Akselia Kinanti terbangun dalam genangan darahnya sendiri. Tangannya meremas perut yang kram hebat.
"Kamu... harus bertahan," bisiknya pada perut yang mulai terasa dingin.
Ponselnya berdering. Notifikasi siaran langsung : Kevin Pratama & Karina Adelia - Live Engagement Party.
Jemarinya gemetar membuka video itu. Di layar, Kevin tersenyum lebar, merangkul pinggang Karina Adelia model terkenal dengan gaun putih yang berkilau. "Aku sudah lama menunggu momen ini," kata Kevin di depan ratusan tamu.
Akselia tertawa pahit. Darah masih mengalir dari tubuhnya.
"Ini pasti salah paham," gumamnya lemah. Tapi matanya yang mulai sayu menatap cincin murah di jarinya, cincin yang Kevin bilang 'sementara'.
Gelap.
Ketika matanya terbuka lagi, Akselia bukan lagi pelayan restoran lemah yang mencintai pria salah. Dia adalah mantan pelatih bela diri yang pernah bikin lawan-lawannya menangis minta ampun.
"Kevin Pratama... Karina Adelia..."
Senyumnya tajam. Berbahaya.
"Permainan baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 - KARINA BERGERAK
PAGI HARI - KANTOR PRATAMA CORPORATION
Karina duduk di kursi ruang tunggu, kaki disilangkan dengan elegan, wajah tenang tapi mata menyala amarah. Di tangannya, map biru berisi laporan lengkap detektif swasta.
Dia sudah tahu segalanya.
Selia Ananta adalah Akselia Kinanti, mantan pacar Kevin, pelayan restoran yang Kevin buang setahun lalu. Dan sekarang menjadi perempuan yang berani mengambil tempat Karina.
"Brengsek," desisnya pelan.
Pintu ruang Kevin terbuka. Kevin keluar dengan wajah kusut, seperti tidak tidur semalam. Matanya melebar saat melihat Karina.
"Karina? Kenapa kamu..."
"Kita harus bicara, sekarang!" Karina berdiri, berjalan masuk ke ruangan Kevin tanpa izin.
Kevin menutup pintu, menghela napas panjang. "Kalau ini soal pembatalan pertunangan..."
"Ini bukan soal itu. Atau setidaknya, bukan cuma soal itu." Karina melempar map biru ke meja Kevin. "Buka."
Kevin membuka map dengan tangan ragu. Wajahnya langsung pucat saat melihat isinya... Foto-foto Akselia dulu dan sekarang, laporan identitas palsu, semua jejak yang menghubungkan Selia Ananta dengan Akselia Kinanti.
"Kamu sudah tahu?" tanyanya pelan.
"Tentu saja aku tahu! Aku tidak bodoh, Kevin!" Karina berjalan mondar-mandir, suara naik. "Perempuan yang kamu cintai, yang buat kamu mau membatalkan pertunangan kita adalah mantan pacarmu! Pelayan murahan yang dulu kamu buang!"
Kevin menutup map itu. "Jangan sebut dia seperti itu."
"Kenapa? Karena kamu masih sayang?" Karina tertawa sinis. "Atau karena kamu merasa bersalah?"
"Keduanya," jawab Kevin jujur, menatap Karina langsung. "Dan aku tidak akan minta maaf soal itu."
Karina terdiam, menatap Kevin dengan tatapan tidak percaya. "Kamu... kamu serius? Kamu tahu dia dekatimu cuma untuk balas dendam kan? Dia manipulasi kamu! Main dengan perasaanmu!"
"Aku tahu."
"Dan kamu masih..." Karina menggeleng, tertawa tidak percaya. "Astaga... Kamu benar-benar jatuh cinta padanya."
Kevin tidak menyangkal.
Karina menatapnya lama. Lalu senyumnya muncul, senyum dingin yang berbahaya.
"Baiklah... Kalau kamu mau hancurkan dirimu sendiri gara-gara perempuan itu, silakan. Tapi aku..." dia mengambil tasnya, "...aku tidak akan diam saja."
Kevin langsung waspada. "Apa maksudmu?"
