💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️
"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"
Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:
"Humanity Coaching".
Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh: detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.
Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.
🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 — GALA NIGHT
Lampu sorot menyapu fasad hotel bak kilat yang dijinakkan. Karpet merah membentang, kamera berbaris, dan kilatan flash meledak bahkan sebelum tamu utama tiba. Gala tahunan Arsenio Group selalu jadi panggung utama, tapi malam ini segalanya terasa lebih panas.
Bukan soal laporan keuangan, melainkan isu kontrak dan bisikan miring para sosialita yang sengaja digulirkan.
Di dalam mobil hitam yang berhenti beberapa meter dari kerumunan, Alinea menarik napas dalam. Gaun hitamnya membalut tubuh dengan elegan—anggun tanpa harus terlihat vulgar. Rambutnya disanggul rendah, menyisakan helai halus yang membingkai wajah tenangnya.
Ia menatap bayangannya di kaca. Tenang, Aline.
Di sampingnya, Arsenio tampak tajam dalam balutan tuxedo klasik. Meski terlihat terkendali, rahang pria itu mengeras lebih tegang dari biasanya.
“Kamu siap?” tanyanya pelan.
Alinea menoleh pelan.
Tatapannya kini bukan lagi soal etiket gala yang kaku, bukan pula soal di mana ia harus berdiri di samping pria itu. Pertanyaan yang menggantung di antara mereka jauh lebih dalam dari sekadar protokol perusahaan.
“Siap,” jawabnya.
Pintu mobil dibukakan.
Suara kamera langsung meledak.
“Pak Arsenio! Ke sini!”
“Mas, isu yang beredar soal hubungan Anda—?”
“Miss Alinea, apakah benar hanya kontrak?”
Pertanyaan-pertanyaan itu dilempar tanpa jeda.
Alinea turun lebih dulu. Begitu heels-nya menyentuh karpet merah, dunia seolah berhenti berputar dan semua mata langsung tertuju padanya.
Ia tidak menunduk, tidak pula tergesa. Setiap langkahnya stabil dengan bahu tegak dan dagu yang sedikit terangkat—persis seperti yang diajarkan selama ini. Namun malam ini, keanggunan itu bukan hasil latihan. Itu adalah manifestasi dari harga diri yang ia pertahankan.
Arsenio menyusul keluar, berdiri tepat di sampingnya. Untuk sepersekian detik, mereka berdiri terpisah setengah langkah—sebuah jarak tipis yang sanggup melahirkan ribuan tafsir bagi siapa pun yang melihatnya.
Alinea merasakannya. Inilah momen itu. Titik di mana sandiwara dan kenyataan mulai tumpang tindih.
Apakah mereka hanya tampil “solid”?
Atau benar-benar bersama?
Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh—
Tangan Arsenio bergerak. Bukan sekadar sentuhan formalitas atau gestur mengarahkan, ia menggenggam tangan Alinea dengan begitu jelas. Tegas. Tanpa ragu di hadapan ratusan lensa kamera.
Kilatan flash semakin brutal, memburu konfirmasi dari tindakan tak terduga itu.
Alinea membeku sepersekian detik. Genggaman itu terasa berbeda, ibu jari Arsenio mengusap punggung tangannya dengan gerakan halus yang menenangkan, sekaligus menguatkan. Saat tatapan mereka bertemu, Alinea sadar satu hal yang tidak ada briefing untuk aksi ini. Tidak ada simulasi yang mereka siapkan sebelumnya.
Ini bukan lagi sandiwara. Ini adalah sebuah keputusan.
Arsenio melangkah maju sambil tetap menggenggamnya.
“Selamat malam,” katanya pada wartawan.
“Pak, apakah isu kontrak itu benar?”
Arsenio berhenti.
Arsenio mendadak berhenti. Ratusan kamera seketika mengunci gerakan mereka, siap menangkap setiap inci reaksi. Di tengah kebisingan itu, Alinea hanya bisa mendengar deru napasnya sendiri, inilah momen yang paling ia takuti selama ini.
Namun, Arsenio tidak melepaskan genggamannya. Alih-alih menjauh untuk memberi ruang pada wartawan, pria itu justru menarik Alinea sedikit lebih dekat, hingga bahu mereka bersentuhan. Seolah-olah dengan tindakan itu, ia sedang membangun benteng yang tak kasatmata di sekeliling Alinea.
“Saya tidak pernah menjadikan hubungan pribadi sebagai komoditas publik,” ucapnya tenang. “Tapi saya bisa pastikan satu hal—yang berdiri di samping saya malam ini bukan bagian dari strategi.”
Sunyi.
Kilatan kamera makin gila.
“Itu pilihan saya,” lanjutnya.
Pilihan.
Kata itu seperti meledak di dada Alinea.
Wartawan belum puas.
“Jadi bukan kontrak, Pak?”
Arsenio menatap lurus ke arah kamera.
“Tidak semua kesepakatan dimulai tanpa rasa. Dan tidak semua yang dimulai dengan kesepakatan berakhir tanpa makna.”
