罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 - Reikai part I
...**...
...炎ニ試サレシ血...
...-Honō ni Tamesareshi Chi-...
...'Darah yang Diuji oleh Api'...
...⛩️🏮⛩️...
..."Segel itu bukan pelindung. Ia adalah rantai. Tapi rantai bisa berkarat, bisa juga... terlepas."...
...—Pendeta Yagami...
...⛩️🏮⛩️...
Bukan tawa keras. Bukan gila.
Tawa kecil—parau, menyakitkan, dan sangat nyata.
Kaede melangkah pelan, berdiri di atasnya. Mata hitamnya kosong tapi tajam.
"Apa yang lucu, Nakamura?" tanyanya.
Noa menoleh sedikit. Senyumnya lebar, darah hangat menetes dari sudut bibir ke lantai kayu.
"Dulu... begitu jatuh, aku cuma ingin menyerah. Pinggangku nyeri, napasku habis, pikiranku kosong."
Ia tertawa lagi, lebih kecil, tapi lebih yakin.
"Tapi sekarang... untuk pertama kalinya... tubuhku tidak ingin berhenti."
Kaede menatap lama.
Wajahnya tetap datar. Tapi di balik ketenangan itu, sesuatu yang halus nyaris tak terlihat—telah retak.
Bukan karena iba.
Bukan karena kagum.
Tapi karena benci yang selama ini ia genggam erat... mulai goyah di hadapan seseorang yang seharusnya tumbang.
Dan ia tidak suka itu.
...⛩️🏮⛩️...
Benci itu belum hilang. Tidak akan.
Tapi untuk pertama kalinya, benci itu harus berbagi tempat dengan sesuatu yang lain: pengakuan bahwa Noa... tidak lagi sama saat awal menginjakkan kaki di rumah ini.
Ia berbalik dan kembali ke posisinya.
Reiji masih bersandar di pilar.
Tangan bersilang, ekspresi tak berubah. Tapi sorot matanya kini memperhitungkan, bukan menghakimi.
Masih dingin. Masih keras.
Tapi tidak lagi menolak.
Sementara Akiro hanya menyarungkan bilahnya. Perlahan.
Gerakan yang terlalu tenang untuk dianggap biasa.
Tak ada aba-aba.
Tapi satu per satu mereka kembali ke posisi.
Seolah latihan belum selesai.
Seolah apa yang baru saja terjadi tidak perlu dibicarakan.
Tapi Noa tahu.
Hari ini bukan tentang menang.
Hari ini tentang tetap sadar saat sekarat.
Tentang luka yang bukan lagi musuh, tapi bagian dari pengakuan.
Tentang sesuatu dalam dirinya yang akhirnya—didengar oleh lantai dojo ini.
Hari ini, setelah puluhan hari yang tak berarti—baginya.
Ia tak lagi dianggap beban.
Hari ini ia diterima sebagai bagian dari luka.
Sebagai bagian dari darah naga.
...⛩️🏮⛩️...
Hari berikutnya.
Tubuh Noa hampir ambruk begitu memasuki halaman markas. Malam sudah turun, dan langit Tokyo mengguyur gerimis lelah. Tanah basah, bebatuan pekarangan terasa dingin di telapak kaki yang hampir tak sanggup berdiri tegak.
Pelatihan di Dojo telah memeras seluruh sisa kekuatannya. Tidak hanya fisik—jiwanya pun seperti ditarik batasannya, seolah tubuhnya sedang diuji: bukan untuk kuat, tapi untuk hancur.
Ia menang. Tapi bayangan dalam dirinya ikut bangkit.
...⛩️🏮⛩️...
Malam itu, Noa tidak benar-benar tidur.
Kesadarannya terputus-putus—datang dan pergi dalam jeda yang terlalu singkat untuk disebut pingsan, terlalu jelas untuk disebut kantuk. Setiap kali ia menutup mata, tubuhnya terasa ditarik ke tempat lain. Lalu dilepaskan kembali.
Sekejap.
Lalu sadar lagi.
