NovelToon NovelToon
My Possessive Mafia

My Possessive Mafia

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Enemy to Lovers / Psikopat itu cintaku / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: DityaR

Bagaimana jika ginjal yang ada di tubuhmu ternyata milik adik seorang mafia, dan sejak saat itu hidupmu berada dalam ancamannya?

Bahkan setelah berhasil lolos dari kematian, kamu masih harus menghadapi bayang-bayang maut dari mafia kejam yang tak pernah berhenti memburumu.

Itulah yang dirasakan Quinn ketika ia mengetahui bahwa keberhasilan operasi transplantasi ginjalnya telah merenggut nyawa orang lain demi kelangsungan hidupnya.

Apakah Quinn mampu bertahan hidup?

Ataukah nyawanya harus menjadi harga yang dibayar atas kehidupan yang pernah ia ambil?

୨ৎ MARUNDA SEASON III ୨ৎ

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

III. Dear, My Heartbeat II

...୨ৎ──── Q U I N N ────જ⁀➴...

Setelah aku meyakinkan Papa untuk keseratus kalinya, kalau aku baik-baik saja, aku melangkah menjauh dan menyilangkan tangan di dada.

“Kenapa Papa ngelakuin ini?” suaraku gemetar. “Kenapa ngambil langkah se-ekstrem ini cuma buat … masalah ginjal?”

“Papa enggak bisa kehilangan kamu, Sayang,” bisiknya.

“Aku udah berdamai sama kematian,” kataku, suaraku pecah sama air mata.

“Papa enggak … Papa enggak sanggup lihat kamu mati!” serunya.

“Jadi Papa dapat ginjal dari pasar gelap?” Aku tertawa pahit. “Papa tahu kan gimana sebagian besar organ itu didapatin. Orang-orang enggak bersalah menderita dan mati buat menyuplai pasar.”

“Papa enggak mikirin sejauh itu,” akunya pelan. Dia tutup mata sesaat. “Papa nerima ginjal itu tanpa nanya apa pun. Papa cuma pingin nyelametin kamu.”

"Dengan ngorbanin seorang anak umur dua puluh tahun?"

Ini mulai lagi.

Aku tarik napas dalam-dalam buat menenangkan diri. Tapi kemampuanku untuk menahan amarah dan penderitaan, sudah di ujung batas.

“Apa yang udah terjadi, ya udah terjadi,” kata Papa.

Mataku langsung melotot. Aku menatap dia enggak percaya.

“Ini belum selesai!” teriakku sambil memukul dada sendiri. “Aku tahanan seumur hidup di sini, Pa!”

Wajah Papa langsung berubah muram, sadar kalau dia gagal jadi Ayah.

“Papa lagi mikir gimana caranya ngeluarin kita dari kekacauan ini.”

“Kita?” desisku. “Eggak ada ‘kita’. Aku yang jalanin hari demi hari di penthouse itu … bareng monster.”

Aku menjauh dari Papa, menutup mata, tarik napas dalam-dalam buat menenangkan diri.

Waktu aku sedikit.

Entah kapan aku bisa bertemu Papa lagi.

“Maafin aku,” bisikku.

“Enggak apa-apa, sayang. Papa pantas dapat kemarahan kamu.”

Tiba-tiba, jeritan kesakitan pecah di udara. Suaranya membuat tubuhku langsung kaku ketakutan.

Aku dan Papa saling tatap dengan mata membelalak.

Ini … ini sama sekali enggak kelihatan kabar baik.

Jeritan itu makin parah. Aku langsung dekati Papa dan mencekal lengannya.

Papa menggeleng pelan, lalu menatapku. “Papa bakal nemuin cara buat balikin kamu. Papa janji.”

“Kayaknya aku punya cara,” bisikku. “Tapi berisiko.”

“Apa?”

“Aku rasa … aku bisa bikin dia peduli sama aku.”

Papa langsung menggeleng keras. “Enggak! Jangan. Terlalu berbahaya. Cowok kayak dia bakal memperkosa kamu kalau dia merasa kamu tertarik.”

Iya.

Itu juga sudah aku pikirkan.

Dan jujur saja … aku rela tidur sama Braun kalau itu artinya aku bisa bebas.

“Aku bakal hati-hati, Pa!” kataku.

