“Kak Miranda dipanggil Bapak.”
“Aku sedang mencuci piring,” jawab Miranda pelan.
“Kata Bapak nanti saja cuci piringnya,” ucap Lusi lagi.
Miranda menghentikan mencuci piring, mencuci tangan lalu melangkah ke ruang tengah.
Tampak di ruang tengah Raka duduk berdampingan dengan seorang perempuan itu.
“Duduklah, Miranda,” ucap Pak Budi dengan wajah serius.
Miranda duduk dengan patuh di kursi paling ujung.
Pak Budi tampak menghela napas panjang lalu berkata perlahan,
“Miranda, ini adalah Lina, dia calon istri Raka.”
Deg, jantung Miranda terasa tertusuk. Semua tenaganya seperti runtuh seketika.
Bangun dari jam tiga malam, bekerja tanpa istirahat, menyiapkan banyak makanan.
Semua itu hanya untuk menyambut calon istri dari suaminya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KI 13
Dengan membawa karung di pundaknya, Miranda mulai melangkah menyusuri jalanan Jakarta. Tangannya cekatan memungut gelas plastik dan botol bekas yang berserakan di trotoar, selokan, hingga sudut taman kota.
Bau aspal panas bercampur sampah menusuk hidung, tetapi Miranda tak lagi peduli. Ia sudah terlalu lelah untuk mengeluh.
Hari itu, keberuntungan seolah sedang berpihak padanya. Di salah satu ruas jalan utama, ribuan buruh melakukan aksi demonstrasi. Spanduk terbentang, teriakan menggema, dan di antara kerumunan itu, gelas plastik air mineral berserakan di mana-mana. Setiap langkah Miranda seperti menemukan rezeki kecil yang tercecer.
Dengan semangat yang nyaris lupa pada lelah, ia memunguti satu per satu barang bekas itu. Karung di tangannya perlahan terasa berat. Keringat membasahi pelipisnya, membasuh wajahnya yang sudah dipenuhi debu.
“Ini dijual ke mana, ya?” tanya Miranda pada seorang pemulung remaja yang tak jauh darinya.
“Ke Cak Roni saja, Mbak,” jawab remaja itu sambil terus sibuk memungut botol. “Dia tidak pernah ngurangin timbangan.”
Miranda menoleh, menatap wajah remaja itu penuh harap.
“Nanti ikut saja sama saya,” lanjut remaja itu singkat.
Miranda mengangguk. Hatinya sedikit lebih tenang. Ia mengikuti langkah remaja itu, berjalan kurang lebih dua kilometer. Kaki Miranda terasa nyeri, punggungnya pegal, tetapi ia bertahan. Setiap langkah adalah harapan.
Akhirnya mereka sampai di sebuah lapak pengepul. Bangunannya tampak seadanya, dinding dari seng bekas, lantai dua dengan papan kayu yang terlihat rapuh. Namun di halaman depan, tumpukan botol plastik tersusun rapi berdasarkan warna dan ukuran.
“Mau jual, Cak,” ucap Miranda sambil menyeka keringat di dahinya.
Cak Roni menoleh. Ia bertelanjang dada, hanya mengenakan sarung. Kulitnya cokelat legam, hidungnya mancung, dan cincin batu akik besar terpasang di jarinya. Tanpa banyak bicara, ia menarik karung Miranda dan meletakkannya di atas timbangan.
Miranda mengedarkan pandangan. Ia melihat mobil di garasi rumah itu. Dua mobil. Kontras dengan rumahnya yang tampak kumuh.
“Semuanya sepuluh kilo,” ucap Cak Roni datar.
“Sekilonya berapa, Cak?” tanya Miranda hati-hati.
“Seribu lima ratus per kilo. Jadi lima belas ribu,” jawabnya.
Miranda menelan ludah.
“Tidak bisa dilebihkan, Cak?” tanyanya penuh harap.
Cak Roni menggeleng. “Tidak bisa, Mbak. Kalau mau harga lebih, harus sudah bersih seperti yang di sana,” ucapnya sambil menunjuk botol plastik yang tersusun rapi.
“Kalau sudah bersih, tinggal gelas atau botolnya saja, harganya dua ribu per kilo,” lanjutnya.
Miranda mengangguk pelan. Dalam hatinya ia berhitung. Artinya, sebelum dijual, botol harus dicuci dan dipilah.
“Sampean baru, ya?” tanya Cak Roni sambil melirik Miranda.
Miranda mengangguk.
Cak Roni lalu masuk ke rumahnya dan kembali membawa sebuah karung kotak yang lebih besar.
“Pakai ini. Muat dua puluh lima kilo,” katanya sambil menyerahkan karung itu. “Kalau botolnya, diremas dulu biar kecil. Biar muat banyak.”
“Terima kasih, Cak,” ucap Miranda.
Tangannya gemetar saat menerima karung itu. Hanya karung, tetapi baginya itu seperti alat untuk bertahan hidup. Saran itu pun terasa sangat berharga.
Tak lama kemudian, sebuah mobil pikap datang membawa botol plastik yang sudah bersih. Miranda tak sengaja mendengar percakapan tentang harga.
“Dua ribu lima ratus per kilo,” ucap seseorang.
“Untung seribu dia,” gumam Miranda dalam hati. “Kerjanya cuma mutar uang.”
Miranda melangkah pergi dari lapak itu. Matahari mulai condong ke barat. Ia tersadar, ia belum melaksanakan salat Asar.
