NovelToon NovelToon
Kesayangan Tuan Muda Mafia

Kesayangan Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Selingkuh / Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 34

Cahaya matahari masuk tanpa izin melalui jendela-jendela besar, memantul di lantai marmer, membuat segala sesuatu tampak terlalu jelas—terlalu jujur. Bau disinfektan masih samar di udara kamar Zivaniel, bercampur dengan aroma obat dan kain bersih.

Cherrin berdiri di dekat jendela saat dokter baru saja keluar dan memeriksa Zivaniel.

Ia tidak bergerak sejak lima menit lalu, hanya mendengarkan.

“Lukanya bersih. Tidak ada tanda infeksi,” kata dokter itu dengan nada profesional. “Tapi dia perlu istirahat total. Tidak boleh stres, tidak boleh banyak bicara, dan—”

Dokter itu melirik Cherrin sebentar.

“—tidak boleh terlalu banyak distraksi emosional.”

Cherrin mengangguk cepat. “Iya. Saya mengerti.”

Dokter mengangguk kembali, lalu keluar bersama dua perawat. Pintu tertutup pelan.

Hening kembali turun.

Zivaniel terbaring setengah miring, matanya setengah terbuka. Selimut menutup tubuhnya sampai dada. Rambut hitamnya masih berantakan, dan wajahnya yang tampan masih pucat dengan cara yang tidak biasa—bukan pucat karena dingin, tapi karena kelelahan yang terlalu lama ditahan.

“Kamu dengar?” tanya Cherrin pelan, berjalan kembali ke sisi ranjang.

Zivaniel mengangguk sedikit.

“Kamu harus istirahat. Jangan banyak mikir.”

Ia ingin terdengar tegas, tapi suaranya tetap lembut—seperti orang yang takut jika nada suaranya terlalu keras, sesuatu akan pecah.

Zivaniel menghela napas pelan.

“Aku lapar.”

Cherrin berhenti.

Ia menatap pemuda itu, memastikan ia tidak salah dengar.

“Kamu… lapar?”

Zivaniel mengangguk lagi. Kali ini lebih jelas.

“Iya.”

Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu di matanya—sesuatu yang nyaris seperti… permintaan.

Cherrin mengedipkan mata, lalu terkekeh kecil tanpa sadar.

“Kamu baru saja hampir mati,” katanya. “Dan hal pertama yang kamu bilang setelah bangun adalah kamu lapar?”

Zivaniel menoleh sedikit, meringis karena gerakan itu menarik lukanya.

“Aku masih hidup,” katanya pelan. “Dan aku lapar.”

Cherrin menghela napas, tapi senyum kecil tetap tertinggal.

“Oke,” katanya akhirnya. “Aku ambilkan bubur. Jangan ke mana-mana.”

Zivaniel tidak menjawab.

Ia hanya menutup mata sebentar—lalu membukanya lagi saat Cherrin melangkah menjauh, seolah takut jika ia benar-benar pergi.

Cherrin menangkap itu.

Ia berhenti di ambang pintu, menoleh.

“Aku cuma ke dapur,” katanya pelan. “Aku bakalan balik lagi Niel.”

Zivaniel mengangguk tipis.

Seolah itu penting.

Dapur Mension De Luca terlalu besar untuk satu orang yang kelelahan.

Cherrin berdiri di sana, menuang bubur hangat ke mangkuk, tangannya sedikit gemetar—bukan karena lelah fisik, tapi karena tubuhnya baru sekarang mengizinkan dirinya sadar betapa tegangnya ia sejak malam tadi.

Ia belum tidur.

Ia belum benar-benar duduk.

Ia hanya… menunggu.

Menunggu napas Zivaniel stabil.

Menunggu rasa sakitnya tidak semakin parah.

Menunggu pagi datang.

Dan sekarang, saat segalanya sedikit lebih tenang, tubuhnya mulai menuntut.

Ia mengusap wajahnya sebentar, menarik napas panjang.

“Jangan jatuh sekarang,” gumamnya pada diri sendiri.

Langkah kaki terdengar dari belakang.

Cherrin menoleh—dan tubuhnya menegang seketika.

Varla berdiri di pintu dapur.

Rambutnya tertata rapi seperti biasa. Gaun rumah berwarna gelap melekat sempurna di tubuhnya. Wajahnya dingin, nyaris tanpa ekspresi—tapi matanya tajam, mengamati.

“Ngapain?” Tanya Varla ketus.

