Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Membiasakan diri.
Sudah lebih dari seminggu Aulia dan Mama Kania tinggal di Jakarta. Di rumah besar itu, mereka diperlakukan sebaik dan senyaman mungkin. Kesehatan Aulia juga sedikit demi sedikit berangsur membaik.
Archio tidak hanya mengandalkan kehadiran Baby Leonel dan usahanya sendiri untuk membuat wanita itu pulih. Dokter Sera pun ia minta secara khusus untuk memantau perkembangan mental dan trauma Aulia. Dan sekarang, wanita itu mulai bisa lebih membuka diri, walau belum sepenuhnya.
Pagi ini, Mama Kania pamit pulang ke Surabaya, meninggalkan Aulia yang masih bertahan di Jakarta demi Leonel. Setelah dipertimbangkan, Aulia ternyata masih terlalu berat jika harus jauh dari bayi itu. Leonel sudah mengisi hari-harinya, membuatnya tertawa tanpa sadar.
“Titip Aulia di sini, ya, Nak Archio,” ujar wanita paruh baya itu. Nada suaranya berat, jelas tak mudah meninggalkan putrinya sendirian di kota orang.
“Siap, Tante. Tenang saja, kami akan menjaganya dengan baik. Tante tidak perlu mengkhawatirkan apa pun,” jawab Archio tanpa ragu. Ada ketegasan dalam suaranya. Bukan sekadar janji. Mama Kania percaya, karena selama mereka tinggal di rumah ini, Archio memang selalu ada untuk mengurus Aulia, di tengah kesibukan pria itu sendiri.
“Sayang, kamu di sini baik-baik ya. Mama janji, setelah kamu benar-benar sudah sembuh, Mama akan membawa kamu pulang ke Surabaya,” ujar Mama Kania sambil memeluk Aulia erat. Aulia menangis di pelukan hangat itu.
“Sudah, tidak perlu menangis. Kita masih dekat, kamu ada di sini!" ujarnya lembut, membawa tangan Aulia ke dadanya. “Kalau ada apa-apa di sini, jangan lupa beritahu Mama, oke?”
Aulia mengangguk cepat. Ia kemudian membiarkan ibunya masuk ke dalam mobil yang dikemudikan asisten Archio, mengantarnya ke bandara.
.
.
Aulia dan Archio kembali masuk ke dalam rumah. Kini rumah besar itu terasa benar-benar sepi. Selain Mama Kania yang pulang, kedua orang tua Archio juga sudah kembali ke rumah mereka sendiri, rumah masa kecil Archio. Rumah yang mereka tempati sekarang adalah rumah pria itu.
Hanya ada Aulia, Archio, Leonel, pengasuh, dan beberapa asisten rumah tangga. Dan jujur saja, Aulia mulai merasa kesepian, terutama saat Archio bersiap berangkat ke kantornya.
“Kamu mau ke mana?” tanya Archio saat melihat Aulia berjalan ke arah lain.
“Ke dapur, Pak,” jawab Aulia formal.
“Ck.” Pria itu berdecak malas. “Aulia, bisa tidak jangan panggil saya Pak? Sudah beberapa kali saya bilang, kan? Panggil Archio saja.”
Atau biar lebih akrab lagi, panggil sayang juga boleh banget, Lanjutnya dalam hati, tapi dia segera menggelengkan kepalanya cepat dan tersenyum sendiri. “Astaga, apa yang saya pikirkan,” gumamnya lirih, lalu mengikuti langkah Aulia ke arah dapur.
“Bapak ngapain?” tanya Aulia saat melihat Archio berdiri tepat di belakangnya.
“Kamu mau buat susu, kan? Sekarang biar saya yang buat. Kamu duduk saja di meja makan,” ujarnya lembut.
Beginilah keseharian mereka sejak Aulia berada di sana. Archio tidak risih berada di dapur, sekadar membantu membuat sesuatu yang diinginkan Aulia. Padahal wanita itu sudah benar-benar membaik, namun Archio masih saja memperlakukannya seperti orang yang sakit berat.
“Astaga, Bapak tidak bersiap ke kantor?” tanya Aulia, sedikit frustrasi. Ia pun akhirnya melangkah untuk duduk. Bagaimanapun, sekeras apa pun ia menolak, aura dominan Archio tetap tidak bisa ia lawan.
Tidak ada jawaban. Archio bahkan tidak menoleh.
“Pak, aku ngobrol. Dengar tidak sih?” protes Aulia.
“Ya Allah, sayang banget. Seorang CEO ternyata budek,” gumamnya sangat pelan. Ucapannya itu akhirnya membuat Archio menatap tajam ke arahnya.
“Ya lagian, kalau orang ngomong itu disahutin, Pak. Berasa bicara sama hantu saja aku ini,” lanjut Aulia kesal.
“Dan kamu itu, panggil-panggil Pak begitu. Sejak kapan saya jadi bapak kamu, saya tanya?" ketus Archio sambil membawa segelas susu dan meletakkannya di depan Aulia.
