Kayana Ardhanareswari adalah mahasiswi paling populer di kampus—cantik, cerdas, dan kaya raya—namun menyimpan luka karena keluarganya yang broken home. Hidupnya berubah saat ia tertarik pada Bima Wijaya, mahasiswa pendiam penerima beasiswa KIP-Kuliah yang tak pernah memandangnya seperti pria lain.
Di balik sikap cuek Bima, Kay menemukan ketulusan, kerja keras, dan perasaan yang diam-diam tumbuh sejak lama. Namun hubungan mereka diuji oleh perbedaan status sosial, tekanan keluarga, kehadiran pihak ketiga, serta ancaman hilangnya beasiswa Bima.
Di tengah badai gosip dan intrik, Kay dan Bima harus memilih: menyerah pada keadaan, atau memperjuangkan cinta yang tak sempurna, namun tulus apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Terendah
Dua hari setelah pertemuan dengan Lydia, Bima masih terpuruk dalam kebingungan. Ia belum mengambil keputusan, tapi bayangan kata-kata ibu Kay terus menghantuinya.
"Kamu akan menjadi beban." "Apa yang bisa kamu berikan?" "Cinta tanpa kesiapan hanya akan melukai."
Ponselnya bergetar. Bukan Kay—ia sengaja menjauh, membalas pesan seadanya—tapi Tasya.
"Bim, gue dengar lo sakit. Gue jenguk ya. Bentar aja."
Bima ingin menolak. Tapi tenaganya tidak ada. Ia hanya membalas: "Iya."
---
Tasya datang sore itu dengan membawa buah dan susu. Ia tampil sederhana—kaos longgar dan jeans, jilbab pink muda—tidak seperti biasanya yang berdandan menor. Wajahnya menunjukkan kekhawatiran tulus.
"Bim, lo gimana?" Tasya duduk di kursi satu-satunya di kamar Bima. Matanya mengamati ruangan sempit itu, sketsa-sketsa di dinding, dan Bima yang duduk lemas di dipan.
"Masih hidup," jawab Bima datar.
Tasya tersenyum tipis. "Masih bisa bercanda. Berarti nggak parah."
Bima tidak menjawab. Ia menatap jendela, menghindari tatapan Tasya.
"Gue dengar lo dirawat inap. Parah ya?" Tasya memulai lagi.
"Udah baikan."
Tasya menghela napas. "Bim, gue nggak mau maksa. Tapi gue tahu kondisi lo. IPK turun, beasiswa dicabut, rumah sakit... itu semua berat. Lo butuh bantuan."
Bima menoleh. "Bantuan apa?"
Tasya mengambil napas. "Biaya rumah sakit. Berapa? Gue bisa bantu."
Bima menggeleng. "Nggak usah."
"Bim—"
"Gue bilang nggak usah." Nadanya tegas, tapi lelah.
Tasya tidak menyerah. "Oke, kalo nggak mau terima langsung, gue tawarin alternatif. Gue kenal beberapa dosen yang butuh asisten penelitian. Bayarannya lumayan. Lo bisa kerja sambil tetep kuliah. Nggak perlu narik ojek lagi yang bikin lo kelelahan."
Bima diam. Tawaran itu menggelitik pikirannya. Asisten penelitian—pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya, tidak terlalu menguras fisik, dan mungkin lebih fleksibel dengan jadwal kuliah.
"Lo nggak usah buru-buru jawab," lanjut Tasya. "Gue kasih nomer kontaknya. Lo pikir-pikir dulu."
Ia meletakkan secarik kertas di meja. "Ini dosen kenalan gue. Beliau butuh asisten buat project AI. Lo kan jago coding. Cocok banget."
Bima menatap kertas itu, lalu ke Tasya. "Kenapa lo bantu gue?"
Tasya tersenyum—bukan senyum genit seperti biasa, tapi senyum tulus. "Karena gue tahu lo orang baik, Bim. Dan gue nggak tega liat orang baik jatuh sendirian."
