NovelToon NovelToon
The Units : Bright Sides

The Units : Bright Sides

Status: sedang berlangsung
Genre:SPYxFAMILY / CEO / Percintaan Konglomerat
Popularitas:669
Nilai: 5
Nama Author: Nonira Kagendra

Arsenio Satya Madya (26 tahun) putra dari pasangan Ankara Madya dan Arindi Satya, tegas dan jenius. Semua karakter kedua orangtuanya melekat pada diri Arsen. Memiliki seorang adik yang cantik seperti mamanya, bernama Auroa Queen Satya Madya (21 Tahun).

Aira Narumi Sagara (24 Tahun), wanita cantik, licik dan tangguh. Memilik seorang adik yang kadang normal kadang abnormal, bernama Arkanza Narumi Sagara (22 Tahun). Mereka anak dari Alan Rumi dan Reyna Sagara.

Tak lupa Cyber Wira Pratama (21 Tahun), putra tunggal dari Galih Pratama dan Dania Swasmitha. Ahli di dunia cyber seperti ibunya dan kecerdikan Inspektur Galih.

---
Ikuti kisah dari anak-anak para tokoh "Switching Sides" dari kecil hingga dewasa.
Intrik, romansa dan keluarga menjadi cerita di kehidupan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonira Kagendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cyber Wira

## SELAMAT MEMBACA ##

Suasana di koridor Rumah Sakit Bhayangkara terasa seperti markas komando yang sedang dalam status 'Siaga Satu'. Galih mondar-mandir dengan langkah yang begitu kaku hingga suara sepatunya bergema di seluruh lantai. Di sampingnya, Ankara dan Alan berusaha menenangkan sang Inspektur yang biasanya tak kenal takut itu.

"Galih, duduklah. Dania itu perempuan kuat. Dia bisa meretas peluncur nuklir, melahirkan bayi tentu bukan masalah besar baginya," ujar Alan sambil menepuk bahu Galih.

Namun, perhatian semua orang teralih pada Arsen yang sedang duduk di kursi tunggu, membuka laptop kecil milik Dania yang dipinjamkan kepadanya. "Papa, aku sedang memantau detak jantung Tante Dania lewat aplikasi yang dia buat sendiri. Statusnya: *Loading 98%*. Sebentar lagi sistem akan *reboot*." (Maafkan Author, kalau agak nyeleneh soal dunia IT).

Tepat setelah Arsen berbicara, suara tangisan bayi yang sangat nyaring terdengar hampir seperti frekuensi audio yang tajam seakan pecah dari dalam ruangan.

*Oek....Oek...Oek....!*

"Om... suara adik bayinya sangat keras sekali! Om...om...om Galih!"

Galih seketika mematung, lalu hampir saja menabrak pintu kaca sebelum perawat mengizinkannya masuk.

Beberapa jam kemudian, semua orang  berkumpul di ruang perawatan. Dania terlihat sangat segar untuk ukuran wanita yang baru saja bersalin. Di sampingnya, Galih tampak sedang menatap bayi laki-laki di boks dengan ekspresi takjub sekaligus bingung.

Sa...yang, apa ini anak kita? A-pa aku telah menjadi seorang ayah?" Suara Galih terdengar bergetar, hingga air mata kebahagiaan jatuh ke pipinya.

Sedangkan Dania tersenyum tipis, "Dia anakmu, sayang. Putra kita... dan terimakasih telah memberikanku sebuah keluarga kecil sebagai penyempurna dalam hidupku."

"Seharusnya aku yang harus berterima kasih padamu, Dania. Terimakasih atas segalanya. Aku tidak cukup hanya berterima kasih. Aku akan selalu melindungi kalian berdua, keluarga kecilku," Seru Galih dengan suara seraknya karena selesai menangis.

Semua orang yang tadi mengikuti Galih untuk masuk melihat Dania dan bayinya, begitu terharu dengan pasangan yang baru saja melukis kebahagiaannya kembali.

