"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Takdir di Balik Nampan Kue
Pagi itu, kediaman Kyai pengasuh pesantren nampak lebih sibuk dari biasanya. Umi Aisyah, ibunda Gus Zidan, sedang mempersiapkan acara pengajian bulanan untuk para wali santri. Di tengah hiruk-pikuk dapur, Umi Aisyah sesekali melongok ke arah gerbang, menanti sesuatu.
"Zidan, coba lihat ke depan. Apakah pesanan kue dari Bu RT sudah datang?" tanya Umi Aisyah pada putranya yang kebetulan lewat membawa kitab.
Zidan mengangguk patuh. Namun, belum sempat ia sampai ke gerbang, sebuah suara yang sangat ia kenali terdengar dari arah teras.
"Assalamualaikum! Permisiii... paket manis datang!"
Zidan menghentikan langkahnya. Di sana, di depan pintu ndalem, berdiri Bungah. Kali ini ia mengenakan kerudung instan yang sedikit miring karena terburu-buru bersepeda, namun aura keceriaannya tetap tidak luntur. Ia memeluk sebuah wadah plastik besar berisi aneka kue basah.
"Waalaikumussalam," jawab Zidan pelan.
Bungah mendongak, matanya berbinar. "Lho, Kak Zidan sedih lagi? Eh, maksudnya Kak Zidan ada di sini?"
"Ini rumah saya," jawab Zidan singkat, berusaha menahan senyum melihat tingkah polos gadis itu.
"Oalah! Jadi Kak Zidan ini anaknya Umi Aisyah yang katanya hebat itu ya?" Bungah bicara tanpa beban, seolah sedang mengobrol dengan teman sebaya. "Pantas saja mukanya serius terus, pasti karena kebanyakan baca kitab ya kak?"
"Bungah! Sudah datang, Nduk?" Umi Aisyah keluar dari dalam rumah dengan wajah sumringah. Beliau langsung menghampiri Bungah dan mengambil alih wadah kue tersebut.
"Sudah, Umi! Tadi hampir telat soalnya ban sepeda Bungah sempat kempes, tapi untung ada tukang tambal ban yang baik hati," lapor Bungah dengan semangat, tangannya bergerak-gerak saat bercerita.
Umi Aisyah tertawa kecil sambil mengelus kepala Bungah yang tertutup kerudung. "Kamu ini selalu saja ada ceritanya. Ayo masuk dulu, minum es sirup, cuacanya panas sekali."
Zidan hanya bisa berdiri mematung memperhatikan interaksi itu. Ia baru tahu kalau ibundanya ternyata sudah sangat akrab dengan Bungah.
Di dalam ruang tamu, Bungah duduk dengan sopan namun tetap terlihat gelisah karena kakinya terus bergoyang-goyang di bawah kursi. Saat Umi Aisyah kembali ke dapur, Zidan memberanikan diri duduk di kursi seberang.
"Bungah," panggil Zidan.
"Ya, Kak?"
"Terima kasih untuk kue-kuenya. Dan... terima kasih sudah membuat Umi saya tertawa."
Bungah memiringkan kepalanya, menatap Zidan dengan tulus. "Umi Aisyah itu baik banget, Kak. Kayak malaikat. Makanya Bungah senang kalau ke sini. Tapi Kak Zidan juga harus sering ketawa dong, biar gantengnya nggak mubazir!"
Tepat saat itu, Umi Aisyah kembali membawa dua gelas minuman. Beliau memperhatikan tatapan putranya yang tak lepas dari Bungah. Sebagai seorang ibu, Umi Aisyah menangkap sesuatu yang berbeda dari tatapan Zidan—tatapan yang tidak pernah ia lihat saat Zidan disodorkan foto-foto ning atau santriwati berprestasi.
"Bungah, habis ini mau langsung pulang atau mau bantu Umi sebentar bungkus kado untuk santri?" tanya Umi Aisyah, seolah ingin memberi kesempatan pada putranya.
