NovelToon NovelToon
After Moon : Sekutu Di Paleside

After Moon : Sekutu Di Paleside

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Action / Fantasi / Light Novel
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Murdoc H Guydons

*Update tiap hari*

Dia pikir adiknya sudah mati 7 tahun lalu. Dia salah.

Zane Elian Kareem kehilangan segalanya dalam satu malam: Rumah, Orang tua, dan Serra, adiknya.

Namun, sebuah benda di toko berdebu mengubah takdirnya. Serra masih hidup.

Kini, Zane bukan lagi bocah lemah. Dia adalah seorang Tarker—pemeta wilayah liar yang berani menembus zona maut demi uang. Persetan dengan intrik politik kerajaan atau diskriminasi ras. Masa bodoh dengan Hewan Buas Kelas E yang mengintai di hutan.

Zane akan membakar siapapun yang menghalangi pencarian "jalan pulangnya" menuju Serra. Bahkan jika harus melawan satu republik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Murdoc H Guydons, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20 - Akhir Cerita si Tarker Solo

Pertarungan subuh tadi terasa sudah berlalu sangat lama. Meskipun saat ini sudah tengah hari, langit Paleside masih berwarna kelabu, seolah ikut berduka.

Pemakaman Ibu Fiora baru saja selesai.

Para warga desa dan tetangga sudah perlahan pergi, meninggalkan Fiora yang masih terduduk diam di dekat gundukan tanah segar yang ditandai batu nisan sederhana. Aku berdiri tak jauh dari sana, memberinya ruang. Rasa simpati untuknya masih terasa kental, namun di sudut lain pikiranku, sebuah nama kembali bergaung dengan kuat: Cragspire. Tempat itu adalah satu-satunya petunjukku untuk menemukan Serra.

Saat pikiranku berkelana ke pegunungan barat, Fiora, yang sejak tadi menunduk, perlahan mengangkat wajahnya.

Mata kami bertemu melintasi area pemakaman yang sunyi itu. Di dalam tatapannya yang sembap dan penuh luka, aku tidak melihat tuduhan atau kemarahan. Aku hanya melihat rasa kehilangan yang dalam.

Fiora bergerak. Ia meraih tas selempang kecilnya, tas yang selalu ia bawa dan penuh dengan peralatan Elixir. Dari dalamnya, ia mengeluarkan sebuah buku kecil yang sampulnya sudah sedikit usang: “Elixir dan Tumbuhan, edisi pemula.”

Ia memandangnya sejenak, sebuah perpisahan tanpa kata pada gadis yang dulu begitu penuh harapan.

Kemudian, dengan gerakan khidmat, ia meletakkan buku itu di atas tanah makam ibunya. Meninggalkannya di sana sebagai persembahan terakhir—sebuah simbol dari perpisahan dengan dirinya yang lama, yang telah ia kubur bersama dengan orang yang paling mendorongnya untuk meraih mimpi itu.

Langkah kaki berat mendekat. Percy dan tiga orang prajurit Sentinel menghampiriku.

Saat aku mengamati mereka, aku menyadari ada sesuatu yang telah berubah pada diri Percy. Cara berjalannya tidak lagi memiliki keraguan seorang kadet. Langkahnya kini lebih mantap dan terukur. Bahunya yang dulu sedikit canggung dalam seragamnya kini tampak tegap, memikul beban komando.

Ketidakpastian seorang pemuda yang dilempar ke dalam krisis telah lenyap, ditempa dan dibakar habis oleh api pertempuran, meninggalkan sosok komandan yang dingin dan berwibawa.

Pandanganku beralih sejenak ke belakang mereka. Deretan gundukan tanah segar dengan nisan kayu sederhana, yang dibuat seadanya dari papan peti yang pecah. Nama-nama yang diukir kasar dengan pisau masih terlihat jelas: RORIC, KIAN, GENTA.

Nama-nama yang beberapa jam lalu diteriakkan Percy sebagai perintah, kini terukir sebagai kenangan. Mereka juga baru saja selesai menguburkan rekan-rekan mereka yang gugur.

"Apa rencanamu selanjutnya, Zane?" tanya Percy pelan.

