Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.
Tokoh Utama:
Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.
Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Transformasi Ghea dan Intelijen Siomay
Minggu terakhir sebelum acara Malam Keakraban OSIS (atau yang oleh Ghea disebut sebagai "Malam Penghakiman Robot") berjalan dengan tensi yang lebih tinggi dari tensi darah Pak Broto pas liat Ghea tidur di kelas. Seluruh sekolah sibuk menyiapkan dekorasi, tapi Ghea punya misi yang jauh lebih penting: Misi Tidak Terlihat Seperti Gembel.
"Ghe, lo beneran mau pake gaun?" Juna bertanya sambil menatap Ghea dengan pandangan tidak percaya. Mereka sedang berada di toko baju bekas berkualitas alias thrifting karena budget Ghea sudah habis buat beli boba selama sebulan.
"Ya iyalah, Jun! Masa gue ke acara formal pake kaos oblong gambar kucing 'I Hate Monday'? Bisa-bisa bokap Arlan langsung manggil pawang hujan buat ngusir gue," jawab Ghea sambil mengaduk-aduk tumpukan baju.
"Tapi lo kan biasanya... ya gitu. Rambut berantakan, sepatu nggak ditali, muka cuma modal bedak bayi," Juna terkekeh. "Gue takut Arlan malah nggak ngenalin lo terus ngira lo penyusup dari sekolah tetangga."
"Diem lo, Intel Siomay! Bantuin gue cari yang warnanya soft tapi tetep kelihatan berkelas. Gue mau buktiin kalau cewek nilai 45 juga bisa punya selera estetika 100!"
Setelah berjuang selama tiga jam dan hampir berantem sama ibu-ibu yang rebutan daster, Ghea akhirnya menemukan sebuah gaun vintage warna biru muda yang sangat cantik. Sederhana, tapi elegan. "Nah, ini dia! Arlan pasti bakal kaget sampai kacamatanya copot."
Sementara itu, di ruang OSIS, Arlan sedang dikepung oleh Shinta dan panitia lainnya. Shinta terlihat sangat bersemangat karena dia yang memegang kendali atas daftar tamu undangan.
"Arlan, aku sudah konfirmasi ke Om Hendra (Papa Arlan). Beliau bilang akan datang tepat waktu untuk memberikan sambutan sebagai perwakilan wali murid sukses," Shinta berucap dengan nada manis yang dibuat-buat.
Arlan hanya mengangguk pelan, matanya fokus pada susunan acara. "Oke. Pastikan kursinya di baris depan."
"Tentu saja! Dan aku juga sudah mengatur agar kamu duduk di sebelah aku dan Om Hendra saat makan malam. Biar kita bisa ngobrol santai soal rencana kuliah kita nanti," lanjut Shinta sambil melirik ke arah pintu, berharap Ghea masuk dan mendengar percakapan itu.
Tapi Ghea tidak masuk. Ghea sedang "dipingit" oleh Juna untuk fokus belajar Fisika di perpustakaan.
Arlan menatap Shinta datar. "Shinta, gue hargai kerja keras lo. Tapi soal tempat duduk, gue udah punya rencana sendiri. Jangan terlalu banyak ngatur hal yang nggak perlu."
Shinta tersentak. Senyumnya sedikit retak. "Tapi Ar, ini demi kebaikan kamu juga. Kamu tahu kan Papa kamu lebih suka kalau kamu bergaul dengan lingkungan yang... setara?"
Arlan menutup map di tangannya dengan suara plak yang cukup keras. "Setara itu relatif, Shin. Sekarang, tolong lanjutin cek bagian konsumsi. Gue mau ke ruang arsip."
"Ruang arsip lagi? Ar, akreditasi kan sudah mau selesai, kenapa masih ke sana?"
"Karena di sana nggak ada orang yang hobi ngatur hidup gue," jawab Arlan ketus sambil melangkah pergi.
Di ruang arsip, Ghea ternyata sudah menunggu. Tapi dia nggak lagi megang sapu atau kertas. Dia lagi duduk bersila di lantai sambil melototin buku rumus.
"Gaya gesek adalah... gaya yang muncul karena dua benda bersentuhan... kayak gue sama Arlan yang sering debat," gumam Ghea pelan.
"Perumpamaan lo nggak ilmiah banget," suara Arlan muncul dari balik pintu.
Ghea mendongak dan langsung nyengir. "Eh, Robot! Sini, bantuin gue. Ini rumus kenapa hurufnya banyak banget sih? Katanya matematika, kok isinya alfabet semua?"
Arlan duduk di samping Ghea. Dia melihat lingkaran hitam di bawah mata Ghea. "Ghe, lo beneran belajar sampai malem?"
"Iya dong! Gue nggak mau pas bokap lo dateng nanti, dia nanya 'Ghea, apa hukum Archimedes?' terus gue jawab 'Itu jenis makanan baru ya Om?'. Gue harus siap tempur, Ar!"
Arlan terdiam. Dia merasa bersalah sekaligus terharu. Ghea yang biasanya paling malas belajar, sekarang berjuang mati-matian cuma supaya tidak mempermalukan dirinya di depan ayahnya.
"Ghe," Arlan memanggil pelan.