Waktu Papa masih menggeleng, aku menambahkan, “Braun enggak pernah nyakitin aku, Papa. Dan aku enggak merasa dia bakal perkosa aku. Dia kelihatan makin akur sama aku. Aku benaran yakin rencana ini bisa berjalan.”

Jeritan lain, lebih parah, lebih menyiksa, memecahkan udara lagi.

Seseorang sedang dibunuh.

Ya, Tuhan.

Udara jadi mencekam. Dan sebelum aku sempat menenangkan diri, Braun menerobos masuk ke ruangan. Tangannya penuh darah.

Amarah di wajahnya gelap banget, sampai tubuhku reflek mundur, ingin kabur.

Tanpa bicara apa-apa, Braun mencekal lenganku dan menyeretku menjauh dari Papa.

Aku menengok ke belakang sambil buru-buru bilang, “Selamat tinggal, Papa. Aku sayang Papa. Jangan khawatir. Ingat, aku masih bisa lihat Papa lewat CCTV!”

“Papa sayang kamu!” wajah Papa hancur waktu dia melihatku diseret pergi sama Braun.

Waktu melewati pintu yang terbuka, aku membuat kesalahan fatal ... aku mengintip ke dalam.

Dan pemandangan itu langsung menelanku.

Tubuh telanjang seorang pria tergeletak di lantai. Dipukuli habis-habisan. Perutnya dibuka, isinya keluar.

Astaga.

Aku enggak pernah ... seumur hidup aku, melihat kekerasan segila ini.

Napasku tersangkut di tenggorokan saat aku teringat siapa Braun sebenarnya.

Dua minggu terakhir, aku lupa … lupa sepenuhnya soal apa yang mampu dia lakukan.

Dia menyeretku ke lantai bawah. Kepalaku penuh sama ketakutan.

Aku ditarik masuk ke kantor. Braun bicara ke pria di balik meja dengan nada penuh amarah, “Kita cari Andrei Fidelio. Dia pemimpin Imperium Vitae. Kerahin semua orang buat nyari bajingan itu!!”

“Baik, bos,” jawab pria itu, sama sekali enggak terganggu sama darah di tangan Braun.

Darah yang sekarang menempel di lenganku.

Ya Tuhan.

Perutku mual saat aku melihat bekas tempat dia memegangku.

Napasku terdengar, dan itu menarik perhatian Braun.

Begitu dia sadar apa yang aku lihat, dia langsung menyeretku keluar kantor, masukkan aku ke kamar mandi. Lenganku didorong ke bawah keran, dan dia membilas darah dari kulitku.

Begitu dia melepasku, aku langsung tarik tanganku dan mundur beberapa langkah.

Aku berdiri, melihat dia mencuci tangannya sendiri. Air bercampur darah mengalir ke saluran pembuangan.

Dia baru saja menyiksa seorang pria.

Dia merobek isi perut orang itu … pakai tangan kosong.

Ya Tuhan.

Apa yang barusan aku pikirkan?

Aku enggak akan pernah bisa bikin cowok ini peduli sama aku.

Orang kayak dia … enggak punya kemampuan buat merasakan cinta.

Braun mengeringkan tangannya, lalu matanya langsung terkunci ke wajahku.

“Kamu nikmatin reoni sama Papamu?” tanyanya.

"A—apaaa?" Aku tergagap, buru-buru pasang ekspresi netral.

Dia mendekat, jarinya mencengkeram daguku, matanya meneliti wajahku.

"Serangan panik lagi, Tikus Kecil?"

Aku langsung geleng kepala, tarik napas dalam-dalam biar dia melihatku bernapas normal.

“Jadi kamu enggak nikmatin kunjungannya barusan?” tanyanya lagi.

"Aku senang," bisikku. "Makasih."

Dia memiringkan kepala. “Terus kenapa sekarang kamu kelihatan ketakutan?”

Serius dia bertanya begitu?

Alisku berkerut. Dalam hati aku berdoa semoga aku enggak bikin dia murka waktu aku bilang, “Kamu baru aja bunuh orang lagi.”

Aku berhenti sebentar, lidahku menjilat bibir yang kering.

“Kamu merobek perutnya. Darahnya … ya Tuhan, darahnya—”

Lagi-lagi, cowok ini membuatku terkejut, waktu dia tiba-tiba tarik aku ke dadanya. Lengannya melingkar erat di tubuhku, satu tangannya menahan kepalaku di belakang.

