Novel ini bercerita tentang intrik bisnis toko manisan dari keluarga Wijaya dengan toko manisan lainnya yang ada di kota Sagara. Toko keluarga Wijaya ini hancur karena fitnah dan anaknya mencari informasi yang dibantu oleh wartawan, polisi dan hakim umtuk memcari sumber fitnah tersebut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Ashari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Polisi yang tidak netral
Pagi di Kota Sagara datang dengan langit kelabu, seolah enggan memberi sinyal cerah bagi siapa pun. Di kantor kepolisian sektor pusat, Bima melangkah masuk bersama Kirana dan ayahnya dengan dada berdebar. Di tangan mereka, map cokelat berisi dokumen dan bukti awal yang telah mereka kumpulkan selama berminggu-minggu. Hari itu, mereka berniat melaporkan ancaman, intimidasi, serta dugaan rekayasa kasus yang menimpa keluarga Wijaya.
Namun sejak langkah pertama, suasana tak bersahabat sudah terasa.
Beberapa polisi yang berjaga di lobi memandang mereka dengan tatapan datar, bahkan sinis. Tidak ada senyum ramah, tidak pula sapaan hangat. Seorang perwira muda mendekat, suaranya dingin dan kaku.
“Ada keperluan apa?”
“Kami ingin membuat laporan resmi,” jawab Kirana tegas.
Perwira itu mengangguk sekilas, lalu membawa mereka ke sebuah ruangan kecil di sisi belakang. Ruangan itu sempit, pengap, dengan kursi plastik yang tampak rapuh. Mereka menunggu hampir satu jam tanpa kejelasan, sementara di luar terdengar suara tawa dan obrolan ringan.
Akhirnya, seorang pria bertubuh besar dengan pangkat lebih tinggi masuk. Wajahnya keras, sorot matanya tajam dan dingin. Di dadanya tertera nama: Kompol Surya.
“Apa masalahnya?” tanyanya singkat.
Bima memulai penjelasan dengan runtut—tentang fitnah, tekanan, ancaman, dan bukti-bukti yang mereka temukan. Ia menyodorkan flashdisk dan beberapa dokumen. Kompol Surya menerimanya, tapi hanya melirik sekilas, lalu meletakkannya di meja tanpa minat.
“Kalian sadar, kan, ini tuduhan serius?” katanya datar. “Menyebut nama pengusaha besar dan tokoh politik bukan hal main-main.”
“Kami tidak menuduh tanpa dasar,” sahut Kirana. “Kami punya data transaksi, rekaman, dan saksi.”
Kompol Surya tersenyum tipis, senyum yang lebih mirip ejekan. “Data bisa direkayasa. Saksi bisa dibeli.”
Ayah Bima mengepalkan tangan. “Kami datang untuk mencari keadilan, bukan cemoohan.”
Ruangan itu seketika sunyi. Kompol Surya menatap tajam, lalu bersandar di kursinya. “Saran saya, lebih baik kalian fokus memperbaiki hidup sendiri. Jangan mencari masalah.”
Kalimat itu seperti tamparan.
“Kami mendapat ancaman serius,” ujar Bima. “Bukankah tugas polisi melindungi warga?”
“Ancaman di zaman sekarang itu biasa,” balas Surya ringan. “Tidak semua harus dibesar-besarkan.”
Kirana menarik napas dalam, berusaha menahan amarah. “Kami meminta laporan resmi dan perlindungan.”
Kompol Surya berdiri, menandakan percakapan usai. “Kami akan pertimbangkan. Sekarang kalian boleh pulang.”
Tanpa ada tanda terima laporan. Tanpa ada jaminan apa pun.
Keluar dari kantor polisi, langkah mereka terasa berat. Di halaman, beberapa petugas tampak berbisik sambil melirik ke arah mereka. Bima merasakan sesuatu yang pahit mengendap di tenggorokannya—rasa dikhianati oleh sistem yang seharusnya melindungi.