"Ke barat," jawabku. "Menuju Cragspire."

Percy mengangguk pelan, tatapannya menerawang melewati puing-puing desa.

"Kami akan tetap di sini," katanya, suaranya mantap "Ini pos tugas kami. Ini... ini tanggung jawab kami sekarang." Ia menghela napas berat. "Kami akan tetap di sini, setidaknya sampai bantuan dari Bregen tiba.”

Percy menepuk bahuku dengan canggung namun tulus, sebuah gestur persahabatan yang lahir dari pertempuran.

"Kami harus mulai bekerja. Ada banyak yang harus dilakukan." Ia berbalik ke arah sisa pasukannya. "Ayo."

Tanpa menunggu jawaban, ia dan ketiga prajuritnya berjalan pergi, meninggalkan area pemakaman sunyi. Langkah mereka bukan lagi langkah para kadet, melainkan langkah para veteran yang memikul beban baru.

Aku kini berdiri sendirian. Pandanganku kembali tertuju pada Fiora, yang masih tak bergeming di samping makam ibunya, bahunya bergetar oleh isak tangis yang tak bersuara.

Aku memberinya beberapa saat lagi. Akhirnya, dengan helaan napas panjang, aku berbalik berjalan ke arah reruntuhan desa...

. . .

Keesokan harinya.

Aroma kayu basah dan debu dari puing masih menggantung pekat di udara Paleside. Namun, suara rintihan telah digantikan oleh suara baru yang penuh tekad: denting palu, derit gerobak, dan teriakan-teriakan koordinasi para warga. Desa ini mungkin terluka parah, tapi ia menolak untuk mati.

Dari jendela tempatku menginap, aku melihat tiga sosok familier. Pedagang gempal dan dua rekannya yang berhasil kabur dari tawanan bandit bersama kami, sedang memuat barang sisa dagangan ke atas Kuda Batu. Syukurlah mereka selamat.

Saat ini aku berada di kamar di rumah salah satu warga yang berbaik hati menawarkan tempatnya. Aku duduk di lantai, menata kembali isi tasku untuk perjalanan. Gulungan peta kosong kutempatkan di bagian paling aman, beberapa biskuit Tarker terakhir kumasukkan ke kantong samping, dan belati kecil untuk berburu hewan.

Pikiranku fokus menghitung sisa logistik dan rute tercepat menuju Cragspire. Namun, pandanganku terus kembali pada batonku yang tergeletak di samping.

Di bawah cahaya masuk dari jendela, baru kusadari ada retakan tipis pada Sigil airku.

Apa gara-gara Hydrocraft panas itu ya?

Pikiranku kembali pada pertarungan kemarin. Pada gelombang energi yang meledak dari dalam diriku saat melihat Ibu Fiora jatuh.

Amarah itu... rasanya seperti semua Daya di dalam tubuhku dipaksa keluar melalui satu titik sempit dengan kecepatan tak wajar. Konsentrasiku yang terfokus pada keinginan untuk menghancurkan, bukan lagi mengendalikan, membuat aliran energiku bergejolak hebat dan tak terkendali. Menginduksi Hydrocraft-ku menjadi panas hingga mengubahnya menjadi sesuatu yang baru.

Steamcraft.

Aku tahu istilahnya dari buku-buku di Markas. Sebuah disiplin crafting tingkat lanjut yang berbahaya dan tidak stabil sehingga butuh kendali absolut. Tapi aku tak pernah mempelajarinya. Rapalan formula itu muncul begitu saja di kepalaku. Kekuatan itu menguras habis Daya-ku.

Itu sungguh menakutkan. Jika terjadi di alam liar dan aku sendirian, aku bisa jadi mangsa cuma-cuma bagi hewan buas.

Aku menatap retakan setipis rambut di Sigil-ku. Sigil yang retak adalah bom waktu. Kemungkinan terburuknya, Sigil ini bisa pecah total saat aku tidak hati-hati menarik elemennya, melepaskan ledakan air tepat di tanganku.

Sialnya di sini tidak ada toko Sigil, aku harus segera menggantinya di Cragspire. Meskipun tidak efisien Daya, sementara aku harus menggandalkan air di alam saja sebagai media Hydrocraft-ku.

