NovelToon NovelToon
Blood Of Sin - Tsumi No Chi

Blood Of Sin - Tsumi No Chi

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: samSara

罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27 - Uragiri part II

...**...

...敗北は喪失ではない...

...-Haiboku wa sōshitsu de wa nai-...

...'Takluk Bukan Berarti Hilang'...

...⛩️🏮⛩️...

..."Ini bukan tentang menang atau kalah....

...Ini tentang bertahan cukup lama, agar kau tak kehilangan dirimu sendiri."...

...⛩️🏮⛩️...

Kepalanya terangkat perlahan. Iris matanya berpendar pucat—bukan lagi mata manusia yang kelelahan. Nafasnya berubah teratur, lebih dalam, lebih berat. Seperti ada sesuatu lain yang bernapas bersamanya.

Rantai besi—yang melilit di pergelangan tangannya—berderak dan langsung remuk begitu saja saat ia genggam tanpa tenaga yang berarti. Seolah sedang meremukkan kulit telur dengan mudah.

Musuh yang sudah siap menerjang tiba-tiba ragu, langkah mereka tersendat.

Luka-luka di tubuhnya masih mengucur, tapi kini darah itu menguarkan kabut tipis, seakan tubuhnya menolak kelemahan.

Kuraokami—roh naga air— mendongak dari dalam tubuh Noa, menghidupkan kembali raganya yang hampir hancur.

Ledakan tekanan spiritual menyapu ruangan. Para penyerang terhempas beberapa meter seperti daun tertiup angin. Air dari drum logam di sudut gudang meledak, lalu berputar dalam pusaran liar.

Itu bukan sekadar kekuatan yang bangkit.

Itu kebangkitan penuh.

Dan saat mata itu menatap musuh, tajam, dingin, tak berperasaan—mereka sadar: yang berdiri di hadapan mereka bukan lagi manusia.

Dengan satu hentakan tangan, pusaran air memadat jadi tombak air. Tajam. Bersinar. Tombak itu melesat menembus empat tubuh sekaligus. Suara daging tertembus dan tulang retak bergema bersamaan di ruang baja.

Dua pria berikutnya menyerbu dengan senjata listrik. Tapi air di lantai bangkit melawan, melilit tubuh mereka. Pusaran itu menghantamkan mereka berulang kali ke tiang besi, sampai tulangnya patah seperti ranting kering.

Seorang lagi mencoba lari. Noa hanya menjentik jarinya. Dari langit-langit, butir air yang seolah tak pernah ada sebelumnya jatuh, merajut benang tipis seperti kawat. Benang itu meluncur, memotong tubuh pelarian itu tanpa suara.

Tinggal sembilan musuh.

Duri-duri cair muncul dari genangan, melesat liar. Empat tubuh langsung tertembus, terangkat ke udara sebelum jatuh tak bernyawa. Tiga lainnya berusaha bertahan, tapi pusaran air menyeret mereka dan membantingnya hingga tubuhnya remuk.

Gudang itu berubah jadi kuburan basah.

Hanya dua orang tersisa.

Yang satu terhuyung, kehilangan senjata dan penuh luka. Yang satunya lagi: seorang lelaki tua bermata satu, sejak awal berdiri mengawasi.

Noa mengabaikan yang terluka. Tatapannya hanya jatuh pada sang pemimpin.

Lelaki tua itu tahu apa yang bangkit di hadapannya. Dengan tangan gemetar ia mengangkat jimat, melafalkan suatu mantra atau doa.

Mata biru Noa menyala lebih terang.

Air yang menggenang di seluruh gudang bergetar hebat, seperti menanggapi dentuman tak kasatmata dari bawah tanah. Suhu ruangan turun drastis. Kabut merayap dari celah-celah lantai, menyelimuti dinding besi yang kini berembun dingin.

Lalu dari tengah genangan itu lahir sosok naga.

Bukan tubuh fisik biasa, tapi siluet air yang membentuk naga—Kuraokami. Tubuh transparan dengan diselimuti kabut dan cahaya biru-perak, naga purba dengan mata seperti obor di tengah pusaran. Ia mengangkat kepala, menderu tanpa suara; dinding berderak, genteng runtuh, panel baja terbelah. Bangunan nyaris ambruk hanya oleh tekanannya.

Naga itu menerjang pria terakhir—bukan dengan senjata jarak jauh, tapi dengan siluetnya yang menembus tubuh pria itu.

