NovelToon NovelToon
Trapped In My Lover’S Embrace

Trapped In My Lover’S Embrace

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Trauma masa lalu / Kekasih misterius
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Achromicsea

Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"

Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mimpi Buruk.

Hari-hari berikutnya berjalan pelan, hampir terlalu pelan, seperti waktu sengaja melambat agar aku sempat bernapas.

Arven selalu ada untukku. Pagi, siang, sore. Entah sedang membuatkan teh, membereskan apartemen, atau sekadar duduk menemaniku tanpa banyak bicara. Dan entah sejak kapan, aku mulai merasa itu cukup.

Aku terbiasa bangun dan menemukan dia di dapur. Terbiasa mendengar langkahnya dari ruang kerja kecil di sudut apartemen. Terbiasa dengan suara pintu kamar mandi yang terbuka sedikit, tanda dia masih di rumah.

Rasa nyaman itu tumbuh tanpa kusadari, seperti selimut tipis yang pelan-pelan menutupi bahu. Aku mulai jarang bertanya. Mulai menerima ritme yang ia atur.

Malam itu, aku tidur lebih cepat. Tubuhku lelah dengan cara yang aneh. Lalu, Mimpi itu datang tanpa aba-aba.

Aku berdiri di tempat yang gelap. Tidak sepenuhnya hitam, tapi kosong. Seperti ruangan luas tanpa dinding. Di kejauhan, ada seseorang.

Seorang pria.

Aku tidak bisa melihat wajahnya. Setiap kali aku mencoba mendekat, kepalanya seperti kabur, tertutup bayangan. Tapi aku tahu dia menatapku.

"Seren."

Namaku dipanggil pelan. Suaranya rendah, nyaris bergetar. Suara yang asing, bahkan suara itu terasa familiar meskipun belum pernah kudengar sebelumnya.

Aku ingin menjawab, tapi tenggorokanku terasa terkunci.

"Seren..."

Kali ini lebih dekat.

Dadaku seketika menjadi sesak. Kakiku berat, seperti tertanam di lantai yang tidak ada. Aku ingin lari, tapi tubuhku tidak bergerak. Pria itu mengangkat tangannya, seolah ingin menyentuhku.

Aku terbangun dengan napas tersengal.

Kamarku gelap. Jam di dinding menunjukkan lewat tengah malam. Sprai lengket di punggungku karena keringat dingin. Jantungku berdetak terlalu cepat untuk mimpi yang bahkan tidak kuingat sepenuhnya.

"Arven..." panggilku pelan, refleks.

Tidak ada jawaban.

Aku duduk. Apartemen terasa terlalu sunyi. Sunyi yang berbeda dari biasanya. Tidak ada suara langkah, tidak ada dengung halus dari ruang kerja.

Aku bangun dan keluar kamar.

Lampu ruang tengah mati. Dapur kosong. Aku menyalakan lampu kecil, memanggil namanya sekali lagi. Tidak ada siapa-siapa.

"Arven?"

Aku berjalan menyusuri apartemen, membuka pintu-pintu yang biasa terbuka. Ruang kerja kosong. Kamar mandi gelap. Sepatunya tidak ada di rak.

Dadaku terasa dingin sepenuhnya panik, cukup membuatku berdiri diam terlalu lama.

"Kemana dia?" gumamku sendiri.

Aku meraih ponselku, membuka layar dengan tangan sedikit gemetar. Nama Arven ada di daftar kontak paling atas. Aku menelpon.

Nada sambung berbunyi...sekali...dua kali...

Lalu berhenti.

Aku menoleh saat suara getar terdengar dari sofa.

Ponsel Arven ada di sana. Tergeletak begitu saja, layarnya menyala menampilkan panggilan masuk dariku.

Aku mematikannya pelan.

Ruang tengah terasa lebih besar dari biasanya. Aku duduk di sofa, memeluk bantal kecil, mencoba menenangkan napasku. Mungkin dia hanya keluar sebentar. Mungkin ada urusan mendadak.

Aku menunggu.

Lampu kota di luar jendela perlahan meredup. Aku tidak ingat kapan kelopak mataku mulai berat. Aku hanya ingat bersandar, masih memegang ponselku, berharap mendengar bunyi kunci pintu.

Saat aku terbangun, langit di balik jendela sudah berwarna abu-abu pucat.

Ada suara di depan pintu.

Kunci diputar perlahan.

Aku tersentak bangun, jantungku kembali berdetak cepat. Pintu terbuka, dan Arven masuk. Jaketnya masih menempel di tubuhnya, rambutnya sedikit berantakan. Ia terlihat lelah.

Aku berdiri.

"Kemana saja?" suaraku keluar lebih pelan dari yang kuharapkan, tapi ada sesuatu yang bergetar di dalamnya.

Arven menoleh. Ekspresinya berubah cepat tampak terkejut, lalu lembut.

"Kamu bangun?" tanyanya, seolah itu yang lebih penting.

Aku mengangguk. "Aku nyariin kamu."

Ia mendekat, meletakkan jaketnya, lalu berhenti tepat di depanku. Tangannya terangkat, ragu sebentar, lalu mengusap punggung tanganku.

"Maaf. Ada urusan yang nggak bisa ditunda," katanya pelan. "Aku nggak bermaksud bikin kamu khawatir."

Aku ingin bertanya lebih jauh. Ingin tahu urusan apa yang membuatnya pergi tanpa ponsel, tanpa pesan. Tapi entah kenapa, kata-kata itu berhenti di ujung lidahku.

Aku hanya mengangguk kecil.

"Lain kali bilang dulu," kataku akhirnya.

