"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"
Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.
Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.
Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BANTUAN DAN GOTONG ROYONG
Lucian dan rombongannya tiba di lokasi serangan sekitar satu jam kemudian. Pemandangan yang menyambut mereka sangat mengerikan dan menyakitkan. Tiga kereta hancur total, persediaan berserakan di mana-mana dan sebagian sudah terbakar hangus, dan lima penjaga tergeletak dengan luka-luka yang sangat serius.
"Segera rawat yang terluka!" perintah Lucian dengan tegas sambil turun dari kudanya.
Dokter yang ikut dalam rombongan langsung bekerja dengan sangat cepat merawat para penjaga yang terluka parah. Lucian memeriksa dengan teliti sisa-sisa persediaan yang mungkin masih bisa diselamatkan.
"Berapa banyak yang hilang?" tanya Lucian pada kapten penjaga yang masih bisa berbicara meski terluka cukup parah.
"Hampir setengah dari total persediaan, Yang Mulia Marquess," jawab kapten itu dengan suara yang sangat lemah. "Para penyerang sangat terorganisir dengan baik. Mereka tahu persis mana persediaan yang paling berharga dan mengambil itu terlebih dahulu."
"Berapa banyak penyerangnya?"
"Sekitar dua puluh orang yang sangat terlatih. Semua memakai topeng hitam yang sama. Tapi ada satu yang sepertinya pemimpin mereka. Dia punya lambang di jubahnya, tapi aku tidak sempat melihat dengan jelas lambang apa."
Lucian mengerutkan kening dengan sangat dalam. Lambang? berarti ini bukan serangan bandit biasa. Ini serangan yang terorganisir dari pihak yang punya sumber daya besar.
"Ada yang mereka katakan? Petunjuk apa pun tentang siapa mereka sebenarnya?"
Kapten itu berpikir dengan sangat keras. "Salah satu dari mereka mengatakan sesuatu seperti 'ini untuk mengajarkan pelajaran pada pangeran yang terlalu ambisius.' Tapi aku tidak sepenuhnya yakin aku mendengar dengan benar karena sudah terluka."
Pangeran yang terlalu ambisius. Jelas sekali merujuk pada Cassian. Berarti ini memang sabotase politik yang sangat terencana.
"Kumpulkan semua persediaan yang masih bisa diselamatkan," perintah Lucian dengan tegas. "Kita bawa kembali ke desa. Dan Kapten, kamu dan penjaga-penjagamu akan mendapat perawatan terbaik yang bisa kami berikan. Aku berjanji."
Saat mereka sedang mengumpulkan sisa persediaan dengan hati-hati, salah satu penjaga menemukan sesuatu yang tersangkut di semak-semak. Sebuah medali yang sepertinya jatuh dari salah satu penyerang saat mereka kabur terburu-buru.
Lucian mengambil medali itu dan memeriksa dengan sangat saksama. Matanya membelalak sangat lebar saat melihat simbol yang terukir di medali tersebut. Itu adalah simbol dari kediaman Blackwood yang sangat khas.
Tapi Duke Blackwood sudah ditangkap dan dipenjarakan. Kecuali ada anggota keluarga lain yang bertindak atas perintah langsung Alexander.
"Simpan ini dengan sangat hati-hati sebagai bukti," ujar Lucian sambil memasukkan medali itu ke dalam sakunya dengan aman. "Kita akan sangat membutuhkan ini nanti."
***
Saat Lucian kembali ke desa dengan berita tentang serangan yang mengerikan, Cassian langsung mengadakan pertemuan darurat dengan semua anggota inti tim.
"Ini jelas sekali sabotase dari kubu Alexander," ujar Cassian dengan kemarahan yang sangat jelas. "Mereka tidak mau kita berhasil di sini karena itu akan sangat meningkatkan kredibilitas kita."
"Tapi sekarang kita punya masalah yang sangat serius," ujar Victoria sambil menghitung persediaan yang tersisa dengan teliti. "Dengan persediaan yang hilang, kita tidak punya cukup untuk menutupi semua keluarga yang butuh bantuan untuk sebulan penuh. Hanya cukup untuk dua minggu saja."
"Bisakah kita meminta persediaan tambahan?" tanya Seraphina dengan nada khawatir.
"Bisa, tapi akan butuh waktu minimal satu minggu untuk mengorganisir dan mengirimkan nya," jawab Duke Henry yang baru saja tiba dengan konvoi ketiga yang untungnya tidak diserang. "Dan itupun kalau tidak ada sabotase lagi di jalan."
Catharina berpikir dengan sangat keras. "Bagaimana kalau kita ubah strategi kita? Daripada hanya memberikan bantuan pangan, kita juga mengajarkan rakyat untuk memaksimalkan sumber daya yang mereka punya. Pengawetan makanan, mencari makanan liar yang bergizi, memancing di sungai yang masih ada airnya."