"Maksudku, aku akan pastikan Akselia Kinanti membayar atas apa yang dia lakukan." Karina berjalan ke pintu. "Dia pikir dia bisa main-main dengan kita? Dengan aku? Dia salah besar."
"Karina, jangan..."
"Sudah terlambat, Kevin." Karina membuka pintu, menoleh dengan senyum dingin. "Kamu pilih dia, jadi tanggung konsekuensinya."
Pintu dibanting keras.
Kevin berdiri sendirian di ruangan, menatap map biru di mejanya. Lalu dengan gerakan cepat, dia ambil ponsel dan menelepon seseorang.
"Halo? Aku butuh kamu awasi Karina. Dua puluh empat jam. Kalau dia coba dekati Akselia, hentikan dia apa pun caranya."
***
SIANG HARI - KAFE DEKAT KANTOR MAHENDRA
Akselia duduk sendirian, menatap kopi yang sudah dingin. Dia belum memutuskan apa-apa, belum mengirim bukti ke media, belum menghubungi Diana lagi.
Ponselnya berdering, nomor tidak dikenal.
"Halo?"
"Akselia Kinanti." Suara perempuan yang dia kenal... Karina. "Kita harus ketemu."
Jantung Akselia langsung waspada. "Bagaimana kamu dapat nomor ini?"
"Aku punya banyak cara. Sekarang dengar, aku tahu siapa kamu, aku tahu rencanamu. Dan aku mau kita bicara, wanita dewasa, tanpa drama."
"Aku tidak tertarik ngobrol dengan..."
"Hotel Grand Indonesia, kafe lantai dasar, satu jam dari sekarang. Kalau kamu tidak datang..." Karina berhenti sebentar, "...aku akan kirim semua identitas palsumu ke media. Lengkap dengan cerita bagaimana kamu manipulasi Kevin untuk balas dendam. Bagaimana menurutmu?"
Ancaman terbuka.
Akselia mengepalkan rahang. "Baik. Aku akan datang."
"Pintar." Karina menutup telepon.
Akselia langsung menelepon Arjuna. "Pak, Karina tahu identitasku. Dia minta ketemu, aku..."
"Jangan pergi sendirian," potong Arjuna cepat. "Terlalu berbahaya."
"Aku harus pergi, Pak. Kalau tidak, dia akan bocorkan semuanya ke media. Dan bukan cuma aku yang kena, Bapak juga, Perusahaan juga."
Arjuna terdiam. "Baiklah, tapi aku akan ada di dekat sana. Kalau ada masalah, telepon aku langsung."
"Terima kasih, Pak."
***
HOTEL GRAND INDONESIA - KAFE LANTAI DASAR
Akselia datang tepat waktu. Karina sudah menunggu di meja pojok, mengenakan gaun hitam elegan dan kacamata hitam besar yang menutupi setengah wajahnya.
"Duduk," perintah Karina sambil menunjuk kursi di hadapannya.
Akselia duduk, punggung tegap, tatapan waspada. "Apa maumu?"
Karina melepas kacamatanya, menatap Akselia dengan tatapan menilai. "Harus aku akui, kamu cantik. Pantas Kevin tertarik. Meski..." dia tersenyum meremehkan, "...kamu masih kalah jauh dariku."
"Kalau kamu panggil aku ke sini cuma untuk pamer, aku pergi."
"Tunggu." Karina mengangkat tangan. "Aku mau tawarkan sesuatu."
"Aku tidak tertarik dengan tawaranmu."
"Dengar dulu." Karina bersandar, menyilangkan kaki. "Aku tahu kamu benci Kevin, aku tahu dia sakiti kamu. Dan aku... percaya atau tidak... mengerti perasaanmu."
Akselia mengerutkan kening. "Apa maksudmu?"
"Maksudku, Kevin Pratama itu bajingan. Aku juga korbannya." Karina menarik napas. "Pertunangan kami bukan pilihan kami, itu dipaksa keluarga. Dan Kevin, dia selingkuh terus menerus. Dengan Bella, dengan kamu, mungkin dengan puluhan perempuan lain. Aku muak."
"Lalu kenapa tidak batalkan pertunangan?"
"Karena aku butuh merger bisnis itu, perusahaan keluargaku sedang kesulitan keuangan. Kalau tidak gabung dengan Pratama Corporation, kami bangkrut." Karina menatap Akselia serius. "Jadi aku punya proposal, kita kerja sama."
