NovelToon NovelToon
Mereka Mengira Aku Buta

Mereka Mengira Aku Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Balas Dendam
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?

On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 Ketika Kepercayaan Menjadi Senjata

Pagi itu Marcus datang ke kantor lebih awal. Lift khusus direktur membawanya naik tanpa suara, seperti biasa. Tapi tidak seperti biasa, dadanya terasa berat sejak pintu lift terbuka. Koridor masih sepi. Lampu-lampu menyala dingin. Pantulan langkahnya terdengar lebih keras dari biasanya.

Ia tidak langsung masuk ke ruangannya. Sebaliknya, Marcus berhenti di depan ruang server internal.

Tangannya menggeser kartu akses. Pintu terbuka.

Jika ada kebocoran, ia ingin melihatnya sendiri.

Ia duduk di depan monitor pengawasan data. Grafik lalu lintas internal bergerak stabil. Tidak ada lonjakan mencurigakan. Tidak ada transfer besar. Semuanya terlihat normal.

Terlalu normal.

Marcus memperbesar detail satu per satu. Jam akses. Titik login. Perangkat yang terhubung. Semua sesuai prosedur. Namun ada satu hal kecil yang mengganggunya. Akses dilakukan dari jalur resmi.

Bukan peretasan. Artinya seseorang dengan izin memindahkan sesuatu.

Marcus bersandar perlahan. Napasnya panjang. Ia tidak marah. Belum. Ia hanya mulai memahami sesuatu. Ini bukan serangan dari luar. Ini pengkhianatan yang dirancang agar terlihat seperti sistem yang bekerja.

Selene masuk ke kantor tepat pukul delapan. Riasannya rapi, pakaiannya sempurna. Tapi Marcus melihat sesuatu yang tidak bisa ditutup dengan lipstik atau blazer mahal.

Kecemasan.

“Kau memanggilku?” tanya Selene hati-hati.

Marcus memutar kursinya pelan. “Aku ingin laporan lengkap akses internal tiga minggu terakhir.”

Selene membeku sepersekian detik. “Itu sudah kukirim—”

“Aku ingin versi mentahnya,” potong Marcus.

Keheningan menggantung.

Selene mengangguk. “Baik.”

Marcus memperhatikannya berjalan keluar. Langkahnya tetap anggun. Tapi bahunya tidak lagi setegak dulu. Retakan semakin jelas.

...****************...

Di rumah, Elena duduk di ruang makan dengan tangan menyentuh permukaan meja kayu. Ia tidak membaca. Tidak memegang buku. Ia hanya mendengarkan.

Rumah punya suara. Langkah pelayan. Bunyi pintu. Denting sendok. Semua punya ritme.

Dan pagi itu, ritmenya berbeda. Seseorang sedang gugup. Ia berdiri perlahan, berjalan menyusuri lorong tanpa tongkat. Langkahnya ringan. Terlatih. Ia berhenti tepat sebelum tikungan menuju dapur ketika suara bisikan terdengar.

“…aku tidak tahu harus bagaimana lagi…” Itu suara salah satu pelayan di rumah.

“Kalau Pak Marcus tahu—” Suara itu berhenti ketika langkah Elena terdengar. Ia masuk ke dapur dengan ekspresi tenang. “Apakah ada yang salah?” tanyanya lembut.

Kedua pelayan itu langsung diam. “Tidak, Nyonya.”

Elena mengangguk kecil. “Baik.”

Ia berjalan keluar lagi.

Senyumnya tipis.

Ketika ketakutan mulai menyebar ke level bawah, berarti tekanan di atas sudah cukup besar.

Bagus.

Siang itu Marcus menerima laporan mentah dari Selene. Ia membacanya perlahan. Tanpa terburu.

Semua akses tercatat rapi. Tidak ada penyimpangan. Namun justru itu masalahnya. Semua terlalu bersih.

Marcus menutup berkas dan berdiri. Ia berjalan ke jendela, menatap kota. Seseorang sedang bermain dengan kesabarannya. Dan permainan itu dirancang untuk membuatnya meragukan orang yang paling dekat.

Selene.

Elena.

Atau… keduanya?

Ia membenci kenyataan bahwa nama Elena kini masuk dalam daftar kemungkinan.

Tidak karena bukti.

