Kenan tahu diri. Dengan badan yang "lebar" dan jerawat yang lagi subur-suburnya, dia sadar bahwa mencintai Kala—sang primadona sekolah—adalah misi bunuh diri. Namun, lewat petikan gitar dan humor recehnya, Kenan berhasil masuk ke ruang paling nyaman di hidup Kala.
Magang menyatukan mereka, melodi lagu mengikat perasaan mereka. Saat Kenan mulai bertransformasi menjadi idola baru yang dipuja-puja, dia justru menemukan fakta pahit: Kala sedang menjaga hati untuk seorang lelaki manipulatif yang bahkan tak pernah menganggapnya ada.
Bertahun-tahun berlalu, jarak Yogyakarta - Padang menjadi saksi bagaimana rasa yang tak pernah terucap itu perlahan mendingin. Sebuah lagu lama yang tiba-tiba viral menjadi jembatan rindu yang terlambat. Saat Kenan akhirnya menemukan "kembaran" Kala pada wanita lain, dan Kala dipaksa menyerah pada perjodohan, apakah melodi mereka masih punya tempat untuk didengarkan?
"Kita dulu sedekat nadi, sebelum akhirnya kau memilih menjadi asing yang paling aku kenali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asry Ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gencatan Senjata
Pagi itu, suasana di ruang OSIS mendadak terasa dingin, bukan karena AC-nya yang baru diservis, tapi karena dua penguasa panggung sekolah sedang duduk berhadapan. Kenan, sang vokalis yang baru saja glow up, dan Faris, ketua OSIS jenius yang kacamatanya selalu berkilat-kilat setiap kali bicara soal regulasi.
"Jadi," Faris membuka percakapan sambil mengetuk-ngetuk pulpen mahalnya ke meja. "Si Revan ini benar-benar sudah masuk kategori gangguan keamanan level menengah. Corat-coret tembok itu cuma pembukaan. Menurut data yang aku kumpulkan, dia makin sering terlihat nongkrong di warung belakang sekolah tiap jam pulang."
Kenan menyandarkan punggungnya ke kursi, mencoba terlihat santai padahal jantungnya balapan. "Betul, Ris. Dia itu sudah kayak hantu penunggu sekolah, tapi versi pakai motor RX-King yang knalpotnya minta ampun bisingnya. Dia terobsesi sama Kala, dan dia pikir aku ini penghalang utamanya. Padahal penghalang utamanya kan... ya, sifat dia sendiri yang nggak jelas."
Faris memperbaiki letak kacamatanya. "Aku punya strategi. Minggu depan ada acara 'Gelar Karya Kelas Tiga'. Itu acara besar. Semua orang fokus ke panggung. Itu waktu yang paling pas buat orang nekat kayak dia masuk dan bikin kacau. Entah dia mau memutus kabel sound system atau nekat naik ke panggung."
"Terus rencana kau apa, Pak Ketua?" tanya Kenan penasaran.
"Kita pakai strategi 'Umpan Vokalis'. Kamu, Kenan, harus tampil semaksimal mungkin di panggung. Kamu harus tarik semua perhatian dia ke kamu. Bikin dia panas. Sementara itu, aku dan tim keamanan OSIS dibantu Jovan bakal berjaga di semua akses masuk," jelas Faris dengan nada ala jenderal perang.
"Tunggu, tunggu. Kenapa aku yang jadi umpan? Kenapa nggak kau saja yang berdiri di panggung sambil baca puisi fisika?" protes Kenan.
"Karena dia nggak benci sama aku, Nan. Dia benci sama kamu. Dan satu lagi, Kala akan aku tempatkan di belakang panggung bersama Elin dan Maura. Dia aman di sana. Begitu Revan muncul dari semak-semak belakang panggung buat nyamperin kamu atau Kala, tim Jovan yang sudah siap dengan 'jaring' bakal langsung bertindak."
"Jaring? Kau pikir dia ikan tuna?" Kenan tertawa.
"Jaring sosial, Nan. Maksudnya, kita langsung kepung dan lapor ke Pak Satpam yang sudah kita briefing sebelumnya. Gimana? Deal?"
Kenan diam sejenak, lalu mengulurkan tangannya. "Oke, deal. Tapi kalau mukaku yang ganteng ini lecet gara-gara rencana kau, kau harus bayar biaya perawatannya ya!"
Operasi Penangkapan di Hari Gelar Karya
Hari H pun tiba. Lapangan sekolah penuh sesak. Aroma keringat, bedak, dan parfum kw bercampur jadi satu. Kenan sudah bersiap di samping panggung, memegang gitarnya kuat-kuat. Di kejauhan, dia melihat Jovan yang memakai rompi keamanan OSIS (yang sebenarnya kekecilan buat badannya) sedang memberi kode jempol dari arah semak-semak belakang gudang sekolah.