"Jadi, siapa nama anak dari duo penegak hukum dan ahli siber ini?" tanya Arindi sambil menggendong Aurora yang sedang mencoba meraih kabel monitor di dekat tempat tidur.

Dania tersenyum licik, matanya berkilat jahat karena pertanyaan Arindi telah mengingatkan sebuah taruhan dengan suaminya. "Sesuai kesepakatanku dengan Galih saat dia kalah taruhan main game tempo hari... namanya adalah *Cyber Wira Pratama*."

*Hah...???*

Semua orang melongo mendengar nama bayi, sang penerus Pratama tersebut. Tapi tidak untuk bocil yang pemikiran selalu di luar BMKG, Arsen. Dia tersenyum bangga mendengar ucapan Dania. Dia sudah memiliki strategi dalam otaknya, "Akhirnya aku punya sekutu yang pas, selamat datang Cyber Wira".

"Cyber?" Ankara masih membelalakkan mata karena heran. "Dania, kau serius? Kau memberinya nama seperti protokol internet?"

"Panggilannya Wira, Ankara. Tapi di akta lahir tetap Cyber. Biar keren kalau dia jadi peretas tingkat dunia nanti," jawab Dania santai.

Arsen mendekati boks bayi itu. Ia menatap bayi Wira dengan saksama. Tiba-tiba, bayi mungil itu menggerakkan tangannya dan secara tidak sengaja menjatuhkan ponsel Galih yang diletakkan di dekat boks. Layar ponsel itu seketika mati total.

Arsen terperangah. Ia menoleh ke arah orang tuanya dengan mata berbinar. "Papa! Lihat itu! Dia baru lahir satu jam dan sudah berhasil melakukan proses *shutdown* pada perangkat keras polisi! Dia adalah *Agent Cyber*!"

Ankara hanya memutar bola matanya, sudah hafal dengan kosakata anakknya yang seakan paham dunia IT dan kepolisian. Padahal Arsen masih berumur 7 tahun kurang, tapi memiliki kecerdasan otak yang sangat mumpuni. Memang pantas menjadi keturunan Detektif dan CEO yang hebat.

---

Kepulangan Wira ke rumah Galih dan Dania menandai dimulainya babak baru yang lebih kacau. Jika Aurora adalah ahli sabotase fisik menurut penggambaran Arsen, Wira ternyata adalah magnet bencana bagi segala hal yang bersifat elektronik. Semua orang terkontaminasi dengan sebutan - sebutan nyeleneh yang di lontarkan oleh Arsen.

Satu minggu setelah Wira di rumah, Galih menelepon Ankara dengan nada putus asa. "Ankara, bisakah kau kirim Arindi ke sini? Wira... dia entah bagaimana caranya membuat remote TV kami masuk ke dalam mesin cuci, dan sekarang jam pintar Dania terus-menerus mengirim sinyal darurat ke markas besar kepolisian. Tim SWAT hampir saja mendobrak rumahku!" Apa yang diucapkan oleh Galih seperti kabar yang tidak mungkin dinalar oleh manusia biasa.

"Hah.... Seharusnya kau tidak perlu shock seperti itu. Wajar saja, kecerdasan anak itu turunan dari ibunya. Apa kau lupa jika IQ istrimu diatas rata-rata. Bahkan anakku saja hampir semua kosakatanya tidak pernah ketinggalan dari kata-kata dunia Cyber. Ini semua juga dampak dari Arsen yang sering berinteraksi dengan kalian, terutama Dani."

"Maaf, bagaimana aku tidak kaget. Semua yang aku saksikan terlalu di luar sewajarnya seorang bayi kecil. Tolong segera ajak Arindi kesini, ya! Maaf sekali lagi aku merepotkan kalian,"

"Hem.... tunggu sebentar lagi kami akan kesana", Jawab Ankara dan telepon langsung ditutup.

