NovelToon NovelToon
Terms And Conditions

Terms And Conditions

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / Enemy to Lovers
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Muse_Cha

Dua ego yang bersinggungan. Dua imperium yang beradu. Satu perasaan yang dilarang.

Every adalah sang penguasa kampus, River adalah sang pemberontak yang ingin menggulingkannya. Mereka menyebutnya rivalitas, dunia menyebutnya kebencian.

"...semua yang terjadi di gubuk ini, jangan pernah lo anggap sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar cara lo membayar utang.."

River hanya menyeringai, "... gue tetap orang yang tahu persis gimana rasanya lo gemetar ketakutan di pelukan gue semalam."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muse_Cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melanggar Batas

Begitu sampai di lobi vila, River menurunkan Every dengan gerakan yang hampir kasar, seolah-olah Every adalah beban logistik yang membosankan.

Begitu kaki Every menyentuh lantai, River langsung melangkah mundur, kembali menciptakan jarak satu meter yang sangat tegas.

"Gue udah anter. Urus sisanya," ucap River dingin kepada Recha tanpa melirik Every sedikit pun. Ia berbalik dan menghilang menuju arah belakang, meninggalkan Every yang menggigil dengan jaket kulit River yang berat di bahunya.

---

Malam itu, suhu di Ciwidey terasa lebih menusuk dari biasanya.

Di ruang makan besar vila, seluruh pengurus BEM berkumpul untuk evaluasi harian.

Every duduk di kursi pimpinan, namun ia terlihat menyedihkan. Wajahnya yang biasanya putih porselen kini pucat pasi, matanya sayu, dan ia beberapa kali harus menahan diri agar tidak ambruk dari kursi.

Suaranya saat membacakan evaluasi terdengar parau dan putus-putus. Setiap tarikan napasnya terasa berat; Every jelas sedang diserang demam tinggi akibat jatuh ke sungai tadi siang.

"Every, lo keringetan parah tapi badan lo dingin banget. Kita sudahi saja ya rapatnya?" Recha memegang tangan Every yang gemetar.

Di sudut ruangan yang remang, River duduk bersama tim Teknik. Ia tidak bergabung dengan meja utama. Ia sedang asyik memainkan korek api gasnya—tek, tek, tek—sembari sesekali melempar tawa tipis atas lelucon Aluna yang menggelayut di lengannya.

River benar-benar menganggap Every transparan.

Namun, di balik sikap acuh tak acuhnya, mata tajam River tidak pernah benar-benar lepas dari Every. Setiap kali Every terbatuk, atau setiap kali Every memejamkan mata terlalu lama karena pusing, rahang River mengeras.

"Cha," panggil River dengan suara rendah saat Recha berjalan melewatinya menuju dapur.

Recha berhenti, "Kenapa?"

River tidak melihat ke arah Recha, matanya tetap menatap api di koreknya. "Itu si Ketua BEM lo... kasih obat penurun panas yang ada di kotak P3K."

Recha melirik ke arah Every yang makin pucat, lalu kembali ke River. "Kenapa nggak lo aja yang kasih?"

River mematikan koreknya, suaranya berubah sedingin es. "Gue ada jarak satu meter yang harus dijaga, Cha. Lo lupa? Dia muak liat muka gue. Kasih obatnya sekarang, atau dia bakal pingsan di depan semua orang dan bikin acara lo berantakan."

Evaluasi masih berlangsung saat Every tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Gelas teh di tangannya bergetar hebat.

"Ev, kamu panas banget! Kita ke rumah sakit sekarang!" seru Ray, Senior BEM, membuat perhatian seluruh ruangan tertuju pada mereka.

Every mencoba menepis tangan Ray, tapi tenaganya habis. "Gue... gue nggak apa-apa..."

Di seberang ruangan, River berdiri dari kursinya. Semua orang mengira ia akan menerjang maju seperti biasanya.

Namun, River hanya berdiri diam di tempatnya, menatap pemandangan itu dari kejauhan. Tangannya yang mengepal di dalam saku jaket adalah satu-satunya tanda bahwa ia sedang menahan diri sekuat tenaga untuk tidak menyeret Ray menjauh.

"Ini minum obatnya, Ev. Minum dulu," Recha datang membawa dua butir tablet.

Every meminum obat itu, namun matanya tetap tertuju pada bayangan River di balkon yang sedang menyalakan rokoknya sendirian di tengah badai salju kabut.

River telah memenangkan permainan diam ini, dan Every merasa dirinya sedang hancur perlahan-lahan.

---

Pukul satu dini hari, vila sudah senyap.

Every terbaring di kamarnya, menggigil di bawah tiga lapis selimut. Demamnya mencapai puncak. Ia mulai mengigau, keringat dingin membanjiri keningnya.

"River... baju itu... dingin..." Every bergumam tidak jelas dalam tidurnya.

Di luar pintu kamar, River berdiri tegak. Ia tidak masuk. Ia hanya bersandar di dinding koridor, tepat di luar garis bayangan pintu kamar Every. Ia memegang segelas air dan obat cadangan di tangannya, namun kakinya tidak bergerak maju.

