Satu tabrakan mengubah segalanya.
Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."
Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.
Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.
Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23: Isolasi Total
Satu minggu setelah penculikan, Arsen membuat keputusan.
Ia melihat bagaimana Aluna tidak bisa tidur dengan nyenyak selalu terbangun dengan mimpi buruk, selalu memeriksa apakah Arsen masih bernapas di sampingnya. Ia melihat bagaimana setiap bunyi keras membuat Aluna terlonjak ketakutan, bagaimana setiap kali ada orang asing mendekati mansion, Aluna langsung bersembunyi di belakang Arsen.
Trauma itu tidak hilang. Bahkan semakin buruk.
Dan Arsen sendiri tidak lebih baik. Ia tidak bisa meninggalkan Aluna bahkan untuk pergi ke kantor. Setiap kali ia mencoba, serangan panik menyerangnya jantung berdebar, napas tersengal, pikiran dipenuhi dengan gambaran Aluna diculik lagi, terluka lagi, hilang lagi.
Mereka berdua sakit. Secara psikologis, secara emosional.
Dan Arsen tahu apa yang mereka butuhkan.
Mereka butuh menjauh. Jauh dari dunia yang penuh ancaman. Jauh dari Darren yang entah di mana (polisi tidak bisa menemukannya setelah kejadian di gudangbia menghilang seperti hantu). Jauh dari semua orang dan segalanya yang bisa memisahkan mereka.
"Aluna," panggil Arsen saat mereka sedang sarapan pagi itubatau lebih tepatnya, Arsen menyuapi Aluna karena Aluna tidak punya selera makan sendiri akhir-akhir ini.
"Hmm?" Aluna menatap Arsen dengan mata yang masih dipenuhi kelelahan.
"Kita pergi," ucap Arsen sambil tangannya menyentuh pipi Aluna dengan lembut. "Pergi dari sini. Dari Jakarta. Dari semua... kenangan buruk ini."
Aluna mengernyit sedikit.
"Pergi ke mana?"
"Pulau pribadiku," jawab Arsen. "Di Kepulauan Seribu. Tidak ada orang lain di sana kecuali kita berdua dan beberapa staff yang akan tinggal di villa terpisah. Hanya kita. Hanya aku dan kamu."
Ia menatap mata Aluna dengan tatapan yang penuh harapan.
"Kita butuh ini, Aluna. Kita butuh menjauh dari dunia yang terus menyakiti kita. Kita butuh... menyembuhkan. Bersama. Hanya berdua."
Aluna menatapnya lama, lalu mengangguk pelan.
"Baik," bisiknya. "Kita pergi."
Dua hari kemudian, mereka berangkat.
Arsen mengatur semuanya jet pribadi yang akan membawa mereka ke pulau, villa yang sudah disiapkan dengan segala kebutuhan, bahkan dokter dan psikolog yang akan standby jika dibutuhkan (meski di villa terpisah).
Di jet pribadi, Aluna duduk di samping Arsen dengan tangan mereka bertautan erat. Aluna menatap keluar jendela melihat Jakarta yang perlahan menjauh dengan perasaan campur aduk.
Sebagian dirinya lega. Lega untuk menjauh dari tempat di mana ia diculik, dari kota yang penuh dengan kenangan trauma.
Tetapi sebagian lain... takut. Takut akan isolasi total. Takut bahwa dengan menjauh dari dunia, mereka akan tenggelam lebih dalam dalam ketergantungan yang tidak sehat ini.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Arsen sambil ibu jarinya mengelus punggung tangan Aluna.
Aluna menoleh, menatap Arsen pria yang sudah menjadi segalanya baginya, yang sudah menjadi alasan ia bangun setiap pagi, yang sudah menjadi... candu.
"Saya tidak tahu," jawabnya jujur. "Saya takut dan lega pada saat yang sama."
Arsen menarik Aluna ke dalam pelukannya, membiarkan kepala Aluna bersandar di dadanya.
"Aku akan menjagamu," bisiknya sambil mencium puncak kepala Aluna. "Di pulau itu, tidak ada yang bisa menyakitimu. Tidak ada Darren. Tidak ada ancaman. Hanya kita. Hanya... kedamaian."
Aluna menutup matanya, mendengarkan detak jantung Arsen yang teratur suara yang sudah menjadi lullaby nya, yang sudah menjadi satu-satunya hal yang bisa membuatnya tenang.
"Janji?" bisiknya.
"Janji," jawab Arsen dengan yakin.
Pulau pribadi Arsen adalah surga tersembunyi.
Pasir putih yang halus, air laut biru jernih, pepohonan kelapa yang melambai tertiup angin, dan villa modern yang megah namun hangat dengan dinding kaca besar yang menghadap ke laut, kamar-kamar luas dengan tempat tidur empuk, dan dapur lengkap dengan segala fasilitas.
