NovelToon NovelToon
Kupilih Dirimu

Kupilih Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mokhammad Soni

Pewaris yang dipaksa untuk menikah dengan wanita biasa, bila tidak mau maka warisan dipilih orang lain. Sebuah keterpaksaan yang pada akhirnya menumbuhkan cinta, cinta yang bersemi tulus dalam diri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 24 Rumah yang Bukan Lagi Rumah

Siang itu panasnya seperti sengaja ingin memanggang harga diri.

Bagas berdiri di depan rumah orang tuanya.

Rumah yang dulu ia bangun dengan uangnya sendiri.

Rumah yang dulu ia renovasi.

Rumah yang dulu ia isi dengan tawa.

Sekarang terasa asing.

Pintu terbuka.

Bu Marni berdiri dengan tangan bersedekap, wajahnya seperti biasa—sinis dan siap melukai.

“Ngapain lagi kamu ke sini?” nada suaranya seperti menyapu debu yang menjijikkan.

Bagas menahan napas.

“Aku cuma mau ambil beberapa barang, Tante.”

“Barang?” Bu Marni tertawa kecil.

“Kamu masih merasa punya barang di sini?”

Pipit berdiri di samping Bagas. Diam. Tapi rahangnya tegang.

Bu Marni meliriknya.

“Oh iya, bawa istri juga. Supaya bisa lihat langsung gimana rasanya jadi beban keluarga.”

Kalimat itu seperti cabai digerus di atas luka.

Bagas menahan diri.

“Kami cuma butuh pakaian dan beberapa dokumen.”

Bu Marni membuka pintu lebih lebar.

“Masuk. Tapi jangan sentuh yang bukan hakmu.”

Di ruang tamu, Bu Rahayu duduk.

Diam.

Tidak berdiri.

Tidak menyambut.

Tidak juga menolak.

Wajahnya keras. Tapi matanya tidak setenang biasanya.

Bagas menunduk sedikit.

“Bu.”

Tidak ada jawaban.

Pipit ikut menunduk.

“Assalamualaikum, Bu.”

Bu Rahayu akhirnya bicara.

“Waalaikumsalam.”

Dingin.

Seperti orang berbicara dengan tamu asing.

Bagas menelan ludah.

“Bu… aku cuma mau ambil beberapa barang di kamar.”

Bu Rahayu menatapnya lama.

“Kamar itu sudah bukan kamarmu.”

Kalimat itu jatuh pelan.

Tapi menghantam keras.

Bagas terpaku.

“Apa maksud Ibu?”

Bu Marni menyahut cepat.

“Maksudnya jelas. Hak kamu sudah dicabut. Suratnya sudah ditandatangani. Kamu bukan bagian dari rumah ini lagi.”

Pipit mengepalkan jemarinya.

Bagas mencoba tetap tenang.

“Aku cuma mau ambil pakaian dan file kerja.”

Bu Rahayu akhirnya berdiri.

“Cepat. Jangan lama-lama.”

Bagas dan Pipit naik ke lantai dua.

Kamar itu…

Sudah berubah.

Seprai diganti.

Lemari terbuka.

Beberapa barang tidak ada.

Bagas berjalan pelan.

Laci meja kerjanya kosong.

Laptopnya hilang.

File proyeknya tidak ada.

“Apa-apaan ini…” gumamnya.

Pipit membuka lemari.

Beberapa jas mahal sudah tidak ada.

Hanya tersisa pakaian lama.

Langkah kaki terdengar.

Bu Marni berdiri di pintu.

“Oh itu? Barang-barang berharga sudah kami simpan. Takutnya kamu jual buat bayar utang.”

Bagas menatapnya tajam.

“Itu barangku.”

Bu Marni tersenyum tipis.

“Dulu mungkin. Sekarang? Kamu bahkan tidak bisa bayar listrik rumah ini.”

Kalimat itu menusuk.

Pipit mendekat ke Bagas.

“Mas, sudah…”

Bagas tidak bergerak.

“Laptop itu penting.”

Bu Marni mendekat.

“Penting buat apa? Proyekmu sudah gagal semua.”

Lalu ia menoleh ke Pipit.

“Kamu pasti bangga ya lihat suamimu jadi begini?”

Pipit mengangkat wajahnya.

“Saya bangga karena saya tahu dia bukan pencuri.”

Sunyi.

Satu detik.

Dua detik.

Bu Marni tertawa keras.

“Bukan pencuri? Tapi dia rugikan keluarga sendiri!”

Tangga berderit.

Bu Rahayu muncul di belakang.

“Sudah. Tidak usah ribut.”

Tapi tidak ada pembelaan.

Tidak ada kalimat: “Bagas tidak salah.”

Tidak ada.

Dan itu yang paling menyakitkan.

Bagas turun dengan tas kecil.

Hanya berisi pakaian seadanya.

Di ruang tamu, Bu Marni kembali duduk.

“Kapan kamu keluar dari kontrakan yang sekarang?”

Bagas menegang.

“Kenapa?”

“Karena kami dengar kamu menunggak dua bulan.”

Pipit kaget.

Bagas menoleh cepat.

Dari mana mereka tahu?

Bu Marni menyeringai.

“Kota ini kecil. Berita cepat menyebar.”

Lalu ia mendekat sedikit.

