Hanya tentang seorang perempuan yang menjadi selingkuhan laki-laki yang katanya mencintai nya.. Benarkah ini cinta atau hanya nafsu semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana kimtae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedih dan kecewa
Jeon uring-uringan karena kekasihnya sudah dua hari tidak pulang kerumah.Bahkan kartu hitam yang dia berikan tak melakukan transaksi apapun semenjak Emily keluar dari rumah.Ponsel Emily mati tanpa bisa dilacak dia berada dimana.Mobil pemberian darinya pun ditemukan terparkir di sebuah resto siap saji tanpa ada sang empu didalamnya.
Jeon berpikir apakah kekasihnya makan dengan layak apakah dia tidur dengan nyaman Sungguh kepalanya penuh dengan berbagai pikiran buruk yang sudah menimpa Emily.
"Sialannn kalian semua..."makinya pada beberapa orang yang dia kirimkan untuk mencari kekasihnya.Beberapa orang kepercayaannya sama sekali tak menemukan keberadaan Emily.
"Maafkan kami bos..tapi memang tak ada jejak sama sekali yang di tinggalkan nona Emily"
Bughhhhhh bughhhhhh
"Beraninya kamu menjawab ucapanku"
Jeon menghajar pemuda itu membabi buta, pemuda bernama Steven itu tersungkur dengan wajah berlumuran darah.Teman-temannya yang lain tak ada yang bisa mencegah atau menolong Steven.Mereka tau bos mereka sedang tidak dalam kondisi yang bisa di ajak untuk berdiskusi.
Daniel masuk kedalam ruangan setelah mengetuk pintu,dia melihat beberapa orang sedang tertunduk saat bos mereka memukuli Steven.
"Maaf bos..Tuan dengan nyonya besar sedang dalam perjalanan kemari"
Jeon menghentikan bogemannya pada anak buahnya, dia berbalik tak ingin melihat mereka semua.Daniel langsung menyuruh mereka semua untuk pergi meninggalkan ruangan Jeon.
Jeon berdiri menatap jalanan yang begitu ramai di bawah sana.Tangannya terlihat terluka karena menghajar Steven, dia sungguh sangat merindukan kekasihnya.
"Dimana kamu sayang..."
Pintu terbuka tuan besar Jeon dan istrinya Jeon Hanah masuk kedalam ruangan putranya.Daniel sudah menjelaskan diluar jika bos nya sedang dalam kondisi mood yang jelek.Daniel hanya takut Jeon melampiaskan kemarahannya pada kedua orangtuanya.
"Jeon Respati..."
Jeon menoleh sekilas pada kedua orangtuanya.Dia mendengus menjadi semakin kesal saat melihat ibundanya.
"Ada apa kemari..? bukankah aku bukan lagi anak kalian"
"Hentikan omong kosongmu itu Jeon.."
"Bukankah mami yang mengatakan aku bukanlah bagian dari keluarga Jeon lagi"
Tuan besar Jeon hanya diam menyimak perdebatan diantara keduanya.Memang selama ini dia membiarkan istrinya berbuat sesuka hati tapi dia juga menyayangkan ketika sang istri terlalu gegabah dalam mengambil keputusan.
"Duduklah..papi hanya ingin bertemu denganmu, sudah lama sekali kamu tidak datang kerumah"
"Tanyakan pada nyonya Jeon Hanah yang terhormat, apakah aku tidak pernah berkunjung kerumah"
"Mami hanya bilang jika kamu mengajak gadis itu maka kamu tak akan kubiarkan masuk kedalam rumah.Jika kamu sendiri yang datang pintu rumah itu akan terbuka lebar untuk mu"
"Bukan itu kata-kata yang anda ucapkan saat terakhir kita bertemu "
"Berhentilah berbicara kurang ajar padaku Jeon,hanya karena gadis itu kamu menjadi pembangkang"
"Apa salah dia mih..?dia gak salah.. dari awal aku yang mengejarnya,aku yang lebih dulu menginginkannya"
"Bulshit Jeon.."Dengus Jeon Hanah hendak menjawab ucapan putranya.
"Berhentilah kalian berdua.."tuan Jeon mendesah melihat kelakuan keduanya.
Jeon Respati mendudukkan dirinya di sofa dekat dengan ayahnya.Dia beberapa kali terlihat memijit pelipisnya karena rasa pusing begitu menderanya.
"Ada masalah apa, sehingga kamu tidak datang pada rapat dewan direksi kemarin?"Tuan besar Jeon menatap putranya yang berwajah sangat kusut tak seperti biasanya.
