Arc 1 : Bab 1 — 41 (Dunia Melalui Mata Bayi Ajaib)
Arc 2 : Bab 42 — ... (On-going)
Aku terlahir kembali di dunia kultivasi dengan ingatan utuh dan selera yang sama.
Di sini, kekuatan diukur lewat tingkat kultivasi.
Sedangkan aku? Aku memulainya dari no namun dengan mata yang bisa membaca Qi, meridian, dan potensi wanita sebelum mereka menyadarinya sendiri.
Aku akan membangun kekuatanku, tingkat demi tingkat bersama para wanita yang tak seharusnya diremehkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Denyut yang Tidak Terlihat.
“Semua makhluk hidup memiliki Qi. Bahkan yang terkecil sekalipun.”
Suara Ibu begitu pelan, nyaris larut bersama angin sore.
Di ujung jarinya, seekor kupu-kupu bertengger. Sayapnya bergetar, bukan hanya oleh udara, tapi oleh sesuatu yang lain—sesuatu yang berkilau.
Aku menatapnya.
Saat kupu-kupu itu terbang, udara di belakangnya tidak langsung kembali kosong. Ada jejak samar yang tertinggal, garis cahaya tipis seperti embun yang tersentuh matahari, memudar perlahan seiring kepakan sayapnya menjauh.
Dadaku terasa hangat.
Indah.
Bukan indah seperti warna atau bentuk. Ini lebih dalam. Seperti melihat denyut jantung dunia untuk pertama kalinya.
Untuk pertama kalinya sejak aku terbangun di tubuh kecil ini, rasa kagum itu datang tanpa perhitungan, tanpa analisis. Hanya perasaan murni yang mengisi kepalaku yang masih sempit.
“Suatu hari nanti,” lanjut Ibu, suaranya lembut namun pasti. “Kau akan belajar mengolah Qi-mu sendiri.”
Lengannya mengangkatku. Dunia berputar perlahan sebelum aku bersandar di dadanya. Detak jantungnya terdengar ritmis, stabil dan setiap detak memancarkan gelombang hangat yang menyelimuti tubuhku.
“Tapi sekarang cukup rasakan saja. Jangan genggam. Jangan kejar. Jadikan ia teman.”
Kelopak mataku menutup.
Namun dunia tidak menjadi gelap.
Dengan mata terpejam, segalanya justru menjadi lebih jelas.
Aura keemasan Ibu menyelimuti kami seperti selimut tebal hangat, kokoh, penuh ketenangan yang membuat napasku ikut melambat.
Dari tanah di bawah bangku kayu tua, cahaya hijau lembut merembes naik, bernapas bersama akar rumput dan bunga liar.
Di sudut taman, kolam kecil berkilau biru, riaknya membawa denyut dingin yang jujur dan tenang.
Dunia ini … hidup.
Bukan hidup dalam arti bergerak, tapi hidup dalam arti merasakan.
Dan di tengah semua itu, ada aku.
Shen Yu.
Bayi tiga bulan yang seharusnya hanya tahu tangis dan lapar, tapi justru melihat lapisan dunia yang tersembunyi di balik kelopak mata.
Ma’Ling Sheng mungkin mati di selokan, tubuhnya dingin dan sendirian.
Tapi Shen Yu.
Shen Yu sedang belajar bernapas bersama alam semesta.
Ibu mulai bersenandung. Nadanya sederhana, hampir seperti gumaman. Namun di balik suara itu, ada sesuatu yang lain. Getaran halus yang selaras dengan denyut Qi di sekeliling kami. Seolah lagu itu bukan hanya didengar, tapi dijawab oleh dunia.
Kesadaranku mengendur.
Bukan karena lelah.
Tapi karena kenyang.
Kenyang oleh cahaya, oleh keajaiban, oleh janji yang belum berbentuk namun sudah terasa nyata.
Dalam tidur, aku melihat sungai-sungai cahaya mengalir tanpa tepi. Matahari kecil berdenyut di dalam perutku, hangat dan sabar. Dunia yang tidak hanya berputar tapi bernapas.
[PoV 3rd]
Ibu tidak langsung bangkit ketika Shen Yu tertidur.
Ia tetap duduk di bangku kayu itu, tubuhnya tegak, pandangannya mengarah jauh melewati pagar taman, ke cakrawala yang mulai memerah. Angin menggerakkan ujung rambutnya, tapi matanya tetap diam.
Kebanggaan memenuhi dadanya.
Dan di saat yang sama, rasa takut yang tidak ingin ia akui.
“Anakku …” bisiknya, bukan pada Shen Yu, melainkan pada dunia itu sendiri. “Dunia akan menginginkanmu atau mereka akan takut padamu.”
Telapak tangannya terbuka.
Di sana, sebuah bola Qi berputar perlahan.
Bukan emas.
Cahayanya perak, dingin dan tajam, dengan kilatan merah tua berdenyut di intinya, liar, berbahaya, dan sangat terkendali. Energi yang sama sekali berbeda dari kehangatan yang ia perlihatkan pada anaknya.
Ia menggenggam tangan itu.
Bola perak tersebut menghilang tanpa suara.
“Tolong,” ucapnya lirih, matanya terpejam. “Berilah kami kedamaian … sedikit lebih lama.”
Namun jauh di luar kota kecil itu, bayangan-bayangan bergerak.
Sekelompok kultivator berjubah hitam berdiri mengelilingi gulungan daftar. Nama-nama dibaca dengan dingin, dicoret, diberi tanda. Anak-anak berbakat. Aset. Risiko.
Sebuah nama—disamarkan dengan hati-hati—membuat salah satu dari mereka berhenti sejenak.
Shen Yu.
Kedamaian tidak akan bertahan lama.
Dan Shen Yu, dalam tidurnya yang dalam, bermimpi tentang api yang tidak membakar dan bayangan yang tidak memiliki bentuk. Tentang perlindungan yang rapuh. Tentang ancaman yang belum ia pahami, tapi sudah bisa ia rasakan getaran Qi-nya bergelombang, mendekat.
Masa depan telah mulai bernapas bersamanya.