Butuh waktu mengenal dan butuh perjuangan untuk mempertahankan sebuah perasaan . Jika sudah ada kesepakatan maka ikatan akan membuat sebuah hubungan menjadi sakral .
"Cintaku bukan cinta sesaat dan bukan sekedar kata kiasan ," bisik hati yang memendam perasaan .
Apakah cinta itu akan berlanjut atau hanya sementara waktu ?
ikuti kisahnya hanya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anyue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 3. BCS
Ombak bergulung bersama suara gemercik air menjorok ke pantai. Sekian lama tidak pernah singgah di tempat itu mengingatkan kenangan beberapa tahun lalu.
Pandangan mata itu tertuju pada seorang perempuan sedang bermain papan selancar dengan lincah, Pikiran Albi menerawang.
Udara dingin menerpa wajahnya yang lembab membuat kulitnya terasa sejuk. Sesekali tersenyum namun senyuman itu hilang ketika seseorang datang mengejutkannya.
"Melamun terus," sapa Bisma menepuk bahu Albi.
“Kamu ini kebiasaan banget bikin orang jantungan," Albi berdecak kesal.
"Apa kamu menyesal?" tanya Bisma melihat raut wajah Albi yang tidak bersemangat.
"Dia kembali," ucap Albi memainkan pasir dengan kakinya membentuk sebuah lingkaran.
“Ya, aku tahu itu. Apakah kamu bertemu langsung dengannya atau sudah... ehem," Bisma mempraktekkan menggunakan tangannya yang sedang beradu .
Albi bersikap acuh. "Dia sudah punya pacar," tatapannya masih fokus didepan.
Bisma terkejut mendengar perkataan Albi tapi tidak percaya. Bisma tahu Prasasti di luar sana hanya saja masalah pribadinya kurang tahu.
"Kamu juga punya Dania, kan!" Bisma mengingatkan, namun tidak setuju jika Albi menikah dengan perempuan itu.
"Aku tidak mau mendengar namanya hanya bikin muak," sewot Albi.
“Kalau kamu setuju dengan pilihan orang tuamu kenapa tidak daripada menunggu tapi tidak ada jawaban," ucap Bisma.
Albi menghela napas panjang lalu menghembuskan perlahan. "Aku belum siap menikah, tapi orang tuaku meminta untuk segera menikah,"
"Nah itu dia, masalahnya kamu itu sudah tua harusnya sadar diri," Bisma sambil menunjuk Albi dengan jari telunjuknya.
"Tidak usah ajari aku soal sadar diri, dari dulu aku sadar siapa aku tapi masalahnya perempuan itu yang membuatku susah move on," jelas Albi dengan perasaan gelisah.
"Aku paham apa yang kamu rasakan saat ini, aku kasih saran cobalah dekati lagi Prasasti siapa tahu dia mau sama kamu, meskipun sebagai teman atau sahabat," ucap Bisma kemudian meninggalkan Albi agar bisa berpikir jernih.
"Mau kemana kamu ?" tanya Albi mengikuti langkah Bisma.
“Dari tadi kan kita pergi bersama memangnya mau kemana lagi ?" tanya Bisma . Mereka berjalan menuju parkiran.
"Apa tidak ada acara lain selain mabuk-mabukan ?" Albi merasa jengah dengan Bisma yang selalu mengajaknya pergi ke klub.
“Maaf, Itu si Abas sudah menunggu di sana katanya ingin merayakan hari jadi sama ceweknya," Bisma masuk ke dalam mobil dan diikuti Albi yang menjadi pengemudinya .
Sampai di klub mereka bergabung dengan Abas yang sudah menunggu kedatangan mereka .
"Hai-hai, kawan ku. Terimakasih sudah datang di acara ku. Mari kita ramaikan acara hari jadianku dengan kekasihku," Abas menyambut mereka dengan mengangkat minuman ditangannya.
Bisma langsung menuangkan air yang berkadar alkohol itu ke dalam gelas kecil dan meneguknya sampai habis. Sedangkan Albi hanya melihat saja tanpa menyentuh sama sekali.
"Albi, sesekali aja minum biar tahu rasanya minuman ini ," kata Abas menyuruh Albi minum.
Albi menolak permintaan Abas dan tidak menanggapi perkataannya memilih diam dan makan camilan yng disediakan oleh Abas. Karena ia tahu kalau menuruti keinginan temannya pulang langsung dapat hukuman dari papanya.
"Sudahlah tidak usah diajak, takutnya nanti pulang ada sapu melayang," sahut Bisma bersama gelak tawa mereka.