"Boleh, Umi! Bungah jago kalau soal bungkus-bungkus, tapi kalau hasilnya agak miring dikit jangan dimarahin ya!" jawab Bungah riang.
Zidan tersenyum tipis. Sangat tipis, namun itu adalah senyuman pertama yang tulus yang ia rasakan setelah sekian lama. Di tengah udara yang gerah, kehadiran Bungah benar-benar seperti hembusan angin pantai yang menyejukkan.
Umi Aisyah tertegun sejenak. Beliau menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu antara ruang tamu dan dapur. Matanya yang teduh menangkap pemandangan yang sangat jarang terjadi: Zidan, putra sulungnya yang biasanya sedingin salju di kutub utara dan selalu bermuka serius, kini tengah menyunggingkan senyum tipis. Walaupun sangat halus, senyuman itu terlihat begitu tulus.
Hati Umi Aisyah berdesir. Selama ini, setiap kali disinggung soal pernikahan atau diperkenalkan dengan putri para Kyai, Zidan selalu menunduk dan memberi alasan bahwa hatinya belum siap. Namun di depan gadis polos yang bahkan belum melepas sisa-sisa kegembiraan kelulusan SMP-nya ini, tembok kebekuan Zidan seolah retak.
"Zidan," panggil Umi Aisyah dengan suara lembut yang penuh makna.
Zidan langsung tersentak. Ia segera menarik senyumnya dan kembali memasang wajah tenang, meski rona merah tak bisa disembunyikan dari pipinya. "Nggih, Umi?"
"Kenapa diam saja? Itu minumannya diberikan kepada tamu," goda Umi Aisyah sambil meletakkan nampan. Beliau melirik Bungah yang sedang asyik membetulkan letak kerudungnya yang miring.
"Eh, makasih Umi Aisyah yang cantik!" seru Bungah tanpa canggung. Ia langsung menyeruput es sirup itu dengan nikmat. "Segar banget! Rasanya kayak lagi mandi di laut!"
Umi Aisyah tertawa renyah mendengar celetukan Bungah. "Kamu ini, Bungah, ada-ada saja. Zidan, nanti setelah Bungah selesai membantu Umi membungkus kado, tolong kamu antarkan dia pulang ya? Kasihan, sepedanya tadi katanya sempat kempes, takutnya di jalan kenapa-napa."
Zidan terdiam sejenak. Antara rasa sungkan karena statusnya sebagai seorang Gus, dan rasa ingin tahu yang besar terhadap gadis ini, hatinya bergejolak.
"Tapi Umi, apakah tidak apa-apa?" tanya Zidan ragu.
"Kenapa tidak boleh? Kamu kan mengantar karena amanah Umi. Lagipula, Bungah ini sudah seperti anak sendiri bagi Umi," jawab Umi Aisyah dengan nada yang seolah memberi "restu" terselubung.
Bungah yang tidak sadar sedang menjadi pusat perhatian dua orang di depannya, malah asyik melihat-lihat kitab yang dibawa Zidan. "Kak Zidan, ini tulisan apa? Kok kayak cacing lari-lari?" tanyanya polos sambil menunjuk tulisan Arab gundul di kitab itu.
Zidan mendekat, sedikit menunduk untuk melihat bagian yang ditunjuk Bungah. Bau harum sabun bayi yang khas dari tubuh Bungah menyeruak, membuat jantung Zidan kembali berdegup kencang.
"Ini namanya kitab kuning, Bungah. Isinya tentang ilmu agama. Kalau kamu mau, nanti Kakak ajarkan," jawab Zidan dengan suara yang jauh lebih lembut dari biasanya.
Umi Aisyah yang melihat interaksi itu dari kejauhan hanya bisa tersenyum syukur dalam hati. Sepertinya mentari kecil ini benar-benar telah sampai di kutub utara hati anakku, batin beliau.