Tok. Tok.

Ketukan pelan di pintu membuyarkan lamunanku.

"Masuk," kataku.

Pintu terbuka. Fiora melangkah masuk.

Aku sempat tertegun sesaat. Ia memakai tunik berwarna merah tanah, celana kargo yang kokoh, dan sepatu bot penjelajah. Rambutnya yang biasanya diikat praktis, kini diikat rapi ke belakang. Tas selempang kecilnya tampak lebih padat dan berisi, tersampir mantap di pinggangnya.

Ia tampak lebih tegar, meskipun matanya yang cokelat madu masih menyiratkan kesedihan dalam. Ia tampak seperti seseorang yang akan memulai perjalanan panjang.

"Kau akan berangkat?" tanyanya tenang.

Aku mengangguk pelan. "Yap, ke Cragspire."

Fiora menarik napas dalam. Tatapannya kini dipenuhi tekad baru yang dingin.

"Dulu, ibu pernah bilang bahwa Elixir-ku terlalu berharga untuk hanya digunakan di Paleside," katanya pelan. "Ia ingin aku pergi, menyebarkan kebaikannya ke dunia luar. Tidak kulakukan, karena aku takut meninggalkannya."

Ia berhenti sejenak, menatap lurus ke mataku.

"Aku tak bisa melakukan apa yang Ibu mau jika tetap di sini."

Ia melangkah lebih dekat. "Aku ingin ikut denganmu, Zane. Aku tahu aku gagal dalam ujian dan bukanlah seorang Tarker, tapi aku bisa membantu. Aku bisa meracik Elixir, aku mengerti tumbuhan, dan Petrocraft-ku cukup kuat untuk pertahanan. Aku tidak akan menjadi beban."

Aku menatapnya sejenak, pikiranku berkecamuk.

Selama bertahun-tahun, aku bekerja sendiri. Itu lebih mudah. Lebih aman. Tidak ada orang lain yang harus dikhawatirkan, tidak ada pendapat lain yang harus dipertimbangkan, tidak ada kelemahan lain yang bisa dieksploitasi musuh. Kehadiran Fiora akan merusak semua itu.

Namun... aku juga teringat bagaimana ia berdiri tegap melepaskan Lontaran Tanah dari balai desa. Dia kuat, lebih kuat dari yang ia sadari.

Dan di atas segalanya, sebuah suara berbisik di kepalaku. Suara lemah Ibu Fiora di balai desa.

“Jika nanti Fiora akan menjadi Tarker sepertimu... maukah kau menjaganya?”

Aku mengutuk dalam hati. Aku dengan polosnya menjawab iya. Membuatku menjadi memiliki janji kepada orang yang sudah meninggal, tak bisa lagi memberikan argumen pembelaan jika janji itu tak bisa kupenuhi.

Aku menghela napas panjang, menyerah pada nasib, dan nurani.

"Baiklah," kataku datar, menyembunyikan alasan Ibu Fiora di balik wajah kaku. "Mungkin aku butuh seseorang yang bisa masak. Lidahku sudah mati rasa makan biskuit hambar setiap hari."

Sebuah senyum kecil tulus—yang pertama kulihat dalam beberapa hari terakhir—muncul di wajah Fiora. Senyum itu seperti secercah cahaya matahari pertama yang menembus badai.

"Aku cukup bisa diandalkan untuk urusan makanan," jawabnya pelan.

Momen itu pecah oleh ketukan lain di pintu, kali ini lebih tergesa. Seorang kadet Sentinel yang masih sangat muda menjulurkan kepalanya dari balik pintu.

"Tarker Zane. Ah, kebetulan Nona Crestfall," katanya dengan napas tersengal. "Kadet Senior Percival meminta kehadiran Anda berdua di alun-alun desa sekarang."

Sebelum aku atau Fiora sempat bertanya ada apa, kadet itu langsung mengangguk canggung.

"Permisi," katanya, lalu berlari pergi.

Meninggalkan kami berdua yang saling berpandangan dalam kebingungan.

