NovelToon NovelToon
Maximilien

Maximilien

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dikelilingi wanita cantik / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Kisah Pencinta Yang Asing

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mewujudkan Fantasi Dibalik Layar

Apartemen kecil di Le Marais itu menjadi saksi bisu di mana dinding-dinding pertahanan Maximilien Vance akhirnya runtuh sepenuhnya.

​Malam itu, setelah drama di Jardin du Luxembourg, Max tidak membiarkan Guzzel lepas dari jangkauannya. Saat mereka memasuki apartemen, Max langsung mengunci pintu dan menarik Guzzel ke dalam pelukannya. Aroma hujan dan kerinduan yang menyesakkan memenuhi udara.

​"Aku memimpikan ini setiap malam saat kita masih di aplikasi itu, Guzzel," bisik Max, suaranya parau saat ia membenamkan wajahnya di leher Guzzel. "Merasakan kulitmu, memastikan bahwa kau bukan sekadar imajinasi."

​Max mulai menjelajahi tubuh Guzzel dengan sentuhan yang sangat hati-hati, seolah-olah Guzzel adalah porselen yang bisa pecah. Dia mencium keningnya, kelopak matanya, hingga turun ke bibirnya dengan intensitas yang lebih lembut namun lebih dalam dari ciuman di pesta New York. Kali ini, tidak ada ego, tidak ada kemarahan, hanya pengabdian.

​Di atas tempat tidur yang luas dengan sprei sutra putih, Max melepaskan segala ketakutannya akan sentuhan wanita. Rasa jijik dan traumanya hilang seketika saat jemarinya menyentuh kulit Guzzel yang halus.

Max teringat salah satu pesan romantisnya dulu "Aku ingin tahu setiap jengkal tubuhmu, Lia. Aku ingin tanganku menjadi peta yang membimbing mu menuju kebahagiaan."

​Max mulai membuktikan kata-katanya. Dia membiarkan jemarinya menari di atas tubuh Guzzel. Dengan teknik yang sangat sabar, Max mengeksplorasi setiap titik sensitif Guzzel. Permainan jari Max begitu mahir, seolah dia sedang memainkan instrumen piano yang paling indah. Guzzel terengah, tubuhnya melengkung mengikuti setiap gerakan tangan Max yang menuntut sekaligus memuja. Guzzel benar-benar basah oleh gairah yang sudah lama terpendam, merintih menyebut nama Max saat puncak kenikmatan itu menghantamnya berulang kali.

​Malam itu, Max tidak hanya menyentuh tubuh Guzzel; dia menyentuh jiwanya.

​Keesokan paginya, sinar matahari Paris yang pucat masuk melalui celah gorden. Guzzel terbangun dan menemukan Max sedang menatapnya dengan pandangan yang begitu penuh cinta. Tidak ada lagi Pangeran Es, yang ada hanyalah seorang pria yang sedang jatuh cinta setengah mati.

​"Selamat pagi, Lia-ku," bisik Max, mengecup bahu Guzzel yang terbuka.

​Sesuai dengan janji mereka di aplikasi online, mereka menghabiskan waktu dengan melakukan hal-hal sederhana namun penuh makna. Mereka pergi ke pasar tradisional terdekat, membeli bahan makanan segar seperti yang pernah mereka khayalkan.

​Di dapur kecil apartemen itu, mereka memasak bersama. Max, yang biasanya dilayani oleh puluhan pelayan, kini rela mengenakan celemek dan membantu Guzzel memotong sayuran.

Ada tawa yang pecah saat Max tidak sengaja menaburkan terlalu banyak lada, dan ada momen manis saat Guzzel menyuapkan sepotong kecil cheese ke mulut Max.

​"Ini jauh lebih baik daripada semua restoran bintang lima di New York," ujar Max sambil memeluk Guzzel dari belakang saat gadis itu sedang mengaduk saus.

​Setiap sentuhan Max terasa begitu elektrik. Entah itu hanya sekadar memegang tangan saat berjalan di tepi sungai Seine, atau pelukan erat di tengah kerumunan di Louvre. Guzzel merasa seolah ia sedang hidup di dalam novel romantis yang paling indah.

Max benar-benar melepaskan rasa penasarannya akan sentuhan fisik, dia seolah tidak bisa berhenti menyentuh Guzzel, seolah ingin mengganti waktu yang hilang selama berbulan-bulan hanya melalui layar ponsel.

​Malam-malam berikutnya di Paris dilewati dengan gairah yang semakin membara. Max seolah terobsesi untuk membuat Guzzel merasa dicintai setiap detiknya. Setiap sentuhan, setiap bisikan, selalu mengingatkan Guzzel pada ungkapan romantis yang dulu pernah Max ketikkan sebagai "V".

​"Ingat saat aku bilang aku ingin kita hidup bersama dan aku akan mengecup keningmu setiap pagi sebagai istriku?" tanya Max saat mereka sedang duduk di balkon, menatap menara Eiffel yang berkelap-kelip di kejauhan.

​Guzzel mengangguk, menyandarkan kepalanya di dada bidang Max. "Aku ingat setiap katanya, Max."

​"Aku serius tentang itu, Guzzel. New York bisa menunggu. Keluargaku bisa marah sesuka mereka. Tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi. Aku ingin kita benar-benar membangun hidup di sini, atau di mana pun kau mau. Hanya ada aku, kau, dan kebenaran."

​Max merogoh saku celananya, mengeluarkan cincin emerald yang sama. Dia mengambil tangan Guzzel dan menyematkan cincin itu di jari manisnya dengan penuh khidmat.

​"Di bawah langit Paris, aku berjanji... tidak akan ada lagi kebohongan. Tidak ada lagi 'V' atau 'Lia' yang bersembunyi. Hanya ada Maximilien yang sangat mencintai Delisa Guzzalie."

​Guzzel menangis haru, ia memeluk Max dengan erat, merasakan detak jantung pria itu yang kini menjadi rumah baginya. Mereka telah melewati badai di New York, pengkhianatan di aplikasi online, dan kebencian keluarga. Namun di Paris, di tengah sentuhan yang membara dan cinta yang jujur, mereka akhirnya menemukan kedamaian yang mereka cari selama ini.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

happy reading 🥰

1
ren_iren
pliss jangan rusak aurelia dgn dendam ke saudaranya kak....
iluh asrini
cerita yang sangat menarik terimakasih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!