego
kalea rizuky
cwek lebay kn bisa bilang jauhin q.. q bukan pelarian mu uda gampang kok nanges menye hadeh
kalea rizuky
laki apaan kayak gini jahat amat
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
bener sih,,, dibuat pelarian itu nyesek banget... kita memiliki raganya tapi tidak dengan hati nya...ea ea ea....🤣🤣🤣🤣
Leoruna: bandel banget kmu ya, kak/Shy/
total 5 replies
Lee Mba Young
ya mnding jujur ngapain pura pura🤣. devinisi sakit di buat sendiri. mkne banyak wanita sakit sakit an ya krn sakit tp gk jujur trus pura pura.ini akn bhaya kl mnikah.wanita itu akn pura pura bhgia walau sakit gk berani cerai atau lepas krn kebhagiaan nya tergantung ke lelaki bukan tergantung ke diri sendiri.
Leoruna: lebih baik jujur ya kak, meskipun kejujuran itu memang selalu menyakitkan😫
total 1 replies
checangel_
Nah, fokus dulu sama dirimu baru perlahan fokus sama orang yang ada di sampingmu/ di hadapanmu/Hey/
checangel_
Lepaskan, ikhlaskan, abaikan, Fira ... masih banyak kok kesempatan itu dari lelaki yang beneran tulus sama kamu di luar sana, tapi tetap hati² juga ya karena yang terlihat tulus belum sepenuhnya lulus dalam ujian hidup /Facepalm/
checangel_: 💯benar Kak🤗
total 2 replies
checangel_
Yes, kepastian dan pasti itu harus 'No debate' 🤝🤧
checangel_
/Smile/
checangel_
Jika begitu, Ta'aruf aja gimana?😇, jika pacaran membuatmu tersakiti, jangan ambil langkah yang bergelar HTS itu ya, Ditya🤝
checangel_: Coba di bisikin 🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!