1
Mingyu gf😘
Kurang kerjaan gak tuh😭😭
Mingyu gf😘
Jika memang tidak membutuhkan pendapat setiap orang, untuk apa juga rapar
Wida_Ast Jcy
bagus cerita menarik dan recommended dech
Wida_Ast Jcy
batu itu menyimpan air ya thor sehingga ia bisa menyimpan air sampai bertong tong. apakah memilik kesaktian🤔🤔🤔
Blueberry Solenne
Suara siapa itu, dan karena apa ya dia berteriak, jadi penasaran...
Murdoc H Guydons: Wihii.. langsung lanjut d Episode selanjutnya Kak.. 😬
total 1 replies
Blueberry Solenne
waduh menghambat perjalanan ini, harus bawa sol sepatu kemaa-mana ini bang🤭
Murdoc H Guydons: Hehe.. sepatunya udah jelek Kak.. harus d ganti.. 🤭
total 1 replies
Serena Khanza
semakin bagus ceritanya, ayo semangat lanjut terus thor 💪🏻💪🏻💪🏻
Serena Khanza
kek manalah ya biskuit tapi kek batu 😭😭 tuh gigi gak rontok ya 🤣
apa di sana gak ada makanan lain gitu thor misal buah atau cemilan lain atau apa gitu
Serena Khanza: oh berarti beneran ada ya real nya ku pikir cuma di fiksi aja 😅
total 2 replies
CACASTAR
ini cerita tentang pemburu hewan sejenis predator, kan ya...
Murdoc H Guydons: Pemburu hewan cuma sebagian kecil Kak,, bahkan cuma worldbuilding ny aja.. konflikny jauh lebih luas Kak.. 😬
total 1 replies
Greta Ela🦋🌺
Mungkin mereka lebih sayang sama peliharaannya kali🤭
Murdoc H Guydons: Soalny mau dipake buat kabur Kak.. lagian makanny kan cuma rumput.. 🤭
total 1 replies
Indira Mr
apakah kulit hewan buas dijual belikan
Murdoc H Guydons: Bisa dong Kak.. d olah jadi pakaian biasanya..😬
total 1 replies
Indira Mr
benar lebih baik memikirkan sol sepatu daripada memikirkan hal hal yang beratin pikiran🚀🚀🚀
Murdoc H Guydons: haha.. ga nyampe mikir jauh",, kalo yang urusan yang deket msih bermasalah Kak..😅
total 1 replies
Lukman Mubarok
mirip anime 👍 genre fantasi petualang
Murdoc H Guydons: Ya.. betul Kak.. rata" anime petualangan mirip sih settingny Kak.. 🤭
total 1 replies
Jing_Jing22
ada visualnya pasti lebih seru/Chuckle/
Murdoc H Guydons: Ada sih.. tapi belum rampung.. kalau udah jadi nanti d posting y Kak.. 😬
total 1 replies
Jing_Jing22
apakah tarker itu detektip??
Jing_Jing22: Ooh, jadi lebih ke arah penjelajah dan peneliti ya Kak?
total 2 replies
Serena Khanza
ini tarker macam kek forum atau organisasi atau kelompok gitu ya
Serena Khanza: oh kayak di game gitu ya aliansi gitu ya
total 2 replies
Wida_Ast Jcy
Lah adiknya hilang ya thor
Murdoc H Guydons: Iya Kak.. emang premis utamanya nyari adeknya yang hilang Kak.. slow pace banget ya Kak? hehe.. 😅
total 1 replies
Wida_Ast Jcy
seram amat sich thor gak kebayang wujudnya giman🤔🤔🤔
Murdoc H Guydons: hehe.. iya.. gitu deh Kak.. 🙏🏻
total 1 replies
studibivalvia
kalo domba harusnya lebih lembut lagi ga sih? apalagi kalo domba muda
Murdoc H Guydons: wah saya juga belum riset tentang tekstur daging dombanya sih Kak.. ntar d riset dulu yak.. habis itu kita buat deskripsi detailny d buki 3.. 🤭😀
total 3 replies
studibivalvia
rendang adalah fav akuu 😭
Murdoc H Guydons: d buku 3 nanti, kita bikin deskripsi yg lebih sedap ya...hahaha..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!