"Mungkin gadis itu melingkari tubuhnya seperti ular, sampai dia tak fokus bekerja "
"Diamlah sayang.. biarkan Respati menjelaskannya"ucap tuan besar Jeon membuat Jeon Hanah mendengus tak suka mendengarnya.
"Emily pergi dari rumah"ujar Jeon sendu.
"Hahahaha jadi kamu dicampakkan..apa yang dia bawa..semua hartamu di ambil olehnya..? sudah ku katakan jauh-jauh hari Jeon kalau gadis itu hanya ingin hartamu.Hanya Namira yang pantas bersanding denganmu"
"Dia tak mengambil apapun dariku.. tidak sepeserpun..teriak Jeon sembari menatap mata ibunya.
"Jeon..jaga ucapanmu"ucap tuan besar Jeon saat melihat Jeon Hanah terpaku ketika mendengar suara putra mereka yang meninggi.
"Dia tidak mengambil apapun dariku, semua yang kuberikan tak ada artinya di matanya.Dia menginginkan pernikahan, dia hanya menginginkan diterima oleh mami.."bahu Jeon merosot turun, matanya memerah berkaca-kaca.Tuan Jeon dan Jeon Hanah baru kali ini melihat kehancuran putra mereka.
"Tolong aku pih..tolong temukan dia,aku bisa gila.."Pria itu menyenderkan kepalanya di kepala sofa, matanya terpejam seperti tak ingin terlihat menangis.
Tuan Jeon mengangkat tangannya untuk menghentikan istrinya supaya tidak membuat Jeon semakin kesal.
"Papi akan membantumu untuk menemukannya tapi kamu harus berjanji untuk fokus pada pekerjaanmu"
Tuan besar Jeon dan Jeon Hanah akhirnya berpamitan setelah mereka memberikan beberapa wejangan pada Jeon.Pria itu juga meminta Jeon Hanah untuk merestui hubungan mereka jika Emily ditemukan.Walaupun perdebatan terjadi begitu alot tetap saja Jeon memenangkan perdebatan itu karena ayahnya ada di pihak dirinya.Jeon Hanah merasa kesal tapi tak bisa berbuat apa-apa.
Saat diperjalanan Tuan besar Jeon mengajak istrinya untuk berdiskusi tentang hubungan putranya.Walaupun Jeon Hanah tak mengatakan iya tapi jauh dilubuk hatinya tuan besar Jeon tau istrinya sangat menyayangi putra semata wayang mereka.
"Biarkan mereka menikah... apakah kamu ingin surat kabar dan televisi menayangkan berita tentang kematian putramu hanya karena hubungannya tak direstui"
Jeon Hanah hanya bisa diam mengunci mulutnya rapat-rapat, karena percuma dia berdebat dengan suaminya.Dia hanya akan mendapatkan kekesalan saja.Ditambah saat melihat raut wajah putranya tadi hatinya begitu sakit sekali.Bisa-bisanya putra kebanggaannya dicampakkan oleh gadis itu .
.
.
Leon masuk kedalam kamar dan melihat gadis kesayangannya masih bergelung dibawah selimut miliknya.Hatinya menghangat saat gadis itu memutuskan untuk menginap di apartemen miliknya.Ini sudah terhitung dua hari mereka bersama berbagi tempat tidur berdua.Walaupun tak ada apapun yang terjadi pada mereka, setidaknya gadis itu sudah mempercayai dirinya untuk dijadikan tempat persembunyian.
Pria itu akhirnya mengetahui siapa Emily,dia mengetahui semuanya tanpa ditutupi oleh gadis itu Apakah itu membuat Leon berhenti mencintainya..? jawabannya tidak..Pria itu semakin mencintai gadis manis itu,dia sangat kesal mengetahui dia hanya dijadikan pemuas nafsu seorang Jeon Respati saja.Sialan memang lelaki tua itu..
Leon berjanji pada Emily akan membiarkan gadis itu tetap disana sampai Emily sendiri yang ingin pulang.
"Sayang..."Leon mengusap lembut rambut halus Emily.Pria itu tak perduli jika gadis didepannya ini sudah memiliki kekasih, yang jelas Leon menginginkan kebahagiaan untuk Emily.
Emily membuka matanya dan melihat wajah Leon begitu dekat, sampai nafas pria itu menerpa hangat di kulit pipi Emily.
"Apa kamu tidak lapar, terus menerus tidur..hmm"
Emily kembali mengubur kepalanya dibawah selimut,gadis itu tak mau terlalu lama menatap wajah tampan milik Leon.
Pria itu terkekeh gemas melihat kelakuan gadis manisnya, ternyata dibalik sifat alfa yang dimiliki Emily gadis itu bisa juga tersipu saat ditatap sedemikian rupa olehnya.