Villa utama untuk mereka berdua terpisah cukup jauh dari villa staff memberikan privasi total.
Saat mereka tiba, matahari sudah mulai terbenam, mewarnai langit dengan gradasi oranye dan ungu yang memukau.
Arsen membawa koper-koper mereka masuk sementara Aluna berdiri di teras villa, menatap pemandangan laut yang membentang luas di hadapannya.
Untuk pertama kalinya dalam dua minggu, ia merasakan... sesuatu. Bukan ketakutan. Bukan kekosongan. Tetapi... kedamaian kecil.
"Indah, bukan?" suara Arsen terdengar dari belakang. Ia berjalan mendekat, tangannya melingkari pinggang Aluna dari belakang, dagunya bertengger di bahu Aluna.
"Sangat indah," bisik Aluna sambil tangannya menyentuh tangan Arsen yang melingkari pinggangnya.
"Ini semua untukmu," ucap Arsen. "Pulau ini, villa ini, seminggu ini. Hanya untukmu. Untuk kita."
Ia memutar tubuh Aluna perlahan hingga menghadapnya, kedua tangannya memegang wajah Aluna dengan lembut.
"Di sini," bisiknya sambil menatap dalam ke mata Aluna, "kita bisa menjadi siapa pun yang kita inginkan. Kita tidak perlu takut. Tidak perlu bersembunyi. Kita bisa... menyembuhkan."
Aluna merasakan air mata menggenang di matanya bukan air mata sedih, tetapi air mata yang... penuh harapan.
"Bantu saya menyembuhkan," bisiknya. "Tolong."
Arsen menarik Aluna ke dalam pelukannya yang erat.
"Aku akan membantu," janjinya. "Dan kamu akan membantuku juga. Kita akan menyembuhkan bersama."
Hari pertama di pulau berlalu dengan tenang.
Mereka bangun pagi atau lebih tepatnya, Arsen bangun pagi karena sudah terbiasa, sementara Aluna masih tertidur dalam pelukannya. Arsen tidak membangunkan Aluna. Ia hanya berbaring di sana, menatap wajah Aluna yang damai dalam tidur wajah yang tidak dipenuhi ketakutan seperti saat terjaga.
Ini adalah pertama kalinya dalam dua minggu Aluna tidur lebih dari empat jam tanpa terbangun dari mimpi buruk.
Pulau ini bekerja. Isolasi ini bekerja.
Saat Aluna akhirnya terbangun, ia menemukan Arsen menatapnya dengan senyum lembut.
"Pagi," bisik Arsen.
"Pagi," balas Aluna, suaranya serak karena baru bangun. "Berapa lama Anda menatap saya seperti itu?"
"Sekitar... satu jam," jawab Arsen tanpa rasa bersalah. "Aku suka menatapmu tidur. Kamu terlihat... damai."
Aluna seharusnya merasa creepy ditonton tidur selama satu jam. Tetapi entah kenapa, ia merasa... aman. Dicintai.
"Ayo sarapan," ajak Arsen sambil bangkit dari tempat tidur. "Aku sudah minta staff menyiapkan sarapan dan meninggalkannya di meja makan. Kita berdua saja di villa ini."
Sarapan terdiri dari buah-buahan segar tropis, roti panggang dengan selai, telur orak-arik, dan jus jeruk segar. Mereka makan di teras yang menghadap laut, angin sepoi-sepoi menerpa wajah mereka dengan lembut.
"Apa yang ingin kamu lakukan hari ini?" tanya Arsen sambil menyuapi Aluna kebiasaan yang sudah terbentuk pasca trauma.
Aluna mengunyah perlahan, memikirkan.
"Saya ingin... berjalan di pantai," ucapnya pelan. "Hanya berjalan. Merasakan pasir di kaki. Merasakan... hidup lagi."
Arsen tersenyum senyum yang tulus, yang hangat.
"Maka kita akan berjalan."
Sore hari, mereka berjalan di sepanjang pantai dengan tangan bertautan. Kaki mereka telanjang, merasakan pasir putih yang lembut dan sesekali air laut yang dingin menyentuh kaki mereka.
Aluna menutup matanya, merasakan angin laut, mendengar suara ombak yang menenangkan, mencium aroma laut yang asin.
"Terima kasih," bisiknya tiba-tiba.
Arsen menoleh, menatap Aluna dengan tatapan bertanya.
"Untuk apa?"
"Untuk ini," jawab Aluna sambil tangannya merentang menunjuk ke pantai, ke laut, ke langit. "Untuk membawa saya ke sini. Untuk... mencoba menyembuhkan kami berdua."
Arsen berhenti berjalan, menarik Aluna menghadapnya. Tangannya memegang wajah Aluna dengan lembut.