Dadanya terasa sesak. Napasnya tidak terhenti, namun ritmenya kacau—seolah tubuhnya lupa urutan bernapas. Otot-ototnya bergetar tanpa perintah. Luka lama dan baru bereaksi bersamaan, bukan sebagai rasa sakit, melainkan sebagai penyesuaian.
Bukan penderitaan yang membuatnya sulit bertahan.
Melainkan tarikan dari dua arah.
Noa memaksa dirinya duduk. Pandangannya menggelap lagi—hanya sepersekian detik—lalu kembali fokus. Ia turun ke lantai kayu, bersandar pada sisi ranjang, menahan tubuhnya agar tetap berada di satu tempat. Agar tidak terseret lagi.
Di luar, langit menyala.
Petir menyambar—panjang, tinggi, saling bersahutan. Cahaya putih kebiruan membelah awan, menerangi halaman dan dinding bangunan. Namun tidak ada hujan. Tidak ada angin. Tidak ada badai.
Hanya petir.
Berulang.
Tidak wajar.
Seolah langit bereaksi, tapi belum memutuskan bagaimana caranya meledak.
Noa menunduk, membuka bajunya dengan tangan gemetar. Di cermin buram seberang ruangan, pantulan tubuhnya tampak terlambat—seperti bayangan yang tertinggal setengah detik dari gerak aslinya.
Irezumi darah itu terlihat jelas.
Segel naga merah—Tenryuu—membentang dari pinggang kanan, melintasi tulang belakang, lalu naik ke dada kiri. Guratannya tidak bersinar terang, melainkan berdenyut. Hidup. Sisik-sisiknya bergerak samar mengikuti napas, seperti mengikuti denyut jantung.
Noa kehilangan kesadaran lagi.
Sekejap.
Saat ia kembali, jantungnya berdetak lebih cepat. Bukan karena panik—melainkan naluri. Tubuhnya menyadari sesuatu yang pikirannya belum sanggup ia susun.
Di bawah kulitnya, ada tekanan.
Bukan gerakan fisik.
Melainkan dorongan.
Dua arus yang berusaha menempati ruang yang sama.
Tenryuu bereaksi.
Dan bersamaan dengan itu, Noa merasakan getaran lain—lebih dalam, lebih dingin.
Kuraokami.
Roh naga air itu belum bangkit sepenuhnya. Tapi ia terjaga. Mengamati. Menyentuh batas kesadarannya dari sisi yang berbeda. Semenjak pertarungan itu. Latihan hari ini. Luka hari ini. Tekanan yang ia terima—cukup untuk membuatnya membuka mata.
Segel Tenryuu yang seharusnya menahan, kini menyesuaikan diri.
Noa terhuyung, hampir kehilangan kesadaran untuk ketiga kalinya—kali ini lebih lama. Saat ia kembali, tenggorokannya kering, dan ada panas asing di dadanya.
Bukan kekuatan yang muncul.
Melainkan kesadaran bahwa tubuhnya kini menjadi titik temu sesuatu yang saling bergejolak.
Di luar, petir kembali menyambar.
Masih tanpa hujan.
Masih tanpa angin.
Seolah dunia menahan napas.
...⛩️🏮⛩️...
Ketukan terdengar di pintu. Tiga kali. Tegas.
Pendeta Yagami masuk tanpa menunggu jawaban, membawa dua gulungan kain dan sebuah mangkuk kuningan. Langkahnya terhenti saat melihat Noa di lantai. Ia mengangguk kecil—seperti memastikan sesuatu yang telah ia duga.
"Kesadaranmu terputus-putus," katanya pelan.
"Itu bukan karena lukamu."
Noa tidak langsung menjawab. Kepalanya masih terasa ringan, seolah sebagian dirinya tertinggal di tempat lain.
"Dunia roh sedang bergerak," lanjut Yagami.
"Dan tubuhmu berada tepat di pusatnya, Nakamura-san."
Petir menyambar lagi. Cahaya menyelinap masuk melalui celah jendela.
Noa berusaha untuk memusatkan kesadarannya, "Apa maksudnya?