Karena perubahan.

Elena tidak lagi terdengar seperti seseorang yang bergantung. Ia terdengar stabil. Terlalu stabil.

Sore menjelang ketika Marcus memutuskan pulang lebih awal lagi. Ia ingin mengamati. Rumah menyambutnya dengan sunyi yang sama seperti kemarin. Elena duduk di ruang tamu, jari-jarinya menyentuh halaman buku dengan ritme yang tidak terlihat seperti membaca.

“Kau di rumah,” katanya tanpa menoleh.

Marcus berhenti.

“Kau tahu itu aku?”

Elena tersenyum kecil. “Langkahmu berbeda dari yang lain.” Jawaban sederhana.

Masuk akal.

Namun Marcus tetap berdiri beberapa detik lebih lama. Ia berjalan mendekat, lalu tiba-tiba menjatuhkan kunci mobilnya ke lantai. Bunyi logam beradu dengan marmer memecah keheningan.

Elena tidak terkejut.

Tidak tersentak.

Ia hanya memiringkan kepala sedikit.

“Jatuh?” tanyanya pelan.

Marcus menatapnya. Jika ia benar-benar tidak bisa melihat, refleksnya seharusnya berbeda.

“Kau tidak kaget,” katanya datar.

Elena tersenyum samar. “Aku mendengar bunyinya.”

Jawaban yang tepat.

Selalu tepat.

Marcus mengambil kuncinya kembali. Sejak kecelakaan itu, keraguan bukan lagi samar.

Ia mulai menguji. Dan Elena tahu itu.

Karena saat Marcus berjalan ke kamar kerja, sudut bibirnya melengkung sangat tipis. Kepercayaan adalah fondasi yang paling mudah dihancurkan.

Dan Marcus baru saja mulai meragukannya.

Malam itu, hujan turun deras. Marcus duduk sendirian di ruang kerja rumah, layar laptop menyala tanpa benar-benar ia baca. Ia memutar ulang satu momen tadi sore.

Kunci jatuh.

Elena tidak tersentak.

Ia memejamkan mata.

Apakah ia terlalu jauh berpikir? Atau selama ini a memang tidak pernah benar-benar mengenal wanita yang tinggal serumah dengannya?

...****************...

Di ruang lain, Elena berdiri di depan jendela. Hujan membasahi kaca. Pantulannya samar. Ia membuka matanya sepenuhnya. Tidak ada kabur. Tidak ada gelap.

Pandangan itu tajam.

Tenang.

Permainan kini masuk fase berbeda. Marcus mulai menguji. Dan ia akan membiarkannya. Karena semakin ia mencari bukti semakin ia akan menemukan hal yang tidak pernah ia siapkan: bahwa perempuan yang ia kira rapuh tidak pernah benar-benar kehilangan penglihatannya. Dan ketika kebenaran itu akhirnya berdiri di antara mereka, yang runtuh bukan hanya bisnis. Tapi seluruh kendali yang Marcus bangun selama bertahun-tahun.

Hujan semakin deras. Di antara suara petir yang mengguncang langit, kepercayaan mereka mulai retak untuk selamanya. Marcus tetap duduk di kursi, tangan mengepal di atas meja. Layar laptop menampilkan angka-angka, grafik, dan jadwal yang terlihat normal, tetapi instingnya berteriak bahwa semuanya adalah tipuan visual. Selene telah mengirim laporan mentah, dan semuanya rapi.

Terlalu rapi. Setiap log akses sesuai prosedur. Tidak ada kesalahan teknis. Tidak ada tanda peretasan.

Ia menutup laptop, menatap ke jendela. Hujan memercik di kaca, cahaya lampu jalan membias di permukaan yang basah. Bayangan hujan seakan menari-nari, mencerminkan kekacauan yang tersembunyi di balik ketenangan semu.

Marcus menarik napas panjang. Ia tahu, seseorang sedang menguji batasnya. Seseorang sedang menyentuh fondasi kepercayaannya dari dalam. Selene? Mungkin. Elena? Bisa jadi. Atau mungkin keduanya secara bersamaan, dengan tujuan yang berbeda—tapi hasil akhirnya sama: membuatnya kehilangan pijakan.