"Aku yang harus berterima kasih," ucapnya dengan suara bergetar sedikit. "Terima kasih karena tetap bersamaku meski aku menunjukkan sisi tergelap dariku. Terima kasih karena tidak lari setelah melihat aku... memukuli Darren. Terima kasih karena masih mencintaiku meski aku monster."
Aluna menggelengkan kepala, tangannya menyentuh tangan Arsen yang ada di pipinya.
"Anda bukan monster," bisiknya. "Anda hanya... pria yang mencintai dengan cara yang berbeda. Dan saya... saya mencintai pria itu. Dengan semua kegelapannya."
Arsen menarik napas gemetar, lalu mencium Aluna—ciuman yang lembut, yang penuh cinta, yang berbeda dari ciuman-ciuman possessive sebelumnya. Ini adalah ciuman yang... menyembuhkan.
Saat mereka terpisah, Arsen menarik Aluna ke dalam pelukannya, keduanya menatap matahari yang mulai terbenam di cakrawala mewarnai langit dengan warna-warna yang memukau.
"Kita akan baik-baik saja," bisik Arsen. "Kita akan menyembuhkan. Bersama."
Aluna mengangguk di dadanya.
"Bersama," ulangnya.
Malam kedua, setelah makan malam romantis di tepi pantai dengan lilin-lilin dan bintang-bintang sebagai penerangan, mereka berbaring di tempat tidur dengan jendela terbuka membiarkan suara ombak mengisi keheningan.
Aluna berbaring menghadap Arsen, tangannya menyentuh wajah pria itu dengan lembut menelusuri garis rahangnya, hidungnya, bibirnya.
"Arsen," panggilnya pelan.
"Hmm?"
"Saya ingin... melupakan apa yang terjadi," bisiknya. "Saya ingin melupakan penculikan. Melupakan trauma. Melupakan... segalanya. Dan hanya mengingat ini. Mengingat kita."
Arsen menatapnya dengan tatapan yang lembut.
"Maka kita akan membuat kenangan baru," ucapnya sambil tangannya mengelus pipi Aluna. "Kenangan yang indah. Kenangan yang akan menggantikan yang buruk."
Ia menarik Aluna lebih dekat, hingga tidak ada jarak di antara mereka.
"Mulai dari sekarang," bisiknya dengan suara serak, "kita akan menciptakan surga kecil kita sendiri. Di pulau ini. Hanya kita berdua."
Aluna tersenyum senyum tulus pertamanya dalam dua minggu.
"Surga kecil kita," ulangnya.
Mereka menghabiskan malam itu saling berpelukan, berbisik kata-kata lembut, mencium dengan penuh cinta tidak terburu-buru, tidak possessive, hanya... intim dengan cara yang menyembuhkan.
Hari-hari berikutnya di pulau berlalu seperti mimpi.
Mereka bangun dengan matahari, sarapan di teras, berjalan di pantai, berenang di laut yang jernih, berjemur sambil membaca buku, memasak bersama (atau lebih tepatnya, Arsen mencoba memasak sementara Aluna tertawa melihat usahanya yang kacau), makan malam romantis dengan matahari terbenam sebagai latar, dan tidur dengan bintang-bintang di atas mereka.
Tidak ada ponsel yang berdering setiap lima menit. Tidak ada meeting yang harus dihadiri. Tidak ada ancaman. Tidak ada ketakutan.
Hanya mereka berdua dan alam.
Perlahan sangat perlahan Aluna mulai tertawa lagi. Senyumnya mulai sering muncul. Mimpi buruknya mulai berkurang.
Dan Arsen... Arsen mulai tidur lebih nyenyak. Serangan paniknya mulai reda. Ia mulai bisa bernapas tanpa merasa seperti dunia akan runtuh setiap saat.
Mereka menyembuhkan.
Tetapi bukan secara terpisah. Mereka menyembuhkan dengan cara yang... saling bergantung. Mereka menjadi lebih dekat. Lebih terikat. Lebih... tidak bisa dipisahkan.
Di hari kelima, saat mereka duduk di tepi pantai sambil menatap matahari terbenam, Aluna bersandar di bahu Arsen.
"Saya tidak ingin pulang," bisiknya. "Saya ingin tinggal di sini selamanya. Hanya kita berdua."
Arsen mencium puncak kepala Aluna.
"Aku juga," bisiknya. "Tetapi dunia luar masih menunggu. Bisnis, tanggung jawab, kehidupan."
"Apa kita harus kembali?" tanya Aluna dengan suara kecil.
Arsen memutar tubuh Aluna menghadapnya, kedua tangannya memegang wajah Aluna.
"Kita akan kembali," ucapnya dengan lembut. "Tetapi kita akan kembali lebih kuat. Kita akan kembali bersama. Dan tidak ada yang bisa memisahkan kita lagi."
