NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.

Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.

"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."

Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

16. Di Antara Luka dan Deburan Ombak

Suasana di lorong medis masih dipenuhi aroma mesiu yang pekat, bercampur dengan bau besi dari darah yang berceceran. Harry melepaskan pelukannya secara perlahan, namun tangannya masih tertahan di bahu Kayra, seolah ia butuh memastikan bahwa wanita itu bukan sekadar bayangan di tengah kabut asap.

Mata obsidiannya menyapu wajah Kayra, mencari luka yang mungkin tersembunyi, sebelum akhirnya ia meringis kecil dan menekan telapak tangannya ke sisi perutnya sendiri.

"Harry, kau terluka parah!" Kayra segera tersadar dari keterpakuannya. Ia melihat noda merah yang meluas di kemeja hitam Harry, tepat di area abdomen kiri. "Duduk di kursi itu. Sekarang!"

"Tidak ada waktu, Kayra," sahut Harry dengan suara serak. "Pasukan Luca yang masuk lewat jalur udara sudah dihabisi, tapi kapal induk mereka di pantai selatan mulai meluncurkan rudal jarak pendek. Sistem pertahanan pulau ini butuh otorisasi manual dariku di ruang kendali utama."

"Kau tidak akan bisa berjalan sampai ke ruang kendali jika kau kehilangan satu liter darah lagi!" bentak Kayra, amarah medisnya mengalahkan rasa takutnya. Ia menarik Harry dengan paksa menuju meja pemeriksaan. "Diamlah selama dua menit, atau aku akan menyuntikmu dengan obat penenang dan membiarkanmu tidur sementara pulau ini meledak."

Harry menatapnya, ada binar geli yang aneh di matanya yang lelah. "Kau galak sekali kalau sedang panik, Dokter." Namun, ia akhirnya menyerah dan duduk di pinggir meja.

Kayra bergerak dengan kecepatan yang hanya dimiliki oleh tenaga medis profesional di bawah tekanan. Ia merobek sisa kemeja Harry, menyingkap luka robek akibat serpihan ledakan.

Untungnya, luka itu tidak menembus organ vital, tapi pendarahannya cukup hebat. Dengan tangan yang kini sudah kembali stabil, Kayra membersihkan luka itu dan memberikan anestesi lokal sebelum melakukan jahitan darurat secepat kilat.

Selama Kayra bekerja, Harry hanya diam menatapnya. Jarak mereka begitu dekat hingga Harry bisa mencium sisa aroma lavender dari rambut Kayra yang berantakan. Ia mengangkat tangan kanannya yang masih bersih dari darah, lalu menyisipkan sehelai rambut yang menutupi mata Kayra ke belakang telinga wanita itu.

Sentuhan itu membuat tangan Kayra terhenti sejenak. Ia mendongak, menemukan Harry sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat dalam, bukan tatapan predator, melainkan tatapan pria yang sedang menyerahkan seluruh hidupnya ke tangan wanita di depannya.

"Kenapa kau tidak lari ke bunker terdalam saat aku menyuruhmu tadi?" tanya Harry pelan.

Kayra kembali fokus pada jahitannya, mencoba mengabaikan debaran jantungnya yang mendadak liar. "Sudah kubilang, kan? Aku dokternya. Lagipula, jika kau mati, siapa yang akan membantuku menyeret Aris ke pengadilan?"

"Hanya itu?" Harry berbisik, suaranya terdengar tepat di depan wajah Kayra.

Kayra menyelesaikan simpul terakhir, memotong benang bedah dengan gerakan sentak, lalu menatap Harry dengan mata yang berkaca-kaca namun tegas. "Tidak. Bukan hanya itu. Aku tidak ingin kehilangan orang lain lagi, Harry. Cukup Profesor Elena yang harus aku tangisi selama dua tahun. Aku tidak ingin menambah daftar mayat di hidupku."

Harry terdiam. Ia bisa melihat ketulusan yang murni di mata Kayra, sebuah hal yang jarang ia temui di dunianya yang penuh dengan pengkhianatan. Secara impulsif, ia menarik tengkuk Kayra, mendekatkannya hingga dahi mereka bersentuhan.

"Terima kasih, Kayra," bisik Harry. "Untuk tidak menjadi monster sepertiku."

Momen intim itu terputus saat suara radio komunikasi di sabuk Harry berderit nyaring. "Tuan! Radar mendeteksi peluncuran rudal kedua! Kita butuh aktivasi Aegis sekarang!" suara Enzo terdengar panik.