Lelaki bermata satu itu membeku. Wajahnya yang keras luluh dalam sekejap. Matanya melebar, mulutnya terbuka, seakan hendak menjerit—tapi tak ada suara. Tak akan pernah ada.

Karena sebelum tubuhnya hancur, jiwanya lebih dulu dilahap oleh Kuraokami.

Dan di udara yang dingin menggigit itu, hanya satu hal yang tersisa:

Kemarahan kuno yang belum selesai.

Sesaat setelahnya, tubuh Noa terhempas ke lantai. Segel merah di punggungnya menyala biru, terbakar dari dalam. Kekuatan Kuraokami—yang meledak dari dalam—berbalik melahap kulit punggungnya. Roh naga air itu meraung dalam diam, menolak segala belenggu. Ia mengamuk melawan segel yang menahannya, berusaha meremukkan penjara yang berani mengikatnya.

Noa meronta, napasnya terputus-putus, tubuhnya menggigil.

...⛩️🏮⛩️...

Dari gedung pemantau yang tersembunyi, Kuroda menyaksikan semuanya.

Torao baru tiba—terlambat.

Ia muncul tanpa suara, persis seseorang yang tidak berniat menjadikan kedatangannya bukan hal yang penting. Ujung sarung tangannya basah—bukan oleh air, tetapi oleh sesuatu yang lebih kental dan cepat mengering.

Kuroda meliriknya sekilas.

"Kau terlambat."

"Aku tahu," jawab Torao.

Tidak defensif. Tidak pula memberi alasan.

Selain Jin, mereka bukan orang-orang yang sepenuhnya buta. Mereka telah membaca kemungkinan itu sejak awal—tentang Kaede, tentang misi Noa, tentang sesuatu yang sengaja dibiarkan berjalan tanpa koreksi.

Dan mereka memilih diam.

Bukan karena tidak peduli, melainkan karena ada hal yang hanya bisa diukur ketika tidak ada tangan yang ikut campur: apakah seseorang akan bertahan... atau runtuh, ketika dibiarkan menghadapi akibatnya sendiri.

Di seberang atap gedung lainnya, Akiro berdiri tanpa bergerak, hanya bayangan tubuhnya yang tampak diantara kabut dan cahaya lampion. Tapi pada jarak yang lebih dekat, ada guratan kekesalan samar yang tak bisa disembunyikan. Entah karena bau penghianatan atau sesuatu yang lain. Rahangnya terlihat mengeras dan tangannya mengepal perlahan di sisi tubuhnya.

Hane datang mendekat ke arah Kuroda dan Torao dari tempatnya. Telihat peluh berjatuhan, napas tersengal dan suara gemetar, saat berkata. "Apa yang harus kita lakukan, aniki?"

Kuroda tak berkata apa-apa. Raut wajahnya tampak tenang di permukaan, namun sorot matanya menyiratkan sesuatu yang lain—ketegangan tipis yang tak sepenuhnya tersembunyi. Ia menatapnya sekilas. Nada suaranya datar, tapi cukup tajam untuk membuat udara menegang.

"Bukankah kau ditugaskan hanya untuk memantau, Hane-san? Bukan bertindak."

Kuroda berhenti sejenak, seolah menimbang sesuatu yang akan diucapkan. Lalu dengan suara pelan namun berat, ia menambahkan:

"Tak perlu khawatir. Aku percaya... segel itu bisa diandalkan. Dan Oyabun pasti sedang melakukan sesuatu."

Tapi nada suaranya tak semeyakinkan ucapannya.

Yang perlu dilakukan sekarang adalah menunggu mantra penyegel itu dibacakan.

...⛩️🏮⛩️...

Sementara Itu,

Tempat yang Jauh dari Medan Pertempuran

Di bagian terdalam kuil Yamaguchi, jauh dari semua mata, seseorang duduk dalam keheningan.

Yamaguchi Raizen.

Tubuhnya tegak, tenang, seakan menjadi bagian dari lantai batu yang dingin. Di hadapannya terbentang naskah-naskah kuno, berlapis kertas tipis seperti kulit berumur ratusan tahun.

Di tengah, terentang satu gulungan sutra hitam yang belum sepenuhnya terbuka:

'Mantra Tenryuu—Segel Kuraokami'

Tulisan-tulisan di atasnya seperti bergerak. Seakan tinta itu bukan ditulis dengan tangan manusia, melainkan dengan energi dari dunia lain.