Ia duduk termenung di pinggir jalan. Bajunya kotor, lengket oleh keringat dan debu. Uang di tangannya hanya lima belas ribu rupiah.
“Bagaimana aku bisa salat kalau begini?” pikirnya.
Miranda berjalan ke arah jembatan. Dari atas, ia melihat sesuatu berwarna putih tersangkut di dahan pohon di tengah aliran sungai. Kain itu terombang-ambing mengikuti arus.
Ia memperhatikan lebih saksama.
“Sepertinya itu mukena,” batinnya.
Tanpa berpikir panjang, Miranda turun ke tepian sungai. Bau lumpur menyengat. Arus air cukup deras. Ia mengambil ranting panjang, mencoba meraih kain itu. Beberapa kali gagal. Tangannya hampir tergelincir. Air sungai membasahi kakinya hingga lutut.
Ia hampir menyerah ketika arus tiba-tiba menarik mukena itu lebih jauh. Miranda mengejar, menahan napas, kakinya terpeleset, tubuhnya hampir jatuh.
“Ya Allah,” lirihnya panik.
Dengan sisa tenaga, ia berhasil mengaitkan ranting ke kain itu. Perlahan, ia menariknya ke tepi. Mukena itu basah, penuh noda hitam, dan bau sungai melekat kuat. Bersamanya, tersangkut pula sebuah kaus lusuh.
“Alhamdulillah, ya Allah,” ucap Miranda dengan mata berkaca-kaca.
Ia tersenyum, memeluk mukena basah itu seolah menemukan harta berharga. Mukena itu ia masukkan ke dalam plastik.
“Aku harus cari MCK atau musala. Aku akan cuci mukena ini,” tekadnya.
Perut Miranda berbunyi keras. Ia menoleh dan melihat sebuah warung makan sederhana. Di depannya tertulis, gratis es teh manis.
“Ini pilihan tepat,” pikir Miranda.
Ia masuk. Beberapa orang memandangnya dengan tatapan jijik. Awalnya ia ingin makan di tempat, tetapi melihat orang-orang yang tampak risih, ia mengurungkan niatnya.
“Nasi dibungkus saja, Bu. Nasinya agak banyakan. Sama tempe goreng,” pintanya.
Pelayan tampak tergesa, seolah ingin Miranda segera pergi.
“Berapa semuanya?” tanya Miranda.
“Lima ribu,” jawab pelayan singkat.
Miranda menyerahkan uang itu dan pergi.
Ia berjalan ke tepi sungai, memastikan tak ada orang. Ia membuka nasi bungkus itu dan makan dengan lahap.
“Ini lebih baik daripada di rumah orang tua angkat dan orang tua suami,” gumamnya.
Ia tak tahu harus bersyukur atau merasa bernasib malang. Diceraikan suami, diusir keluarga angkat. Namun setidaknya kini ia tak lagi takut bangun kesiangan, tak direpotkan cucian, masakan, dan urusan rumah.
Setelah makan, Miranda bangkit dan mencari musala.
Setelah berjalan cukup jauh, ia menemukan sebuah musala kecil di pinggir kali. Bangunannya sederhana, tetapi tampak bersih.
“Mudah-mudahan musala ini mau menerimaku,” doa Miranda. “Mengizinkanku mandi, mencuci, dan kalau bisa menginap.”
Ia melangkah masuk.
Seorang kakek tua dengan celana selutut sedang mengepel lantai musala.
“Assalamualaikum,” ucap Miranda.
“Waalaikumsalam,” jawab kakek itu.
Miranda ragu. Pagi tadi ia sempat diusir penjaga musala lain dan dianggap gila. Namun ia ingin salat. Ia sudah kehilangan suami, kehilangan kasih sayang keluarga dan ia tak mau kehilangan hubungannya dengan Tuhan.
“Maaf, Pak,” ucap Miranda sopan. “Saya mau numpang mandi. Saya mau salat Asar, tapi baju saya kotor.”
Kakek itu menatap Miranda dari atas ke bawah.
“Tunggu sebentar. Jangan ke mana-mana,” ucapnya.
Hati Miranda mencelos. Pikiran buruk menyerbu. Mungkin ia akan dilaporkan ke RT. Mungkin ke Satpol PP. Ia hampir pergi, tetapi langkahnya tertahan.
“Kalau aku tidak bisa salat hanya karena tidak punya KTP, aku akan demo ke istana,” batinnya pasrah.
Tak lama kemudian, kakek itu kembali.
“Kamu mandi saja. Ini kaus dan celana kolor bekas Bapak. Pakai ini,” ucapnya. “Mukena tidak ada.”
Miranda tersenyum cerah. Dadanya terasa hangat.
“Terima kasih, Pak,” ucapnya tulus.
“Boleh saya numpang cuci baju?” tanyanya malu-malu.
“Silakan. Tapi bersihkan lagi kamar mandinya,” jawab kakek itu.
“Baik, Pak. Saya bersihkan.”
Miranda melangkah ke kamar mandi. Ia mandi, mencuci baju, dan mencuci mukena yang baru saja ia ambil dari sungai. Air mengalir, membawa pergi lumpur dan noda.
Miranda tersenyum lega.
Setidaknya sekarang, ia punya mukena.
Setidaknya, ia bisa salat di mana saja.
gemes bgt baca ceeitanya