Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar yang sebenarnya
Udara pagi di pelabuhan terasa menusuk, namun adrenalin di nadiku membakar rasa dingin itu. Saat jam menunjukkan pukul enam pagi, Madam Syaza berdiri dengan anggun di depan galeri seni mewahnya yang berlantai kaca. Di sana, ratusan jurnalis dan tokoh penting sudah berkumpul untuk menyaksikan pameran yang ia klaim sebagai "Kemenangan Keadilan".
Namun, di saat yang bersamaan, di tembok-tembok kusam gudang pelabuhan yang berjarak hanya beberapa ratus meter, sebuah pemandangan lain tercipta.
"Nyalakan!" seru Biru melalui radio komunikasi.
Seketika, puluhan proyektor bertenaga baterai yang dibawa oleh para nelayan dan aktivis menyala serentak. Tembok-tembok beton yang dingin itu kini berubah menjadi layar raksasa. Bukannya menampilkan foto-foto penderitaan yang estetik seperti di galeri Madam Syaza, proyektor-proyektor ini menampilkan aliran dana, dokumen perusahaan cangkang, dan rekaman audio pendek dari Pak Darwin yang telah kami unggah ke server publik.
"Na, mereka mulai melihat," bisik Biru.
Benar saja. Para wartawan yang tadinya berkerumun di depan galeri mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Mereka melihat ke arah gudang-gudang tua yang kini memancarkan cahaya kebenaran. Satu per satu dari mereka mulai meninggalkan karpet merah Madam Syaza dan berlari menuju dermaga lama.
Madam Syaza, yang menyadari situasi telah berbalik, mencoba tetap tenang di depan kamera yang tersisa. "Ini hanyalah sabotase dari pihak-pihak yang tidak ingin melihat kemajuan," ujarnya dengan suara yang mulai goyah.
Namun, kejutan sesungguhnya baru saja dimulai. Aku melangkah maju ke sebuah panggung kayu sederhana yang dibangun di atas tumpukan palet, tepat di depan gudang terbesar. Aku memegang pelantang suara, menatap ribuan mata yang kini tertuju padaku.
"Madam Syaza!" suaraku menggema melalui pengeras suara yang dipasang Seno. "Anda bilang buku ini adalah tentang fajar. Tapi Anda lupa bahwa fajar tidak pernah memilih siapa yang ia sinari. Hari ini, fajar itu menyinari wajah Anda."
Aku menekan tombol di laptopku. Di belakangku, muncul foto akta pendanaan proyek penggusuran yang ditandatangani oleh tangan kanan Madam Syaza. Publik terkesiap. Suara riuh rendah mulai berubah menjadi teriakan kemarahan.
Madam Syaza mencoba melarikan diri menuju mobilnya, namun langkahnya terhenti. Dari arah laut, puluhan kapal nelayan—yang dipimpin oleh kapal 'Rembulan'—menutup jalur keluar pelabuhan. Di dek salah satu kapal, berdiri Maira. Ia tidak mengatakan apa pun, ia hanya memegang dokumen asli yang dicurinya dari brankas pribadi Abhinara tempo hari. Sebuah bukti konspirasi antara suaminya dan Madam Syaza.
Polisi yang tadinya berjaga untuk mengamankan galeri kini bergerak ke arah Madam Syaza. Sang Naga Laut itu akhirnya terjepit di daratan yang ia coba kuasai.
Biru berjalan menghampiriku di atas panggung. Ia tidak lagi tampak seperti pria yang hancur. Di bawah sinar matahari pagi yang mulai cerah, ia berdiri tegak. Ia mengambil kameranya—bukan untuk memotret penderitaan lagi, tapi untuk mengabadikan momen di mana rakyat jelata dan kebenaran menang atas tirani.
"Kita melakukannya, Aruna," bisik Biru, suaranya bergetar karena haru.
"Bukan kita, Biru," jawabku sambil menatap kerumunan nelayan yang bersorak. "Mereka yang melakukannya. Kita hanya meminjamkan kata-kata dan gambar."
Malam-malam penuh ketakutan, pelarian di tengah laut, dan pengkhianatan yang menyakitkan, semuanya seolah menguap bersama kabut pagi. Abhinara di penjara, keluarga Laksmana runtuh, dan Madam Syaza kini menyusul menuju kegelapan yang ia ciptakan sendiri.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...