Sebuah jawaban diplomatis meluncur tenang, namun maknanya cukup tajam untuk membungkam spekulasi. Dan di sepanjang sisa langkah mereka, Arsenio tidak pernah sekalipun melepaskan tangan Alinea. Genggamannya tetap di sana—erat, hangat, dan nyata.
Malam itu, dunia tidak hanya melihat sebuah gala tahunan. Dunia melihat sebuah pernyataan yang tak terbantahkan.
Di ujung karpet merah, Nadia berdiri mematung. Gaun merah menyalanya membalut tubuh dengan sempurna, kontras dengan suasana malam. Rambutnya digerai lurus, make-up-nya flawless, dan senyumnya terlihat begitu manis. Namun, matanya setajam pisau yang disembunyikan di balik kemilau satin.
Ia menyaksikan segalanya.
Genggaman tangan itu. Deklarasi halus yang baru saja Arsenio tunjukkan. Sesuatu di rahang Nadia menegang, menghancurkan topeng ketenangan yang ia bangun dengan susah payah.
Saat Arsenio dan Alinea mendekat, Nadia melangkah maju.
“Selamat malam,” ucapnya ringan.
“Selamat malam,” balas Arsenio formal.
Tatapan Nadia turun ke tangan mereka yang masih tergenggam.
“Oh,” katanya pelan, pura-pura terkejut. “Ternyata sudah sejauh ini.”
Alinea tersenyum tipis.
“Sejauh mana menurutmu?”
Nadia tertawa kecil. “Publikasi yang bagus memang harus terlihat natural.”
Serangan halus.
Arsenio menjawab sebelum Alinea sempat bereaksi.
“Kamu terlalu sering mengira semua orang bermain seperti kamu, Nadia.”
Senyum Nadia membeku sesaat.
“Tentu tidak,” balasnya cepat. “Aku cuma realistis.”
“Realistis atau berharap?” tanya Arsenio datar.
Udara di sekitar mereka mendadak menegang, seolah oksigen menipis dalam sekejap. Nadia tidak membalas sepatah kata pun. Ia hanya mundur satu langkah—memberi jalan secara fisik, namun sorot matanya mengirimkan pesan yang sangat jelas ini bukan akhir. Perang ini baru saja dimulai.
Di dalam ballroom, suasana jauh lebih elegan dan megah. Meja-meja bundar berlapis linen putih tersusun rapi di bawah pendar lampu kristal yang menyala penuh. Musik orkestra mengalun lembut, mencoba menutupi kebisingan ambisi di dalam ruangan itu.
Alinea melangkah di samping Arsenio. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa seperti boneka yang dipoles hanya untuk dipamerkan. Ia merasa benar-benar hadir. Tatapan orang-orang memang masih menguliti setiap gerakannya—beberapa berbisik penuh selidik, beberapa melempar senyum sinis. Namun, genggaman tangan Arsenio tetap di sana. Erat dan tak terlepas.
Langkah mereka tertahan di dekat meja VIP. Mama Arsenio berdiri di sana, menatap kedatangan mereka dengan sorot mata setajam silet. Perlahan, matanya turun, mengunci fokus pada jemari yang saling bertaut itu.
“Aku lihat kamu menikmati sorotan,” katanya dingin ketika mereka mendekat.
“Ini bukan soal sorotan, Ma,” jawab Arsenio tenang.
Mama beralih ke Alinea.
“Publik mudah terbawa emosi. Tapi dunia nyata lebih panjang dari satu malam.”
Alinea tersenyum sopan.
“Saya tidak berniat jadi satu malam saja, Tante.”
Itu bukan sebuah perlawanan yang kasar. Namun, setiap kata yang meluncur dari bibir Alinea terdengar begitu tegas, menciptakan hening yang mendadak di meja VIP itu.
Mama Arsenio terdiam. Jawaban Alinea dirangkai dengan begitu rapi,tidak bisa dianggap sebagai sikap kurang ajar, namun di saat yang sama, sama sekali tidak bisa diremehkan. Ada otoritas yang tenang dalam suara Alinea, sesuatu yang selama ini mungkin tak pernah disangka akan muncul dari balik gaun hitamnya.
Acara dimulai. Arsenio naik ke panggung lebih dulu dengan langkah mantap. Pidatonya terdengar tegas, profesional, dan penuh visi—persis seperti sosok pemimpin yang selama ini dunia kenal. Tepuk tangan riuh bergema memenuhi ballroom.
Lalu, tiba giliran Alinea.
Saat ia melangkah menuju podium, lampu sorot seolah mengunci wajahnya dalam pendar putih yang tajam. Ratusan mata menatap tanpa kedip beberapa berharap ia gugup, beberapa lagi menunggu kesalahan kecil untuk dijadikan bahan gunjingan esok pagi.
Alinea menarik napas dalam. Terngiang kembali semua latihan yang melelahkan, setiap kritik pedas, dan semua luka harga diri yang selama ini ia telan bulat-bulat. Namun malam ini, segalanya berbeda. Ia tidak berdiri di sana sebagai proyek yang dipoles paksa.
Alinea berdiri di sana sebagai dirinya sendiri.
