Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.
Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.
Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.
Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.
Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.
Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.
“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”
Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part Tiga Puluh Empat
Setelah sarapan bersama, Bu Maura mengajak Mikhasa duduk di ruang samping dengan dinding kaca yang menghadap langsung ke taman. Cahaya pagi masuk lembut, menenangkan.
“Hari libur seperti ini, biasanya kamu ngapain, Mikhasa?” tanya Bu Maura santai.
“Saya biasanya olahraga ringan di dekat tempat tinggal, Bu. Sekadar joging,” jawab Mikhasa jujur.
Percakapan mereka mengalir tentang hal-hal sederhana, rutinitas, cuaca, makanan favorit. Bu Maura sengaja membiarkan semuanya ringan, memberi ruang agar Mikhasa merasa nyaman berada di sini.
Lalu, Bu Maura berkata rendah, “Pasti capek ya, belakangan ini.”
Kalimat itu sederhana, tapi tepat sasaran. Mikhasa terdiam, kedua bola matanya bergerak sendu menatap Bu Maura, sebelum akhirnya ia mengangguk kecil. Bukan hanya belakangan ini, tapi jauh sebelum itu. Hanya saja, ia tidak mengatakannya pada siapapun.
Bu Maura mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangan Mikhasa dengan lembut. Sentuhan yang tidak memaksa.
“Nggak apa-apa,” ucapnya hangat. “Kamu boleh merasa capek, Mikhasa. Kamu nggak harus selalu kuat setiap hari.”
Batin Mikhasa bergetar. Ada sesuatu dalam ucapan Bu Maura yang membuat dadanya terasa sesak tiba-tiba. Kalimat sederhana itu seperti mengetuk pintu yang selama ini ia kunci rapat.
'Aku boleh capek.' Kalimat yang tak pernah ia izinkan pada dirinya sendiri.
Selama ini, Mikhasa hidup dengan keyakinan bahwa lelah adalah kelemahan, bahwa runtuh hanya akan membuatnya semakin tak berharga. Ia terbiasa menelan semuanya sendiri, tersenyum saat hatinya berantakan, berdiri tegak meski lututnya gemetar.
Namun sentuhan hangat di punggung tangannya ini, membuat pertahanan di hatinya retak perlahan.
Ia ingin bicara. Ingin mengatakan bahwa setiap pagi terasa berat, bahwa ada malam-malam di mana napasnya tercekat oleh ingatan yang datang tanpa diundang. Tapi kata-kata itu masih tertahan di tenggorokan, dia tidak mampu bicara apapun.
Bu Maura mengangguk dengan senyum tulus, penuh perhatian, menegaskan bahwa ... ya, kamu boleh capek, Mikhasa.
“Semua orang boleh capek,” ucapnya pelan. “Dan semua orang punya hak untuk beristirahat, termasuk kamu.” Ia memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan, suaranya tetap hangat.
“Karena terkadang, beban itu perlu dilepaskan sebentar. Tidak harus terus dipikul sendirian.”
Mikhasa mencerna kalimat itu baik-baik. Namun pikirannya segera menolak ketenangan itu.
'Kalau aku istirahat, lalu bagaimana dengan tanggung jawabku?'
Bagaimana dengan bibinya. Dengan keluarga di sana. Dengan semua beban yang sejak kecil ia pikul.
Jika ia berhenti membantu, itu sama saja dengan tidak tahu balas budi. Jika ia tidak membantu, bibinya akan marah. Jika bibinya marah… ia akan sendirian. Ia tidak punya siapa pun selain bibinya. Tidak ada orang tua, tidak ada hati untuk pulang selain bibi. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa bertahan hidup berarti harus terus memberi dan berbakti, meski harus mengorbankan dirinya sendiri.
Baginya, istirahat bukanlah hak. Istirahat adalah kemewahan yang hanya dimiliki orang-orang yang punya tempat aman untuk kembali. Dan Mikhasa… tidak punya itu.
“Bagaimana bisa aku beristirahat, kalau nilai diriku hanya ada saat aku berguna?” katanya akhirnya, dengan suara yang bergetar.
Bu Maura menatap Mikhasa, dengan dengan kelembutan dan pemahaman. “Mikhasa,” ucapnya pelan, “nilai dirimu tidak pernah ditentukan oleh seberapa bergunanya kamu bagi orang lain.”
Tangannya sedikit mengerat menggenggam tangan Mikhasa. “Kamu berharga bahkan saat kamu lelah. Bahkan saat kamu tidak bisa memberi apa-apa. Bahkan saat kamu hanya diam dan bernapas.”
Bu Maura tersenyum kecil untuk menguatkan. “Kalau seseorang hanya mencintaimu ketika kamu berguna, itu bukan cinta. Itu transaksi. Dan kamu… tidak diciptakan untuk bernilai hanya saat kamu berguna.”
Mikhasa ingin bicara menjawab kalimat itu. Namun yang keluar justru napas yang bergetar lalu disusul air mata yang jatuh begitu saja. Satu. Lalu menyusul yang lain.
Ia tidak menyekanya, ia membiarkan air matanya jatuh. Entah bagaimana perasaan ini, tapi ini adalah pertama kalinya ia menangis di depan orang lain. Karena sejak sekian lama, akhirnya, ada seseorang yang mengatakan bahwa ia boleh capek. Bahwa ia boleh berhenti. Bahwa ia tetap berharga, bahkan saat ia tidak sedang kuat.
Bu Maura Tetap tenang, tersenyum memahami dan mengulurkan kedua tangannya.
"Kamu boleh peluk ibu jika kau mau, Nak."
Mikhasa terdiam sejenak, tubuhnya bergetar kecil lalu menghamburkan pelukannya pada Bu Maura. Tangisnya semakin pecah di sana. Terisak dengan begitu lirih.
"Nggak apa-apa, Sayang. Menangislah."
🍀🍀
Waktu yang sama di pulau yang berbeda.
Di ruang makan sederhana itu, Bibi Netta dan suaminya duduk saling berhadapan. Piring-piring masih setengah terisi.
Paman Morgan membuka suara lebih dulu. “Sebenarnya siapa orang yang datang kemarin?” tanyanya sambil menyuap. “Datang siang hari, nanya soal keponakanmu, lalu pergi. Malamnya datang lagi dan meninggalkan uang sebanyak itu.” matanya berbinar-binar saat mengingat ia mendapat banyak uang. Dua kali lipat dari hutangnya.
Bibi Netta mengangkat bahu, Sama-sama tidak tahu siapa sebenarnya orang itu.
“Mungkin Mikhasa berhasil membuat orang kaya jatuh cinta,” katanya Netta. “Lalu orang itu penasaran dengan latar belakang gadis itu.”
Paman Morgan mengangguk-angguk. Senyum puas mulai mengembang di wajahnya yang bulat. “Kalau begitu, sekarang keponakanmu pasti hidup dalam pelukan orang kaya,” katanya. “Artinya… kita juga akan ikut menikmati kemewahan yang dia dapat, bukan?”
Sudut bibir Bibi Netta terangkat tipis.“Mikhasa memang cantik,” ucapnya ringan. “Tidak aneh kalau ada pria kaya yang jatuh cinta padanya.”
Netta meletakkan sendoknya perlahan. “Mulai sekarang, aku tidak boleh terlalu galak padanya,” lanjutnya tanpa rasa bersalah. “Hatinya harus dijaga supaya tetap bahagia. Kalau bahagia, dia akan tetap cantik. Karena kalau dia tidak cantik, orang kaya tidak akan tertarik lagi.”
ciee..yg udh mulai suka sama Axel,mulai senyum senyum walaupun kesel