“Sudah kuduga,” gumam Kirana. “Ada yang menekan dari atas.”
Ayah Bima menghela napas panjang. “Kalau polisi tidak netral, kita harus mencari jalan lain.”
Namun jalan lain itu tidak mudah.
Sore harinya, sebuah mobil hitam tanpa plat parkir cukup lama di depan rumah kontrakan mereka. Meski tidak melakukan apa-apa, kehadirannya menjadi pesan bisu: mereka diawasi.
Malam itu, Bima sulit tidur. Bayangan wajah Kompol Surya terus terngiang, bersama kalimat-kalimat yang penuh peringatan terselubung. Ia sadar, laporan mereka mungkin justru membuka pintu bagi bahaya yang lebih besar.
Namun di balik ketakutan itu, tekadnya semakin mengeras.
Keesokan harinya, Kirana menghubungi seorang polisi senior yang dikenal bersih dan tegas, bertugas di kota tetangga. Mereka bertemu diam-diam di sebuah warung kopi kecil di pinggir jalan lintas.
Pria itu mendengarkan cerita mereka dengan saksama. Alisnya berkerut, matanya menyiratkan keprihatinan.
“Apa yang kalian hadapi bukan hal baru,” katanya. “Di banyak tempat, kekuasaan sering menekan aparat. Tapi bukan berarti tidak ada celah.”
Ia memberi beberapa saran: jalur pengaduan internal, pengawasan eksternal, dan kemungkinan menggandeng lembaga nasional.
“Risikonya besar,” tambahnya. “Tapi kalau kalian berhenti sekarang, semua pengorbanan akan sia-sia.”
Bima mengangguk. “Kami siap.”
Malam kembali turun di Kota Sagara. Di tengah lampu-lampu temaram dan bayangan panjang, keluarga Wijaya menyiapkan diri menghadapi babak baru. Mereka tahu, musuh mereka bukan hanya para pemfitnah, tetapi juga sistem yang telah terkontaminasi.
Dan di tengah ketidakadilan yang menyesakkan, satu keyakinan tetap menyala: kejujuran mungkin rapuh, tapi ketika ia bertahan, ia mampu meruntuhkan tembok setebal apa pun.
Keyakinan itu menjadi jangkar bagi Bima di tengah badai. Malam terasa panjang, seolah waktu sengaja melambat untuk menguji ketahanan hati mereka. Di ruang tamu yang sempit, Bima, Kirana, dan kedua orang tuanya duduk membentuk lingkaran kecil. Tidak ada suara televisi, tidak ada musik, hanya detak jam dinding yang terus berdentang, mengiringi kegelisahan.
“Kalau polisi di kota ini sudah tidak bisa dipercaya,” ujar ayah Bima pelan, “kita harus memikirkan langkah yang lebih besar.”
“Kita bisa membawa ini ke tingkat provinsi, bahkan nasional,” sahut Kirana. “Tapi itu berarti tekanan akan berlipat ganda.”
Bima mengangguk. Ia menatap kedua orang tuanya, menyadari betapa berat beban yang mereka tanggung. Bukan hanya kehilangan usaha dan reputasi, tapi juga rasa aman. Namun, dalam sorot mata ayah dan ibunya, ia menemukan sesuatu yang lebih kuat dari rasa takut: keberanian untuk bertahan.
Keesokan harinya, mereka memulai langkah itu.
Kirana menghubungi redaksi media nasional tempatnya pernah magang. Ia menjelaskan situasi, mengirimkan ringkasan kasus beserta bukti awal. Respons datang lebih cepat dari yang diduga. Seorang editor senior menyatakan ketertarikan dan meminta waktu untuk menelaah lebih dalam.
Sementara itu, Bima menyiapkan laporan tertulis yang lebih terstruktur, lengkap dengan kronologi dan daftar saksi. Ia menyadari, di hadapan sistem yang cenderung menutup diri, detail dan ketelitian adalah senjata utama.
Namun, usaha mereka tidak luput dari gangguan.
