SMA Harapan Bangsa—tempat di mana kemewahan dan status sosial menjadi ukuran utama. Di tengah keramaian siswa-siswi yang terlihat megah, Romi Arya Wisesa selalu jadi pusat perhatian yang tidak diinginkan: berpakaian lusuh, tas dan sepatu robek, tubuh kurus karena kurang makan. Semua menyebutnya "Bauk Kwetek" dan mengira dia anak keluarga miskin yang hanya diurus oleh orang tua sambung. Tak seorangpun tahu bahkan Romi pun tidak mengetahui bahwa di balik penampilan itu, Romi adalah cicit dari dua konglomerat paling berpengaruh di negeri ini—Pak Wisesa raja pertambangan, dan Pak Dirgantara yang menguasai sektor jasa mulai dari rumah sakit, sekolah, mall hingga dealer kendaraan.
Perjalanan hidup Romi sudah ditempa dari Kecil hingga Remaja pelajar SMA.
Dari mulai membantu Emaaknya berjualan Sayuran, Ikan, udan dan Cumi, sampai menjadi kuli panggul sayur dan berjualan Bakso Cuanki.
Ditambah lagi dengan konflik perseteruannya dengan teman perempuan di sekolahnya yang bernama Yuliana Dewi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ottoy Lembayung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22. Perseteruan Romi Dengan Devan & Shanti part 2
"Rom... Romi! Hey kamu Romi!" panggil suara kasar yang datang dari belakang, Romi mengenali bahwa itu adalah suara Bowo dan Yoga—anggota kelas 12 yang sering mengganggu siswa baru atau mereka yang dianggap lemah.
Romi menoleh ke kiri dan melihat kedua sosok laki-laki besar yang sedang mendekatinya dengan tatapan yang tidak baik. "Apalagi yang akan mereka bully dari aku kali ini," ucap Romi dalam hati dengan sedikit merasa capek, sudah terbiasa dengan perilaku mereka yang selalu suka menyusahkan dirinya.
"Kemana aja sih loe anak manis? Melupakan sesuatu perjanjian yang sudah kita sepakati bersama dengan kita berdua ya?" ucap Yoga dengan suara menyakitkan, sambil merangkul bahu Romi dengan cara yang cukup kuat sehingga membuat Romi merasa tidak nyaman.
"Aku datang kok tempo hari ke gedung kesenian seperti yang kita sepakati. Tapi saat aku mau masuk ke dalam gedung itu, aku bertemu dengan kak Yuli yang sedang ada di sana," ucap Romi dengan suara tenang sambil membela diri, tidak ingin terjadi kesalahpahaman dengan mereka berdua.
"Santai aja Rom, jadi saat di gedung kesenian, apa saja yang loe bicarakan dengan Yuli? Jangan sampai kamu bilang sesuatu yang tidak boleh ya," tanya Bowo kepada Romi dengan tatapan yang penuh ancaman, melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada guru yang melihat mereka.
Yoga terus merangkul dan sedikit demi sedikit membawa Romi ke arah tempat yang sepi—sudut belakang gedung yang jarang sekali dilalui oleh siswa atau guru. Udara di sana terasa lebih dingin dan membuat Romi merasa sedikit gelisah.
"Rom diri loe itu harus tunduk dan patuh kepada kita berdua ya. Jangan sampai loe lupa sama janji loe sendiri kepada kami berdua hanya karena bertemu siswi cantik yang bernama Yuli," ucap Bowo lagi kepada Romi dengan suara rendah namun jelas, menunjukkan bahwa dia tidak suka jika Romi terlalu dekat dengan Yuli.
"Hanya percakapan biasa aja kak. Dia menanyakan kenapa aku ada di gedung kesenian itu dan aku menjawab karena ada sesuatu yang harus aku kerjakan. Hanya itu aja kok kak," ucap Romi dengan suara yang tetap tenang.