“Loh, emang bukan ya? Tapi Bapak memperlakukan saya seperti layaknya seorang anak,” jawab Aulia sambil tersenyum tipis, menikmati raut tidak suka Archio.
“Sudahlah.” Archio memijat pelipisnya. Ia mendekatkan wajahnya, berdiri sangat dekat dengan Aulia yang duduk, lalu menatapnya lama.
Aulia menahan napas. Wangi tubuh Archio tercium jelas, dan hembusan napas pria itu terasa dekat. “Bapak ngapain?” tanya Aulia gugup.
Archio tersentak, lalu cepat berdiri tegak. “Tidak apa-apa. Saya cuma berpikir, kamu beberapa hari terakhir kenapa jadi jauh lebih cerewet, ya?” ujarnya sambil tersenyum tipis. Tapi baguslah. Setidaknya saya lebih menyukai dia yang bisa membuka diri dan berbicara daripada melihatnya terus murung seperti dulu, lanjutnya dalam hati, menyembunyikan senyum di bibirnya.
“Saya naik dulu, mau bersiap ke kantor. Kamu kalau lapar, bisa makan lebih dulu,” ujarnya, lalu meninggalkan Aulia.
Aulia masih duduk membeku di meja makan, menatap segelas susu yang masih hangat di depannya.
...****************...
Tiga puluh menit kemudian, pria itu turun kembali. Kali ini penampilannya sudah sangat rapi dengan pakaian kantor. Kemeja putih membalut tubuhnya, disempurnakan jas hitam yang terpasang rapi di luar.
Di belakangnya, sang pengasuh ikut turun sambil menggendong Leonel. Bayi itu sedang menangis karena lapar, suaranya menggema pelan di ruang makan.
“Mami, pakaiin Papi dasi dong.”
Archio berjalan mendekat ke arah meja makan, membawa tas kantor dan dasi di tangannya. Kalimat barusannya membuat Aulia langsung melotot, refleks menoleh ke sekitar. Sang pengasuh pun tampak tak kalah kaget, jelas kalimat itu terdengar terlampau aneh bagi mereka.
“Mami? Eh, kok dikasih ke aku?” tanya Aulia bingung saat Archio menyerahkan dasinya.
“Bapak ngapain?” Aulia cepat berdiri, refleks menjauh. Tatapannya waspada saat Archio justru melangkah makin dekat. Raut takut Aulia terlihat lucu, membuat sang pengasuh menahan senyum, sementara Leonel yang tadi menangis malah tertawa renyah.
“Aulia, kita harus membiasakan diri di depan Leonel. Pakai panggilan Mami dan Papi, biar nanti dia tidak bingung kenapa kamu dipanggil ibu, sementara aku Papi,” ujar Archio sambil mengedipkan mata kirinya.
Aulia terdiam. Wajahnya berubah seketika.
"Mas, kamu maunya nanti dipanggil apa oleh anak kita? Baiknya panggil Bunda sama Ayah ya. Iya, kedengarannya bagus, panggilan Ayah Bunda," ujar Aulia dengan semangat saat itu. Pagi yang cerah, saat akhir pekan, mereka duduk berdua di depan halaman rumah.
Adrian tidak menoleh, tapi menjawab pelan, “Papi.”
“Ya sudah, kalau begitu aku dipanggil Mami,” sahut Aulia dengan senyum sumringah.
“Kamu tetap Bunda. Atau kalau kamu mau Mami, maka aku mau dipanggil Bapak saja,” suara Adrian terdengar datar.
“Ih, kok gitu sih, Mas. Konsepnya bukan begitu. Kalau Mas dipanggil Papi, berarti aku Mami. Kalau Mas Ayah, aku Bunda. Kalau Mas Baba, aku Umma. Kalau Mas Papa, aku Mama. Gitu, Mas,” ujarnya protes.
“Terserah,” jawab Adrian akhirnya.
“Lagian, kalau kamu Papi dan aku Bunda, nanti anak kita bingung. Dia tanya-tanya siapa Maminya kalau begitu,” lanjut Aulia.
“Iya, iya, terserah kamu. Panggilnya suka kamu saja, hmm.” Pria itu mengusap lembut rambutnya, lalu tangannya turun, mengusap perut buncit istrinya.
“Aulia… kamu kenapa? Tidak suka ya? Maaf… maafkan saya,” ujar Archio panik saat mendapati air mata tiba-tiba membasahi wajah Aulia.
Tangan yang masih memegang dasi yang hendak dia berikan pada Aulia kini di tarik kembali. cepat-cepat pria itu memakaikan dasinya asal, melirik Aulia yang duduk di meja dengan ekor matanya.
"Saya... saya berangkat ke kantor dulu." lanjutnya kemudian berlalu dari sana sembari menenteng tas kantornya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
buruan jual Aulia, biar mereka ga bisa balik ...jadi gelandangan sekalian