Pendeta Yagami tidak segera menjawabnya. Ia hanya menaruh mangkuk itu di lantai, lalu menarik napas panjang seperti sedang memilih kata yang tepat untuk mengandung artinya.
"Mereka terusik dengan Tenryuu—roh purba dari langit merah, yang menjadi segel rantai Kuraokami."
Kuraokami adalah bagian dari arus lama dunia roh—ia tidur di dalam aliran air, badai, dan hujan. Tapi roh segel itu... lain. Ia bukan milik zaman ini. Ia adalah makhluk langit yang sudah seharusnya lenyap di atas lapisan awan, yang dipaksa turun ke tubuh manusia.
Tatapan Yagami jatuh pada irezumi di belakang tengkuk Noa.
"Bukan badai yang membuat mereka gelisah," lanjutnya.
"Melainkan segel yang menahan badai itu."
Irezumi darah adalah panggilan untuk roh purba. Roh yang lebih tua dari klan Yamaguchi.
Leluhur pertama Yamaguchi menaklukkan.
Mengurungnya dalam gulungan emas — dengan darah keluarga.
Sekarang, dengan membangunkannya kembali.
Menyuruhnya turun dari langit gaib, menyelam ke tubuh seorang manusia.
Sebagai sangkar—pemangsa untuk roh yang lebih besar, Kuraokami, naga air dan badai yang tidur dalam jiwa Noa.
Jika Kuraokami bangkit, roh pemangsa itu akan bereaksi dari dalam. Akan menelan kekuatan Kuraokami sebelum dunia tenggelam.
Noa tidak menjawab. Semua ini hal baru untuknya—tidak tahu harus bereaksi apa. Atau mungkin tidak ingin peduli. Ia pun tidak diberi kuasa atas pilihan yang memang tidak pernah ada sejak awal.
"Karena darahmu... juga tidak menolak," terang pendeta Yagami menjelaskan. "Tenryuu telah membuka mata. Dan ketika penjaga langit terjaga... tidak hanya Kuraokami, roh-roh lain yang tertidur tidak akan tinggal diam."
Pendeta Yagami meletakkan mangkuk kuningan di lantai. Ia menyalakan lilin kecil dari biji pinus tua, dan mencelupkan kuas ke cairan merah gelap di dalam mangkuk.
"Segel ini memang sebuah penjara bagi Kuraokami, tapi di dunia roh... " lanjutnya. "... ia seperti sebuah pintu. Dan malam ini, pintu itu 'diketuk' oleh para leluhur."
Noa menarik napas dalam. Setiap kata itu terasa berat—bukan karena ancaman, melainkan karena kebenarannya.
Pendeta Yagami terdiam sejenak. Tatapannya tidak sekadar jatuh pada Noa, melainkan menembusnya—seolah berusaha membaca sesuatu yang bergerak di balik kulit dan darahnya.
Dunia roh, pikirnya, tidak bergejolak saat segel itu pertama kali ditanam. Saat itu, roh penjaga masih tertidur. Tubuh Noa tak lebih dari rumah kosong dengan pintu yang terkunci rapat, sunyi, tak mengundang perhatian apa pun.
Namun kini keadaan telah berubah.
Ia menarik napas pelan, seperti menimbang kata-kata berikutnya.
"Dua kekuatan itu saling mengenali, saling menantang. Dan ketika naga air dan naga langit bersentuhan—bahkan dunia roh pun ikut bergetar."
Malam ini, mereka mulai saling menilai.
Saling menuntut.
...—つづく—...
disisi lain, noa bener² berjuang bertahan hidup bersama bibi yang memang sebenarnya ibu kandungnya. kondisi yang cukup memprihatinkan untuk mereka berdua yang sebatang kara
sungguh alur cerita ini membuat penasaran untuk terus membacanya
kuat banget udahan, pengambilan konfliknya juga menarik. Geisha, si penghibur yang dihargai di Jepang. pasti si Rin ini cantik banget sampai kayaknya jadi pusat. Btw kakak Author kamu risetnya jalur film apa pernah kesana, bisa buat setting yang jepang banget 👍