Ia menatap dalam ke mata Aluna.
"Di dunia luar, mungkin orang akan bilang hubungan kita tidak sehat. Mungkin mereka akan bilang kita terlalu bergantung satu sama lain. Tetapi aku tidak peduli. Karena kamu... kamu adalah udara yang aku hirup. Dan tanpamu, aku tidak bisa bernapas."
Aluna merasakan air mata mengalir tetapi ini adalah air mata bahagia.
"Dan Anda adalah jantung yang membuat saya hidup," bisiknya. "Tanpa Anda, saya tidak akan selamat."
Mereka mencium dengan lembut, dengan cinta yang sudah melampaui batas normal cinta yang obsesif, yang bergantung, tetapi juga... tulus.
Hari terakhir di pulau, malam sebelum mereka harus kembali ke Jakarta, Arsen membangunkan Aluna di tengah malam.
"Ayo," bisiknya sambil mengulurkan tangan. "Ada yang ingin ku tunjukkan."
Aluna, meski masih mengantuk, mengikuti Arsen keluar villa. Mereka berjalan ke pantai yang gelap, hanya diterangi oleh bulan purnama yang bersinar terang.
Dan di sana, di pasir pantai, Arsen sudah menyiapkan selimut dan bantal.
"Berbaring," ucap Arsen sambil duduk dan menepuk tempat di sampingnya.
Aluna berbaring di samping Arsen, dan Arsen langsung menariknya ke dalam pelukan, membuat Aluna bersandar di dadanya.
"Lihat ke atas," bisik Arsen.
Aluna menatap ke langit dan napasnya tercekat.
Langit malam dipenuhi dengan bintang-bintang yang tidak terhitung jumlahnya. Tanpa polusi cahaya kota, bintang-bintang itu bersinar dengan jelas, membentuk galaksi yang memukau.
"Indah," bisik Aluna dengan kagum.
"Seperti kamu," balas Arsen sambil mencium puncak kepala Aluna. "Sama indahnya dengan bintang-bintang itu."
Mereka berbaring di sana, menatap bintang-bintang, mendengar suara ombak, merasakan angin laut yang sejuk.
"Arsen," panggil Aluna pelan setelah lama terdiam.
"Ya?"
"Terlepas dari semua yang terjadi penculikan, trauma, ketergantungan yang tidak sehat saya tidak menyesal," bisiknya. "Saya tidak menyesal jatuh cinta pada Anda. Saya tidak menyesal menjadi milik Anda."
Arsen merasakan dadanya sesak mendengar kata-kata itu.
"Aku juga tidak menyesal," bisiknya dengan suara bergetar. "Bahkan jika aku harus melewati neraka yang sama lagi, aku akan melakukannya. Karena itu membawaku padamu."
Ia memutar tubuh sedikit agar bisa menatap wajah Aluna yang diterangi cahaya bulan.
"Aku mencintaimu, Aluna Pradipta," ucapnya dengan serius. "Dengan setiap napas yang aku ambil. Dengan setiap detak jantungku. Aku mencintaimu lebih dari yang bisa diungkapkan kata-kata."
Aluna tersenyum senyum yang tulus, yang damai.
"Dan saya mencintai Anda, Arsen Mahendra," balasnya. "Dengan cara yang mungkin salah di mata dunia. Tetapi benar di hati saya."
Mereka mencium di bawah langit berbintang, dengan ombak sebagai saksi, dengan bulan sebagai penerangan.
Dan untuk sesaat hanya sesaat mereka melupakan semua trauma, semua kegelapan, semua ketergantungan yang tidak sehat.
Yang ada hanya cinta.
Cinta yang gelap, yang obsesif, yang salah.
Tetapi cinta yang nyata.
Dan itu sudah cukup
...Jangan lupa VOTE ⭐ COMMENT 💬 dan SHARE 🔄 ya!...
...OH MY GOD! 😭💕 Seminggu di pulau pribadi itu... HEALING ERA mereka! Akhirnya mereka bisa bernapas lega, tertawa lagi, menyembuhkan bersama!...
..."Kamu adalah udara yang aku hirup" dan "Anda adalah jantung yang membuat saya hidup" - COUPLE GOALS atau RED FLAG sih? 😭🔥...
...Scene di bawah bintang-bintang itu... SO ROMANTIC! Akhirnya ada moment manis tanpa trauma!...
...Tapi... apakah healing di isolasi total ini benar-benar sehat? Atau mereka cuma makin tidak bisa lepas satu sama lain? 🤔...
...Dan mereka harus balik ke Jakarta... ke dunia nyata di mana Darren masih hilang somewhere out there... 😱...
...Kalian siap nggak buat drama yang bakal datang setelah mereka balik?...
...Follow untuk update part selanjutnya!...