setelah berhasil membalas dendam, Tang Yan merasakan kelegaan di hatinya yang membuat kepribadian nya berubah riang dan sedikit konyol.
perjalanan Tang Yan kali ini akan dimulai dari dunia Cyber-kultivasi.
bagaimana ceritanya..? tunggu dan nantikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARIYANTO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya bisa bersantai
Tercatat pada Buku Emas Kekacauan bahwa segala bentuk energi pada dasarnya adalah satu, renung Tang Yan dalam hati saat naga api emas itu mulai mengelilingi dirinya dengan lambat. Api dan air, tanah dan udara, teknologi dan spiritualitas, semuanya adalah bagian dari kesatuan yang sama yaitu energi kekacauan.
"Kamu salah besar jika mengira bahwa kekuatan sejati bisa dibuat hanya dengan memodifikasi tubuh dan mengandalkan teknologi yang tidak kamu pahami sepenuhnya," ucap Tang Yan dengan suara yang jelas dan penuh dengan kekuatan, suara itu terdengar di seluruh area pertempuran seperti suara dewa yang berbicara. "Mari saya tunjukkan pada kalian semua apa itu kekuatan yang sesungguhnya. Kekuatan yang berasal dari harmoni antara diri sendiri dan alam semesta!"
Dengan sebuah isyarat darinya, Naga api emas itu melesat dengan kecepatan luar biasa ke arah bola energi merah besar yang telah siap untuk ditembakkan oleh kapal komando utama. Dalam sekejap mata, kedua energi bertemu dan saling berbenturan. Saat kedua energi bertemu, tidak terjadi ledakan yang mengerikan seperti yang diharapkan oleh semua orang. Sebaliknya, energi merah dari kapal musuh mulai berubah warna secara perlahan, bergabung dengan energi emas dari naga api hingga membentuk cahaya jingga yang indah dan hangat. Cahaya itu menyebar ke seluruh area pertempuran, menyentuh setiap kapal musuh dan para pejuang yang sedang berperang.
Untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, para pejuang Cyber-Core merasakan rasa damai yang mendalam mengalir ke dalam tubuh mereka. Implan di tubuh mereka yang selama ini hanya memberikan rasa dingin dan tidak nyaman kini mulai memberikan rasa hangat yang menyenangkan, dan mereka bisa merasakan hubungan yang sebelumnya tidak pernah mereka sadari, hubungan antara diri mereka dengan alam sekitarnya.
Kapten Zeke Ironhart melihat dengan terkejut bagaimana energi di tubuhnya mulai berubah, bagaimana dia bisa merasakan getaran bumi dan suara angin yang sebelumnya tidak pernah bisa dia dengar. Dia melihat ke arah Tang Yan yang berdiri dengan tenang di puncak menara, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa rasa hormat yang tulus kepada seseorang yang tidak mengandalkan teknologi untuk mendapatkan kekuatan. Terlebih lagi pihak lain hanyalah seorang remaja.
"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" bisiknya dengan suara yang penuh kekaguman dan kebingungan. "Bagaimana mungkin kekuatan kuno bisa lebih kuat dari teknologi masa kini?"
Tang Yan hanya tersenyum dengan lembut, lalu mengangkat tangannya untuk memberikan sinyal pada para muridnya agar berhenti menyerang. "Kekuatan tidak tentang siapa yang lebih kuat atau lebih cepat," ucapnya dengan suara yang lembut namun jelas. "ini tentang bagaimana kita menggunakan kekuatan yang kita miliki untuk membawa kedamaian dan keharmonisan ke dunia ini. Kalian bisa memilih jalan yang berbeda, jalan yang tidak mengandalkan penindasan dan kehancuran."
...
Di kejauhan, cahaya fajar mulai muncul perlahan-lahan dari ufuk timur, menerangi langit dengan warna jingga dan merah muda yang indah. Cahaya itu menyinari seluruh area Sektor 13, membuat formasi pertahanan Sekte Sembilan Langit bersinar dengan lebih terang dan Teratai Kekacauan Sembilan Warna akhirnya mekar sepenuhnya.