Di tengah siang, ketika matahari berada tepat di atas kepala, dua orang polisi berseragam datang ke rumah kontrakan. Wajah mereka datar, sorot mata menyimpan kewaspadaan.
“Kami mendapat laporan tentang aktivitas mencurigakan di sini,” ujar salah satu dari mereka.
“Aktivitas apa?” tanya Bima, berusaha tenang.
“Pengumpulan data ilegal, penyebaran informasi sensitif, dan dugaan pencemaran nama baik.”
Kirana terkesiap. “Kami hanya mengumpulkan bukti untuk laporan hukum.”
Salah satu polisi itu tersenyum tipis. “Tetap saja, kalian harus ikut kami ke kantor untuk klarifikasi.”
Situasi mendadak tegang. Ibu Bima memegang lengan anaknya, wajahnya pucat. Ayah Bima berdiri di depan, berusaha melindungi.
“Kalau tidak ada surat resmi, kami berhak menolak,” katanya tegas.
Polisi itu terdiam sejenak, lalu mengeluarkan secarik kertas dari map. Surat panggilan, lengkap dengan kop resmi. Meski terkesan terburu-buru, dokumen itu tampak sah.
Tak ada pilihan. Mereka mengikuti para petugas itu ke kantor.
Namun berbeda dengan sebelumnya, kali ini mereka dibawa ke ruangan pemeriksaan yang lebih besar. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan, sebagian terdengar menjebak. Bima dan Kirana harus berhati-hati memilih kata, menjaga agar tidak memberikan celah yang bisa disalahgunakan.
Berjam-jam berlalu. Tidak ada kekerasan fisik, tapi tekanan psikologis terasa nyata. Hingga akhirnya, mereka dipersilakan pulang dengan peringatan keras agar tidak “membuat kegaduhan”.
Di luar kantor, Bima menarik napas panjang. “Mereka mencoba menakut-nakuti.”
“Dan hampir berhasil,” jawab Kirana lirih.
Malamnya, pesan masuk dari editor nasional yang dihubungi Kirana. Media itu siap mengirim tim investigasi ke Kota Sagara, dengan syarat keamanan sumber dijaga ketat.
Harapan kembali menyala.
Namun, bersamaan dengan itu, ancaman semakin nyata. Seorang tetangga memberi tahu bahwa beberapa pria asing sering mondar-mandir di sekitar rumah mereka. Motor-motor tanpa plat tampak parkir di sudut jalan, seolah mengawasi setiap gerak.
Kirana segera memindahkan sebagian data penting ke penyimpanan awan yang lebih aman. Bima menyembunyikan dokumen fisik di tempat terpisah, bahkan menitipkan sebagian kepada kenalan lama ayahnya di desa sebelah.
Hari demi hari berlalu dalam ketegangan. Setiap langkah terasa diawasi, setiap keputusan harus dipikirkan berulang-ulang. Namun, di tengah tekanan itu, muncul solidaritas tak terduga. Beberapa pelanggan lama toko manisan ayah Bima datang diam-diam, membawa makanan, uang seadanya, dan kata-kata dukungan.
“Kami percaya pada Pak Wijaya,” ujar seorang ibu tua sambil menahan tangis. “Toko itu bukan sekadar tempat beli manisan. Itu bagian dari hidup kami.”
Kata-kata itu menghangatkan hati Bima. Ia sadar, perjuangan mereka bukan hanya milik satu keluarga. Ada banyak harapan yang ikut dipertaruhkan.
Malam kembali menyelimuti Kota Sagara. Di bawah langit gelap, Bima berdiri di teras, menatap lampu-lampu kota yang berkelip redup. Di balik semua ketidakadilan, ia merasakan denyut kehidupan yang terus berjuang.
Dan dalam sunyi itu, ia berbisik pada dirinya sendiri: selama kejujuran masih dipegang, selama keberanian tidak padam, tidak ada kekuasaan yang benar-benar tak terkalahkan.