Akselia tertawa tidak percaya. "Kerja sama? Dengan kamu?"
"Kenapa tidak? Kita punya musuh yang sama... Kevin. Kamu mau balas dendam, aku mau uangnya. Kita bisa saling bantu."
"Bagaimana caranya?"
"Kamu terus dekati Kevin, buat dia jatuh cinta lebih dalam. Lalu, saat dia sudah putus asa kamu tinggalkan dia dengan cara paling menyakitkan." Karina tersenyum dingin. "Sementara itu, aku akan pastikan merger tetap jalan. Dapat uang yang kubutuhkan, lalu aku juga tinggalkan dia. Kita berdua menang."
Akselia menatapnya tidak percaya. "Kamu gila."
"Aku realistis." Karina meneguk champagne-nya. "Dengar, Akselia! Aku tahu kamu bingung sekarang. Aku lihat di matamu, kamu masih punya perasaan ke Kevin. Meski kamu benci mengakuinya."
"Aku tidak..."
"Bohong." Karina memotong. "Kalau kamu benar-benar benci dia, kamu sudah kirim semua bukti itu ke media dari kemarin. Tapi kamu tidak melakukannya, karena ada bagian dirimu yang masih... entah sayang, entah ragu."
Akselia mengepalkan tangan di bawah meja. Karina benar, dan itu menyebalkan.
"Jadi?" Karina menatapnya menantang. "Kamu mau kerja sama atau tidak?"
"Aku..." Akselia menarik napas, "...aku perlu waktu mikir."
"Kamu punya waktu dua hari. Setelah itu, aku akan bocorkan identitasmu ke media. Dengan atau tanpa kerja samamu." Karina berdiri, mengambil tasnya. "Oh ya, satu lagi... Kevin sudah tahu aku akan ketemu kamu. Dia suruh bodyguard ikuti aku, siap menghentikan kalau aku 'menyakiti' kamu."
Akselia tersentak. "Apa?"
"Lucu kan?" Karina tersenyum miring. "Dia masih berusaha lindungi kamu, meski kenyataannya kamu yang mau menghancurkan dia. Itu namanya cinta sejati atau kebodohan sejati, aku tidak yakin mana yang benar."
Karina pergi dengan langkah anggun, meninggalkan Akselia sendirian dengan pikiran lebih kacau dari sebelumnya.
***
MALAM HARI - KAMAR KOS BELAKANG DOJO
Akselia berbaring menatap langit-langit untuk kesekian kalinya. Pikirannya penuh dengan dua tawaran yang saling bertentangan...
Diana yang mau dia sebarkan bukti dan hancurkan Kevin sekarang.
Karina yang mau dia main perasaan Kevin lebih lama, lalu tinggalkan dengan cara paling menyakitkan.
Dan di tengah semua itu, Kevin yang bilang mencintainya. Kevin yang menyesal, Kevin yang mungkin benar-benar berubah.
Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tidak dikenal, tapi Akselia tahu ini dari Kevin.
[Aku tahu Karina ketemu kamu. Apa pun yang dia tawarkan, jangan percaya. Dia berbahaya. Please, Akselia. Jaga dirimu.]
Akselia menatap pesan itu lama.
Kevin yang dulu, yang membuangnya tidak akan pernah kirim pesan seperti ini.
Tapi Kevin sekarang...
"Siapa kamu sebenarnya, Kevin Pratama?" bisiknya pada layar ponsel. "Dan kenapa kamu bikin semuanya jadi lebih rumit?"
Dia menutup mata, menarik napas panjang. Besok dia harus putuskan, hancurkan Kevin sekarang atau ikut permainan Karina.
Atau...
Pilihan ketiga yang bahkan tidak berani dia pikirkan.
Memaafkan.
author terbaik.. 😍
ayo karina hancurkan sekalian saja akselia kn bodoh dia biar tamat.
Apalagi sudah bab 19 ya, akan ada perhitungan retensi di bab 20. Tolong dengan sangat ya... sahabat pembaca untuk segera dilanjut bacanya.
Terima kasih.
kok Kevin gak mengenali selia sekarang?