“Selamat malam,” ucapnya, suara stabil. “Malam ini bukan hanya tentang angka, tetapi tentang dampak.”
Tatapannya menyapu seluruh ruangan dengan tenang. Alinea tidak menunduk untuk membaca teks ia berbicara dari hati. Alinea menjabarkan program sosial itu bukan sebagai angka, melainkan tentang anak-anak yang kini memiliki masa depan, tentang harapan yang kembali menyala.
Suaranya mengalun hangat, jujur, dan sama sekali tidak dibuat-buat.
Dan ketika ia mengakhiri kalimatnya—hening sejenak sebelum akhirnya tepuk tangan bergemuruh, jauh lebih keras dan tulus dari yang pernah ia bayangkan. Di sisi panggung, Arsenio berdiri mematung menatapnya. Kali ini, tidak ada sorot mata evaluatif yang tajam. Tatapan itu telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam.
Arsenio menatapnya dengan rasa bangga yang tak lagi bisa ia sembunyikan.
Setelah acara utama berakhir, musik berubah menjadi dentuman yang lebih santai dan rileks. Tamu-tamu mulai membaur, gelas-gelas kristal berdenting di sela perbincangan. Di sudut ruangan, Nadia mendekat ke salah satu kelompok sosialita berpengaruh. Ia membisikkan sesuatu dengan nada rendah, sesekali melirik tajam ke arah Alinea.
Perang sosial ini jelas belum berhenti. Namun, malam ini ada satu hal yang berbeda dan narasinya tidak lagi sepenuhnya berada di tangan Nadia. Alinea telah membuktikan bahwa ia bukan sekadar bayangan, dan bisikan Nadia kini harus berhadapan dengan fakta yang baru saja disaksikan seluruh ruangan.
Arsenio kembali mendekati Alinea.
“Kamu luar biasa,” katanya pelan.
Bukan “bagus”.
Bukan “stabil”.
Luar biasa.
Alinea menatapnya.
“Baru sadar?”
“Tidak.”
“Baru berani bilang?”
Arsenio tersenyum tipis.
“Mungkin.
Musik mengalun lebih pelan, berubah menjadi irama yang lebih dalam dan menghanyutkan. Di tengah pendar lampu kristal yang mulai meredup, beberapa pasangan mulai melangkah ke tengah lantai, berdansa mengikuti tempo yang tenang.
Di tengah keramaian itu, dunia seolah menyempit hanya menyisakan mereka berdua. Tanpa perlu banyak kata, suasana ini seakan menantang Arsenio untuk melakukan langkah selanjutnya, apakah ia akan membiarkan Alinea berdiri sendiri di pinggir lantai, atau ia akan sekali lagi menegaskan kepemilikannya di depan semua orang—termasuk di depan mata Nadia yang masih mengawasi dari kegelapan?
Arsenio mengulurkan tangan.
“Boleh?”
Alinea terdiam sesaat, menatap jemari Arsenio yang tertuju padanya. Perlahan, ia meletakkan tangannya di atas tangan pria itu. Mereka bergerak menuju tengah lantai dansa—tanpa drama, tanpa gestur yang berlebihan. Hanya sebuah langkah sederhana yang terasa begitu nyata.
Malam ini, sentuhan Arsenio di pinggangnya terasa sangat berbeda. Tidak ada lagi tekanan yang seolah sedang mengatur posisinya, tidak ada lagi jemari yang berusaha memposisikannya agar terlihat sempurna di depan kamera. Arsenio hanya memegangnya. Melindungi, mendekap, dan memberikan kehangatan yang selama ini tidak pernah tertulis dalam kontrak mana pun.
“Apa ini juga bagian dari strategi?” bisik Alinea.
“Tidak.”
“Yakin?”
Arsenio menunduk sedikit.
“Aku tidak akan menggenggam tangan seseorang di depan publik kalau itu cuma strategi.”
Jantung Alinea berdetak lebih cepat.
“Kenapa sekarang?” tanyanya.
“Karena kalau aku tidak melakukannya malam ini, kamu akan terus berdiri sendirian di medan perang yang bukan kamu mulai.”
Kalimat itu membuat tenggorokannya menghangat.
“Dan sekarang?” ia berbisik.
“Sekarang kita hadapi bersama.”
Lampu kristal berkilau megah di atas kepala mereka, menciptakan pendar cahaya yang memukau. Kamera masih sesekali menyorot, berusaha mencari celah di balik keanggunan itu. Nadia masih memerhatikan dari kejauhan dengan dendam yang tertahan, dan sang Mama pun belum sepenuhnya membuka pintu penerimaan.
Namun malam itu, satu hal besar telah bergeser,narasi di antara mereka bukan lagi tentang kontrak yang kaku. Bukan lagi tentang sandiwara sementara yang akan berakhir saat lampu padam.
Malam itu, di hadapan publik yang menghakimi, Arsenio telah menentukan pilihannya. Dan ia tetap tidak melepaskan tangan Alinea, seolah memberi tahu dunia bahwa wanita itu kini adalah miliknya yang paling nyata.
Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