*

*

*

Arindi dan Ankara datang membawa Arsen dan Aurora. Sesampainya di sana, mereka menemukan Dania yang sedang tertawa sambil menggendong Wira, sementara Galih sibuk menjelaskan pada radio panggilnya bahwa tidak ada perampokan di rumahnya.

"Dia punya energi elektromagnetik yang aneh, Arindi," lapor Dania bangga. "Setiap kali dia menangis, koneksi Wi-Fi di rumah ini mendadak lemot. Dia benar-benar 'Cyber' sejati."

Arsen langsung menghampiri Wira. Ia membawa sebuah mainan robot tua yang sudah rusak. "Wira, dengar. Kakak butuh bantuanmu. Papa baru saja mengganti kata sandi tabletnya biar Kakak tidak bisa main game. Kau punya bakat merusak sistem. Bisakah kau... mmm... 'menyentuh' tablet Papa sebentar?"

Ankara melotot dan langsung menarik Arsen menjauh. "Tidak! Jangan ajarkan sepupumu cara membobol privasi Papamu sendiri!"

Galih, Dania dan Arindi langsung tertawa sekaligus menggelengkan kepalanya, mereka heran dengan jalan pikiran bocil kematian satu ini.

----

Sore itu diakhiri dengan makan malam bersama di teras rumah Galih. Tiga keluarga besar itu kini lengkap. Arsen sebagai sang Jenderal, Aurora sebagai sang Sabotase imut,  Aira sebagai sang Penghancur ceria, Arkan balita yang pendiam namun mematikan, dan anggota termuda, Wira sang Pengacau Sinyal. Keturunan mereka seolah-olah telah ditakdirkan memiliki sebuah kelebihan dan untungnya disatukan dalam keluarga yang sehat yang selalu menjaga kedamaian.

Reyna mengamati anak-anak itu bermain di atas rumput. "Kalian sadar tidak? Sepuluh atau dua puluh tahun lagi, anak-anak ini bisa menguasai dunia atau malah membuat kita semua masuk ke dalam pengawasan ketat pemerintah karena terlalu pintar."

Alan tertawa, merangkul istrinya. "Biarkan saja. Yang penting sekarang, mereka semua sehat dan kita tidak perlu lagi bertukar sisi untuk merasa aman."

Arindi menyandarkan kepalanya di bahu Ankara, menatap Aurora yang sedang mencoba 'berdiskusi' dengan bayi Wira lewat bahasa bayi yang penuh kode-kode aneh.

"Ankara," bisik Arindi. "Terima kasih sudah memberiku kehidupan yang penuh kekacauan indah ini."

Ankara mengecup kening istrinya. "Sama-sama, Detektif. Tugas kita sekarang bukan lagi menangkap penjahat, tapi memastikan 'Sindikat Bayi' ini tidak meledakkan rumah sebelum jam tidur."

Dan di tengah gelak tawa mereka, sebuah alarm berbunyi dari ponsel Galih. Ternyata Wira baru saja berhasil memencet tombol Order pada aplikasi makanan dan memesan 50 porsi martabak ke alamat rumah Galih.

"WIRA!" teriak Galih panik, sementara Arsen bersorak kegirangan. "Luar biasa! Operasi Martabak Berhasil!"

*Tap....Tap....Tap....!*

"Inspektur Galih, ada apa kau tiba-tiba mengirimi ku 'Kode Rahasia'?! Apakah ada penyusup dirumahmu?", Ucap Yudha yang masih mengatur nafasnya karena terlalu panik dengan sebuah pesan mendadak dari Galih.

*Hah?!!*

Semua orang terkejut, sedangkan Galih hanya menepuk jidatnya. Dia pusing dengan ulah putranya. Seyakin itu dia langsung menuduh Wira. Xixixixixi.....

(Jangan bingung ya, cerita ini memang dari awal bertema Fantasi ).

---

Bersambung....

1
Ridwani
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Nonira Seine: Hallo....
Selamat membaca, ya.....🤗🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!