Ia teringat kata-kata Every di parkiran: Jangan pernah ada di jarak kurang dari satu meter dari gue lagi. Gue muak liat muka lo.

River menyeringai pahit dalam kegelapan. Ia menatap pintu kayu yang tertutup itu. "Gue masih di luar garis, Every. Sesuai permintaan lo."

Namun, suara rintihan Every dari dalam kamar semakin jelas. "River... panas..."

River memejamkan mata, rahangnya mengeras hingga otot lehernya menegang. Perang gengsi ini mulai memakan korban, dan ia membenci kenyataan bahwa ia masih peduli pada gadis yang sudah membuangnya berkali-kali.

Tiba-tiba, suara Every menghilang, digantikan oleh suara tubuh yang jatuh ke lantai. Brukk!

Every rupanya mencoba bangun untuk mengambil air namun terjatuh karena lemas.

"Sialan!" River mengumpat.

Persetan dengan aturan satu meter. Persetan dengan gengsi. River menendang pintu kamar Every yang tidak terkunci hingga terbuka lebar, dan dalam dua langkah besar, ia sudah berada di samping Every yang tergeletak lemas di lantai.

River tidak lagi peduli pada janji, jarak, atau harga diri yang sejak tadi ia agungkan.

Melihat Every tergeletak lemas di lantai kayu yang dingin dengan napas pendek-pendek membuat separuh kewarasan River menguap.

Ia menyambar tubuh Every, mengangkatnya kembali ke atas tempat tidur dengan gerakan yang jauh lebih lembut daripada saat ia menggendongnya di hutan tadi siang. Tubuh Every terasa sangat panas, membakar kulit tangan River.

"Eve, bangun. Minum ini dulu," suara River tidak lagi datar; ada nada mendesak dan khawatir yang terselip di sana.

Every membuka matanya perlahan.

Pandangannya kabur, tertutup kabut demam yang hebat. Di matanya yang sayu, sosok di depannya bukan lagi Senior Teknik yang ia benci di kampus, melainkan pria yang sama dengan pria yang memberinya kehangatan di bawah lampu neon remang-remang Bangkok setahun lalu.

"Dingin..." bisik Every parau.

"Makanya minum obat ini, bandel," sahut River, tangannya menyangga tengkuk Every agar gadis itu bisa minum.

Namun, bukannya meraih gelas, Every justru mengulurkan tangannya yang gemetar. Ia mencengkeram erat kaos hitam yang dikenakan River, lalu dengan sisa tenaganya, ia menarik pria itu mendekat.

Sebelum River sempat bereaksi, Every sudah menyembunyikan wajahnya di ceruk leher River, melingkarkan lengannya erat-erat di pinggang pria itu.

River membeku. Jantungnya berdegup kencang menghantam dadanya sendiri. "Eve... lo ngapain? Lepas. Katanya lo muak liat muka gue."

"Jangan pergi..." racau Every, suaranya teredam di dada River. "Gue takut... airnya dingin banget, River. Jangan lepasin kayak Bimo tadi..."

Every memeluk River dengan keputusasaan yang murni.

Ia menghirup aroma tembakau dan musk dari tubuh River seolah itu adalah oksigen yang ia butuhkan untuk bertahan hidup.

River menghela napas panjang, kekeraskepalaannya runtuh total. Ia meletakkan gelas di nakas, lalu perlahan tangannya bergerak membalas pelukan Every. Ia mendekap tubuh kecil itu, membiarkan Every mencari posisi paling nyaman di dadanya.

"Gue di sini, Every. Gue nggak bakal kemana-mana," bisik River tepat di telinga Every, suaranya rendah dan menenangkan. Ia mengusap punggung Every yang masih sedikit gemetar. "Gue nggak bakal biarin siapa pun nyentuh lo, termasuk air sungai sialan itu."

Every tidak menjawab, ia hanya semakin mengeratkan pelukannya, seolah takut jika ia melonggarkannya sedikit saja, River akan kembali menjadi pria dingin yang mengabaikannya di bus dan ruang makan.

River menyandarkan punggungnya pada kepala tempat tidur, membiarkan Every tertidur dalam pelukannya.

Di tengah kesunyian malam di Ciwidey, River menatap langit-langit kamar dengan tatapan yang rumit. "lo yang melanggar batas, Eve."

1
den
double up thor🤭
Muse_Cha: jangan lupa vote dan komen ya kak🙏❤️😍
total 1 replies
den
up lagi thorr
Muse_Cha: ditunggu ya kak. aku up sore²😍 jangan lupa like bab dan vote ya. terimakasih supportnya ❤️
total 1 replies
den
ceritanya menarik dan realistis ngk membosankan
den
kak plis up ceritanya realistis bangett😍
Muse_Cha: makasih ya kak😍 semoga suka terus🙏
total 1 replies
awesome moment
perempuan sering lbh maju perasaannya dan...tu yg bikin...terjun
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!