Ia berdiri perlahan, melangkah ke ruang tamu. Elena tetap duduk, buku di pangkuannya. Mata mereka bertemu sekejap. Tidak ada kata-kata yang diucapkan. Hanya kesadaran yang sama: permainan kini telah berubah. Marcus bukan lagi satu-satunya yang mengatur ritme.

Elena menutup buku, menaruhnya di meja, lalu berdiri. Tangannya menyentuh kaca jendela, menatap ke arah hujan. Dia tidak terlihat takut, tidak gugup. Marcus memperhatikan. Setiap gerakannya, setiap detik, adalah tantangan terselubung.

Marcus menyadari sesuatu yang menakutkan. Perempuan yang ia kira rapuh, yang ia pikir masih tergantung pada kendalinya, ternyata lebih kuat dari yang ia bayangkan. Dan sekarang, dalam diam, Elena memegang senjata yang paling berbahaya: kepercayaan yang tersisa.

Ia kembali ke kursi, menatap layar laptop tanpa membukanya. Dalam hati ia tahu, retakan itu bukan hanya tentang Selene, bukan hanya tentang dokumen bocor. Retakan itu tentang dirinya. Dan ketika retakan itu melebar Marcus akan merasakan kejatuhan yang tidak pernah ia prediksi.

Hujan terus mengguyur, dan di dalam rumah itu, dua orang duduk dalam diam sadar, waspada, dan mengetahui bahwa permainan baru saja memasuki babak paling berbahaya.

1
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Toasted/ "badai? jangan-jangan ini sama kayak yg lagi aku pikirin"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Hammer/ "udah kebanyakan pikiran, pola makan nggak di jaga, istirahat nggak teratur, ya, jadinya gitu deh"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/NosePick/ "bilang aja, emang sengaja nggak di inget"
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
/Sweat/ "pasti lupa itu, udah kelihatan banget"
cimownim
apa yang marscus sembunyi kan?
putrijawa
dia butuh sebuah pembuktian, bukan janji😌
MARDONI
Elena benar-benar beda… cara dia memotong rapat Marcus dengan tenang tapi langsung membalik situasi itu keren banget. Marcus kelihatan kuat, tapi Elena juga sama tajamnya. Dialog mereka di lorong sampai di apartemen itu terasa seperti dua orang yang sama-sama kuat sedang saling membaca.
SarSari_
gak ada ya selain tanda tangan...tanda tangan terus....gak capek tuh tangan..🫣
Serena Khanza: berkas nya banyak kayaknya kak 🤭
total 1 replies
Indira Mr
Datanya hilang, gak bisa tidur .Marcus..😂
Indira Mr
Marcus mencurigai Elena ???
Serena Khanza: mulai curiga dia kak
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
sabar dulu elena, tunggu momonet yang pas untuk yang paling kejam
Serena Khanza: setuju kak
total 1 replies
Hunk
Marcus udah mulai curiga terhadap sikap elena. Tapi entah apa yang akan di lakukan elena. Aku pikir elena adalah gadis paling pintar. Pasti nggak bakal ketahuan.👍
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
kamu jangan terlalu baik jadi orang sayangku /Cry/
Serena Khanza: kadang terlalu baik gampang di manfaatkan ya kak
total 1 replies
Anisa Febriana272
dia kasihan pura2 Buta biar tahu siapa yang jahat, Ellena hebat banget pas rapat, dia jawab pertanyaan itu tanpa emosi😱
Anisa Febriana272: wkwkwkwk, author GK mau ngaku nih🤣
total 4 replies
Tiara Bella
kita tunggu hasilnya....siapa yg menang
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
cantiknya itu fakta ya, masak masih nggak mau menerima kenyataan, mending kasih aku aja /CoolGuy/
Hunk
Wih, keren banget nih Elena.

Catatannya dihilangin dulu, terus dimunculin lagi—kayak sengaja ngejek Marcus 😆
Panda
🤔🤔🤔

tegang tapi belum show

beberapa frasa diulang

masih terlalu subtil
Serena Khanza: dikit lagi tamat
total 2 replies
se ʕ⁠´⁠•⁠ᴥ⁠•⁠`⁠ʔ an
aku tak rela dia mendekatinya /Angry/
Tiara Bella
Selena ternyata ada udang dibalik bawan ya .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!