Aurely Tania Baskoro, dulu percaya hidup akan selalu memihaknya. Cantik, mapan, dicintai, dikagumi. Ia tak pernah mengenal kata kekurangan.
Namun ketika kebangkrutan merenggut segalanya, Aurely harus meninggalkan kota, kampus, dan orang-orang yang katanya mencintainya.
Desa menjadi rumah barunya, tempat yang tak pernah ia inginkan.
Di sana, ia melihat ayahnya berkeringat tanpa mengeluh. Anak-anak kecil bekerja tanpa kehilangan tawa, orang-orang yang tetap rendah hati meski punya segalanya... Dan Rizky Perdana Sigit, pemuda desa yang tulus menolongnya..
Pelan pelan, Aurely belajar bahwa jatuh bukan akhir segalanya. Harga diri tidak selalu lahir dari kemewahan. Dan kadang pertemuan paling penting… terjadi saat kita berada di titik paling rendah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arias Binerkah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25.
Santi yang sadar dirinya sedang ditatap Aurely, sekaligus mendengar pertanyaan Rizky, langsung menggelengkan kepala dengan cepat.
“Bukan aku, Rel. Bukan aku yang cerita ke Mas Rizky,” ucap Santi ketakutan, khawatir dituduh oleh Aurely.
“Kok Mas Rizky bertanya begitu?” gumam Aurely sambil menatap wajah Rizky dari samping.
Sesaat, jantung Aurely kembali berdegup lebih kencang ketika kedua mata mereka begitu dekat . Kulit Rizky memang tidak seputih Kevin, namun auranya justru membuat dadanya berdebar. Debar yang anehnya menghadirkan rasa tenang dan nyaman.
“Aku cuma menebak-nebak saja, kalau Mama-ku mungkin bersikap kurang menyenangkan di hatimu,” ucap Rizky pelan, namun berhasil membuyarkan lamunan Aurely.
Aurely segera mengalihkan pandangannya ke depan. Ia bahkan sedikit menunduk, khawatir rona merah di pipinya terlihat oleh Rizky atau Santi.
“Hm… mungkin Bu Retno memang tegas pada karyawan,” jawab Aurely akhirnya.
Rizky hanya tersenyum kecil sambil terus melajukan mobilnya.
Tak lama kemudian, dari arah belakang terdengar suara imut Elin.
“Bude Retno itu aslinya nggak galak kok.”
“Iya, Mbak. Mungkin Bude Retno lagi galau aja,” sahut Elang. “Lagi kangen sama Pakde Sigit,” lanjutnya.
“Betul, betul, betul,” timpal Elin dengan nada serius. “Aku kalau lagi kangen Dik Embul juga bawaannya pengen marah-marah ke Elang.”
Elang menoleh ke arah Aurely.
“Mbak Aurely juga pernah galak ke kita,” ucapnya.
Wajah Aurely langsung terasa memanas.
“Tapi kan aslinya Mbak Aurely juga nggak galak,” lanjut Elang cepat.
Mobil melaju dengan tenang, diiringi suara mesin yang stabil. Aurely menarik napas pelan, seolah sedang menimbang sesuatu di benaknya. Ia melirik Rizky sekilas, lalu memberanikan diri membuka suara.
“Mas Rizky…” panggilnya ragu.
Rizky menoleh sekilas sambil tersenyum tipis. “Iya, Mbak?”
Aurely menggenggam tas di pangkuannya. “Papa Mas… Pakde Sigit… sekarang sedang tidak di rumah, ya?”
Rizky terdiam sejenak sebelum menjawab. Sorot matanya tetap tenang, meski ada sesuatu yang samar terlintas di sana.
“Iya. Papa lagi pergi jauh.”
“Pergi ke luar kota?” tanya Aurely pelan, berusaha terdengar biasa saja.
Sebelum Rizky sempat menjawab lebih jauh, suara Elin kembali terdengar dari bangku belakang.
“Pakde Sigit pergi jauh banget, Mbak Aurely,” ucapnya polos.
“Iya,” sambung Elang. “Katanya lama. Bisa berbulan-bulan.”
Aurely menoleh ke belakang, menatap kedua anak itu dengan ekspresi lembut. “Lama sekali, ya.”
Elin mengangguk. “Makanya Bude Retno sering kelihatan capek. Kadang senyum, tapi matanya sedih.”
Rizky menggenggam setir sedikit lebih erat, namun suaranya tetap terdengar tenang.
“Papa harus menyelesaikan urusan penting di sana. Doain saja semoga semua lancar.”
Aurely kembali menatap ke depan. Ada rasa hangat sekaligus iba yang menyusup di dadanya. Kini ia mulai mengerti, ketegasan Bu Retno, sikap Rizky yang dewasa sebelum waktunya, dan rindu yang diam-diam mengisi rumah itu.