_________
Malam hari Prasasti berkutat di depan laptop mencari sesuatu yang membuat pikirannya tidak tenang. Beberapa waktu lalu ia mendapat ancaman dari seseorang tak dikenal memintanya bertemu.
"Sasti," panggil papanya berdiri diambang pintu dengan bersedekap dada.
Prasasti menoleh sambil senyum ."Sebentar lagi selesai, Pa," jawabnya kemudikan menyelesaikan pekerjaannya.
Di meja makan dua orang bapak dan anak sedang menikmati makan berdua saja. Ibu Prasasti sudah meninggal saat Prasasti ikut lomba selancar untuk pertama kalinya.
Dena Ariyani nama ibu Prasasti sangat syok ketika Prasasti tenggelam saat pertama kali ikut lomba selancar. Dena mendapat serangan jantung tiba-tiba padahal sejak kecil tidak mempunyai riwayat penyakit jantung.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu ?" tanya Fabio ayah Prasasti.
"Sedikit bermasalah, tapi aku bisa mengatasinya," jawabnya sambil mengunyah makanan terakhirnya.
"Baguslah kalau begitu," sahut Fabio meneguk air dalam gelas miliknya.
“Pa, aku ingin selancar lagi, boleh ?" tanya Prasasti dengan suara lirih ,takut tidak mendapat ijin papanya.
Fabio menatap anaknya hatinya merasa kasihan dan tidak tega. Prasasti adalah anak satu-satunya yang menjadi kebanggaan dan harapannya.
Helaan napas itu terdengar pelan namun terkesan sesak didalam rongga dada pria yang tidak lagi muda. Tatapannya enggan untuk melepaskan impian anaknya, rasa khawatir menghantuinya.
“Kamu tahu selancar itu beresiko tinggi, Papa tahu kamu bisa menaklukkan ombak. Tapi kali ini Papa mohon hentikan dan fokuslah pada pekerjaanmu dan masa depanmu," tegas Fabio dengan suara bergetar.
Ada hati yang sulit diungkapkan, ada keinginan untuk berjuang, ada kalimat yang ingin diutarakan namun bibir itu kelu dan terasa sangat berat.
Tetesan airmata jatuh begitu saja, cita-cita didepan mata memintanya menjemput namun harus disuruh pergi lalu menghilang .
"Sekali ini saja, setelah itu aku akan fokus pada karirku," bujuk Prasasti dengan permohonan.
“Kalau kamu berhasil menaklukkan ombak apa yang akan kamu lakukan ?" tanya Fabio menatap dengan tajam.
Prasasti melihat papanya memberi ijin, langsung bersemangat. "Seperti biasa membagi rezeki kepada anak panti dan juga aku ingin mengajak Papa berlibur ke luar negeri,"
"Papa tidak ingin jalan-jalan, Papa ingin kamu sukses dan bahagia dengan pilihan hidupmu," sahut Fabio.
Prasasti merasa terharu mendekati papanya dan memeluk dengan penuh kasih. "Terimakasih atas doa, Papa. Aku sayang sama, Papa,“ ucap Prasasti mencium pipi papanya.
"Pesan Papa, kamu harus bisa menjaga diri dan kehormatan mu jangan sampai orang menyakitimu," pesan Fabio membalas pelukan anaknya.
“Iya, Pa. Aku akan selalu menjaga diri ku dan aku akan selalu ingat pesan Papa," ucap Prasasti.
"Sudah malam tidurlah ,besok kamu kerja kan ?" kata Fabio melepaskan pelukannya.
Prasasti mengangguk. “Aku ke kamar ya, Pa,"
Fabio mengangguk menatap punggung anaknya berjalan masuk ke dalam kamar.
Ponsel Prasasti berbunyi sebuah notifikasi masuk. Ia langsung membuka melihat isi chat dari seseorang.
Sebuah video memperlihatkan sebuah adegan intim seorang pria dengan seorang perempuan namun wajah pria itu terlihat samar.
Prasasti memperbesar agar bisa melihat wajah pria dan perempuan tersebut. Kemudian menutup mulutnya.
“Jadi kelakuan kamu selama ini_," Prasasti menutup ponselnya karena tidak mau melihat lebih lama yang membuatnya mual.
Seseorang menghubungi Prasasti namun tidak ditanggapi justru diabaikan. Prasasti memilih memejamkan mata meskipun tidak bisa langsung tidur.
“Sial kenapa tidak dijawab sih ?" gerutu seseorang diseberang sana.
“Bagaimana ?" tanya temannya.
"Tidak dijawab," jawabnya kesal.
“Ya sudah, besok kita temui dia di tempat kerjanya," kata temannya.