“Jangan sampai nanti kamu tidur di jalan. Malu-maluin keluarga.”

Bagas mengepalkan tangan.

Urat di lehernya menegang.

Pipit memegang lengannya.

“Mas…”

Bu Marni belum selesai.

“Oh iya, jangan pernah lagi datang ke sini bawa wajah melas. Ibu kamu sudah capek membela kamu.”

Bagas menatap ibunya.

“Benar begitu, Bu?”

Bu Rahayu terdiam.

Lama.

Lalu ia berkata pelan:

“Ibu juga punya batas.”

Dan itu lebih sakit dari tamparan.

Di luar rumah.

Langkah mereka terasa berat.

Pipit akhirnya bicara.

“Mas… kamu nggak apa-apa?”

Bagas tertawa kecil.

Tertawa yang kosong.

“Nggak apa-apa?”

Ia menoleh ke rumah besar itu.

“Aku bangun rumah itu. Aku yang bayarin renovasi dapur. Aku yang lunasi utang Ayah waktu itu.”

Suaranya pecah.

“Tapi sekarang aku dianggap beban.”

Pipit memeluknya.

Dan untuk pertama kalinya…

Bagas menangis.

Bukan karena miskin.

Tapi karena tidak dianggap.

Malamnya di kontrakan.

Pemilik rumah datang.

“Pak Bagas… saya sebenarnya tidak enak.”

Bagas sudah tahu arah pembicaraan ini.

“Kalau bulan ini belum bisa bayar… mungkin saya harus cari penyewa lain.”

Pipit menunduk.

Bagas mengangguk pelan.

“Kami usahakan minggu ini.”

Pemilik rumah pergi.

Pintu tertutup.

Sunyi.

Pipit duduk.

“Mas… kita jual cincin saja.”

Bagas menoleh cepat.

“Jangan.”

“Mas, ini cuma benda.”

“Bukan cuma benda. Itu saksi kita nikah.”

Pipit tersenyum tipis.

“Kalau harus pilih antara harga diri dan makan… aku pilih kita tetap hidup.”

Kalimat itu bikin dada sesak.

Besoknya.

Bagas mencoba mendatangi mantan rekan bisnis.

Jawabannya sama.

“Maaf, kami tidak mau ambil risiko.”

Satu per satu pintu tertutup.

Satu per satu orang pura-pura lupa.

Siang hari ia duduk di trotoar.

Melihat gedung-gedung yang dulu pernah ia bangun.

Sekarang ia hanya penonton.

Teleponnya berbunyi.

Nomor rumah.

Ia ragu.

Tapi ia angkat.

Suara Bu Marni.

“Kamu lupa bawa satu barang.”

Bagas terdiam.

“Apa?”

“Harga dirimu.”

Telepon mati.

Bagas mematung.

Ia menatap layar kosong.

Untuk sesaat… ia ingin menyerah.

Sore itu ia pulang dengan langkah berat.

Kontrakan gelap.

Pipit tidak ada.

Jantungnya berdegup.

Ia keluar lagi.

Dan melihat Pipit di ujung gang.

Sedang menawarkan kue ke warung kecil.

Wajahnya tersenyum.

Walau matanya sembab.

Bagas berdiri jauh.

Melihat istrinya yang dulu hidup nyaman…

Sekarang berdiri di pinggir jalan demi bertahan.

Dada Bagas seperti diremas.

Ia merasa gagal.

Gagal sebagai anak.

Gagal sebagai suami.

Gagal sebagai manusia.

Pipit melihatnya.

Ia melambaikan tangan.

“Mas! Laku dua kotak!”

Senyumnya tulus.

Bagas ingin menangis lagi.

Ia mendekat.

“Aku minta maaf.”

Pipit menggeleng.

“Kita jatuh bareng. Bangkit juga bareng.”

Kalimat sederhana.

Tapi di balik itu… luka masih menganga.

Malam turun.

Lampu kontrakan redup.

Bagas duduk sendirian.

Pikirannya penuh suara Bu Marni.

Beban.

Tidak berguna.

Malu.

Ia mengepalkan tangan.

Sampai kuku menusuk telapak.

“Cukup…”

Ia berbisik.

Cukup diinjak.

Cukup direndahkan.

Cukup dihancurkan.

Tapi hidup belum memberinya jalan.

Dan itu yang paling membuat pembaca kesel.

Karena di episode ini…

Tidak ada kemenangan.

Tidak ada pembalasan.

Tidak ada pembelaan.

Yang ada hanya satu:

Harga diri seorang pria dilucuti pelan-pelan

di depan ibunya sendiri.

Dan itu belum selesai.

1
Mas Bagus
tenang kak, hidup adalah perjuangan.. tetep semangat...
partini
buset dah ini di gempur dari samping atas bawah macam udah jatuh tertimpa tangga plus pohonnya
biasanya udah stuck ga bisa mikir main ayo aja ,, Kalian kan bukan orang biasa orang berpendidikan use your brain be smart don't be stupid
partini
berjuang bersama istri dari O,kamu sekolah kan udah pernah pegang kendali biar pun gagal so jadi kan itu pelajaran yg akan menuju kesuksesan buktikan kamu mampu ,ada istri yg full support tapi nanti udah sukses mendua cari lobang lain is no good maaf bacanya loncat thor
Mas Bagus: siap...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!