Elena adalah seorang tunangan dari pria bernama Marcus Leonhardt, dia adalah asisten di perusahaan pria itu. Suatu ketika Marcus membawa seorang perempuan bernama Selena Vaughn yang seorang konsultan komunikasi. Di suatu malam mobil yang di kendarai Elena ada yang mengikuti dan terjadilah BRUUKKK , kecelakaan…dimana Elena akhirnya sadar dan dia membuat keputusan berpura - pura buta. Apakah semua akan terungkap? Siapakah yang mengikuti Elena? Dan bagaimanakah kisah Elena selanjutnya?
On going || Tayang setiap senin, rabu & jumat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Garis yang Tidak Boleh Dilewati
Marcus tidak percaya pada kebetulan.
Malam setelah temuan aneh itu, ia tidak langsung tidur. Laptop masih terbuka di hadapannya, layar memantulkan cahaya dingin ke wajah yang semakin keras. Catatan yang sempat hilang kini kembali seperti tidak pernah pergi.
Dan itu justru lebih mengganggu.
Jika data bisa muncul dan menghilang tanpa jejak… maka seseorang sedang bermain dengannya. Bukan untuk mencuri. Bukan untuk merusak.
Melainkan untuk membuatnya ragu.
Marcus menutup laptop perlahan.
“Aku harus memastikan,” gumamnya.
Keputusan itu terasa sederhana—namun berbahaya.
...****************...
Pagi datang dengan cahaya pucat. Rumah terasa terlalu sunyi. Elena sudah duduk di meja makan ketika Marcus turun. Tangannya memegang cangkir teh, ekspresinya tenang seperti permukaan air yang tidak terusik.
“Kau bangun cepat,” kata Marcus.
“Aku tidak tidur nyenyak,” jawab Elena lembut.
Marcus memperhatikannya. Ada sesuatu dalam cara Elena berbicara—ritme yang terlalu stabil, nada yang terlalu terkendali. Ia mencoba membaca lebih jauh.
“Kau… ingat sesuatu tentang sistem lama?” tanyanya santai.
Elena mengangkat alis sedikit. “Sistem?”
“Keuangan. Arsip. Hal-hal yang dulu kau urus.”
Elena tersenyum tipis. “Aku bahkan kesulitan mengingat letak kamar mandi tanpa bantuan.”
Jawaban itu ringan. Masuk akal.
Namun Marcus tidak merasa lega.
Ia mengangguk pelan, lalu duduk. Sarapan terasa hambar. Setiap detik di meja itu seperti ujian kesabaran.
Karena untuk pertama kalinya…
Marcus mulai mencurigai orang yang paling ia yakini tidak berbahaya.
...****************...
Siang harinya, Marcus mengambil langkah yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Ia memasuki kamar Elena saat rumah kosong.
Langkahnya hati-hati. Napasnya tertahan.
Ruangan itu rapi. Terlalu rapi. Tidak ada tanda kekacauan. Tidak ada dokumen tersembunyi di meja. Tidak ada laptop mencurigakan.
Ia membuka laci.
Kosong.
Laci berikutnya.
Pakaian tersusun rapi.
Marcus menghela napas kesal. Ia hampir menutup semuanya ketika sesuatu menarik perhatiannya—sebuah kotak kecil di sudut lemari.
Ia membukanya.
Tongkat putih cadangan.
Tidak ada yang aneh.
Namun jari Marcus berhenti di permukaan kotak. Ada bekas goresan tipis—baru. Seolah benda itu sering dipindahkan.
Jantungnya berdetak lebih keras.
Ia menutup kotak itu kembali.
Dan untuk pertama kalinya…
ia merasa seperti penyusup di rumahnya sendiri.
...****************...
Di luar rumah, Elena duduk di dalam mobil yang terparkir di seberang jalan. Matanya terbuka, tajam, memperhatikan jendela kamarnya sendiri.
Ia tahu Marcus akan masuk.
Bukan karena ia melihatnya—
melainkan karena ia mengenal pola.
Ketika kendali terganggu, Marcus selalu mencari bukti fisik. Sesuatu yang bisa disentuh. Sesuatu yang bisa ia yakini.
Elena tersenyum kecil.
“Langkah pertama,” gumamnya.
Ponselnya bergetar.
Sudah masuk kamar.
Elena mengetik balasan singkat.
Biarkan.
Mobil tetap diam. Waktu berjalan lambat.
Beberapa menit kemudian, Marcus keluar dari rumah. Wajahnya tegang. Gerakannya lebih tajam dari biasanya.
Ia tidak menemukan apa pun.
Dan itu jauh lebih buruk daripada menemukan sesuatu.
...****************...
Malamnya, Marcus berdiri di depan cermin kamar mandi. Air mengalir, tapi tangannya tidak bergerak. Ia menatap dirinya sendiri, mencoba memahami satu hal:
Kenapa Elena terasa… berbeda?
Bukan perilakunya.
Bukan kata-katanya.
Melainkan keheningan di sekitarnya.
Marcus mematikan keran.
Ia membuat keputusan.
Besok… ia akan menguji Elena.
Bukan dengan pertanyaan.
Bukan dengan dokumen.
Melainkan dengan sesuatu yang tidak bisa dipalsukan.
Reaksi.
Dan jika Elena gagal—
maka semua yang ia yakini selama ini…
akan runtuh.
Di kamar seberang, Elena berbaring dengan mata terbuka. Senyumnya tipis.
Ia tidak tahu rencana Marcus secara detail.
Namun ia tahu satu hal:
ketika seseorang merasa hampir menemukan kebenaran—
mereka selalu melangkah terlalu jauh.
Dan Elena…
sudah menunggu garis itu untuk dilewati.
Bab berikutnya…
ujian dimulai—
dan seseorang akan sadar bahwa permainan ini tidak pernah seimbang sejak awal.