Romi merasa sangat kuatir jika dirinya mengatakan hal yang sebenarnya—bahwa Yuli telah mengingatkan Romi agar berhati-hati terhadap Bowo dan Yoga, bahkan memberitahukan bahwa keduanya sering disebut sebagai "Raja Plonco" dan "Raja Bully" di sekolah. Jika mereka tahu hal itu, Romi yakin bahwa mereka tidak hanya akan menyakitinya, tetapi juga akan mencari-cari kesempatan untuk menyakiti Yuli sebagai balasan.
"Loe gak bohong sama kami berdua kan Rom? Jangan sampai kamu menyebarkan omong kosong tentang kami ke orang lain ya," tanya Yoga dengan suara yang semakin kasar, mendekati wajah Romi dan dengan kuat memegang serta menarik kerah baju sekolah Romi sehingga lehernya terasa sedikit tercekik.
Sehingga kedua wajah mereka saling bertatapan dengan sangat dekat, terlihat mata Yoga bersinar merah menyala menahan amarah yang sudah hampir meluap.
"Awas aja loe klo ketahuan bohong sama gue, bakalan abis loe gue vermak dan tidak akan ada yang dapat membantu loe di sekolah ini," ancam Yoga dengan suara yang penuh kebencian.
"Gak kok kak, aku gak bohong seperti itu kejadiannya. Semuanya benar seperti yang aku bilang tadi," ucap Romi dengan nada datar namun tegas, tidak ingin menunjukkan bahwa dia merasa takut terhadap ancaman mereka.
"Ya udah bagus klo begitu loe bisa tinggalin kita berdua sekarang juga," ucap Yoga lagi dengan marah, kemudian dengan cepat menendang bokong Romi dengan keras—terdengar suara yang jelas "BUG" kaki Yoga menghantam tubuh Romi, sampai-sampai Romi hampir tersungkur ke tanah.
Romi dengan cepat menyeimbangkan tubuhnya dan membalikan badannya, menatap Yoga dengan pandangan yang sangat tajam dan penuh amarah. Namun Romi tidak berkata apa-apa karena dirinya tahu diri dan tahu menempatkan posisinya sebagai anak orang miskin dan rakyat jelata yang tidak bisa berbuat banyak melawan mereka yang lebih kuat darinya.
"Apaaa!!! Loe berani melototin gue kayak gitu Rom? Kamu lupa diri ya?" teriak Yoga dengan marah, melangkah maju dengan tangan yang sudah siap untuk meninju Romi. Namun di saat itu Bowo dengan cepat menangkap tangan Yoga sebelum bisa menyentuh Romi.
"Jangan kau kotori tanganmu dengan anak cecunguk ini Yoga. Dia bukan lawan kita yang layak, dia bagaikan debu di kulit kita yang bisa saja kita buang kapan saja jika mengganggu," ujar Bowo dengan suara dingin menenangkan Yoga, melihat Romi dengan tatapan yang sangat merendahkan.
"Benar itu kata loe, gak pantas kita mengotori tangan kita sendiri dengan menyentuhnya," ucap Yoga dengan sedikit menenangkan diri, kemudian menoleh pergi bersama Bowo tanpa melihat lagi ke arah Romi.
Romi menahan amarahnya dengan penuh kesabaran, mengusap bagian bokongnya yang masih terasa sakit, kemudian langsung pergi meninggalkan mereka berdua dengan langkah yang sedikit tergoyang namun tetap kuat.
Setelah beberapa menit berjalan, Romi akhirnya sampai di kelas 10A tepat saat bel sekolah mulai berbunyi. Saat Romi ingin duduk di bangkunya yang terletak di sudut kelas paling depan sebelah kiri dan menaruh tasnya dengan hati-hati, dua orang siswa mendatanginya dengan wajah yang tidak senang—yaitu Devan dan Shanti, dua siswa kelas 10A yang dikenal sebagai anak orang kaya dan selalu merasa lebih baik dari siswa lain.
"Loe Rom apa udah lapor ke guru BP atau langsung ke guru wali kelas tentang diri loe yang menolak untuk belajar di kelas ini? Atau loe sudah memutuskan untuk keluar dari sekolah ini?" tanya Devan dengan nada serius namun penuh sindiran, berdiri di depan meja Romi dengan tangan yang disilang di dada.
