NovelToon NovelToon
Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Ruang Ajaib Sang Istri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Angel Abilla

Pernikahan yang kukira pelabuhan cinta, ternyata hanyalah jerat maut yang dirancang suamiku sendiri. Namaku Aruna, putri keluarga Adiwangsa yang dicap lugu oleh dunia. Namun di malam pengantinku yang penuh duri, aku menyaksikan pengkhianatan Tristan dan selingkuhannya tepat di depan mataku.
​Tristan ingin hartaku, ia ingin membuangku ke desa terpencil hingga aku membusuk. Namun, ia melakukan satu kesalahan besar: membiarkan Aruna Adiwangsa pergi dengan liontin warisan ibunya.
​Sebuah Ruang Ajaib terbuka dari tetesan darah rasa sakitku. Di sana, aku membangun kekuatan, mengumpulkan harta, dan menyusun strategi yang tak terduga. Tristan, nikmatilah sisa kejayaanmu, karena saat aku kembali, aku akan memastikan kau berlutut memohon ampun di bawah kakiku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angel Abilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Jejak yang Tertinggal

Suasana keributan terjadi di ruang ICU. Tim medis rumah sakit yang sebenarnya segera mengambil alih situasi setelah Pak Baskara menekan tombol darurat. Dokter Gunawan yang asli, seorang pria paruh baya dengan tatapan tegas, langsung bergerak cepat.

​​"Cepat! Pindahkan pasien ini ke unit stroke!" perintahnya merujuk pada Hendrawan yang masih tergeletak kaku di lantai.

​"Cepat! Pindahkan pasien ini ke unit stroke!" perintahnya merujuk pada Hendrawan yang masih tergeletak kaku di lantai.

Aruna berdiri bersedekap, memperhatikan tubuh pamannya diangkat ke atas brankar. Mata Hendrawan yang miring terus menatap Aruna dengan sisa ketakutan, namun Aruna hanya membalasnya dengan tatapan kosong. Baginya, Hendrawan sudah mati sejak pria itu berniat membunuh ayahnya.

"Pak Baskara," panggil Aruna pelan tanpa menoleh.

​"Iya, ada apa Aruna?"

"Pastikan Dokter Gunawan yang palsu itu tidak meninggalkan gedung ini. Ada banyak hal yang harus dia pertanggungjawabkan sebelum polisi menjemputnya."

"Sudah diurus, Aruna. Tim kita sudah menahannya di bawah," jawab Pak Baskara penuh perhitungan.

Aruna mengembuskan napas panjang. Beban di pundaknya terasa sedikit lebih ringan. Satu duri besar dalam keluarga Adiwangsa telah tercabut, namun ia tahu ini belum berakhir.

Momen Kebenaran

Setelah keributan mereda, Aruna kembali ke sisi tempat tidur ayahnya. Pak Adiwangsa terlihat wajahnya jauh lebih segar. Sari Akar Karma. Pria itu menatap putrinya, bibirnya gemetar ingin mengatakan sesuatu.

​"Ayah, jangan dipaksakan dulu," bisik Aruna. "Paman Hendrawan tidak akan menyakiti kita lagi."

Pak Adiwangsa menggeleng perlahan, melirik ke arah laci meja. Aruna membukanya dan menemukan ponsel lama ayahnya yang sempat disita Hendrawan.

"Sis... ka..." gumam Pak Adiwangsa lemah.

Aruna menyalakan ponsel itu dan menemukan sebuah pesan: “Barang sudah dipindahkan ke gudang lama di dermaga utara. Jangan hubungi aku sampai situasi aman. – Siska”.

Mata Aruna berkaca-kaca. Siska ternyata membawa sesuatu yang berharga milik keluarga Adiwangsa.

Memburu Ular Terakhir

Aruna melangkah keluar dari ruang ICU, meninggalkan ayahnya dalam penjagaan ketat tim keamanan Pak Baskara. Ia berjalan menuju lobi, di mana cahaya matahari pagi terasa begitu menyilaukan namun membangkitkan semangat.

"Pak Baskara, siapkan unit pelacak. Kita ke dermaga utara," perintah Aruna tegas. Meskipun Pak Baskara sudah memperingatkan bahwa itu mungkin jebakan, Aruna tetap bersikeras demi mencari bukti kematian ibunya.

"Aruna, tempat itu sangat terpencil. Bisa jadi itu jebakan," Pak Baskara memperingatkan.

