Syra Aliyah Farhana, seorang gadis kota yang hidup bebas dengan deru mesin motor, mendapati dunianya jungkir balik saat dipaksa "mondok" dan dijodohkan dengan putra mahkota Pesantren Al-Fathan. Ia datang dengan jaket denim robek dan knalpot bising, siap untuk memberontak.
Namun, ia harus berhadapan dengan Arkanza Farras Zavian, Gus muda yang berwibawa, dingin, dan tak mudah goyah oleh gertakan. Di tengah aroma kopi dan lantunan kitab kuning, Syra terjebak dalam perjanjian yang merampas fasilitas mewahnya. Di balik tembok pesantren, ia tidak hanya harus berhadapan dengan aturan yang mencekik, tapi juga rahasia hati, kecemburuan, dan masa lalu yang mengejarnya dari Jakarta.
Ini bukan sekadar tentang perjodohan, tapi tentang perjalanan mencari arah pulang di tempat yang Syra sebut sebagai "Neraka Suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Skakmat sang ning di kursi pesakitan
Lantai marmer koridor Dhalem terasa dingin di bawah sepatu boots Syra, tapi darah di nadinya mendidih. Ia bisa melihat dua santri penjaga di depan pintu jati ruang sidang utama mulai bersiap menghalangnya. Wajah mereka tegang, tahu bahwa gadis di depan mereka ini adalah sumber masalah yang sedang disidangkan di dalam.
"Mbak Syra, mohon maaf, sidang ini tertutup untuk umum dan..."
"Minggir atau gue patahin tangan lo kayak Arkan matahin tangan Fariz semalam," desis Syra dengan suara rendah yang sangat mengancam. Sorot matanya begitu liar hingga kedua penjaga itu ragu sejenak.
Syra tidak menunggu jawaban. Dengan satu sentakan kuat, ia mendorong pintu jati ganda itu hingga terbuka lebar.
BRAAAKKK!
Suara pintu yang menghantam dinding bergema di seluruh ruangan yang tadinya hening mencekam. Seluruh pasang mata—Dewan Masyayikh yang terdiri dari tujuh Kyai sepuh berjanggut putih, pengurus senior, hingga Kyai (Ayah Arkan)—seketika menoleh ke arah pintu.
Di tengah ruangan, Arkanza sedang duduk bersila di atas lantai tanpa alas kursi, kepalanya menunduk sebagai tanda tawadhu dan kepatuhan. Ia mendongak perlahan, matanya membelalak melihat Syra berdiri di sana dengan nafas memburu dan laptop yang masih menyala di tangan kirinya.
"Syra? Keluar!" perintah Arkanza, suaranya bergetar antara cemas dan protektif. "Ini bukan tempatmu."
"Justru ini tempat gue, Arkan! Karena semua fitnah ini dimulai gara-gara gue!" Syra melangkah masuk ke tengah lingkaran para Kyai, mengabaikan gumaman "Astaghfirullah" yang keluar dari mulut para tetua.
"Nak Syra," suara Kyai—Ayah Arkan—terdengar berat dan penuh luka. "Kami sedang mencoba menyelesaikan urusan martabat pesantren. Tolong jangan memperkeruh suasana."
"Martabat? Martabat apa yang mau dijaga kalau kalian menghukum orang yang benar demi melindungi ular berbisa yang pake mukena?" Syra membanting laptopnya ke atas meja kayu di depan Kyai. "Lihat ini, semuanya! Lihat video yang nggak dipotong!"
Syra menekan tombol play. Layar laptop itu menampilkan rekaman CCTV gerbang belakang. Seluruh Kyai sepuh condong ke depan, menyipitkan mata. Mereka melihat Fariz Haidar, mereka melihat obat bius, dan yang paling mematikan—mereka melihat sosok wanita bercadar menyerahkan kunci gudang.
"Perhatikan jam tangannya," Syra melakukan freeze frame dan melakukan zoom-in hingga layar dipenuhi gambar jam tangan Rose Gold mungil itu.
Syra kemudian berbalik, menunjuk langsung ke arah Sabrina yang duduk di sudut ruangan di belakang Umi. "Ning Sabrina, bisa tolong tunjukin tangan kiri lo ke para Kyai? Atau lo mau gue puter bukti mutasi rekening yayasan sebesar lima puluh juta ke rekening Fariz Haidar yang lo otorisasi sendiri jam dua pagi tadi?"
Wajah Sabrina yang tadinya pucat kini berubah menjadi seputih kain kafan. Baki teh di tangannya bergetar hebat sebelum akhirnya jatuh ke lantai.
PRYAAARRR!
Pecahan porselen itu seolah menjadi tanda berakhirnya sandiwara Sabrina. Ia jatuh bersimpuh, tangisnya pecah—bukan tangis sedu sedan yang cantik, tapi tangis ketakutan yang histeris. "Kyai... Umi... saya... saya hanya ingin menyelamatkan Gus Arkan dari pengaruh dia! Saya nggak maksud..."
"Kamu menyewa preman untuk menculik calon istri saudaramu sendiri, Sabrina?" suara Kyai terdengar sangat dingin, sebuah nada yang jauh lebih menakutkan daripada amarah meledak-ledak. "Kamu menggunakan uang umat untuk memfitnah imammu?"
Arkanza berdiri perlahan. Ia menatap Sabrina dengan tatapan kosong, lalu beralih menatap Syra. Ada rasa bangga yang luar biasa di matanya, melihat bagaimana gadis "barbar" ini bertarung habis-habisan untuknya menggunakan caranya sendiri.
"Sidang dibatalkan," ucap Kyai sambil berdiri, suaranya bergetar menahan kecewa. "Arkanza, maafkan Abi. Dan untuk Sabrina... mulai hari ini, lepaskan semua jabatanmu. Kamu akan dipulangkan ke pesantren orang tuamu untuk menjalani masa takzir (hukuman) hingga waktu yang tidak ditentukan. Jangan pernah injakkan kaki di Al-Fathan sebelum hatimu bersih."
Sabrina diseret keluar oleh beberapa santriwati senior sambil terus memohon ampun. Ruangan itu perlahan kosong, menyisakan Arkanza dan Syra di tengah keheningan yang kini terasa melegakan.
Arkanza melangkah mendekati Syra. Ia berdiri tepat di depan gadis itu, menatap noda oli yang masih ada di ujung jaket denim Syra.
"Lo telat lagi, Gus. Harusnya lo yang ngebongkar dia," ucap Syra ketus, meski matanya berkaca-kaca.
Arkanza tidak menjawab. Ia justru menarik Syra ke dalam pelukannya, mendekapnya erat di depan meja sidang yang baru saja menjadi saksi bisu kemenangan mereka. "Terima kasih, Sayang. Ternyata benar, saya butuh seorang 'Alpha' untuk menjaga saya saat saya terlalu sibuk menjaga orang lain."
Syra tertegun mendengar kata "Sayang" keluar dari mulut sang Gus untuk pertama kalinya. Ia membalas pelukan itu, menyembunyikan wajahnya di dada Arkanza yang beraroma kayu cendana.
"Jadi... kelas mengaji gue tetep lanjut?" bisik Syra.
Arkanza terkekeh pelan, kecupan lembut mendarat di ubun-ubun Syra. "Tentu. Tapi setelah ini, kamu yang jadi gurunya. Ajari saya cara melacak jejak digital... dan mungkin, ajari saya cara lebih 'barbar' dalam menghadapi musuh."
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...