Bukan pertanyaan.

“Buat bubur Tante." jawab Cherrin sambil tersenyum, ia kembali fokus pada mangkuk di tangannya. “Zivaniel lapar Tante.”

Varla melangkah masuk.

“Dokter sudah selesai memeriksa?”

“Sudah.”

“Dan kau masih diizinkan menemaninya?”

Nada itu sangat ketus.

Cherrin menoleh lagi, kali ini menatap Varla langsung.

“Dia meminta aku untuk tinggal,” katanya pelan. “Dan dokter tidak melarang sama sekali. Bahkan kakek dan paman juga sama.”

Varla tersenyum tipis.

Senyum yang tidak sampai ke mata.

“Anakku sedang lemah,” katanya. “Ia tidak selalu tahu apa yang ia butuhkan.”

Cherrin menahan diri untuk tidak membalas dengan nada defensif. Itu hal biasa, dan Cherrin sudah kebal mendengar perkataan kasar Varla.

“Aku cuman memastikan dia makan sampai habis.”

Varla melangkah lebih dekat.

“Rumah ini penuh pelayan,” katanya dingin. “Itu bukan tugasmu.”

Cherrin mengangguk perlahan.

“Iya tante,” sahut Cherrin menghela nafasnya kasar “Tapi Zivaniel nggak mau sama pelayan.”

Keheningan jatuh di antara mereka.

Varla menatap Cherrin lama—terlalu lama—seolah sedang menimbang sesuatu.

“Kau membuatnya bergantung,” katanya akhirnya.

Cherrin terdiam.

“Apa?”

“Kehadiranmu,” lanjut Varla tenang, “membuatnya lupa pada batasan. Pada posisinya. Pada apa yang seharusnya ia tahan sendiri.”

Cherrin merasakan sesuatu mengencang di dadanya.

“Tante”

Varla mendengus.

“Dasar pembawa sial.”

Zivaniel terbangun dengan rasa tidak nyaman.

Bukan karena luka.

Karena Cherrin terlalu lama pergi.

Ia membuka mata, menatap pintu kamar. Jam dinding berdetak pelan. Lima belas menit.

Terlalu lama untuk sekadar mengambil bubur.

Ia menggeser tangannya sedikit, jari-jarinya meremas seprai. Gerakan kecil itu cukup membuatnya meringis.

“Cherrin…” panggilnya lirih.

Tidak ada jawaban.

Dadanya terasa lebih sesak dari seharusnya.

Bukan sakit.

Cemas.

Pintu terbuka.

Cherrin masuk, membawa nampan kecil.

Zivaniel menghela napas tanpa sadar.

“Kamu lama banget” omel Zivaniel lemah.

Nada itu—pelan, sedikit serak—lebih mirip keluhan daripada tuduhan.

Cherrin menatapnya, lalu tersenyum kecil.

“Aku harus buat buburnya dulu” katanya. Ia duduk di sisi ranjang. “Bisa duduk sedikit?”

Zivaniel mengangguk.

Ia mencoba mengangkat tubuhnya sendiri—dan gagal.

Napasnya tertahan saat rasa sakit menyambar.

Cherrin langsung berdiri, panik.

“Jangan,” katanya cepat. “Biar aku.”

Tangannya masuk ke balik bahu Zivaniel, menopang tubuh pria itu dengan hati-hati. Zivaniel mengerang pelan saat bergerak, dahinya berkerut.

“Pelan…” katanya.

“Aku pelan,” jawab Cherrin cepat. “Kamu yang keras kepala dan sok jagoan. Besok jangan bawa mobil atau motor sendirian lagi.” Omel Cherrin kesal.

Ia membantu Zivaniel bersandar, menumpuk bantal di belakang punggungnya. Setelah posisi itu terasa aman, barulah ia menarik napas lega.

“Bilang kalau sakit,” katanya.

Zivaniel menatapnya.

“Kamu udah tau aku sakit, masih aja di omelin.” keluh Zivaniel.

Cherrin mendengus kecil, lalu mengambil sendok.

“Buka mulutnya.”

Zivaniel menurut.

Sendok pertama masuk.

Ia mengunyah pelan, wajahnya mengendur sedikit.

“Hangat,” katanya.

Cherrin tersenyum tipis.

“Pelan-pelan,” katanya lagi. “Jangan buru-buru.”

Zivaniel makan dalam diam beberapa saat.

Zivaniel tidak memalingkan pandangan darinya.