Bima menghela napas. "Makasih."
"Sama-sama." Tasya berdiri. "Gue pamit dulu. Jaga kesehatan. Kalo butuh apa-apa, kabarin."
Setelah Tasya pergi, Bima menatap kertas itu lama. Nomor kontak dosen. Tawaran pekerjaan. Mungkin ini jawaban—cara untuk bangkit tanpa bergantung pada Kay.
Tapi di balik itu, ada rasa bersalah. Tasya jelas punya motif. Tapi mampukah ia menolak saat keadaan begini?
---
Keesokan harinya, Bima memutuskan ke kampus. Bukan untuk kuliah, tapi ke bagian akademik. Ia harus mengurus surat keterangan tentang pencabutan beasiswanya, mungkin juga dispensasi pembayaran SPP.
Ruang akademik terletak di lantai dua gedung rektorat. Antreannya panjang, dipenuhi mahasiswa dengan berbagai masalah administrasi. Bima duduk di kursi tunggu, menatap layar antrean dengan nomor 47. Sekarang baru nomor 23.
Dua jam kemudian, namanya dipanggil. Ia masuk ke ruangan kecil tempat seorang ibu paruh baya dengan kacamata tebal duduk di balik meja.
"Selamat pagi, Mas. Ada yang bisa dibantu?"
Bima duduk, meletakkan berkasnya. "Saya Bima Wijaya, NIM 20/456789/IK/2020. Ingin mengurus surat keterangan pencabutan beasiswa dan kemungkinan dispensasi pembayaran SPP."
Ibu itu mengetik di komputer, mengerutkan kening. "Sebentar ya, saya cek."
Beberapa menit kemudian, ia menghela napas. "Mas Bima, beasiswa Mas dicabut karena IPK di bawah 3.0, Aturannya sudah jelas, tidak bisa dispensasi."
Bima menunduk. Ia sudah menduga, tapi tetap saja perih mendengarnya.
"Tapi," ibu itu melanjutkan, "kami bisa memberikan surat rekomendasi untuk universitas lain. Mungkin Mas bisa pindah ke kampus yang SPP-nya lebih terjangkau, atau di daerah asal."
Bima mengangkat kepala. "Pindah?"
"Iya. Kalau tidak mampu membayar SPP di sini, lebih baik pindah daripada nunggak dan akhirnya drop out. Ini surat rekomendasi bisa dipakai untuk daftar ulang di universitas negeri lain yang masih menerima mahasiswa pindahan."
Ibu itu menyerahkan selembar kertas bermaterai. Bima menerimanya dengan tangan gemetar.
"Tapi Mas harus ingat, ini prosesnya tidak cepat. Butuh waktu, butuh adaptasi. Tapi mungkin ini jalan terbaik."
Bima menatap surat itu. Pindah universitas. Meninggalkan Jogja. Meninggalkan... Kay.
"Makasih, Bu," bisiknya.
---
Bima keluar dari ruang akademik dengan langkah gontai. Surat rekomendasi itu ia lipat rapi, masukkan ke dalam tas. Pikirannya kacau.
Pindah. Kata itu terus bergema. Mungkin ini jawaban. Mungkin ini jalan keluar dari semua masalah. Ia bisa mulai baru di tempat lain, dengan biaya lebih murah, dekat dengan kampung halaman. Bisa bantu ibu lebih sering.
Tapi Kay...
Ponselnya bergetar. Kay: "Bim, lo di mana? Kok nggak bales chat dari semalem? Gue khawatir."
Bima menatap layar itu lama. Jari-jarinya mengetik, menghapus, mengetik lagi. Akhirnya ia membalas:
"Di kampus. Urus administrasi."
Kay: "Urus apa? Lo sakit, kok keluar? Gue jemput ya."
Bima: "Nggak usah. Gue bisa sendiri."
Kay: "Bim, lo kenapa? Kok aneh?"