"Itu ide yang sangat bagus," ujar Victoria dengan mata berbinar. "Dan kita juga bisa mempercepat proyek irigasi. Kalau kita bisa membawa air ke setidaknya beberapa ladang, mereka bisa mulai menanam tanaman yang cepat tumbuh seperti lobak atau sayuran hijau yang bisa dipanen dalam sebulan."
Elder Marcus yang ikut dalam pertemuan mengangguk dengan sangat antusias. "Kami punya benih untuk sayuran yang cepat tumbuh. Tapi kami tidak menanam karena tidak ada cukup air. Kalau Yang Mulia bisa membantu dengan air, kami bisa mulai bertani lagi!"
"Berapa banyak pekerja yang kita butuhkan untuk proyek irigasi?" tanya Cassian dengan serius.
"Dengan alat yang tepat dan organisasi yang baik, mungkin lima puluh pekerja bisa menyelesaikan saluran irigasi dasar dalam dua minggu," perkirakan Lucian yang punya pengalaman dengan proyek konstruksi.
"Kami akan menyediakan pekerja!" ujar Elder Marcus dengan sangat bersemangat. "Banyak petani yang tidak punya pekerjaan sekarang karena tidak ada yang bisa dikerjakan di ladang. Mereka akan dengan sangat senang hati bekerja untuk proyek yang akan menguntungkan semua orang."
"Sempurna!" Cassian berdiri dengan penuh energi. "Ini persis jenis solusi yang kita butuhkan. Bukan hanya amal, tapi pemberdayaan nyata. Kita tidak hanya memberikan ikan, kita mengajarkan cara memancing."
Mereka menghabiskan sisa malam itu merencanakan dengan sangat detail dari pendekatan multi-aspek ini. Catharina akan memimpin program pendidikan tentang pengawetan makanan dan manajemen sumber daya. Victoria akan mengawasi proyek irigasi dengan bantuan dari Lucian yang menangani aspek teknis. Cassian akan melanjutkan distribusi dan juga mulai mengorganisir inisiatif pertanian komunal.
Seraphina akan mendokumentasikan semuanya untuk laporan kembali ke dewan, menunjukkan tindakan konkret dan hasil yang nyata.
Keesokan paginya, program dimulai dengan kekuatan penuh. Catharina mengadakan lokakarya untuk ibu-ibu rumah tangga tentang cara mengawetkan makanan, membuat makanan lebih bergizi dengan sumber daya terbatas, dan mencari makanan tambahan di alam.
"Daun ini," ujar Catharina sambil menunjukkan sayuran liar yang dia pelajari dari ahli herbal lokal, "sangat tinggi nutrisi dan bisa dijadikan salad atau direbus sebagai sayur. Dan ini gratis, tumbuh liar di mana-mana."
Para wanita mencatat dengan sangat serius, beberapa bahkan sudah mulai mengumpulkan tanaman yang Catharina tunjukkan dengan antusias.
Sementara itu, di lokasi proyek irigasi, ratusan pria bekerja menggali saluran dengan semangat yang sangat luar biasa. Lucian dan Victoria mengawasi dengan teliti, memastikan saluran digali dengan kemiringan yang benar agar air bisa mengalir dengan baik.
"Ini benar-benar luar biasa," ujar Victoria sambil melihat ratusan orang bekerja bersama dengan harmonis. "Mereka bekerja jauh lebih keras daripada pekerja bayaran mana pun yang pernah aku lihat."
"Karena mereka bekerja untuk masa depan mereka sendiri," jawab Lucian dengan senyum. "Bukan untuk upah dari orang lain. Itu membuat semua perbedaan yang signifikan. "
Cassian berjalan di antara para pekerja, tidak sebagai pangeran yang memerintah tapi sebagai rekan kerja setara. Dia ikut menggali, ikut mengangkat batu yang berat, ikut berkeringat di bawah terik matahari yang menyengat.
Rakyat yang melihat itu semakin hormat dan loyal padanya. Ini bukan sekadar gertakan untuk terlihat baik. Cassian benar-benar bekerja bersama mereka dengan tulus.
Pada akhir minggu pertama, kemajuannya sudah sangat terlihat jelas. Saluran irigasi utama hampir setengah selesai. Lokakarya pengawetan makanan menghasilkan toples demi toples sayuran yang diawetkan. Kebun komunal mulai ditanami dengan tanaman yang cepat tumbuh. Dan yang paling penting dari semuanya, moral rakyat meningkat dengan sangat drastis.
Tapi yang tidak mereka ketahui, di ibukota yang jauh, Alexander sedang merencanakan langkah balasan yang jauh lebih berbahaya dan mematikan.
***
BERSAMBUNG