“Kamu tidak tidur tadi malam?” katanya tiba-tiba sambil menatap wajah cantik Cherrin.

Cherrin berhenti menyendok.

“Aku baik-baik aja kok, Niel.”

“Matamu, Cherrin” katanya pelan. “Kamu kelihatan capek banget.” Zivaniel sungguh tidak tega meliha gadis kesayangannya seperti ini. Tapi ia senang dan bahagia juga saat ia sakit, Cherrin menjaganya semalaman suntuk.

Cherrin menghela napas kecil.

“Aku cuma kurang tidur.”

Zivaniel menatap mangkuk itu.

“Tidur nanti,” katanya. “Sekarang temani aku.”

Cherrin terdiam.

Ia menatap wajah Zivaniel—pucat, lelah, tapi matanya memohon dengan cara yang tidak ia biasakan.

Ia mengangguk pelan.

“Iya.”

Ia melanjutkan menyuapi.

Sendok demi sendok.

Pelan.

Hati-hati.

Seolah waktu boleh berhenti di sana.

Ceklek

Pintu kamar terbuka tanpa ketukan.

Varla masuk.

Cherrin menegang.

Zivaniel menoleh.

“Mama,” katanya pelan.

Varla tersenyum, tapi tatapannya langsung jatuh ke tangan Cherrin—ke sendok, ke jarak mereka yang terlalu dekat.

“Kamu terlihat lebih baik,” kata Varla.

Zivaniel mengangguk.

“Cherrin bantu aku makan.”

Varla berhenti beberapa langkah dari ranjang.

“Itu tidak perlu,” katanya ringan. “Pelayan—”

“Aku mau dia,” potong Zivaniel.

Nada itu lemah.

Tapi tegas.

Ruangan terasa lebih dingin.

Varla menatap anaknya lama.

“Kamu terlalu nyaman,” katanya akhirnya. “Ini tidak baik.”

Zivaniel mengernyit.

“Apa yang tidak baik?”

“Kedekatan ini,” jawab Varla. “Kanu sedang sakit, Niel.. Jangan membuat keputusan saat emosimu rapuh.”

Cherrin berdiri.

“Aku bisa pergi kalau—”

“Nggak,” kata Zivaniel cepat. Ia meraih pergelangan tangan Cherrin—lemah, tapi cukup jelas. “Jangan.”

Sentuhan itu membuat Varla mengeras.

“Lepaskan,” katanya dingin.

Zivaniel tidak melakukannya.

Ia menatap ibunya.

“Aku cuma minta dia di sini.”

Varla tersenyum tipis—kali ini tanpa kehangatan sama sekali.

“Kamu lupa satu hal, Niel,” katanya. “Di rumah ini, yang meminta tidak selalu mendapatkan.”

Cherrin merasakan tangan Zivaniel sedikit gemetar.

Ia menutup jarak, berdiri di antara mereka—tidak menantang, tapi melindungi.

“Dia butuh istirahat,” katanya pelan. “Dan ketenangan.”

Varla menatapnya tajam.

“Dan kamu pikir kamu ketenangan itu?”

Cherrin menelan ludah.

“Aku berusaha tante. Maaf”

Varla mengangguk pelan.

“Kita lihat berapa lama.”

Ia berbalik dan keluar tanpa suara.

Pintu tertutup.

Keheningan jatuh berat.

Zivaniel menarik napas panjang.

“Maaf,” katanya pelan. “Mama… memang begitu.”

Cherrin duduk kembali.

“Nggak apa-apa,”

Zivaniel menatapnya.

“Nggak Cherrin,” katanya. “Mama selalu jahat sama kamu”

Ia menutup mata sebentar.

“Terima kasih sudah tinggal.”

Cherrin melanjutkan menyuapi.

“Tidur setelah ini,” katanya.

Zivaniel mengangguk.

Tangannya masih menggenggam pergelangan Cherrin—seolah takut jika ia melepas, pagi ini akan runtuh.

Dan Cherrin membiarkannya.

Karena ia tahu, menunggu seperti ini—melelahkan, menyakitkan—tapi juga satu-satunya hal yang bisa ia lakukan.

Dan untuk sekarang…

Itu cukup.

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Elran cemburu melihat kedekatan Niel dengan Cerrin ..
Julia and'Marian: 🤭🤭🤭,,
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
mampir otor 🙏😊
Julia and'Marian: amiin kak, makasih doanya🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!