Bima tidak membalas. Ia memasukkan ponsel ke saku, lalu berjalan ke perpustakaan. Duduk di pojok favoritnya—tempat pertama kali ia menggambar Kay.
Ia membuka buku sketsa, mencari halaman kosong. Dengan pensil, ia mulai menggambar—wajah Kay, senyumnya, matanya yang penuh cinta. Tangannya gemetar, arsirannya tidak rapi seperti biasa.
Di bawah gambar itu, ia menulis:
"Mungkin ini saatnya melepaskan. Bukan karena tidak cinta, tapi karena cinta. Aku ingin kau bahagia, meski tanpa aku."
Air mata jatuh di atas kertas. Untuk pertama kalinya, Bima membiarkan dirinya menangis di tempat umum. Ia menunduk, bahunya bergetar.
Seorang mahasiswi di meja sebelah menatap iba, tapi tidak berani mendekat.
---
Malam harinya, Bima menelepon ibunya di kampung. Suara wanita tua di seberang terdengar cemas.
"Le, kabarmu gimana? Ibu denger kamu sakit?"
Bima menelan ludah. "Ibu, maaf. Beasiswa Ilang."
Hening beberapa saat. Lalu suara ibunya terdengar lirih, "Kenapa bisa, Le?"
"IPK turun. Ibu... aku sakit. Masuk rumah sakit. Tapi sekarang udah baikan."
Ibu Bima menangis di seberang. Bima mengepalkan tangannya.
"Le, pulang saja. Ibu kangen. Kamu bisa kuliah di dekat sini. Universitas negeri di sini juga bagus, SPP-nya murah."
Bima diam. Pindah. Lagi-lagi pindah.
"Ibu, aku... ada pacar di sini."
Hening lagi. "Pacar?"
"Iya, Bu. Namanya Kay. Dia... dia baik banget. Sayang sama aku."
Ibu Bima menghela napas. "Terus kamu mau ninggalin dia?"
Bima tidak bisa menjawab.
"Le, Ibu cuma ingin kamu bahagia. Kalau dia bikin kamu bahagia, jangan tinggalin. Tapi kalau dia jadi beban pikiranmu..."
"Dia bukan beban, Bu. Aku yang jadi beban buat dia."
Ibu Bima terdiam. Lalu berkata pelan, "Le, cinta sejati itu bukan soal siapa yang memberi lebih banyak. Tapi soal siapa yang tetap bertahan saat yang lain pergi."
Bima menangis lagi. "Tapi, Bu, aku nggak punya apa-apa buat dia."
"Kamu punya hati, Le. Dan itu yang paling berharga."
Setelah telepon berakhir, Bima duduk termenung. Kata-kata ibunya menghangatkan, tapi tidak menghapus kenyataan pahit.
---
Tiga hari kemudian, Bima mengambil keputusan. Ia akan ambil tawaran pekerjaan dari Tasya, sambil menyiapkan pindah universitas. Bukan karena ia tidak sayang Kay, tapi justru karena sayang. Ia tidak mau terus menjadi beban.
Ia belum tahu cara mengatakannya pada Kay. Tapi yang jelas, ia harus mulai menjauh.
Di kosnya, ia mengetik pesan untuk Kay yang tidak akan ia kirim:
"Kay, maaf. Gue harus pergi. Bukan karena gue nggak sayang, tapi karena gue terlalu sayang buat biarin lo terus begini. Lo pantas dapet yang lebih baik. Lo pantas bahagia. Dan gue... gue cuma orang biasa yang lagi berusaha bangkit. Mungkin di lain waktu, di lain tempat, kita bisa bertemu lagi. Tapi untuk sekarang, lepaskan gue. Untuk kebaikan kita berdua."
Ia menyimpan draf itu, lalu memejamkan mata. Air mata jatuh lagi.
Di luar, hujan turun deras. Seperti hari pertama mereka bertemu.
Tapi kali ini, tidak ada payung yang menaungi.