"Iya," jawabnya cepat. "Aku janji."

Ia menarikku ke dalam pelukan singkat. Tidak lama, tidak erat. Cukup untuk membuat napasku kembali teratur.

"Aku di sini," katanya pelan di dekat telingaku.

Dan entah kenapa, itu cukup untuk sekarang. Tanpa terasa aku tertidur dalam pelukannya.

......................

Pagi haripun datang.

Aku terbangun di sofa ruang tengah, leherku sedikit pegal, selimut tipis sudah melorot ke lantai. Cahaya matahari masuk dari sela tirai, lembut dan hangat. Dari arah dapur, terdengar suara wajan dan air mendidih. Aroma roti panggang bercampur telur menguar pelan

Arven ada di sana.

Ia berdiri membelakangiku, mengenakan kaus rumah, rambutnya sedikit basah seperti baru cuci muka. Gerakannya tenang. Seolah malam tadi tidak pernah terjadi.

"Bangun?" tanyanya tanpa menoleh.

"Iya," jawabku. Suaraku masih serak.

Ia menoleh sebentar, tersenyum kecil. "Sarapan dulu."

Kami makan di meja kecil dekat jendela. Piring tersusun rapi. Teh hangat mengepul pelan. Aku menunggu entah apa, aku ingin sebuah penjelasan, mungkin. Tapi Arven hanya mengunyah dengan santai, sesekali bertanya apakah telurku sudah cukup matang.

Setelah beberapa suap, ia berhenti, menatapku lebih lama dari biasanya.

"Kok kamu tidur di sofa?" tanyanya pelan, seolah baru menyadarinya sekarang.

Aku menaruh sendok. Menghela napas. "Aku kebangun malam. Mimpi buruk."

Ia mengangguk kecil, memberi isyarat agar aku lanjut.

"Aku mimpi ada seseorang," kataku, memilih kata-kata dengan hati-hati. "Aku nggak bisa lihat wajahnya. Tapi dia manggil namaku. Terus aku bangun...kamu nggak ada."

Tangannya yang memegang cangkir berhenti sesaat.

"Aku cari kamu," lanjutku. "Ke semua ruangan. Terus aku nelpon...tapi ponsel kamu ketinggalan. Aku nunggu di sofa. Kayaknya ketiduran."

Aku mendongak. Mencari reaksinya.

Arven menegang.

Bukan banyak. Hanya sedikit bahunya kaku sepersekian detik, rahangnya mengeras. Matanya tidak langsung menatapku, melainkan jatuh ke meja, ke cangkir teh yang sudah tidak beruap.

"Aneh," gumamnya.

"Apa?" tanyaku cepat. "Kamu tahu maksud mimpi itu?"

Ia mengangkat wajahnya. Senyumnya kembali.

"Seren," katanya pelan, "mimpi setelah trauma itu sering kacau. Otak lagi nyusun ulang banyak hal."

"Tapi kenapa rasanya...sangat familiar?" tanyaku. "Seperti-"

"Mungkin kamu kelelahan," potongnya lembut. Nada suaranya menenangkan, hampir seperti menutup selimut.

"Kemarin hari yang panjang. Badan kamu baru mulai aktif lagi."

Aku terdiam. Alasan itu masuk akal, dan aku menerimanya. Ia meraih tanganku di atas meja, menggenggamnya singkat. "Hari ini kita santai aja, ya. Jangan dipaksa."

Aku mengangguk. Dadaku mengendur perlahan.

Arven berdiri, membereskan piring, kembali menjadi versi dirinya yang rapi dan tenang. Sementara aku duduk di sana, memandangi cahaya pagi yang menari di lantai.

Mungkin benar.

Mungkin aku hanya kelelahan.

1
j_ryuka
ajak main kek dia ven, pasti ada apa-apanya ini si arven
j_ryuka
segala cara arven melindungi seren, aku curiga sama authornya 🙏
SarSari_
Gas aja, May. Culik Seren gapapa.... Seren juga butuh refreshing, bukan dikurung terus.😂
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷🥀
hahaha.. diperhatikan sampai nafasnya
Ria Irawati
karena kondisi seperti itu membutuhkan perhatian lebih. orang di sekitar juga harus lebih peka
pojok_kulon
Kayak pembunuhan berencanaa
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷🥀
pasti enak puter musik, aku suka setel musik🤭
Panda%Sya🐼
Kok Arven tegang gitu ya
pojok_kulon
Arven kyak punya dua kepribadian
Ria Irawati
apa kini kau mulai menyadari sesuatu tentang arven?? penisirin banget
Panda%Sya🐼
Idihh jadi ngapain suruh nyanyi kalau suaranya gak bagus
j_ryuka
aku curiga sama author nya
Suo: kok sama aku kak😭
total 1 replies
j_ryuka
kasik tau aja
Ria Irawati
mau apa nih?? cek kesehatan kah??
pojok_kulon
Ya kyaknya yg mungkin kebetulan hape Seren hilang tiba² tapi ditemukan lagi di cas dan kebetulan juga maya bunuh diri
💕𝓴𝓪𝓼𝔂𝓬𝓱𝓪𝓷🥀
emangnya bisa nyanyi?, nanti dinyanyiin nina bobo🤭kayak anak bayi
Panda%Sya🐼
Aku juga dong, lagi capek ni. Baru habis kerja, butuhnya asupan lagu tidur. Biar besok sahur matanya langsung terbuka dengan lebar 🤭
j_ryuka
mau ngapain nih ke rumah sakit
Ria Irawati
kaya lagi Nina boboin anak kecil🤣
pojok_kulon
Duh kasian maya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!