Lima tahun Arabella Reese bertahan dalam pernikahan sepi bersama Devano Altair Wren, seorang dokter forensik jenius yang lebih mencintai mayat dan masa lalunya daripada istrinya sendiri. Devan yang dingin dan kaku hanya menganggap pernikahan mereka sebagai hutang budi keluarga.
Puncaknya, di malam ulang tahun pernikahan kelima, dunia Ara runtuh dua kali. Ia menemukan bukti perselingkuhan Devan dengan Liliana, cinta masa lalu suaminya. Di saat yang sama, berita kecelakaan maut merenggut nyawa orang tuanya.
Ara memilih pergi membawa surat cerai, namun takdir justru memaksanya kembali bersinggungan dengan Devan. Saat kebenaran tentang konspirasi kematian orang tua mereka mulai terungkap melalui jejak forensik, Devan sadar ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya. Kini, sang dokter harus memilih: membedah misteri masa lalu yang kelam, atau menjahit kembali hati istrinya yang telah ia hancurkan berkeping-keping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan di Balik Mikroskop
Ruang sidang kembali riuh rendah setelah jam istirahat berakhir. Ara duduk dengan gelisah; ia baru saja mendapatkan salinan rekaman CCTV dari lokasi kejadian yang dikirim oleh informan anonim. Rekaman itu menunjukkan seseorang yang sangat mirip dengan kliennya masuk ke gedung pada jam kematian korban. Jika rekaman ini asli, argumen alibi yang ia bangun selama berbulan-bulan akan hancur lebur dalam sekejap.
Di seberang ruangan, Devan kembali duduk di kursi saksi. Namun, ada yang berbeda dari wajahnya. Ia tidak lagi menatap hakim, melainkan terus-menerus menatap layar tablet forensiknya dengan dahi yang berkerut dalam.
"JPU, ada tambahan bukti?" tanya Hakim Ketua.
"Ada, Yang Mulia. Kami baru saja menerima bukti digital berupa rekaman CCTV yang mengonfirmasi keberadaan terdakwa di lokasi," ujar Jaksa dengan nada kemenangan.
Ara merasakan jantungnya merosot. Ia melirik Alaska di bangku penonton yang tampak ingin merangsek maju untuk melindunginya. Ara berdiri, tangannya sedikit gemetar. "Yang Mulia, pembela memohon penundaan untuk memverifikasi keaslian rekaman ini."
"Interupsi, Yang Mulia," suara Devan memotong, dingin dan tajam. "Sebagai saksi ahli, saya baru saja menerima laporan metadata dari tim digital forensik kepolisian yang menganalisis sampel DNA yang saya paparkan tadi pagi."
Suasana mendadak senyap. Devan berdiri, menatap lurus ke arah Ara, namun tatapannya bukan lagi tatapan menantang, melainkan tatapan peringatan.
"Saya menemukan anomali pada sampel DNA di bawah kuku korban," lanjut Devan. "Meskipun DNA itu identik dengan terdakwa, struktur proteinnya menunjukkan tanda-tanda preservasi laboratorium yang tidak wajar. Artinya... DNA itu kemungkinan besar dipindahkan secara sengaja setelah korban meninggal."
"Apa maksud Anda, Dokter Devan?" Hakim Ketua condong ke depan.
"Maksud saya, ada pihak yang memanipulasi bukti medis ini," Devan mengalihkan pandangannya ke arah jaksa dan pengacara secara bergantian. "Dan lebih dari itu, rekaman CCTV yang baru saja disebutkan... metadata-nya menunjukkan bahwa file itu dibuat baru saja menggunakan kecerdasan buatan (AI) yang sangat canggih. Seseorang tidak hanya ingin menjebloskan terdakwa, tapi seseorang ingin menghancurkan karier Pengacara Arabella dengan memberikan bukti palsu yang tampak sangat meyakinkan."
Perlindungan dalam Bayangan
Sidang ditunda secara mendadak. Kekacauan pecah di luar ruang sidang. Para wartawan mengerumuni Ara, menuduhnya menggunakan bukti palsu atau menjadi bagian dari konspirasi.
Alaska segera merangkul bahu Ara, mencoba membawanya keluar dari kerumunan. "Ayo, Ra! Jangan bicara pada mereka! Ini jebakan!"
Namun, sebuah tangan kuat menarik lengan Ara yang lain. Devan berdiri di sana, mengabaikan kilatan kamera.
"Ikut aku lewat pintu belakang, Ara. Alaska, bawa mobilmu ke gerbang utara sebagai pengalih. Mereka mengincar mobilmu," perintah Devan dengan nada otoritas yang tak terbantah.
Alaska sempat ingin membantah, namun ia melihat keseriusan di mata Devan. "Baik. Jangan sampai lecet sedikit pun, Devan. Atau aku sendiri yang akan mengotopsimu."
Devan menarik Ara melewati lorong rahasia para hakim menuju area parkir bawah tanah. Sesampainya di sana, Devan mengunci pintu akses. Hanya ada kesunyian yang berat di antara mereka.
"Mas... kenapa kau melakukan itu?" bisik Ara, napasnya tersengal. "Kau baru saja mempertaruhkan reputasimu dengan meragukan hasil laboratoriummu sendiri di depan publik."
"Karena kau dalam bahaya, Ara," Devan memegang kedua bahu Ara, memaksanya menatap matanya. "Siapa pun yang menjebak klienmu, mereka tahu kau akan menggunakan bukti CCTV itu. Mereka ingin kau mempresentasikan bukti palsu agar kau dicabut izin prakteknya dan dituduh melakukan manipulasi kasus. Mereka tidak hanya mengincar klienmu... mereka mengincarmu."
Ara terpaku. "Kenapa? Aku hanya pengacara kecil..."
"Karena kau adalah Arabella Reese," suara Devan melunak. "Dan seseorang di luar sana—mungkin sisa-sisa jaringan kakekku—ingin kau hancur sebagai bentuk balas dendam padaku. Mereka tahu menyerangmu adalah satu-satunya cara untuk membunuhku secara perlahan."
"Aku tidak butuh dilindungi, Mas," ucap Ara, mencoba melepaskan diri meski hatinya bergetar.
"Aku tahu kau tidak butuh, tapi aku harus melakukannya," Devan mendekat, jarak mereka kini begitu tipis hingga Ara bisa merasakan panas tubuh suaminya. "Lima tahun aku membiarkanmu menghadapi bahaya sendirian. Tidak untuk kali ini, Ara. Meskipun kau membenciku, meskipun kau lebih memilih Alaska... aku akan tetap menjadi dinding yang menghalangi setiap peluru yang menuju ke arahmu."
Tiba-tiba, suara langkah kaki bergema di parkiran yang luas itu. Devan segera menarik Ara ke balik pilar besar, mendekapnya erat. Ia meletakkan jari di bibir Ara, menyuruhnya diam.
"Mereka sudah di sini," bisik Devan di telinga Ara. "Pihak ketiga itu... mereka tidak menunggu sampai sidang besok."
tuh kan .... Ara mah emang kedemenan nya ama Devan /Sob/
kasian Alaska🤭
ada 2 tim nih ,
tim Devan & tim Alaska
awalnya aku tim Alaska ....
pas dibaca terus kok ..... Devan berubah yaa...
/Chuckle//Chuckle/
bantu vote.. /Chuckle/