Sembilan daun dengan sembilan warna berbeda memancarkan energi spiritual yang begitu kuat hingga bisa dirasakan oleh seluruh penduduk Kota Neo-Ark.
Pertempuran telah berakhir, namun tanda-tanda perubahan telah dimulai oleh pertemuan antara kekuatan kuno dan teknologi masa kini baru saja memulai perjalanan panjang menuju masa depan yang lebih baik, masa depan di mana kedua kekuatan itu bisa hidup berdampingan dalam harmoni yang sempurna.
Cahaya fajar telah menyebar ke seluruh sudut Sektor 13, menerangi tanah yang dulunya dianggap sebagai tempat pembuangan dengan warna emas dan jingga yang memukau. Sinar matahari menyentuh permukaan Teratai Kekacauan Sembilan Warna yang sedang mekar dengan indah di tengah lapangan terbuka, membuat setiap kelopak berwarna berbeda memancarkan kilauan seperti permata mahkota. Udara yang dulunya penuh dengan aroma asam belerang dan oli terbakar kini terasa segar dan penuh dengan energi spiritual yang menyegarkan jiwa.
Di tingkat ketiga menara Sembilan Langit Terbuang, ruangan yang telah disiapkan untuk Tang Yan jadikan sebagai ruang istirahat dan meditasi suatu pemandangan yang jarang terjadi sedang berlangsung. Tang Yan sedang duduk santai di atas tikar kain halus yang dibawa oleh Luna, tubuhnya bersandar pada bantal yang dibuat dari serat tumbuhan liar yang baru saja tumbuh di sekitar markas. Dia mengenakan pakaian santai berwarna putih muda yang longgar, rambut hitamnya yang biasanya diikat rapi kini terurai dan jatuh lembut di pundaknya. Di sebelahnya, sebuah meja batu kecil diletakkan dengan berbagai macam buah dan minuman yang disiapkan oleh para murid.
Akhirnya ada waktu untuk bernapas dalam-dalam, pikir Tang Yan dengan senyum lega di wajahnya, sambil mengambil sepotong buah bulat berwarna ungu yang memiliki rasa manis dan menyegarkan. Buah tersebut adalah Fruit of Restored Energy, hasil dari tumbuhan yang telah dipelihara dengan energi alam semesta setelah benih teratai sembilan warna tumbuh.
Xiao Bai berdiri di sisi Tang Yan dengan bentuk aslinya yang gagah, badan besar dengan surai putih seperti kapas yang mengembang, sisik baja yang berkilat seperti permata besi, dan tanduk unicorn yang panjang dengan percikan listrik yang terus muncul di ujungnya. Ia menjilati buah yang diletakkan di atas alas khusus di lantai, lalu mengangguk dengan puas saat merasakan rasa yang menyegarkan di tubuhnya. Setelah itu, ia berbaring dengan tenang di sudut ruangan, mata besarnya hanya terbuka sedikit sambil mengawasi setiap gerakan di sekitarnya.
Tang Yan melihat ke arah Xiao Bai dan tersenyum tipis, lalu mengangkat tangannya perlahan. Sebuah pil kecil muncul di telapak tangannya, melayang ke arah kilin suci tersebut. Xiao Bai mengangkat kepalanya dengan cepat seolah-olah takut benda itu akan direnggut orang lain. Dengan penuh semangat ia menelan pil kecil itu dengan satu gigitan yang bersih, lalu mengeluarkan suara erangan yang dalam dan nyaman.
Sudah cukup lama tidak memberikan dia hadiah kecil seperti ini, pikir Tang Yan sambil menatap keluar melalui jendela besar ruangan. Dia melihat para murid yang sedang aktif di luar, beberapa membersihkan puing-puing kapal tempur, yang lain merawat tanaman spiritual yang mulai tumbuh subur. Di kejauhan, beberapa struktur baru sedang dibangun.
Menerima orang-orang ini sebagai murid bukan karena Tang Yan merasa iba atau keinginan untuk melindungi yang lemah semata, ia melihat potensi dalam setiap orang yang bergabung. Tidak hanya itu, alasan lain membangun sekte adalah langkah strategis untuk bertahan hidup dan mengembangkan diri di dunia yang asing ini.