“Semoga Pakde Sigit cepat pulang,” ucap Aurely tulus.
Rizky tersenyum kecil. “Aamiin. Terima kasih, Mbak.”
Di bangku belakang, Elin bersandar ke Elang. “Kalau Pakde pulang, Bude pasti nggak galak lagi.”
Elang mengangguk mantap. “Dan rumah jadi rame lagi.”
“Dan kita jalan jalan ke molll kota sama Pakde Sigit. “ timpal Elin sambil tersenyum.
Aurely ikut tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa sedikit lebih dekat dengan dunia Rizky, dunia yang sederhana, penuh tanggung jawab, dan diam-diam menyimpan kerinduan.
Beberapa saat kemudian mobil sudah ke luar dari jalan desa. Di depan lalu lintas sudah sangat ramai. Jalan raya tingkat Nasional di depan mata mereka.
Dengan hati hati Rizky membelokkan arah mobil ke kanan.. mobil sudah melintas jalan nasional. Ke arah kota, bukan ke arah pasar desa.
Namun Rizky melajukan mobil pelan pelan dan mengambil jalur kiri. Beberapa meter kemudian.. Rizky menoleh ke kiri, sekilas.
“Itu kampusnya.” Ucap Rizky lebih tertuju pada Aurely.
Aurely menoleh ke kiri. Ada gerbang besi besar dan tinggi ada tulisan nama kampus. Halaman kampus itu sangat luas. Namun dari depan hanya gerbang yang terlihat.. di kanan kiri gerbang deretan toko toko dan kios kios di sepanjang jalan nasional. Sangat berbeda dengan kampusnya dulu.
“Kios Mas Rizky di mana?” tanya Aurely karena mobil terus berjalan pelan pelan.
“Di sana.” Jawab Rizky singkat.
Mobil terus melaju, saat ada jalan cabang , mobil belok ke kiri. Melintas di jalan yang lebih sempit. Masih jalan beraspal namun tidak sehalus jalan raya Nasional.
Di kanan kiri jalan banyak kios kios dan rumah rumah warga ..
Setelah mobil berjalan kira kira lima ratus meter.. kedua mata Aurely melihat di kiri jalan ada pagar besi yang cukup panjang.. Aurely menoleh ke kiri.. di dalam pintu pagar itu ada bangunan bangunan.. ada hamparan rumput.. ada pula hamparan sawah. Dan banyak anak anak muda di ada dalamnya, atau pun sedang berjalan di pinggir jalan. Dari pakaian yang mereka kenakan, Aurley telah paham. Mereka adalah mahasiswa.
“Itu pagar samping kampus.” Ucap Rizky pelan, “sebagian besar mahasiswa keluar masuk justru lewat pintu samping.” Ucapnya lagi..
Aurely hanya mengangguk. Perasaan hatinya kembali berkecamuk.. rindu akan dunia kampusnya dulu..
Tidak lama kemudian mobil menepi di depan sebuah ruko kecil.. Rolling door sudah terbuka.. ada dua etalase di sebelah kanan dan kiri.. ada juga bangku bangku serta meja..
“Ini kios baru kita!” teriak Elin dan Elang segera membuka pintu mobil. Kedua bocil itu langsung meloncat turun.
“Ayo kita turun.” Ucap Rizky sambil membuka sabuk pengaman, “Aku memilih kontrak kios di sini dengan pertimbangan lebih murah dari pada yang pinggir jalan raya.” Ucapnya sambil menoleh ke arah Aurely.
“Juga rumah rumah kost lebih banyak di sekitar jalan ini.” Ucap Rizky lagi.
“Iya Mas , mahasiswa juga terlihat lebih banyak ke luar masuk dari pintu samping.” Tambah Aurely sambil membuka pintu mobil.
Sebelum Aurely turun dari mobil, terdengar suara langkah kaki tergesa dari dalam ruko itu.. tidak hanya sepasang langkah kaki..
Kedua mata Aurely menatap ke arah ruko.. dua pemuda berseragam catering Bu Wiwid keluar dengan senyuman lebar penuh semangat.. dan di belakang dua pemuda itu masih ada lagi satu orang.. seorang perempuan
gak banyak drama2 yg bikin hatinya bertambah luka
sampai2 ada yg dapat foto ayah Aurel pas lagi bekerja? kayaknya niat banget deh ngepoin keluarga Aurel
optimis bahwa kmu bisa
suatu saat pasti menang dan karya mu jdi luar biasa
juga.. dapat pelajaran juga dari elang dan elin..kamu tidak sendirian...karena terlalu lama di zona nyaman🤭
dan hebat aurel
harus lebih kuat dong rel
tp tak apa ya pak bas slow aja spa tau nnti dpt yg lebih gede lagi rezekinya
harus kuat dan tahan banting