Aruna menyentuh kunci kristal di lehernya. Ia merasakan denyut energi yang tenang dari Hutan Sanubari, seolah ibunya sedang membisikkan kekuatan untuk langkah terakhir ini.

"Jebakan atau bukan, Siska tidak boleh lepas. Dia memegang bukti terakhir tentang kematian Ibu yang mungkin juga melibatkan Hendrawan dan Tristan," tegas Aruna. "Satu ular sudah lumpuh, sekarang saatnya memotong kepala ular yang lain."

Mobil melaju kencang. Aruna menyentuh kunci kristal di lehernya, merasakan energi Hutan Sanubari yang seolah membisikkan kekuatan. "Hutan bisa mencium bau pengkhianatanmu dari jarak bermil-mil, Siska," bisiknya.

***

Dermaga utara menyambut mereka dengan kabut tebal yang menutupi deretan gudang tua, menciptakan bayangan yang mengerikan. Pak Baskara dan empat pengawal bersiaga penuh saat menuju Gudang Nomor 14.

"Tetap waspada. Jangan berpencar," perintah Pak Baskara kepada empat pengawal yang mengawal Aruna.

Mereka melangkah perlahan menuju Gudang Nomor 14. Suasananya terlalu sepi. Tidak ada suara burung camar, bahkan tidak ada jejak tikus pelabuhan. Hanya ada bau amis garam dan solar yang menyengat.

"Aruna, tunggu di sini," ucap Pak Baskara sambil memberi tanda agar dua pengawal memeriksa pintu masuk gudang.

Namun, baru saja kedua pengawal itu melangkah ke dalam kegelapan, sebuah bunyi bensa jatuh terdengar. Tanpa suara teriakan, tanpa perlawanan. Tubuh mereka jatuh dan pingsan begitu saja.

"Tim Satu! Lapor!" Pak Baskara berteriak, namun hanya keheningan yang menjawab.

​Tiba-tiba, suara benda jatuh terdengar. Tanpa teriakan, dua pengawal yang memeriksa pintu jatuh pingsan. Pak Baskara mencoba mencabut senjata, namun sebuah pukulan keras mendarat di tengkuknya. Dalam hitungan detik, semua pengawal Aruna tumbang oleh serangan profesional yang tak terlihat.

Aruna kaget dan mencoba memutar kunci kristalnya, namun sebuah kain berbau kimia menyengat membekap hidungnya dari belakang. Kesadaran Aruna mulai menghilang saat Siska keluar dari kegelapan bersama tentara bayaran berpakaian hitam.

​"Hmmpff—!" Aruna mencoba melawan., namun genggaman tangan itu sangat kuat.

Kesadaran Aruna mulai menghilang. Di sela-sela matanya yang berat, ia melihat sosok wanita berjalan keluar dari kegelapan gudang. Siska. Namun, dia tidak sendiri. Di belakangnya berdiri beberapa pria berpakaian serba hitam yang terlihat seperti tentara bayaran profesional.

"Bener kata Pak Baskara, kan, Aruna? Ini jebakan," suara Siska terdengar sangat tenang, bahkan terdengar manis yang memuakkan.

Siska menarik paksa kunci kristal dari leher Aruna hingga rantainya putus. "Hendrawan itu cuma umpan. Targetku sejak awal adalah barang ini," bisik Siska serakah. Dunia Aruna menjadi gelap total.

"Kamu pikir kamu satu-satunya yang punya rahasia?" bisik Siska sambil menatap kunci kristal itu dengan membayangkan kekuasan dan kekayaan akan jatuh ke tangannya. "Hendrawan itu cuma umpan. Targetku sejak awal adalah barang yang kamu pakai ini. Terima kasih sudah membawakannya langsung ke tanganku."

Dunia Aruna menjadi gelap total.

***

Siska tertawa kecil sambil menggenggam kristal itu, lalu memberi isyarat kepada anak buahnya. "Bawa dia ke dalam. Kita tunggu sampai pembeli itu datang. Jangan sampai ada luka, barang ini tidak akan bernilai jika pemilik aslinya mati sebelum ritual pemindahan."

Tubuh Aruna yang tak berdaya diseret kasar masuk ke dalam gudang yang gelap. Pak Baskara dan pengawalnya dibiarkan tergeletak begitu saja di aspal dingin dermaga, dianggap bukan lagi ancaman.