Harry segera berdiri, meskipun ia harus sedikit membungkuk menahan perih. Ia menyambar jaket taktis yang tergeletak di meja, memakainya untuk menutupi perban barunya. "Tetap di sini bersama Elena. Pintu ini akan terkunci secara otomatis dari dalam. Hanya sidik jariku atau Enzo yang bisa membukanya."

"Harry!" panggil Kayra saat pria itu mencapai pintu. Harry menoleh. Kayra melangkah maju, lalu tanpa diduga, ia berjinjit dan mengecup pipi Harry dengan cepat. "Kembalilah dalam keadaan utuh. Itu adalah perintah medis."

Harry tertegun sesaat, sebuah senyum tipis yang tulus menghiasi wajahnya, senyum pertama yang benar-benar mencapai matanya. "Perintah diterima, Dokter."

Pintu baja itu berdesis tertutup, meninggalkan Kayra dalam keheningan yang menyesakkan di dalam bunker medis. Di luar, suara ledakan terus berdentum, menggetarkan dinding pulau. Kayra kembali ke ranjang Profesor Elena, menggenggam tangan mentornya yang masih terlelap.

Satu jam berlalu dalam ketegangan yang menyiksa. Kayra terus memantau monitor luar melalui layar kecil di sudut ruangan. Ia melihat kembang api maut di langit malam saat sistem pertahanan Aegis milik Harry menghancurkan rudal-rudal musuh di udara. Namun, sebuah kapal besar milik Luca tampak mulai mundur dari pantai.

Apakah mereka menyerah? Ataukah mereka sedang menyiapkan sesuatu yang lebih besar?

Tiba-tiba, lampu di dalam bunker berkedip, lalu berubah menjadi merah pekat. Suara sistem pulau bergema.

"Peringatan. Pelanggaran sistem terdeteksi. Protokol pengkhianat aktif. Mengunci akses pusat."

Darah Kayra seolah berhenti mengalir. Protokol pengkhianat?

Pintu bunker yang tadi dikunci oleh Harry tiba-tiba berdesis terbuka. Kayra segera menyambar skalpelnya, berdiri protektif di depan ranjang Elena. Ia mengira akan melihat pasukan Luca, namun yang muncul di balik pintu adalah sosok yang sangat ia kenal.

Seorang pria dengan jas laboratorium putih yang rapi, yang tadinya Kayra anggap sebagai kepala tim medis Harry di pulau ini. Dokter Julian.

"Dokter Valeska," ujar Julian dengan senyum dingin yang tidak pernah Kayra sadari sebelumnya. "Maaf mengganggu momen heroikmu. Tapi Direktur Aris mengirimkan salam hangat untukmu."

Kayra terperangah. "Kau? Kau orangnya Aris?"

"Aris ... Luca ... mereka semua membayar dengan harga yang pantas," Julian melangkah masuk sambil memegang sebuah alat kecil yang tampak seperti pemicu ledakan. "Harry Marcello terlalu percaya pada sistemnya sendiri. Dia tidak tahu bahwa pengkhianat terbesar bukan mereka yang memegang senjata, tapi mereka yang memegang jarum suntik."

"Apa yang kau inginkan?" desis Kayra, tangannya yang memegang skalpel bergetar hebat karena amarah.

"Aku menginginkan riset Elena. Dan tentu saja, melenyapkanmu sebagai bagian dari kesepakatan dengan Aris," Julian mengangkat senjatanya, sebuah pistol bius dosis tinggi. "Jangan mempersulit ini, Kayra. Kau sudah mati dua tahun lalu. Seharusnya kau tetap terkubur di Elara."

Tepat saat Julian hendak menarik pelatuk, suara langkah kaki berat terdengar dari lorong belakang. Pria itu berbalik, namun sebuah peluru sudah lebih dulu menembus bahunya.

"Kau melupakan satu hal, Dokter," suara Harry terdengar dingin dari kegelapan lorong. Ia muncul dengan napas yang teratur namun mematikan, senapannya masih berasap. "Di pulauku, tidak ada satu pun napas yang keluar tanpa seizinku."

Harry melangkah masuk, mengabaikan Julian yang mengerang di lantai. Ia langsung menuju Kayra, menarik wanita itu ke dalam pelukannya untuk memastikan dia baik-baik saja.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!