"Ya?"
"Lo nggak perlu berubah jadi Einstein cuma buat nyenengin bokap gue. Cukup jadi Ghea yang biasanya aja. Itu udah lebih dari cukup buat gue."
Ghea menatap mata Arlan. Suasananya mendadak jadi sunyi dan manis, tipikal momen romance yang bikin penonton teriak "Ciyee!". Tapi namanya juga Ghea, momen itu nggak bertahan lama.
Kruyuuukk...
Perut Ghea bunyi nyaring banget.
"Hehe... sori Ar. Efek belajar keras, cacing di perut gue lagi demo minta kenaikan upah gorengan," Ghea nyengir malu.
Arlan tertawa lepas. Dia mengambil sebuah kantong plastik dari tasnya. "Nih. Gue beli roti bakar cokelat keju pas jalan ke sini tadi. Makan gih, biar otak lo nggak makin konslet."
"Wih! Robot gue sekarang udah bisa baca pikiran ya? Makasih, Ar!"
Sambil makan, Ghea bercerita soal gaun yang dia beli sama Juna. "Nanti lo harus siap mental ya liat gue. Gue bakal dandan secantik mungkin. Mungkin nanti lo bakal mikir, 'Wah, ini Ghea atau bidadari yang nyasar di SMA Garuda?'."
Arlan tersenyum sambil membetulkan kacamatanya. "Gue rasa... tanpa dandan pun, lo udah cukup mencolok buat gue, Ghe."
Pipi Ghea mendadak merah seukuran tomat matang. "Aduh, Robot! Lo belajar gombal dari mana sih? Apa ada tutorial 'Cara Merayu Asisten' di YouTube?"
"Gue cuma jujur. Itu efisien secara komunikasi," jawab Arlan dengan gaya kaku andalannya, tapi telinganya terlihat memerah.
Dua hari sebelum acara, Juna datang ke ruang arsip dengan wajah serius. Dia baru saja menjalankan tugas "Intelijen Siomay"-nya.
"Ghe, Ar, gue punya info A1. Shinta beneran nyiapin kejutan di acara nanti. Dia mau muter video highlight kegiatan OSIS, tapi di tengah-tengahnya dia mau masukin rekaman suara atau video pas kalian lagi berdua di sini yang udah dipotong-potong biar kesannya kalian lagi pacaran liar," bisik Juna.
Arlan mengepalkan tangan. "Dia bener-bener mau main kotor."
"Tenang, Bos," Juna menepuk bahu Arlan. "Gue udah berhasil tuker file videonya sama file video 'Kumpulan Kucing Lucu dan Kegagalan Orang Main TikTok'. Jadi pas dia klik play, yang muncul bukan skandal kalian, tapi kucing jatoh dari meja."
Ghea tertawa sampai tersedak roti. "Gila lo, Jun! Itu mah malah bikin seisi aula ngakak!"
"Tapi bukan itu masalah utamanya," Juna melanjutkan. "Masalahnya adalah bokap lo, Ar. Beliau bakal dikasih panggung buat kasih pidato penutup, dan Shinta udah nyiapin skenario buat nanya pendapat Papa lo tentang 'pengaruh asisten yang tidak kompeten terhadap prestasi ketua OSIS' secara langsung di depan mic."
Arlan terdiam. Itu adalah jebakan Batman yang paling mematikan. Ayahnya tipe orang yang sangat mementingkan harga diri di depan publik. Kalau ditanya begitu, ayahnya pasti akan menjawab dengan tegas dan mungkin akan menghina Ghea di depan ratusan orang.
"Ghe," Arlan menatap Ghea dengan serius. "Mungkin... mungkin lebih baik lo nggak usah dateng."
Ghea berhenti tertawa. Dia menaruh rotinya. "Kenapa? Lo takut gue malu?"
"Bukan. Gue takut gue nggak bisa jagain lo pas bokap gue mulai bicara," suara Arlan terdengar sangat khawatir.
Ghea menggeleng kuat. Dia memegang tangan Arlan. "Ar, lo inget nggak janji gue? Gue nggak akan biarin lo sendirian. Kalau bokap lo mau menghina gue, biarin aja. Yang penting seluruh sekolah tahu kalau Ketua OSIS mereka itu bukan robot, tapi manusia hebat yang punya sahabat kayak gue."
Arlan melihat ketulusan di mata Ghea. Dia menarik napas panjang. "Oke. Kita hadapi bareng-bareng."
"Nah, gitu dong! Lagian sayang kan gaun biru gue kalau nggak dipake? Udah mahal-mahal nih, tiga puluh ribu harganya!" canda Ghea untuk mencairkan suasana.
Mereka bertiga akhirnya tertawa bersama di ruang arsip itu. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi di Malam Keakraban, tapi satu hal yang pasti: Shinta salah besar jika mengira dia bisa menghancurkan ikatan antara si Robot dan si Asisten semudah itu.
Malam itu, Ghea pulang dan mulai berlatih memakai sepatu hak tinggi (yang dia pinjam dari kakaknya) sambil memegang buku Fisika. "Keseimbangan statis... keseimbangan statis... aduh! Jangan sampai gue jatuh pas depan bokap Arlan!"