Getaran menjalar ke seluruh tubuhku saat badan kekarnya menempel ke badanku.

Mungkin … dia peduli?

Kalau enggak, kenapa dia berusaha menenangkanku?

“Dia pantas mati,” bisik Braun. Suaranya masih penuh emosi. “Dialah yang membunuh Naveen.”

Aku langsung mengangguk cepat, menunjukkan kalau aku sedang memahaminya.

“Adik aku itu pewarisku. Enggak ada siapa pun yang ...” Dia berhenti sebentar. “... yang lebih aku cintai dari dia.”

Sadar kalau Braun benaran membuka diri ke aku, membuat bibirku sedikit terbuka karena kaget. Ini sisi dirinya yang belum pernah aku lihat.

Hening menyelimuti kami, dan aku jadi terlalu suka sama rasanya dipeluk cowok ini.

Dia peluk aku buat menenangkanku … atau cuma mainin perasaan aku?

Aku enggak tahu.

Aku menoleh, menempelkan telinga ke dadanya. Badanku melemas waktu mendengar detak jantungnya yang cepat banget.

Apa jantungnya berdetak sekencang ini karena aku?

Apa aku kebanyakan berharap?

Enggak mau menyia-nyiakan momen, aku melepas tanganku di antara kami dan melingkarkannya ke pinggangnya.

Jantungku makin mengebut waktu tubuhnya sedikit membungkuk dan bibirnya menempel ke rambutku.

Sial.

Tiba-tiba dia melepasku, jalan melewatiku sambil bergumam, “Ayo pulang!”

Aku langsung mengikuti dia keluar dari kamar mandi, sementara pikiranku masih berjibaku mencerna semua yang baru saja terjadi.

Braun pasti khawatir sama aku sampai dia bereaksi seperti itu.

Iya, kan?

1
safaana
ceritanya bagus,mudah di pahami,ringan dan ada tawanya yang pasti ada kebaikannya,,,,sukses selalu
DityaR 🌾: maaciii kak 🙏
total 1 replies
Rainn Ziella
✨ Terimakasih kak, karyanya bagus banget 🥹 rasanya campur aduk, kadang sedih, tegang, senang, lucu, romantis, kadang ngabisin tisu pas part sedihnya 😭

Disini, aku dapat banyak pelajaran hidup tentang kehilangan seseorang 💔 karena kesabaran dan keikhlasannya akhirnya mereka bahagia✨

Bakalan kangen banget sma Braun dan quin, semoga kedepannya masih bisa ketemu mereka thor 🫶🏼😭💙✨✨
DityaR 🌾: Maaci, kak🙏
total 1 replies
Rainn Ziella
Di undang ga yaa
Rainn Ziella
Geli nyaa 😭🗿
Rainn Ziella
Braun : aku suka nya kamu
Adellia❤
awalnya sih sedih ya karna tokoh utama hampir meninggal lalu di tengah" menegangkan karna tokoh utama pria yg seorang mavia beraksi tapi di ahir maniiss bangett karna cinta melimpah di mana"😍😍
DityaR 🌾: Maaci ,kak🙏
total 1 replies
Adellia❤
keluarga cemara😂😂
Adellia❤
sekali lagi selamat quinn🥰🥰
Adellia❤
yeeyyy akhirnya... selamat quinn🥰
Adellia❤
q cewek tapi lebih suka manggil Ra in kayak nama di drakor..
Adellia❤
definisi musibah membawa berkah😂😂
Adellia❤
serius ini gak di mutilasi??? itu biangnya loh😂😂
Rainn Ziella: Udah capek kak bang Braun pngn cepet balik 😭
total 1 replies
Adellia❤
ini pertama x nya pisah pasti berat mana lagi anget" nya lagi😂😂
Adellia❤
whaaattt ke 7 ???? gila sepagi ini😂😂😂
Adellia❤
Quin bener dy gak punya banyak pilihan jadi ya terima dengan ihlas enak kok🤣🤣
Rainn Ziella
Wkwkwk lucu bgt sii
Adellia❤: huum gak sabar nich..
total 5 replies
Rainn Ziella
Gasss quin 😭
Adellia❤
lagi dunk🙈🙈🙈
Rainn Ziella
Kebalik ihh 😭😹
Rainn Ziella
Astagaaaa tenangin diri kalian guys 🥵🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!