"Sayang..."Leon kembali menggoda Emily sampai Emily kesal dan memukuli lengan Leon.
"Keluarlah..Aku mau mandi dulu"rengekan Emily terdengar begitu seksi di telinga Leon.
"Baiklah tuan putri, silahkan mandi supaya lebih wangi dan lebih cantik.."
Leon keluar setelah mendapatkan lemparan bantal dari Emily.Tawanya masih menggema di apartemen mewah itu membuat Emily mendengus kesal mendengarnya.
Gadis itu mandi hanya sebentar karena dia tidak berendam, dia takut Leon akan kelaparan saat menunggu dirinya selesai mandi.Karena dia hanya membawa membawa satu baju ganti akhirnya dia mencari baju yang bisa dia pakai dilemari Leon.
Pria muda berhidung tinggi itu menganga saat Emily keluar dari kamar.Bagaimana tidak terkejut,gadis itu keluar hanya memakai kemeja putihnya saja.Kemeja yang hanya bisa menutupi area privasi Emily,tapi tak bisa menutupi paha mulus milik gadis itu.Dua kancing yang terbuka membuat tulang selangka milik Emily terekspos begitu saja.
Leon meneguk ludahnya dengan susah payah,dia benar-benar ingin menerkam gadis itu sekarang.
"Ada apa...?maaf aku memakai kemejamu,aku tak punya baju lagi"
Leon hanya menggelengkan kepalanya, wajahnya begitu panas sekarang.Dia meminta Emily segera duduk dan menyantap sarapan mereka.Hanya ada dua sandwich dan segelas susu di meja,dirinya tidak menyukai.Mungkin berbeda jika susu dari sumbernya langsung.
"Nanti aku belikan baju,kamu mau ikut atau tetap disini"
"Gak usah...aku juga berniat untuk pulang"
"Kapan...?"tanya Leon dengan nada tak suka.
"Entah.."ujar Emily mengangkat bahu yang membuat bahu kemeja itu melorot dan semakin menampilkan bahu mulus miliknya.Leon semakin tak konsentrasi saat makan, sungguh dia ingin sekali menggauli gadis itu.
Gadis itu membersihkan meja makan setelah mereka selesai sarapan,dia juga berinsiatif untuk mencuci piring dan gelas yang kotor.Leon hanya memperhatikan dari kursinya apa yang sedang dilakukan oleh Emily.
Gadis itu membelakangi dirinya, Leon semakin terlihat tak bisa lagi menahan hasratnya.Paha belakang milik Emily tersaji di depan matanya, bokong sintalnya tercetak jelas dibalik kemeja transparan itu.
Tanpa sadar Leon mendekati gadis itu melingkarkan tangannya di pinggang ramping milik Emily.Gadis itu terkejut saat sedang mengeringkan tangannya yang baru saja selesai mencuci piring bekas sarapan mereka.
"Aku sangat mencintaimu princess.."bisiknya di telinga Emily.Gadis itu merasa merinding saat nafas hangat Leon menerpa telinganya.
"Aku sudah punya kekasih.."
"Aku siap untuk menjadi yang kedua.."
"Jangan mengatakan yang tidak-tidak"sahut Emily sembari membalikkan tubuhnya.Tangan Leon masih melingkar apik di pinggang sempit miliknya.Kedua tangan Emily mendorong dada Leon supaya menjauh darinya.Tapi jangankan menjauh,tubuh pria itu bergeming juga tidak.
Tiba-tiba saja Leon mengangkat tubuh Emily hingga gadis itu berjengit kaget.Pria itu menggendong tubuh Emily seperti karung beras,tak ada perlawanan karena jujur saja Emily juga menyukai harum tubuh Leon.
Leon membaringkan Emily di tempat tidur,pria itu langsung menyambar bibir semerah Chery milik gadis itu.
"Sayang..aku sudah tidak tahan lagi... sungguh aku ingin melahapmu sekarang.."
Emily terkikik geli mendengar ocehan Leon, dengan gairah yang tinggi keduanya saling melumat dan menyecap bibir dengan intens.
Kewarasan Emily seperti terkikis habis oleh cumbuan pria itu.Desahan Emily terdengar sangat merdu di telinga Leon.
"Aku akan membantumu dengan ini"ucap Emily melambaikan tangan lentiknya di depan wajah Leon.
"Sayang..aku ingin memasuki mu"
Emily mencium bibir Leon dengan rakus,dia tak ingin secepat itu memberikan tubuhnya pada lelaki yang baru dia kenal.
"Belum saatnya..."bisik Emily sembari memasukkan tangannya untuk mencari sesuatu yang sudah akan meledak dibawah sana..