Raizen menyentuhkan dua jarinya pada bagian tengah segel. Dan pada detik itu, mata tuanya menyipit.

Ia melihat apa yang terjadi.

Semua.

Melalui benang roh, melalui darah yang mengikat, ia melihat bagaimana naga itu bangkit dari punggung Noa, mengoyak langit malam gudang itu, dan membunuh tanpa ampun. Ia menyaksikan Noa hampir kehilangan tubuhnya sendiri. Dan ia tahu...

Segel itu sedang terbakar.

"Kaede..." gumam Raizen, tanpa membuka mata. "Sejauh ini kau beraksi?"

Ia tidak terkejut.

Tapi ia juga tidak menyalahkan. Dalam klan, tidak ada pengkhianatan yang tidak berasal dari rasa sakit.

Meski ia tidak melihat langsung apa yang terjadi di luar sana.

Tapi ia tahu.

Ia merasa.

...—つづく—...

1
Faeyza Al-Farizi
kamu seneng, kok aku justru ketar ketir Noa 😭😭😭
Faeyza Al-Farizi
makanya jangan disakitin 🫵
Faeyza Al-Farizi
aaaah.... sama 😌😌, ini di sini kamu kelihatan baik, nggak cuma kelihatan kan? emang asli baik?
Faeyza Al-Farizi
Kimura sama Hane sama?
Faeyza Al-Farizi
itulah tantangan jadi pedagang, yang di stok bukan cuma barang tapi sabar dan senyuman, kalau enggak pelanggan bakal 😌
Faeyza Al-Farizi
Tetap aja Nak... bocil macam kamu tuh justru banyak di titeni
Faeyza Al-Farizi
Hadeh akang Hane... tolong ya Kak Author perjelas statusnya, biar aku bisa jelass harus dukung atau demo ke si akang Hane ini
Faeyza Al-Farizi
aku harap seenggaknya kamu simpati lah 🥴
Faeyza Al-Farizi
lebih manfaat kalau hidupmu bikin orang lain nyaman, tentram, sehat 🥲
Faeyza Al-Farizi
Halah Hane... milikilah hati sedikit, atasanmu gak bakal tau kalau kamu kasih dia soklat barang sebatang... apalagi kalau coklatnya cuma bungkusnya dalemnya emas 😌😌, tapi ini kayaknya cuma hayalan pembaca yang kepalanya udah berat sama rasa kasihan sama Noa.
Faeyza Al-Farizi
ini pak Tadashi siapanya Noa? ayahnya ? ngapain ngawasin dari jauh kalau emang kau ayahnya. datengin kek. minimal kalau gak mau ngakuin santunin, berobatin ibunya, jangan cuma kirim mata-mata, gak guna
Faeyza Al-Farizi
Udah capek, mana pake ada bau kejahatan pula ini, heran masih ada yang doyan nambahin deritanya 🥴
Faeyza Al-Farizi
NAK... kamu juga harus bantu dirimu 😭😭😭, ish kenapa takdirnya timpang banget begini
Faeyza Al-Farizi
😭😭😭😭 semudah itu harus banting tulang, tolong yang bikin dia lahir dengan nitipin benih ke ibu Noa, tanggung jawab woy 🫵
Bis Mika
Ceritanya keren sekali, aku suka ritme yang diatur author
Selens ana
🔥🔥🔥🔥
Bis Mika
Keren banget thor gimana km segitu niatnya bikin cerita yg atmosferik kayak gini🥹🔥
Bis Mika
huhuuu kasihan sekali baby merah itu, kenapa teganya ada manusia yang mau memalsukan kondisinya saat lahir 😔
Een Nuraeni
Kisah perempuan yang bahkan harus menyembunyikan kelahiran bayinya, mengganti identitas dan pergi sejauh mungkin untuk melindungi si bayi.

Dia bukan istri, bukan selir, cuma perempuan yang di takdirkan untuk melahirkan seorang bayi yang mungkin bisa saja menjadi ancaman untuk klan di masa depan.

prolog aja udah di suguhi cerita yang wah banget, penasaran sama kehidupan Rin dan bayinya nanti.
Een Nuraeni
Sesuatu yang di tutupi pada akhirnya emang bakal ketauan juga, tapi... tapi.... kalau sampai Rin dan bayinya ketemu, kira-kira apa yang bakal terjadi ya?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!