"Nan, fokus! Jangan gemetar!" bisik Kala yang tiba-tiba muncul memberikan sebotol air mineral.
"Aku nggak gemetar karena takut Revan, Kal. Aku gemetar karena takut suara aku pecah pas liat kamu cantik banget pakai baju ini," gombal Kenan yang sukses bikin Kala memukul bahunya gemas.
"Sudah! Sana naik! Pahlawan kerupuk harus beraksi!"
Kenan naik ke panggung. Dia mulai menyanyikan lagu-lagu hits dengan energi yang luar biasa. Di sela-sela lagu, Kenan sengaja berteriak lewat mic, "Lagu ini buat kalian yang berani jujur! Bukan yang hobinya corat-coret tembok orang sekolah!"
Ternyata pancingan itu berhasil. Di pojok lapangan, dekat tangki air, sesosok pria berjaket jeans dan bertopi rendah mulai bergerak mendekat ke arah belakang panggung. Itu Revan.
Dia membawa sebotol cat semprot dan sebuah kunci inggris di tangan kirinya. Wajahnya terlihat gelap penuh amarah.
Revan menyelinap melalui celah pagar yang biasanya dipakai anak-anak bolos. Dia pikir dia cerdik. Dia berjalan mengendap-endap menuju kabel induk sound system.
"Sekarang!" teriak sebuah suara dari handy-talky yang dipegang Faris di atas panggung samping drum.
Tiba-tiba, dari balik tumpukan kursi bekas, muncullah Jovan dan tiga anak OSIS lainnya.
"Woii! Mau ke mana kau, pangeran STM?!" teriak Jovan sambil memegang sapu lidi (sepertinya dia terinspirasi dari penyamaran Kenan tempo hari).
Revan kaget bukan main. Dia mencoba lari, tapi kakinya tersandung kabel yang sengaja diletakkan Faris sebagai jebakan. Gubrak! Revan jatuh mencium tanah lapangan yang berdebu.
"Mau jadi jagoan ya? jauh-jauh cuma buat jatuh di sini?" sindir Jovan sambil membantu Pak Satpam mengunci tangan Revan.
Kenan yang melihat kejadian itu dari atas panggung tidak berhenti bernyanyi. Dia justru makin semangat bernyanyi. Dia melihat Revan digiring keluar gerbang sekolah menuju ruang kesiswaan untuk dipanggil orang tuanya.
Setelah lagu berakhir, Kenan turun panggung dan disambut oleh Faris.
"Kerja bagus, Nan. Umpan kamu efektif. Dia benar-benar panas liat kamu nyanyi bareng Kala tadi," puji Faris sambil menyodorkan tisu.
"Iya, tapi capek juga ya pura-pura berani di atas panggung sementara teman sendiri lagi main petak umpet di bawah," sahut Kenan sambil menyeka keringatnya.
Kala datang berlari dan langsung menghampiri mereka. "Revan sudah dibawa? Dia nggak apa-apa kan?"
"Tenang Kal, dia cuma 'istirahat' sebentar di ruang guru. Pak Satpam bilang bakal lapor ke sekolahnya juga. Semoga ini jadi pelajaran buat dia," lapor Jovan yang datang dengan wajah penuh kemenangan.
Kala menatap Kenan dengan tatapan haru. "Makasih ya Nan, Ris, Jovan. Kalian bener-bener jagain aku."
Kenan merangkul bahu Jovan. "Sama-sama, Kal. Lagian, masa depan kita terlalu berharga buat dirusak sama orang yang nggak bisa move on."
Momen itu ditutup dengan tawa mereka di belakang panggung. Faris dan Kenan akhirnya tidak lagi bersaing secara konyol. Mereka sadar, di kelas tiga ini, musuh yang paling besar adalah ujian yang sebentar lagi datang, bukan sekadar cowok dari sekolah sebelah yang sakit hati.
"Eh, tapi Nan," ujar Faris tiba-tiba. "Soal kacamata intel kamu tempo hari... itu sebenernya keren juga kalau lensanya diganti."
"Halah! Jangan kau bahas lagi itu, Ris! Malunya sampai ke tulang rusuk!" teriak Kenan yang langsung disambut tawa meledak dari teman-temannya.
Dengan tertangkapnya Revan, satu beban besar dalam hidup Kenan dan Kala terangkat. Sekarang, jalur menuju Ujian Nasional sudah bersih dari gangguan. Mereka siap menghadapi pertempuran sesungguhnya di meja ujian.