Namun, di balik tumpukan kontainer tua yang hanya berjarak beberapa meter dari gerbang gudang, seorang pria dengan jaket hoodie gelap dan tas kurir di bahunya terdiam. Namanya Rian. Dia seharusnya hanya mengantarkan paket dokumen penting ke kantor pengelola dermaga, namun rute potong kompas yang ia ambil justru membawanya menyaksikan penculikan profesional.

​"Gila... itu tadi beneran diculik?" bisik Rian pada dirinya sendiri. Jantungnya berdegup kencang.

Awalnya Rian ingin lari, namun nuraninya terusik. Ia bukan pria biasa; keahliannya membongkar sistem keamanan membuatnya tahu jalur ventilasi di belakang gudang. Dengan lincah, Rian memanjat dan mengintip ke dalam.

​"Aduh, Rian... jangan jadi pahlawan kesiangan," gumamnya. Tapi tangannya justru bergerak mengambil ponsel di saku, bukan untuk menelpon polisi. Karena ia tahu orang-orang berpakaian hitam itu bukan lawan polisi biasa melainkan mengambil sebuah alat serba guna kecil dari tas kerjanya.

Rian bukan sekadar pengantar paket biasa. Sebagai mantan mekanik yang terbiasa membongkar sistem keamanan gudang-gudang tua, dia tahu ada jalur ventilasi di bagian belakang Gudang 14.

Dengan langkah lincah, Rian memutar, menghindari sorot lampu senter para penjaga. Ia berhasil memanjat dinding berkarat dan mengintip dari celah ventilasi udara.

​Di dalam, Aruna diikat di sebuah kursi kayu di tengah ruangan yang hanya diterangi satu bohlam kuning. Siska berdiri di depannya, sibuk meneliti kristal hasil curiannya dengan senter khusus.

​"Aku harus gerak cepat sebelum mereka melakukan sesuatu yang lebih parah," tekad Rian bulat.

Rian menjatuhkan sebuah kaleng pelumas ke arah berlawanan untuk memancing keluar salah satu penjaga. Prang! Bunyi itu berhasil. Satu penjaga keluar untuk mengecek. Saat itulah Rian melompat turun lewat pipa air, menyelinap masuk melalui pintu samping yang sedikit tterbuka .

​Mata Rian bertemu dengan mata Aruna yang sayu akibat bius. Rian meletakkan jari di bibirnya, memberi isyarat agar Aruna diam.

Aruna menatap pria asing yang tampan namun berantakan itu dengan bingung. Siapa dia? Apakah dia bagian dari rencana Siska, ataukah dia adalah harapan terakhir yang dikirimkan Hutan untuknya?

1
Ida Kurniasari
seruu bgt thorr😍
Angel: Wah, makasih banyak ya Kak Ida! 🥰 Senang banget kalau ceritanya menghibur. Bagian mana nih yang paling bikin nagih?
total 1 replies
Angel
keren
Nadira ST
💪💪💪💪💪💪☕☕☕☕🥰🥰🥰🥰☕
Angel: Wuih, deretan semangatnya sampai sini nih! Terima kasih ya, Nadira ST. Menurut kamu, apa bagian paling menarik dari bab ini? Ditunggu komentarnya lagi ya! 💪🔥
total 1 replies
Murni Dewita
💪💪💪💪
Angel: Aruna emang makin tangguh nih, Kak! 💪 Tapi kira-kira dia sanggup nggak ya ngadepin Paman Hendrawan yang jauh lebih licik? Pantau terus kelanjutannya ya, Kak Murni!
total 1 replies
Lala Kusumah
good job Aruna 👍👍👍👍
Angel: Terima kasih Kak Lala! Aruna emang pantes dapet apresiasi setelah semua pengkhianatan itu. Tapi ujian sebenarnya baru aja dimulai nih. Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Murni Dewita
👣👣
Angel: Wah, jejak Kak Murni sudah sampai sini nih! Menurut Kakak, apa yang bakal terjadi sama Aruna setelah ini? Stay tuned ya! ✨
total 1 replies
Lala Kusumah
astaghfirullah 😭
Angel: Jangan nangis dulu, Kak! Habis ini Aruna bakal kasih kejutan yang jauh lebih besar buat Tristan. Kira-kira apa yang bakal Aruna lakukan selanjutnya ya? Pantau terus besok jam 7 malam ya! 🔥
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!