"Maaf aku belum sempat dan belum ada waktu mengurusi hal yang tidak penting itu. Aku datang ke sekolah untuk belajar, bukan untuk membicarakan apakah aku layak berada di sini atau tidak," ucap Romi dengan suara santai, sudah mulai merasa terbiasa dengan sikap merendahkan dari teman sekelasnya.
"Apaa!!! Loe bilang urusan ini gak penting? Justru loe Romi yang gak penting buat kami semua yang ada disini!!! loe seharusnya sadar diri sendiri bahwa tempatmu bukan di sekolah ini bersama kami," ucap Shanti dengan suara tinggi yang membuat seluruh siswa di kelas berhenti berbicara dan melihat ke arah mereka berdua. Dia berdiri berkacak pinggang dengan matanya yang melotot tajam ke arah Romi.
"Aku emang bukan siapa-siapa bagi kalian semuanya, aku hanya orang miskin yang tidak berarti apa-apa di mata banyak orang. Tapi aku punya harapan yang kuat, aku punya cita-cita yang ingin aku capai, dan aku sangat ingin belajar untuk mencapainya. Apa itu salah buat kalian semua yang selalu merasa lebih baik dariku?" ucap Romi dengan nada yang lembut tapi cukup menampar mereka semua yang berada di dalam kelas 10A.
Devan dan Shanti saling pandang, mereka berdua terlihat sangat geram terhadap kata-kata yang terlontar dari mulut Romi yang mereka anggap tidak punya hak untuk berbicara seperti itu.
"Apa gue gak salah denger loe bilang loe punya cita-cita dan punya harapan? Loe harus berkaca diri Romi! Orang miskin seperti loe gak pantas punya banyak keinginan, orang miskin cukup manut aja, nurut apa kata orang berduit yang lebih tahu daripada loe," jawab Devan dengan suara penuh kemarahan, langkahnya semakin mendekati Romi.
"Dasar anak songong! Orang miskin jelata kayak loe itu gak pantas sebangku dan sekelas dengan kita yang punya latar belakang berbeda. Takut menular penyakit miskin loe ke kita semua yang ada di kelas ini," ucap Shanti dengan sombongnya, wajahnya menunjukkan rasa jijik yang sangat jelas.
"Kalian semua khususnya kamu Devan dan kamu Shanti banyak-banyak lah Bersyukur kepada Allah SWT, karena Dia lah yang memberikan rejeki (kekayaan melalui orang tua kalian) yang bisa saja suatu saat nanti Allah ambil kembali dari kalian. Bahkan kalian bisa jadi lebih miskin atau keadaan kalian menjadi lebih buruk lagi jika kalian terus kufur dan sombong seperti ini," ucap Romi kepada Devan dan Shanti dengan suara yang tetap tenang namun penuh makna.
"Emang loe siapa berani-beraninya bilang seperti itu? Emang loe Ustadz, apa loe seorang Kyai atau seorang Ulama besar yang bisa memberi nasihat pada kami?" tanya Devan sambil matanya melotot tajam ke wajah Romi, tangan kanannya sudah mulai mengencang kepalan.
"Anak tukang penjual sayuran di pasar Sewon aja loe udah bangga banget, jijik gue liat muka loe Romi!" ucap Shanti dengan nada yang semakin menyakitkan, kemudian dengan sengaja membuang ludahnya tepat di wajah Romi yang sedang melihatnya dengan tenang.
"Astaghfirullah, Istighfar kamu Shanti... Jangan sampai Allah Murka kepadamu karena melakukan hal yang tidak baik seperti ini," Ucap Romi dengan suara lembut mengingatkan kepada Shanti agar jangan berlebihan menghakimi seseorang. Dia tidak mengeluh atau menunjukkan rasa marah, hanya dengan hati-hati mengusap ludah yang ada di wajahnya menggunakan serbet kecil yang ada di dalam tasnya.
Keduanya tertawa tawa riang karena puas melihat wajah Romi yang blepotan air liur Shanti—siswi yang sering disebut sebagai siswi tercantik di kelas 10A.